Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 10


__ADS_3

“Terimakasih karena anda memberikan orang tua terbaik untuk saya.”


Tangis Ajeng semakin pecah seiring dengan nyeri yang menjalar penuh di dalam dadanya.


“Saya permisi kembali ke kamar.”


Biru beranjak pergi, sebelum membuka pintu ia berkata...


“Dan terimakasih karena anda selalu menginginkan saya.”


Air mata Ajeng berubah menjadi air bah yang membanjiri pipinya, semakin keras, semakin deras. Sementara Krisna sejak tadi hanya berdiri diam dengan membawa nampan di depan pintu, mendengar percakapan mereka. Biru membuka pintu dan terkejut dengan keberadaan ayahnya di sana. Krisna nyengir kuda.


“Ini tehnya.”, kata Krisna.


Biru mengambil satu cangkir.


“Saya minum di kamar saja.”


“Ok. Tidur yang nyenyak.”


“Iya.”


Biru melanjutkan langkahnya sementara Krisna masih berdiri di sana, menatap istrinya yang sedang mengangis pilu dari kejauhan.


***


Beberapa hari berlalu. Sejak kejadian malam itu, Biru sering mendapatkan hadiah dan perhatian kecil dari Ajeng. Bahkan pagi ini ia menyiapkan makanan sendiri untuk putra sulungnya tersebut.


Di dalam mobil menuju kantor.


“Kotak apa itu?”, tanya Krisna.


“Bekal.”


“Dari mama ya?”


Biru mengangguk.


“Hmmm.... Kenapa rasanya iri. Tapi anak sendiri. Hahaha...”


Biru tersenyum.


“Terimakasih. Semenjak ada kamu, mamamu jadi lebih sering tersenyum.”


***


Di rumah Biantara. Jingga panik bukan main setelah mendapat pesan dari Inggris.


“Udah balik sana jangan bikin gue pusing!”, teriak Avisa yang melihat abangnya mondar mandir sejak tadi.


Jingga berhenti, menatap pada Avisa.


“Apa?”


“Lu beneran nggak apa-apa sendirian di sini?”, tanya Jingga dengan panik.


“Lu lupa gue titisan siapa?”


“Kalau gitu gue pesen tiket sekarang.”


“Hm.”


Jingga langsung membuat panggilan telepon ke bandara kota dan memesan tiket untuk kembali ke Inggris hari ini juga.


“Gimana?”, tanya Avisa.


“Gue dapet jadwal jam 1 siang.”


“Ya udah ntar gue anterin.”


“Makasih. Gue beres-beres dulu.”


Jingga langsung berlari ke kamarnya.


***


Di kantor Darmawan, desain yang di buat oleh Biru beberapa waktu lalu sudah mulai di kerjakan. Vas bunga besar di pojok lobi di pindahkan ke sebelah bagian informasi. Hari ini rencananya Biru akan mulai melukis beberapa produk dari kantor ini.


“Desain yang kamu buat memang jos. Hahaha..”, kata Krisna.


“Terimakasih.”


Mereka lanjut berjalan menuju ruang presdir. Sesampainya di depan pintu, Krisna berbalik badan menghadap Biru.


“Mulai hari ini, kamu jangan masuk ke sini.”, kata Krisna serius.


“Kenapa?”


“Karena ruangan kamu sudah jadi.”


Biru bingung. Krisna menunjuk ke ruangan di sebelahnya.

__ADS_1


“Silahkan.”


Krisna mendorong sedikit tubuh Biru agar segera berjalan. Biru berjalan sambil menoleh sesekali. Sesampainya di depan pintu, ia melihat tulisan “Direktur Desain (Biru)”. Biru kembali menoleh dan melihat Krisna memberikan isyarat agar ia segera masuk.


Biru membuka pintu dan kaget dengan tata ruang tersebut. Banyak sekali peralatan melukis yang di sediakan untuknya.


“Bagaimana? Kamu suka?”, tanya Krisna dari pintu yang membuat Biru sedikit kaget.


Biru balik badan.


“Ini...”


“Ini dari mama. Hmmm... Baru kali ini dia mau ikut campur di kantor ini. Bagaimana? Suka kan?”


“Iya. Terimakasih.”


“Bilang ke mama dong.”


“Tapi...”


“Ah! Sudah jam segini. Papa harus mulai kerja. Dadah.”


Krisna langsung meninggalkan Biru dengan kebingungannya.


***


Di butik Ajeng.


Klung! Satu pesan masuk ke hp Ajeng, dari Biru.


“Terimakasih untuk peralatan lukisnya”


Ajeng tersenyum membacanya.


Klung! Satu pesan masuk lagi.


“Terimakasih untuk peralatan lukisnya Ma.”


Ajeng bahagia karenanya. Seharian ia bekerja dengan penuh senyum dan semangat.


***


Di ruangan Biru.


Klung! Pesan balasan dari Ajeng masuk ke hp Biru.


“Iya.”


***


11:45.


Di rumah Biantara, Jingga duduk di ruang tamu dengan koper di sampingnya. Sedang menunggu Avisa.


“Yuk.”, ajak Avisa.


Mereka langsung menuju mobil. Selama di perjalanan, Jingga sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


Sesampainya di bandara mereka langsung menuju ke bagian pengecekan tiket. Setelah semuanya selesai, Jingga memeluk Avisa untuk berpamitan.


“Gue pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik.”


“Hm. Hati-hati di jalan. Salam buat Alexa.”


Jingga melangkah pergi menuju ruang tunggu penerbangan. Ia melambaikan tangan pada Avisa.


“Kalau udah nyampe gue kabarin!”, teriak Jingga.


Avisa memberikan tanda OK dengan jarinya.


Perlahan Jingga menghilang dari pandangan. Avisa merasa sepi. Ia memutuskan untuk berkendara tanpa arah dan tanpa sadar berhenti di galeri mas Indra. Karena tidak tahu harus apa, ia akhirnya masuk dan menyapa mas Indra di dalam.


“Hai mas Indra.”


“Hai Avisa.”


Mas Indra melihat-lihat ke belakang Avisa.


“Aku sendiri mas.”


“Tumben.”


Avisa tersenyum paksa. Mas Indra sadar bahwa saat ini Avisa sedang bersedih.


“Mau ke ruangan Biru?”


“Boleh?”


“Boleh dong. Aku yakin Biru juga pasti nggak keberatan.”


“Ok deh, aku ke ruangan Biru aja.”

__ADS_1


“Iya.”


“Tapi... Jangan kasih tahu Biru kalau aku di sini ya.”


Mas Indra tersenyum memahami maksud Avisa.


“Iya.”


Avisa melangkah pergi menuju ruangan Biru. Di sana yang juga tidak ada siapapun membuatnya merasa semakin kesepian.


Menit demi menit berlalu hingga berubah menjadi jam-jam namun yang Avisa lakukan hanya duduk diam saja. Pundak yang ingin ia sandari, terpaksa harus ia jauhi. Tanpa ia sadari, mas Indra membuka pintu perlahan dan melihatnya seperti itu.


“Sa.”, panggil mas Indra.


Avisa menoleh pelan.


“Ya?”


“Sudah hampir 8 jam kamu di sini. Kamu nggak lapar?”


Avisa melihat arlojinya. 19:53. Ia menghembuskan nafas panjang.


“Aku cari makan di jalan aja mas.”, katanya sambil berdiri.


“Mau pulang sekarang?”


“Iya.”


“Ya udah. Hati-hati di jalan.”


“Makasih mas.”


Avisa melangkah lemas untuk kembali pulang. Ke rumah yang kini hanya ada dia sendiri.


***


Di ruangannya, Biru masih fokus dengan pekerjaannya. Seakan hanya kanvas dan teman-temannya saja yang terlihat di matanya. Krisna melihatnya dari ambang pintu, bangga sekali.


Tok tok tok... Krisna mengetuk pintu pelan. Biru tidak bergeming sama sekali.


Tok tok tok!!! Krisna mengetuk lagi dengan keras. Biru kaget di buatnya. Ia langsung menoleh dan menatap tajam pada ayahnya tersebut.


“Wow. Papa takut loh.”, kata Krisna menggoda.


Biru meletakkan kuasnya dan duduk menghadap Krisna.


“Sudah jam 8 malam. Nggak pulang?”


“Ini belum selesai.”


“Besok saja. Nila sudah menunggu.”


Mendengar nama adiknya, Biru langsung membereskan peralatan dan bergegas menuju tempat les Nila. Semenjak di ajak ke galeri, Nila hanya mau di jemput oleh Biru. Karenanya mereka jadi semakin akrab.


Sesampainya di tempat les, Biru langsung di persilahkan masuk karena para penjaga sudah hafal padanya. Seperti biasa, Nila akan menunggunya bersama salah seorang guru muda favoritnya. Nila menyebutnya ibu ratu.


“Sudah?”, tanya Biru pada Nila.


“Belum.”, jawab ibu ratu.


Biru menatap tidak paham.


“Saya Ratu, guru les Nila.”, katanya sambil mengulurkan tangan.


Biru menjabat tangannya.


“Biru.”


Ratu tersenyum.


“Sudah?”, tanya Biru.


“Ya.”


“Kalau begitu, kaami permisi.”


“Baik. Hati-hati di jalan.”


Biru mengangguk bingung.


“Selamat tinggal ibu Ratu.”, pamit Nila sambil melambaikan tangan.


Ratu membalas lambainnya.


“Selamat tinggal tuan putri.”


Sesampainya di mobil...


“Jadi, namanya benar-benar ibu Ratu?”


“Nila tidak sehiperbola itu untuk menyebut orang lain sebagai ‘ratu’.”

__ADS_1


Biru terdiam. Ia bertanya-tanya dalam hati, sepintar apa adik kecilnya ini sebenarnya.


__ADS_2