Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 9


__ADS_3

Tak lama, Krisna dan Ajeng tiba di galeri. Mas Indra menyambut mereka.


“Apa kabar mas Indra?”, tanya Ajeng sambil menjabat tangan mas Indra.


“Baik mbak.”


Biru menatap mereka, bingung. Mas Indra ikut bingung.


“Mas Indra kenal?”, tanya Biru.


“Ya pasti kenal lah Bi. Mbak Ajeng ini orang pertama yang mendanai galeri ini. Kamu kenal juga?”


Krisna langsung menjabat tangan mas Indra.


“Krisna Mahardika Darmawan.”


Lalu ia menunjuk ke arah Biru.


“Bobby Rudi Darmawan.”, kata Krisna sambil tersenyum menyebalkan.


Mas Indra terdiam sejenak, mencerna situasi yang terjadi saat ini. Lalu terkejut, baru menyadari bahwa keluarga kaya yang Biru maksud adalah keluarga Darmawan.


“Sudah paham mas?”, tanya Krisna.


“Iya. Iya mas. Haha.", jawab mas Indra tersenyum canggung.


Karena tidak ingin membuat suasana semakin canggung, Biru mengajak kedua orang tuanya untuk bergabung dengan Nila.


“Ke dalam dulu ya mas.”, pamit Biru.


“Iya. Iya.”, jawab mas Indra yang masih di landa keterkejutan.


Biru membukakan pintu untuk orang tuanya, setelah itu pergi ke dapur galeri untuk membuatkan minuman.


“Waahhh... Banyak sekali ya dek lukisan kakak.”, kata Krisna takjub.


“Iya pa. Nila tidak bosan melihatnya. Kakak hebat.”, sahut Nila dengan semangat.


Ajeng berkeliling ruangan tanpa berkata apapun. Namun terlihat jelas bahwa ia bangga pada putranya tersebut. Senyumnya sedikit terkembang. Krisna senang melihatnya.


Tak lama, Biru kembali dengan empat cangkir minuman hangat.


“Kenapa kamu buat minuman sendiri?”, tanya Krisna.


“Ini bukan kediaman Darmawan.”, sahut Ajeng dingin.


Biru bingung harus bagaimana karena seumur-umur belum pernah menengahi orang tua yang sedang perang dingin.


“Tidak usah bingung kak. Mereka berdua sudah begini semenjak dahulu. Bahkan sebelum Nila lahir.”


Biru tersenyum canggung.


“Apa tempat ini tidak terlalu jauh untukmu?”, tanya Ajeng.


“Tidak apa-apa.”


“Aku bisa pindahkan ke area yang lebih dekat dengan rumah atau kantor jika kamu mau.”


“Di sini, banyak kenangan yang tidak bisa tergantikan. Jadi, itu tidak perlu.”


Krisna dan Nila menatap Biru dan Ajeng secara bergantian. Mereka menyadari bahwa ibu dan anak itu benar-benar mirip.


***


Di rumah Biantara.


Avisa kembali ke rutinitasnya yang hanya berbaring di ranjang tanpa melakukan apa-apa.


“Dek.”


“Hm?”


“Nggak pengen masak apa gitu?”


“Enggak.”


“Kemaren kan udah ketemu Biru. Kenapa jadi bad mood lagi sih?”


Kruyuuuukkkk..... Perut Jingga berdemo-ria.


“Dek.”

__ADS_1


“Apa sih?”


“Gue laper.”


“Pesen aja sana.”


“Dah lah.”


Jingga pergi dari kamar Avisa dengan lesu. Membuat Avisa merasa sedikit bersalah. Akhirnya ia pergi ke dapur dan memasak omurice.


Tok tok. Avisa mengetuk pintu kamar abangnya.


“Apa?”, tanya Jingga.


“Makan.”


“Males.”


“Ya udah.”, kata Avisa yang langsung kembali ke dapur.


Kruyuuuukkk.... Lagi-lagi perut Jingga berbunyi. Ia langsung berlari menyusul adiknya di dapur. Melihat omurice yang sudah tertata rapi di atas piring, ia langsung duduk dan menyantapnya dengan lahap.


“Kelaperan aja sok-sokan nolak.”, hardik Avisa.


“Gue bersyukur sih karena kelaperan jadi bisa makan masakan lu.”


Avisa terdiam, tersentuh dengan ucapan abangnya tersebut.


“Tiap hari harusnya.”, lanjut Jingga.


“Kok ngelunjak?”


“Biru suka cewek yang pinter masak.”


“Hih bagus banget alasan lu biar gue mau masak tiap hari.”


Jingga nyengir sambil mengunyah makanannya.


“Kapan lu balik ke Inggris?”, tanya Avisa.


“Nggak tahu.”


“Kenapa nggak tahu?”


Avisa menghela nafas berat.


“Gue tahu lu di sini karena khawatir sama gue. Tapi... Lu yakin khawatir? Sama gue?”


“Jangan sok kuat. Gue udah bilang, gue berhak bertanggungjawab atas elu.”, ucap Jingga sambil membersihkan sisa-sisa nasi di piring dengan sendoknya.


Avisa terdiam.


“Udah habis. Gue mau tidur. Makasih ya adekku yang galak.”, kata Jingga dengan mengusap kepala adiknya.


Setelah itu ia langsung berlari menuju kamarnya dan menutup pintu. Beberapa detik kemudian ia membukanya lagi.


“Sekalian cuci piring ya! Biru pasti makin suka!”, teriaknya dari ambang pintu lalu menutupnya kembali.


Avisa yang tadinya memasang ekspresi kesal kini mulai tersenyum. Ia merasa bersyukur karena memiliki abang seperti Jingga. Padahal awalnya mereka terlihat tidak peduli satu sama lain. Namun seiring berjalannya waktu, mereka sama-sama tahu bahwa mereka saling menyanyangi satu sama lain.


Setelah mencuci piring, Avisa kembali ke kamarnya.


Kriiingggg!!! Avisa mendapatkan panggilan telepon dari ayahnya.


“Hm?”


“Sedang apa, baby?”


“Kayaknya hubungan kita nggak sebagus itu untuk sekedar nanya sedang apa.”


Ted tertawa di seberang telepon.


“Bagaimana Biru?”


“Tanya saja sama pak Hendra.”


“Papa tahu kemarin kalian jalan-jalan sama dia.”


“Stop memata-matai kami!”


“Why? Papa cuma takut anak papa kenapa-kenapa.”

__ADS_1


“Bukannya satu-satunya orang yang bisa bikin kita kenapa-kenapa itu cuma papa?”


Ted tertawa semakin keras.


“Kapan kamu mau berdamai sama papa?”


“Nggak akan!”


Avisa langsung menutup sambungan teleponnya karena merasa sangat kesal.


Telepon dari Ted membuat Avisa semakin menahan diri untuk bertemu Biru meskipun hal itu menyiksa batinnya sendiri.


***


Di kediaman Darmawan.


Nila tertidur semenjak di perjalanan pulang. Biru langsung membopongnya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di kamar.


“Makasih ya, udah bikin adek dan mamamu seneng.”, ucap Krisna.


“Ya?”


“Tadi waktu kamu lagi bikin minum, mamamu lihat-lihat semua hasil karyamu. Dia tersenyum. Sudah lama papa nggak lihat itu.”


Biru diam, tidak tahu harus merespon bagaimana.


“Mau minum teh di ruang kerja mama?”


Biru melihat jam tangannya, sudah pukul setengah 11 malam.


“Selarut ini?”


“Mamamu pasti berada di sana. Dia jarang sekali tidur di kamar.”


Sejenak, Biru merasa prihatin dengan hubungan mereka. Akhirnya iapun setuju untuk ke ruang kerja Ajeng.


Tok tok tok. Krisna mengetuk pintu pelan dan langsung membukanya.


“Ada apa?”, tanya Ajeng dingin.


“Biru bilang mau nemenin kamu di sini.”


Biru terkejut. Bisa-bisanya ia di jadikan alasan untuk kedatangan mereka.


“Masuk saja.”, kata Ajeng.


Krisna mengajak Biru untuk duduk di sofa panjang, di sebelah kiri meja kerja Ajeng.


“Oh iya lupa. Papa ke dapur dulu ambil tehnya.”


“Biar saya saja.”


“Sudah papa saja.”


“Iya.”


Biru terpaksa duduk lagi karena di tahan oleh Krisna.


“Kamu mau teh juga?”, tanya Krisna pada istrinya.


“Hm.”


“Ok.”


Krisna bergegas pergi dan dengan cepat menghilang dari pandangan mereka berdua. Suasana jadi canggung seketika.


“Maaf.”, kata Ajeng memecah keheningan.


“Ya?”


“Maaf karena sudah membuatmu di asuh orang lain.”


Biru terdiam sejenak.


“Mereka bukan orang lain.”, sahut Biru.


Ajeng tertunduk, semakin merasa bersalah.


“Setidaknya anda memberikan saya pada orang yang baik.”, lanjut Biru.


Ajeng mengangkat kepalanya, menatap lurus pada putranya tersebut.

__ADS_1


“Awalnya memang terasa berat. Terasa sakit karena tidak di inginkan oleh orang tua sendiri. Tapi lama kelamaan, saya merada ada lebih banyak hal yang bisa di syukuri. Entah itu karena menjadi anak bu Windari dan pak Pramono atau karena akhirnya saya tahu bahwa sebenarnya saya tidak di buang.”


Ajeng mulai meneteskan air mata.


__ADS_2