
Avisa yang melihat itu segera membuka pintu mobil namun Dila memberinya isyarat agar cepat pergi dari sana. Melihat itu, Biru langsung memacu mobilnya dengan Avisa yang tak melepaskan pandangan dari arah rumah mamanya.
Setelah satu setengah jam perjalanan, mereka sampai di rumah pak kades. Biru mengetuk pintu. Bapak yang sedang menonton tv membukanya.
“Loh nak, kok malam sekali.”
“Iya pak.”
“Ayo masuk masuk.”
Mereka masuk ke dalam rumah.
“Buu.. Anakmu pulang.”
“Tumben nggak teriak sendiri.”
Ibu keluar dari kamar.
“Loh nak kok malam sekali. Ibu kira Arif tadi yang pulang.”
“Iya bu. Tadi habis ketemu mamanya Avisa.”
Mereka berkumpul dan duduk bersama di ruang tamu.
“Biru sama Avisa akan menikah pak, bu.”
Bapak dan ibu terkejut sekaligus senang mendengarnya.
“Kok nggak pernah cerita sih nak?”, tanya ibu.
“Maaf bu.”
“Kapan?”, tanya bapak.
“30 Juli nanti pak. Bapak sama ibu datang temani Biru ya?”
Bapak dan ibu saling bertukar pandang.
“Biru memang belum bisa berjanji untuk adil berbagi bakti. Tapi Biru akan berusaha untuk itu. Bapak sama ibu orang tua Biru juga.”
Hati bapak dan ibu terasa hangat mendengar perkataan Biru. Mereka tersenyum.
“Bapak sama ibu pasti datang kok nak.”
Biru tersenyum menatap bapak dan ibu secara bergiliran. Sedangkan Avisa masih diam seribu bahasa. Ibu menyadari hal itu.
“Calon mempelai wanita ini kenapa? Kok murung?”, tanya ibu lembut.
Avisa semakin menundukkan wajahnya, mencoba menahan air mata yang sudah memaksa ingin keluar.
“Pak, bisa temani Biru ke depan?”
Bapak yang mengerti maksud Biru langsung mengiyakan ajakannya. Ibu berpindah tempat ke samping Avisa dan langsung memeluknya.
“Lepaskan saja nak, jangan di tahan.”
Mendengar itu, Avisa langsung menangis di pelukan ibu.
Dari luar, bapak bisa melihaat pemandangan itu dan langsung menanyakannya pada Biru.
“Ada apa sama Avisa nak?”
Biru menceritakan semuanya. Bapak yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas berat. Di dalam, Avisa juga menceritakan semuanya pada ibu. Satu-satunya pelarian ternyaman baginya.
“Kamu sudah benar nak. Tidak mencampuri keputusan mereka itu sudah betul. Kami sebagai orang tua terkadang hanya ingin di maklumi, bukan di hakimi. Mama kamu pasti jugaa tidak menyangka akan berakhir seperti ini.”
Avisa mengusap sisa aair matanya dan tersenyum pada ibu.
“Terimakasih karena ibu selalu mau mendengarkan keluh kesahku.”
“Kamu kan anak ibu juga.”
Avisa kembali memeluk ibu.
“Kalian sudah makan?”
Avisa cengengesan.
“Kita makan sama-sama ya? Sebentar ibu siapkan.”
“Avisa ikut.”
“Ya sudah ayo.”
Sebelum ke dapur, ibu memanggil dua lelakinya yang masih berada di luar rumah agar segera masuk.
Setelah menghangatkan sayur, mereka makan (larut) malam bersama di ruang tamu.
“Arif kok belum pulang bu?”, tanya Avisa.
__ADS_1
“Temannya yang jaga selanjutnya sedang sakit, Arif menggantikannya jadi tidak bisa pulang.”
“Kalian mau menginap di sini?”, tanya bapak.
Biru menatap Avisa.
“Mau?”, tanya Biru.
“Enggak deh. Nggak enak sama tetangga.”
“Berarti kita pulang saja pak.”
“Ya sudah.”
Mereka melanjutkan makan malam dengan nikmat. Setelah itu Biru dan Avisa berpamitan pada bapak dan ibu. Di jalan, Avisa mengeluarkan hpnya.
“Kita nggak usah pulang ya.”, kata Avisa.
“Ha?”
“Kita nggak usah pulang.”
“Mau tidur di mana? Jangan aneh-aneh deh.”
“Tidur di mobil aja.”
“Ada-ada aja sih.”
Tanpa menghiraukan Biru, Avisa menghubungi Arif.
“Halo. Tumben telepon.”
“Lu jaga malam juga kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Gue mau ke sana.”
“Ngapain?”
“Udah iya aja lah.”
Arif belum memberikan jawaban namun Avisa langsung menutup sambungan teleponnya.
“Mau ngapain ke sana?”, tanya Biru.
Biru menghela nafas panjang.
“Lu nggak capek?”, tanya Biru.
“Enggak.”
Biru menghela nafas panjang lagi.
“Ngapain sih lu? Mau pamer kalau bisa napas?”, hardik Avisa.
“Jadi ke Arif nih?”
“Jadi lah.”
Tanpa pikir panjang, Biru langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat Arif koas.
Sesampainya di rumah sakit, Avisa langsung menghubungi Arif lagi.
“Di lantai berapa lu?”, tanya Avisa.
“Lima. Lu beneran....”
Avisa menutup sambungan teleponnya.
“Sabar Rif sabar. Udah nasib lu emang kayak gini. Sabar ya.”, gerutu Arif seorang diri.
Avisa nyelonong masuk ke dalam, meninggalkan Biru di belakang yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
“Heh!”, bentak Avisa.
Arif terjingkat.
“Bangsat! Kaget gue! Masih aja lu ya.”
Avisa tertawa cekikikan.
“Nggak ada pasien?”, ucap Biru.
“Di lantai ini cuma buat pasca operasi aja. Paling lama juga cuma sehari, abis itu udah balik ke kamarnya lagi.”
“Terus gunanya lu apa di sini?”, ejek Avisa.
Mereka memulai ritualnya. Berdebat tanpa henti dan membuat Biru hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Ada yang mau kopi?”, tanya Biru.
Arif dan Avisa mengangkat tangan tanpa berhenti berdebat. Biru langsung pergi ke kantin dan meninggalkan mereka. Sambil menunggu pesanannya, Biru menghubungi Ajeng. Memberitahukan bahwa ia tidak akan pulang malam ini untuk menemani Arif di rumah sakit.
“Rif.”
“Apa?”
“Gue mau nikah.”
“Ha? Kapan?”
“30 Juli nanti.”
“Lah terus si Biru?”
“Dia mau nikah juga.”
“Kapan?”
“30 Juli juga.”
Arif menyentil dahi Avisa.
“Sakit bego!”
“Bilang kalau nikahnya sama dia.”
“Lu nggak nanya!”
“Ya lu sebagai informan harusnya ngasih tahu duluan dong.”
Lagi-lagi mereka berdebat. Biru yang sudah hampir sampai merasa tidak ingin kembali ke sana dan mendengar perdebatan mereka yang tidak ada habisnya.
“Kalian mau berdebat sampai kapan?”
Mereka sama-sama tidak mau mengalah dan justru saling menyalahkan.
“Gue pulang aja.”
Avisa secepat kilat menggandeng lengan Biru. Akhirnya mereka berhenti.
“Mau nikah nggak ngomong apa-apa nih.”, kata Arif.
Biru menoleh, Avisa cengengesan.
“Gue mau jalan-jalan dulu deh.”, kata Avisa yang langsung pergi meninggalkan mereka.
Namun bukannya pergi keluar, Avisa justrui hanya berjalan memutari ruangan. Mereka mengacuhkannya.
“Sorry.”, ucap Biru.
“Nggak butuh sorry gue.”
“Ini baru di bicarain dua hari yang lalu kok.”
“Emang nggak bisa telepon, paling enggak kirim pesan kek.”
Arif memasang tampang kesal.
“Gue pulang aja lah.”, kata Biru.
Arif langsung mengambil kunci mobil di saku Biru.
“Yah nggak bisa pulang.”
Arif tertawa karena Biru mengatakan hal itu dengan sangat kaku. Maklum saja, manusia es batu ini masih mengalami proses pencairan setelah puluhan tahun membeku. Biru kesal karena di tertawakan.
“Bisa diem nggak lu.”, katanya.
“Iya iya. Hahahaha...”
Biru menatap tajam.
“Nah ini baru Biru. Udah lama gue nggak lu tatap kayak gitu. Jadi makin cinta gue sama lu.”
“Apa sih.”
Arif mengusap air mata tawanya.
“Udah ngabarin ibu bapak belum lu?”, tanya Arif.
“Tadi gue dari sana.”
“Pantes tahu gue lagi lembur.”
“Lu ntar bantuin gue ya.”
Brakkk!!! Avisa terpeleset dari ujung tangga.
__ADS_1