Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 17


__ADS_3

Setelah puas melepas air matanya, Ajeng kembali menuju dapur. Avisa menyambutnya dengan pelukan hangat. Ajeng melihat ke meja, sebagian besar masakan sudah selesai di buat oleh Avisa.


“Avisa menyisakan urusan bekal buat tante.”


Ajeng tersenyum.


“Terimakasih sayang.”


Avisa mengerti bahwa memasak bekal untuk Biru adalah kebahagiaan tersendiri untuk Ajeng, karena itu ia hanya memasak untuk sarapan bersama saja.


“Avisa mandi dulu ya te. Nanti Biru keburu pulang. Malu masih lusuh begini. Hehe...”


Ajeng tertawa mendengar ucapan calon menantunya tersebut. Kehadiran Avisa dan Biru sungguh membuat suasana rumah ini semakin membaik setiap harinya. Ajeng yang dulu sangat dingin kini mulai menerima dengan hangat keberadaan suami dan papa mertuanya. Perlahan iapun berdamai dengan masa lalunya.


***


Biru dan Arif sudah mulai memasuki kota.


“Lu mau ambil motor atau langsung ke RS?”, tanya Biru.


“Ambil motor dulu deh. Kayaknya ntar gue mau langsung balik aja. Capek.”


“Ok.”


Biru melajukan mobilnya menuju kediaman Darmawan.


***


Di kediaman Darmawan.


Biru yang baru saja masuk rumah melihat pak Hendra di ruang tamu.


“Baru pulang?”, tanya pak Hendra.


“Iya.”


“Temanmu nggak ikut?”


“Tadi cuma ambil motor terus langsung berangkat ke rumah sakit. Sudah mepet jam tugasnya.”


Pak Hendra tidak berkata apapun lagi.


“Biru masuk dulu kek.”


“Ya.”


Di lorong menuju kamarnya, Biru melihat Avisa yang hendak membuka pintu kamar. Ia spontan menutupi wajahnya dengan tangan.


“Mau ngajak main ciluk ba?”, tanya Biru.


Avisa yang malu langsung masuk kamar dan menutup pintu. Biru mengetuknya.


“Lu kenapa?”


“Gue belum mandi!”, teriak Avisa dari dalam.


Biru tertawa mendengar jawabannya. Karena tidak bisa masuk ke dalam kamar, Biru memutuskan untuk bergabung dengan kakeknya di ruang tamu.


“Kenapa balik lagi?”, tanya Pak Hendra.


“Avisa mau mandi.”


“Kalian ini dari kemarin perkara mandi saja pakek malu-malu segala.”


“Kek.”, protes Biru.


“Iya iya.”


Suasana hening untuk sejenak.


“Bagaimana kabar bapak ibumu?”, tanya Pak Hendra lagi.


“Baik.”


“Kapan kamu mau bawa mereka ke sini?”


Biru terkejut.


“Nggak usah sok kaget begitu.”

__ADS_1


“Saya kaget beneran.”


“Oh beneran.”


Biru terlihat kesal, membuat Pak Hendra tertawa lepas.


“Kakekmu ini sudah di ujung usia. Rencana kecil seperti itu nggak mungkin kalau nggak tahu.”


“Belum waktunya kek.”


“Kenapa?”


“Saya belum tahu bagaimana caranya menjadi anak yang adil.”


“Kamu pasti bisa.”, kata Pak Hendra sambil tersenyum.


Melihat kakeknya seperti ini, Biru seakan tak percaya dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu.


“Kek.”


“Hm?”


“Nggak jadi.”


Kini giliran Pak Hendra yang merasa kesal.


“Kamu mau kakek pindahkan ke planet lain?”


Biru tertawa.


“Tanya saja.”, kata Pak Hendra.


Karena di persilahkan, Biru akhirnya bertanya juga meskipun dengan ragu-ragu.


“Kakek tidak menyesal dengan kehidupan yang kakek jalani?”


“Memangnya kakek masih bisa menyesal setelah sejauh ini?”


Biru terdiam.


“Yang sudah terjadi tidak akan bisa di ulangi lagi. Lebih baik fokus pada bagaimana caranya menjalani hari esok agar tidak menimbulkan penyesalan yang lain.”


Biru mulai memahami bagaimana jalan pikiran kakeknya ini.


Biru bingung.


“Kenapa?”


“Nanti papanya Avisa mau ke sini.”


“Ya?”


“Nggak usah ya ya ya ya. Sudah sana, ajak Avisa beli pakaian yang bagus.”


Biru masih terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar namun dengan santainya Pak Hendra pergi begitu saja.


Karena teringat dengan kebiasaan Ajeng, Biru langsung bergegas ke dapur. Ajeng kaget melihat anak sulungnya itu menghampirinya dengan tergesa-gesa.


“Mama sudah buat bekal?”


“Sudah ini.”, kata Ajeng sambil memperlihatkan sekotak bekal untuk Biru.


“Mama belum tahu kalau hari ini papanya Avisa akan datang ke sini?”


Ajeng terkejut.


“Kata siapa Bi?”


“Kakek.”


“Kakek nggak bilang apa-apa sama mama.”


Karena penasaran, akhirnya Ajeng mengajak suaminya untuk bertanya langsung pada Pak Hendra.


Di ruangan Pak Hendra.


“Apa benar yang di bilang Biru, pa?”, tanya Krisna.


Pak Hendra bingung.

__ADS_1


“Memangnya dia bilang apa?”


“Katanya Ted mau ke sini.”


“Loh, bukannya papa sudah sampaikan ke kalian?”


Krisna dan Ajeng saling bertatapan. Mereka merasa ada yang aneh dengan Pak Hendra.


Di kamar Krisna.


“Papa nggak kenapa-kenapa kan mas?”, tanya Ajeng.


“Kita hubungi mas Darto.”


Ajeng mengangguk. Mereka menghubungi dokter pribadi keluarga Darmawan tersebut dan menjelaskan keanehan yang terjadi pada Pak Hendra. Tanpa basa-basi, Dokter Darto langsung menuju kediaman Darmawan.


Di ruangan Pak Hendra.


Krisna dan Ajeng di minta untuk menunggu di luar kamar selama Dokter Darto memeriksa kondisi kesehatan Pak Hendra.


“Apa tidak sebaiknya kalau mereka di kasih tahu saja pak?”, tanya Dokter Darto.


“Buat apa? Nanti mereka malah heboh sendiri.”


“Tapi ini sudah semakin parah pak. Anda harus selalu di dampingi.”


“Sudah lah. Saya masih bisa sendiri.”


Mendengar ucapan Pak Hendra, Dokter Darto tidak mampu berbuat apa-apa meskipun sebenarnya khawatir. Karena merasa pemeriksaan sudah selesai, ia memanggil Krisna dan Ajeng untuk masuk.


“Papa kenapa mas?”, tanya Krisna.


Ingin rasanya Dokter Darto menjawab yang sebenarnya namun tidak berani karena sudah di larang oleh Pak Hendra.


“Tidak apa-apa Kris. Bapak cuma lelah saja.”


Namun tiba-tiba...


“Kapan kamu sampai To?”, tanya Pak Hendra pada Dokter Darto.


Krisna dan Ajeng semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi kesehatan Pak Hendra. Akhirnya Ajeng mencari alasan agar mertuanya itu tidak curiga.


“Mas Darto ke sini mau melihat kondisi kesehatan Nila pa. Ya kan mas?”, ucap Ajeng.


“I-Iya.”


“Kalau mau meriksa Nila kenapa di sini?”, tanya Pak Hendra.


“Mau tahu kabar papa saja soalnya kan Mas Darto sudah lama nggak ketemu papa.”, kata Krisna.


“Yuk mas, kita lihat Nila.”, ajak Ajeng.


Dokter Darto yang mengerti dengan rencana mereka langsung mengikuti alurnya dengan baik.


Di ruang kerja Ajeng.


“Ada apa sebenarnya sama papa mas?”, tanya Krisna.


“Sebenarnya, bapak menderita alzheimer. Sudah hampir satu tahun ini.”


Krisna dan Ajeng kaget mendengarnya.


“Kenapa papa nggak pernah bilang pada kami?”


“Kalian bahkan tidak punya waktu untuk menemani dia minum teh.”


Kedua suami istri itu merasa tertampar oleh kenyataan.


“Simbok tahu?”


“Ya.”


Mereka semakin merasa menjadi anak yang durhaka.


“Bapak tidak mau kalian tahu karena takut kalian khawatir. Katanya jika harus pergi, beliau tidak ingin di ingat sebagai papa yang lemah.”


Mereka diam, tidak mampu berkata apapun lagi.


“Lebih baik kalian tetap pura-pura tidak tahu sambil terus menemani beliau. Jangan membuat beliau merasa di kasihani. Tapi tetaplah menjaganya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.”, pesan Dokter Darto.

__ADS_1


“Terimakasih sudah mau memberi tahu kami mas.”


Setelah itu mereka berdua mengantar Dokter Darto sampai ke depan rumah. Mereka sepakat untuk cuti kerja hari ini. Apalagi Ted juga akan datang ke rumah ini.


__ADS_2