Meet Me At Midnight

Meet Me At Midnight
Sisi lain Bella


__ADS_3

Brian mengantar Gisel ke butiknya dan menurunkannya di parkiran. Gisel melambaikan tangan begitu juga Brian.


Gisel memesan segelas kopi agar ia bisa meminumnya di butik. Ia juga memesankan segelas agar Tiara juga bisa ikut mencicipi enaknya kopi berlogo wanita dengan warna hijau ini.


Ia membuka kunci pintu butik dan mendengarkan langkah kaki yang ada di belakangnya.


"Kamu sudah datang, Tiara? Aku nggak terlambat kan? ini baru jam sembilan kurang lima belas loh." kata Gisel. Tapi Tiara tidak menjawabnya. Gisel menegakkan tubuhnya agar Tiara bisa masuk ke dalam butik. Stelah membalikkan badannya, yang dia lihat bukanlah Tiara, melainkan Bella dengan wajahnya yang khas mirip pemeran antagonis.


"Eh, Kak Bella?" Gisel terkejut melihat Bella yang ada di belakangnya


Namun diluar dugaan. Bella tersenyum pada Gisel


"Apa kabar? Lama nggak ketemu." kata Bella


Gisel yang bingung dengan kedatangan Bella, mencoba menenangkan dirinya walau sebenarnya ia sangat berdebar dengan kedatangan Bella. Tahu sendiri kan kalau Bella judes minta ampun? Alamat mendapatkan kakak ipar nyinyir nggak sih?


"Baik, Kak. Oh ya, ayo masuk, Kak." kata Gisel mempersilakan Bella masuk.


Bella melangkahkan kakinya dengan anggun memasuki butik Liana


"Kemarin Brian sudah kasih tahu tentang kontrak kerja sama?" tanya Bella duduk di sofa. Gisel memberikan satu gelas kopi untuk Bella


"Kopi , Kak?" Gisel menawarkannya


"Makasih." Bella menyesap kopi itu dengan perlahan


"Iya, Kak, Brian semalam ngasih tahu aku tentang kontrak itu. Makasih ya, Kak, pada akhirnya Kakak berubah pikiran dan mau bekerja sama dengan butik kami." kata Gisel


"Anggap saja hadiah dariku karena kita sebentar lagi akan menjadi keluarga." kata Bella


"Apa Brian sudah cerita, Kak, tentang Brian melamar aku?" tanya Gisel


"Yang milih cincinnya aku." jawab Bella dengan santai


"Terima kasih, ya, Kak. CIncin pilihan Kak Bella bagus." jawab Gisel. Sebenarnya Bella tidak terlalu suka dengan banyak pujian yang manis. Dia suka trauma sama bawahannya yang suka menjilatinya agar mendapat keuntungan lebih darinya.

__ADS_1


"Brian mengajakku makan malam di rumahnya, Kak." kata Gisel memberitahu Bella.


"Oh ya, datanglah. Biar malam minggu Brian nggak kerja terus. kalau perlu setiap akhir minggu kamu nginep aja." kata Bella


"Apa nggak masalah, Kak? Aku nggak enak, kan aku belum resmi menikah sama dia."


Bella tertawa dengan ucapan Gisel. Meskipun masa lalu Gisel adalah seorang wanita penghibur ternyata hatinya tidak sepicik yang ia bayangkan.


"Lagian, bukannya ayah ibu sudah kenal kamu ya? Nggak enak apa lagi? Kamu juga cepat atau lambat akan menikah sama Brian. Nggak usah terlalu mikirin orang lain. Kuno banget tahu.": kata Bella.


Gisel terkejut dengan sisi lain Bella yang ternyata asyik diajak bicara ini. Tidak lama, Tiara, karyawannya datang dan membungkukkan tubuhnya melewati Gisel.


"Oh iya, kalau Edith ganggu kamu lagi, kamu bilang aku ya." kata Bella


"Oh iya, Kak. Masalah Edith, semalam Edith datang dan minta maaf padaku." sahut Gisel


"Oh iya? Baguslah. Rupanya dia takut kalau dipecat dari perusahaan." jawab Bella sinis


"Tapi dipecat dari perusahaan bukankah berlebihan , Kak?" tanya Gisel


"Nggaklah, perusahaan kan punya aku. Terserah aku mau pecat siapa. kalau nggak mau dipecat ya jangan cari gara-gara." kata Bella


"Bekerjalah di perusahaanku." kata Bella


"aku nggak berani, Kak. Aku nggak punya ijazah, aku juga nggak ngerti tentang pekerjaan kantor. Aku hanya mengerti pembukuan sederhana saja di butik. Itu juga aku belajar dari Google." jawab Gisel.


"Kamu yakin? Gimana nanti kalau sudah jadi istrinya Brian? Sedikit banyak kamu harus mengerti tentang perusahaan. Jangan buta sama sekali. Dengan bantuan kamu, Brian bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat kalau ada masalah."


Gisel terdiam mendengar ucapan Bella.


"Begitu ya, Kak. Tapi aku merasa nggak pantas , Kak." jawab Gisel.


"Nggak usah merasa begitu. Belajar saja pelan-pelan. Jangan sampai perusahaan jatuh ke tangan orang yang salah. Perusahaan itu harus menjadi milik keluarga bagaimanapun caranya." ucap Bella.


"Aku masih belum terlalu mengerti perusahaan, Kak."

__ADS_1


"Nanti aku akan bicara pada Brian tentang posisimu di perusahaan. Kata Brian kamu cukup cerdas. jadi jangan sia-siakan semuanya. Kalau kamu mau kuliah ambil jalur cepat, aku akan membiayaimu." kata Bella


"jangan, Kak. Aku masih ada uang kalau mau kuliah lagi."


"Jangan merasa nggak enak atau sungkan. Kamu akan jadi keluarga kami nantinya. Melihat kamu bukan tipe orang yang suka menjilat demi keuntungan, aku rasa pilihan Brian sangat tepat. Maaf ya kalau aku pernah menuduhmu mendekati Brian karena harta. Setelah mengobrol denganmu hari ini, aku jadi tahu kalau kamu sama sekali nggak mendekati seseorang hanya karena hartanya." kata Bella


"Ah, ya, nggak apa-apa, Kak. Banyak kok yang sering bilang aku begitu. Kakak tahu sendiri masa laluku bagaimana."


"Jangan mebawa masa lalumu terus! Mulai sekarang fokuslah pada masa depanmu dan Brian."


"Ah, iya, Kak."


"Tapi, Kak. Kenapa ya, Kak, kok Brian suka bilang kalau Kakak itu judes? Kalau lagi ngobrol gini, kakak nggak judes, kok!" kata Gisel penasaran


"jadi dia bilang begitu? Hahaha." kata Bella


"Aku cuma capek saja. Banyak orang yang mau dekat sama aku karena uang. Aku nggak semudah itu diperdaya oleh sebuah pertemanan. Aku hanya melihat keuntungan bisnis." jawab Bella.


Gisel mengangguk mengerti dengan apa yang Bella katakan


"Aku pamit pergi dulu. Aku harus ke kantor. Oh ya, asisten pribadi Brian kamu tahu kan, Pak Liam?"


"Iya, Kak, aku tahu."


"kalau mau tanya tentang perusahaan juga bisa dari Pak Liam. Nanti belajar saja pelan-pelan. Dan aku akan memberikan posisi setelah kamu resmi menjadi istri Brian." kata Bella.


"Iya, Kak, aku berterimakasih banyak ya , Kak. Aku jadi terharu, Kak."


Bella tersenyum melihat betapa rendah hatinya Gisel.


"Tentang kontrak kerjasama, siang ini Liana suruh ke kantorku ya, karena butiknya atas nama Liana kan? Tapi kata Brian, dia akan transfer uangnya ke rekeningmu. Karena ia lebih mempercayai kamu daripada Liana. Sudah jelas kan kenapanya?" tanya Bella


"Iya, Kak, sudah." Gisel tersenyum


Bella membuka pintu butik dan berjalan lagi dengan anggun.

__ADS_1


Ternyata dibalik wajahnya yang angkuh, Bella memiliki alasan tersendiri kenapa ia terus mengangkatkan kepalanya di depan orang lain. Ia tidak mudah percaya orang lain. Itulah sebabnya ia selalu bertindak angkuh dan jarang tersenyum. Ia hanya bisa terbuka pada orang yang menurutnya bisa ia percaya.


Gisel segera menelepon Liana dan memberitahu tentang kontrak kerjasama itu. Tidak perlu ditebak lagi reaksinya. Sudah pasti heboh dan sangat bahagia sekali dia tokonya mendapat suntikan modal dari Salim Group.


__ADS_2