Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 14


__ADS_3

“Tadi rumah sakit full pasien keracunan makanan. Gue ngerasa bersalah karena harus pulang saat kondisi mereka belum tentu baik.”


Biru melihat jam dindingnya menunjuk angka 10.


“Bukannya lu selesai tugas jam 5?”, tanya Biru.


Arif mengangguk.


“Lu di sana sampai jam berapa?”


“Jam 9.”


Biru menghela nafas panjang.


“Lu di paksa pulang kan?”


Arif mengangguk lagi.


“Lu nggak percaya sama temen-temen lu yang lain?”


“Percaya lah bro tapi gue merasa bertanggungjawab sama pasien-pasien di sana.”


“Kalau masih ada tapi itu artinya lu nggak percaya.”, sahut Avisa.


Arif terdiam.


“Tanggungjawab itu nggak cuma memastikan pasien-pasien lu dalam keadaan baik. Pulang tepat waktu, istirahat yang cukup dan menjaga kesehatan itu juga bentuk tanggungjawab. Tanggungjawab sama diri lu sendiri.”, lanjut Avisa.


“Avisa bener. Kalau lu nggak jaga diri lu sendiri, gimana lu mau jaga pasien-pasien lu?”


“Dengan lu terus-terusan di sana tanpa istirahat, lu bakal memperburuk kesehatan lu sendiri. Dan akhir terburuknya adalah lu bakal mati dengan hanya menyelamatkan beberapa nyawa. Lu yakin nggak bakal nyesel?”


Arif menundukkan kepala, menyesal karena memaksakan egonya sendiri.


“Sorry.”, ucap Arif lirih.


“Lu harusnya minta maaf sama dia.”, kata Avisa sambil meletakkan jari telunjuknya di dada Arif.


Arif menoleh padanya.


“Lu harunya minta maaf sama diri lu sendiri.”, lanjut Avisa.


Arif tersenyum dalam harunya.


“Udah makan lu?”, tanya Biru.


“Belum, hehe..”


“Ah alesan aja lu kesini pake masang tampang lesu segala. Padahal sebenernya cuma pengen minta makan kan lu?”, sahut Avisa.


“Ya terserah gue dong. Ini rumah saudara gue...”


Seperti biasanya, setiap Avisa dan Arif bertemu pasti akan ada perdebatan yang membuat Biru pusing karenanya. Namun akhirnya senyum Arif kembali ke tempat asalnya. Biru lega melihatnya.


“Gue ke dapur dulu, minta pelayan siapin makanan.”, kata Biru.


Arif dan Avisa mengacungkan jempolnya setelah itu lanjut bergosip-ria setelah sekian lama tidak bertemu.


Di dapur, Biru melihat ibunya berada di sana.


“Hai ma.”


“Hai. Kamu perlu sesuatu?”


“Arif datang, Biru mau minta mbak-mbak siapin makan.”


“Yang calon dokter itu?”


“Iya.”


“Ya sudah kamu temani dia saja, nanti mama panggil kalau sudah siap.”


“Ok. Tolong ya mbak.”, kata Biru pada para pelayan.


“Iya den.”


Biru berbalik badan hendak melangkah pergi namun kembali lagi.


“Ma.”

__ADS_1


“Ya?”


“Ada Avisa juga.”


“Oh ya?”


“Mama mau kenalan sama dia?”


“Boleh?”


“Boleh.”


Mereka tersenyum satu sama lain.


“Ya sudah ayo kenalkan mama sama dia.”


Mereka berjalan bersama menuju kamar Biru. Dua gunung es keluarga Biantara tersebut lama-lama mulai mencair dengan hilangnya rasa bersalah dan kesalah pahaman masing-masing. Kini ibu dan anak tersebut sudah seperti yang lainnya, penuh kasih sayang.


Sesampainya di depan kamar, Biru membuka pintu sedikit lalu menyembulkan kepala di sela-selanya.


“Mama gue boleh gabung?”, tanyanya.


Avisa dan Arif saling pandang.


“Ya boleh lah. Gila aja pake nggak boleh segala.”, kata Avisa.


“Iya nih anak emang ada-ada aja.”


Biru tersenyum lalu mengajak Ajeng masuk.


“Hai tante.”, sapa Avisa yang langsung memeluknya.


“Hai sayang.”


“Halo tante.”, sapa Arif.


“Halo juga.”


“Duduk sini tante.”, kata Avisa sambil memegang tangan Ajeng dan membawanya duduk di sampingnya.


Biru sangat senang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Ajeng terlihat begitu nyaman karena Avisa dan Arif mampu menyeimbanginya. Mungkin mereka sudah terlatih karena selama ini berteman dengannya.


“Makanannya sudah siap den.”


“Maksih ya mbak.”


“Iya den. Permisi.”


Masih di ambang pintu, Biru mengajak mereka untuk makan bersama.


“Makan dulu.”, ajak Biru.


Avisa dan Arif langsung beranjak.


“Tante nggak ikut?”, tanya Arif.


“Tante sudah makan, mau istirahat saja. Kalian, selamat makan ya.”


Arif dan Avisa berjalan lebih dulu menuju dapur.


“Biru antar ke kamar, ma.”


“Mama kan bisa sendiri.”


Namun Biru tetap mengantarnya sampai depan pintu kamar.


“Mama ini kan bukan Nila yang perlu di antar-antar.”


“Kalau nggak di antar, nanti mama tidurnya di ruang kerja. Biru ke ruang makan dulu ya ma.”


Ajeng tersenyum mendengar ucapan anak sulungnya tersebut. Ia baru menyadari bahwa selama ini Biru tidak nyaman melihatnya tidur di ruang kerja.


Setelah Biru menghilang dari pandangan matanya, Ajeng langsung masuk ke dalam kamar. Krisna tidak ada di sana. Namun baru saja ia duduk di tepi ranjang, seseorang terdengar di depan pintu. Ternyata Krisna baru saja datang. Ia terkejut melihat keberadaan istrinya di dalam kamar.


“Kenapa kaget gitu sih?”, tanya Ajeng kesal.


“Kamu nggak salah ruangan?”


Ajeng berdiri.

__ADS_1


“Ya sudah, aku ke ruanganku saja.”


Dengan secepat kilat, Krisna langsung menghadang dan memeluk istrinya tersebut. Ia merasa sangat bahagia karena setelah hampir tujuh tahun akhirnya Ajeng mau kembali tidur di kamar mereka lagi.


“Kalau bukan karena Biru, aku nggak akan mau kembali ke sini.”, gerutunya yang masih berada di pelukan Krisna.


“Iya iya, aku tahu.”


Malam itu, mereka kembali merajut kasih yang sudah lama putus. Menyalakan kembali rasa yang sudah sempat Ajeng matikan. Kini mereka merasakan kebahagiaan yang lengkap.


Biru, Avisa dan Arif beranjak menuju ruang tamu setelah selesai menyantap makanannya.


“Hoaammmm.... Ngantuk gue.”, celetuk Avisa.


“Cewek nguap di tutup kek biar kelihatan anggun dikit.”, sindir Arif.


Avisa menjulurkan lidahnya, mengejek pada Arif.


“Menginap saja kalau ngantuk.”, kata Pak Hendra dari belakang sofa yang mereka duduki.


“Eh kek.”, ucap Avisa.


“Ini siapa?”


“Saya Arif. Anaknya pak Pramono.”


“Oh yang waktu itu di acara wisuda ya?”


“Iya.”


“Kamu juga menginap saja. Sudah malam.”


“Jangan.”, cegah Biru.


“Kenapa?”


“Nanti bapak ibu nunggu. Mereka nggak akan bisa tidur kalau anaknya belum pulang.”


Suasana hening seketika. Pak Hendra beranjak kembali ke kamarnya. Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti.


"Kalau begitu kamu saja yang menginap di sana. Mereka juga pasti rindu pada anak yang satunya.” kata Pak Hendra yang langsung melanjutkan langkahnya.


Avisa dan Arif saling pandang.


“Gue anter kalian pulang.”, ucap Biru.


“Ok.”, jawab keduanya.


“Lu bisa tidur di sini.”, kata Biru pada Avisa.


“Sekamar sama lu?”, goda Avisa.


“Bro?”, protes Arif.


Biru menghela nafas panjang.


“Lu tidur di sini. Gue mau nginep di rumah pak kades.”


Arif spontan tertawa melihat raut kekesalan yang terpancar di muka Avisa.


“Udah lu di sini aja. Lagian di rumah lu juga nggak ada siapa-siapa.”, kata Arif.


Benar juga ucapan Arif, pikir Avisa.


“Gimana?”, tanya Biru.


“Ya udah deh.”


“Besok pagi abis nganter Arif gue pulang.”


“Iyaaa..”


Arif menatap mereka secara bergiliran.


“Kenapa kalian jadi kayak suami yang ijin ke istri buat nginep di rumah temen sih?”


“Udah ayo.”, kata Biru sambil merangkul Arif dan menyeretnya pergi.


Sementara Avisa langsung menuju kamar Biru dan beristirahat di sana.

__ADS_1


__ADS_2