
Brian menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Gisel walau terkadang hatinya terasa gelisah tidak bertemu dengannya.
Brian juga mengirimi beberapa pesan untuk Gisel, tetapi akhir - akhir ini Gisel jarang menanggapinya. Brian semakin gelisah. Ada apa dengan Gisel? Kenapa tiba - tiba ia tidak meresponnya seperti ini? Apakah ia marah karena sudah beberapa hari, Brian tidak menemuinya? Atau mungkin....
Brian langsung meletakkan ponselnya saat Bella memasuki ruang kerjanya. Membawa beberapa berkas yang sudah direvisi. Bella sempat melihat bahwa baru saja Brian meletakkan ponselnya dalam posisi terbalik.
"Ini dokumen yang sudah direvisi. Kamu bisa mengeceknya lagi." kata Bella meletakkan beberapa dokumen.
"Oh iya. Letakkan saja. Nanti ku baca." sahut Brian pura - pura sibuk dengan layar komputernya.
Bella tahu Brian sekarang tidak fokus dengan pekerjaannya. Tapi ia juga aneh, kenapa sekarang Brian sudah jarang keluar kantor lagi.
"Kamu nggak makan siang diluar?" tanya Bella.
"Nanti Pak Liam membawakanku makanan." jawab Brian masih berpura - pura sibuk dengan komputernya.
Bella mengangkat alisnya dengan bingung. Dan berusaha mengerti Brian. Sikapnya yang salah tingkah terlihat jelas dimata Bella.
"Baiklah, aku keluar dulu." kata Bella kemudian keluar dari ruangan Brian.
Brian hanya mengangguk dan kembali serius dengan pekerjaannya. Ia mengecek ponselnya sekali lagi. Sama sekali tidak ada respon dari Gisel.
*****
Liana melihat ponsel Gisel yang sejak tadi berbunyi. Entah itu pesan ataupun telpon masuk. Gisel tidak menanggapinya sama sekali. Gisel sibuk sekali mengganti baju yang digantung dengan stok baju yang baru datang.
"Hpmu berisik. Kenapa sih nggak kamu respon saja telpon atau smsnya?" tanya Liana yang sedang menulis sesuatu di pembukuannya.
"Aku cuma lagi nggak mau aja." jawab Gisel cuek.
"Kenapa? Apa karena Bella kemarin datang, kamu jadi menjauhinya?" tanya Liana penasaran.
"Nggak. Bukan itu." jawab Gisel yang terasa diulur hingga membuat Liana kesal.
"Terus kenapa? Nggak mungkin kan kamu nggak merespon Brian kayak begitu kalau nggak ada alasan?" tanya Liana.
Gisel berhenti melipat baju yang digantung dan menatap wajah Liana yang kesal karena penasaran.
"Setelah Bella datang, aku mengajak bertemu Brian. Tapi dia menolak. Punya alasan apa dia? Biasanya dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu denganku walau hanya satu jam." ujar Gisel terdengar kesal.
Liana sedikit paham bahwa hati Gisel merasa terabaikan oleh Brian.
"Ya mungkin dia ada kerjaan yang nggak bisa ditunda atau ada lembur - lembur lainnya." kata Liana mencoba menenangkan hati Gisel.
"Mungkin. Kalau itu memang alasannya kenapa nggak kasih tahu? Tapi bagaimana kalau alasannya karena tidak ingin ketahuan Bella? Selama ini dia mencariku selama lima belas tahun dan ketahuan Bella dia jadi nggak mau bertemu denganku? Alasan dari mana?" Gisel berceloteh panjang lebar dengan kesal.
"Sabar dulu. Nggak ada yang tahu kan alasan Brian sebenarnya apa? Kenapa kamu nggak coba bersabar sedikit? Pasti banyak yang dipikirkan Brian apalagi dia punya kerjaan yang banyak." Liana hanya bisa menenangkan. Tapi ia bersumpah bahwa ia nanti akan menelpon Brian dan memberitahu bahwa Bella datang ke butiknya kemarin lusa.
Liana tidak tahan dengan situasi ini. Pekerjaan Gisel menjadi acak - acakan jika hatinya tidak dalam suasana yang baik. Brian harus tahu ini.
"Sudah, lebih baik kamu belikan makanan dan minuman di Flavor Garden. Hari ini aky yang traktir." kata Liana mengeluarkan dompet dari tasnya.
"Pekerjaanku belum selesai." kata Gisel.
"Sudah, itu bisa dilanjut nanti. Sekarang beli makanan sana, sana!" perintah Liana pada Gisel. Dengan wajah sedikit cemberut, Gisel meninggalkan pekerjaannya dan mengambil tiga lembar uang kertas yang diberikan Liana. Setelah Gisel benar - benar pergi, Liana menelpon Brian sesegera mungkin.
*****
Kegelisahan Brian hilang. Ada telpon masuk dari butik Liana. Ia mengangkat ponselnya dengan cepat dan menyapanya dengan semangat.
__ADS_1
"Gisel!" kata Brian. Tapi ia harus menelan ludah kekecewaannya karena ternyata itu bukanlah Gisel.
"Ini Liana." sahut Liana dari seberang telpon.
"Oh, Liana. Ada apa?" suara Brian terdengar lemas dan tidak bersemangat.
"Kamu kemana aja? Kenapa nggak telpon Gisel?" tanya Liana.
"Aku telpon kok. Aku juga kirim pesan. Tapi Gisel tidak merespon pesanku." jawab Brian.
"Asal kamu tahu. Kemarin Bella datang ke butik. Dia ngomong nggak enak. Duh aku sampai kesal kalo ingat kata - katanya Bella!" ujar Liana.
"Bella ke butik kamu? Ngapain?" tanya Brian bingung.
"Dia ketemu sama Gisel. Dia tahu selama ini kamu bertemu Gisel. Dan Bella menuduh Gisel kalau dekat sama kamu cuma karena harta kamu saja."
"Bella bilang begitu?" Brian tidak percaya dengan pendengarannya.
"Jangan bilang aku telpon. Pokoknya Gisel nggak marah sama kamu. Cuma suasana hatinya nggak bagus sejak ketemu Bella. Aku minta tolong supaya kamu bisa menjadi penengah. Dan kalau kamu tidak bisa membawa Gisel bertemu dengan keluargamu, kamu jangan mendekat lagi. Biar nanti Gisel kujodohkan dengan Regas!" kata Liana asal.
"Lho jangan dong! Memang Gisel itu barang dioper sana - sini." kata Brian.
"Makanya, kamu gerak cepat dong. Lamban banget sih. Bicara sama Bella dan kedua orangtuamu!"
"Sabar, sabar! Nanti juga aku kenalkan." kata Brian yang sedikit cemberut dari nada suaranya.
"Sudah dulu."
Tanpa basa basi, Liana menutup telponnya. Brian masih ingin bicara tapi Liana sudah tidak ada di seberang telpon.
Setelah Liana menutup telponnya, Brian langsung menuju ruangan Bella. Ia tidak ingin berbasa basi lebih lama walaupun Bella adalah kakaknya sendiri.
"Ada apa, Brian?"
Brian tidak mengetuk pintu Bella. Tidak juga memberikan sapaan yang hangat. Ia hanya ingin mendapatkan kebenaran dari Bella.
"Apa Kakak bertemu dengan Gisel?" tanya Brian serius. Bella tampak memikirkan sesuatu bagaimana harus menjawab pertanyaan Brian.
"Hmm.. Gisel... Gisel mana?" tanya Bella.
"Aku yakin Kakak pasti tahu Gisel mana yang aku maksud." jawab Brian semakin serius.
"Oh, Gisel yang kerja jadi pelayan butik?" tanya Bella sedikit menyindir Brian.
"Jangan bicara macam - macam tentang dia, ya, Kak!" ujar Brian terdengar sedikit mengancam Bella.
"Ada apa sama Gisel? Kenapa kamu sampai sebegitunya membela dia? Dia cuma pelayan butik lho. Kamu kalau mau cari pasangan, yang sesuai dong. Kenapa harus pelayan butik seperti dia?"
Liana benar. Kata - kata Bella memang terdengar mengesalkan dan siapapun yang mendengar sudah pasti benci setengah mati pada Bella.
"Kenapa memang kalau dia hanya kerja di butik? Kakak masalah?"
"Maksud Kakak itu baik mencarikan yang selevel dengan kamu. Kenapa harus dia?" Bella tidak mengerti dengan pemikiran Brian. Terlebih lagi, Bella tidak tahan dengan sikap semua orang yang sangat peduli pada siapapun.
"Kenapa Kakak mengurusi urusanku? Kenapa Kakak tidak sibuk memperbaiki kata - kata Kakak agar terdengar lebih baik di telinga orang lain?" tanya Brian.
"Kamu adikku. Bagaimana aku tidak peduli dengan siapa kamu berkencan?" ujar Bella.
"Kalau Kakak peduli dengan urusanku, tolong Kakak tinggalkan saja aku. Sepertinya wajar bagiku untuk menyukai seseorang. Lalu bagaimana dengan Kakak? Apa Kakak siap menjalankan amanah dari Ayah? Aku rasa tidak." Brian membalas ucapan Bella dengan lebih keras lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi membawa masalahku?"
Bella merasa tidak terima dengan tuduhan itu.
"Lalu kenapa kamu tidak mengistirahatkan diri untuk dirimu sendiri? Daripada mengurusi urusan orang lain." kata Brian akhirnya. Ia merasa gemetar membiarkan Kakaknya dipermalukan didepan umum seperti ini.
"Brian!" ujar Bella agar Brian tidak bicara terlalu banyak mengenai dirinya lagi.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Bella.
"Apa kamu sedikit bahagia dengan mempunyai pendamping seperti dia?"
Brian tidak menjawab pertanyaan Kakaknya. Ia merasa kesal dan jengkel. Ia melangkahkan kakinya agar cepat keluar dari ruangan Bella dam menghirup udara sesegar mungkin. Karena ruangan Bella pengap dan membuat dada semakin sesak.
"Baiklah." kata Bella. Langkah Brian terhenti karena ucapan Bella.
"Anggap saja kamu memang menyukainya dan mentolerir pekerjaannya sebagai pekerja di sebuah toko. Tapi bagaimana dengan ayah dan ibu? Apa mereka akan menerima keputusanmu?"
Brian hanya mendengar perkataan Bella yang tidak usai. Ia mencoba tidak perduli pada Bella, tapi hatinya merasa bahwa ia harus mengabaikannya saat ini agar tidak semakin tersulut emosi oleh perkataan Bella.
Kini Brian merasa khawatir, apa saja yang Bella katakan pada Gisel. Apakah sesakit ini? Bagaimana ia menghadapi ucapan Bella yang terasa menyebalkan di telinga Brian
*****
Gisel kembali dari Flavor Garden dan membawa beberapa kantong plastik dan juga minuman.
"Kamu ngerjain aku ya." kata Gisel terlihat kehabisan napas.
"Wow. Ini sih makan siang! Nasi sama ayam." kata Liana.
"Kalau kamu mau makan, kita kan bisa kesana. Kenapa kamu nyuruh aku?"
Gisel meletakkan kantung plastik berisi makanan di atas meja. Ia juga membeli minuman coklat dingin denga bubble dibawahnya.
"Enak, Gis. Kamu tahu aja ya makanan yang enak - enak." kata Liana mencicipi makanan yang Gisel beli.
"Ya itu karena suka di makan sama Brian." jawab Gisel menatap sedih makanan yang ia beli itu.
"Kok Brian?" Liana menanggapinya dengan spontan. Tapi setelah memperhatikan wajah Gisel yang sedikit sedih, ia mengalihkan pembicaraannya lagi.
"Oh ya nggak apa - apa deh. Aku maklum." kata Liana membuka makanan berisi nasi dan ayam bakar.
"Aku sedikit berharap kalau tadi ada dia di Flavor Garden. Tapi sepertinya harapanku terlalu banyak." ucap Gisel.
Liana mengangguk.
"Aku yakin, Brian akan memperjuangkanmu."
Gisel ikut membuka bungkus makanan yang ada di atas meja. Berhari - hari makannya tidak teratur karena telat makan.
"Aku takut." ucap Gisel.
"Kenapa?"
"Aku takut keluarganya Brian tidak bisa menerimaku. Kemudian aku sakit hati, nangis, dan sedih lagi." jawab Gisel sedikit bergetar.
"Aku nggak setuju. Dari awal sudah kelihatan Brian mencarimu kemana - mana sampai ia berani melawan Regas yang masih jadi klienmu. Lalu apalagi yang kamu khawatirkan?" kata Liana terdengar realistis.
Tapi entah mengapa, hati Gisel masih saja ada kekhawatiran walaupun ia yakin ia tidak perlu mengkhawatirkan semua itu termasuk Brian.
__ADS_1