Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 16


__ADS_3

Mengetahui hal itu, bu Tari mengurungkan niatnya dan sama sekali tidak memberitahukan pada pak Hendra bahwa sebenarnya ia sudah tahu tentang hubungan suaminya tersebut. Ia mengandung jabang bayi sekaligus menanggung rasa sakit yang teramat dalam karena pak Hendra. Hingga membuat kondisi kesehatannya semakin lama semakin memburuk.


Mendekati hari persalinan, pak Hendra membawa Simbok ke rumah dan memperkenalkannya sebagai pelayan baru di rumah mereka. Padahal selama ini mereka sudah sepakat untuk tidak memperkerjakan seorang pelayan karena hanya ingin hidup berdua saja. Pak Hendra mengatakan bahwa ia khawatir kalau nanti sang istri membutuhkan bantuan secepatnya saat ia sedang bekerja. Sungguh, saat itu hati bu Tari hancur lebur di buatnya.


Beberapa hari kemudian tibalah waktunya bu Tari untuk melahirkan. Bayi mereka sangat tampan dan sehat. Namun kondisi bu Tari semakin memburuk karena mengalami pendarahan hebat. Di detik-detik terakhir hidupnya, pak Hendra tak sedikitpun beranjak dari sampingnya. Bersikap seolah-olah ia adalah lelaki paling setia di dunia.


Dalam nafas terakhirnya, bu Tari mengatakan tentang segala yang ia ketahui di hubungan Simbok dan suaminya tercintanya. Tentang semua rasa sakit yang di tutupinya. Ia mengatakan semuanya. Dan di akhir ia berpesan.


“Kamu boleh menikahinya. Tapi jangan pernah membawa anakku bersamanya.”


Kalimat terakhir itu seolah merubah haluan pak Hendra. Tanpa di sadari, ia telah menyakiti dua wanita yang mencintainya. Pada akhirnya, pak Hendra memutuskan untuk tidak menikahi Simbok meskipun bu Tari telah tiada. Namun ia juga tidak mengijinkan Simbok untuk meninggalkan rumahnya. Ia tidak ingin Simbok hidup sengsara lagi di luar sana.


Karena itulah, pak Hendra lebih sering menghabiskan waktu untuk mengurusi bisnisnya di luar sana. Karena ia akan merasa sangat bersalah jika berlama-lama di rumah bersama Simbok.


---


Biru terdiam, dadanya terasa sangat sesak mendengar semua itu.


“Pak Hendra sedang menghukum dirinya sendiri dengan cara itu nak.”


Sejenak Biru merasa bersyukur karena tidak berjodoh dengan Mega. Apa jadinya jika mereka memutuskan bersama dan kini ia harus menikah dengan Avisa. Ia akan mengulang cerita pak Hendra dan Simbok secara tidak sengaja.


“Syukurlah bro, lu nggak jadi sama Mega.”


Suasana hening seketika. Lalu tiba-tiba Arif nyengir kuda.


Tak lama, bapak pulang dari tugasnya. Ia sangat bahagia melihat Biru pulang ke rumahnya. Mereka berempat lanjut berbincang-bincang sebentar setelah itu beristirahat karena malam sudah semakin larut.


***


Paginya, masih sangat pagi, Arif sudah membangunkan Biru.


“Hmm... Jam berapa ini?”, tanya Biru yang sedang berusaha membuka matanya.


“Jam 4.”


“Lu gila ya?”


“Gue mulai tugas jam 6 bro.”


Biru baru ingat bahwa ia berada di rumah pak kades yang mana membutuhkan waktu satu jam perjalan untuk sampai ke kota. Ia langsung membuka matanya dan bergegas mandi karena Arif sudah selesai mandi.


Di dapur, Biru melihat ibu sedang menyiapkan bekal. Semalam, Arif memang meminta di buatkan bekal saja karena rumah sakit sedang sibuk sehingga ia tidak memiliki banyak waktu kalau harus beli di warung.


Selesai membersihkan diri, Biru bergegas ganti pakaian dan makan bersama ibu dan Arif. Di waktu sepagi ini. Bahkan mata Biru belum mau sepenuhnya membuka.


“Motor lu kemana Rif?”


“Di rumah lu lah. Gimana sih?”

__ADS_1


“Kok gue nggak lihat kemarin?”


“Kemarin sih gue titipin sama penjaga.”


“Kenapa nggak pake motor gue aja? Kan bisa lebih cepet nyampe RS.”


"Ya itu kan motor lu. Bukan motor gue.”


“Kan sama aja.”


“Nggak sama lah.”


“Sudah sudah. Kalian ini kalau ketemu pasti berantem terus.”, ucap ibu.


Seperti biasanya, kami langsung diam seribu bahasa. Tidak berani melawan perkataan ibu.


Mereka sudah selesai makan. Bapak masih tidur, mungkin karena masih lelah setelah lembur semalam. Akhirnya Biru dan Arif berangkat hanya berpamitan pada ibu. Kemudian beliau memberikan masing-masing satu kotak bekal mereka berdua.


“Kenapa Biru juga bu?”, tanya Biru.


“Kamu kan juga mau berangkat kerja.”


Biru tersenyum pada ibu.


***


Di kediaman Darmawan.


“Pagi tante.”


“Pagi. Kok sudah bangun?”


“Avisa pengen masak buat Biru, tante.”


“Oh ya? Ini tante juga mau masak buat dia. Kita bikin sama-sama?”


“Boleh.”, jawab Avisa dengan senyum riang.


Akhirnya mereka berdua membuat masakan bersama. Para pelayan yang berada di sana merasa tak enak hati namun tak mampu menolak keinginan Ajeng sebagai nyonya rumah ini. Simbokpun tidak memiliki keinginan untuk melarangnya karena ia tahu bahwa Ajeng sedang mencurahkan kasih sayangnya lewat masakan-masakan itu.


Tak lama, pak Hendra datang ke dapur untuk mengambil minum. Para pelayan terkejut akan kehaadirannya, takut jika nantinya mereka akan di hukum karena membiarkan Ajeng memasak sendiri.


“Kenapa kalian masak sendiri?”, tanya pak Hendra.


“Pa, kami bukan keturunan Darmawan.”


Avisa melihat Ajeng yang sepertinya sudah sangat muak dengan peraturan di rumah ini.


“Sebagai perempuan, Avisa sangat senang loh kek saat melihat orang yang Avisa sayangi menikmati makanan yang Avisa buat sendiri dengan penuh cinta.”, kata Avisa mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Pak Hendra tertawa.


“Kalau saja cara bicaramu seperti dia, tentu saya tidak akan pernah salah sangka. Perbaiki sikap dinginmu itu.”, kata pak Hendra pada Ajeng.


“Iya pa.”


Setelah mengatakan itu, pak Hendra  berbalik badan. Hendak kembali ke kamarnya.


“Kakek mau di buatkan kopi?”, tanya Avisa.


Pak Hendra urung melangkah.


“Teh saja.”, jawabnya.


“Ok.”


Setelah itu pak Hendra melangkah pergi, kembali ke kamarnya. Sementara Avisa membuatkan teh hangat untuknya.


“Tante.”


“Ya?”


“Tante aja ya yang ngantar ke ruangan pak Hendra. Avisa kebelet.”


“Biar di antarkan mbak saja.”


“Avisa mohon tante.”


Mendengar Avisa sampai memohon seperti itu, Ajeng tak sampai hati menolaknya. Akhirnya ia menuruti permintaan Avisa dan mengarkan teh itu ke kamar pak Hendra.


Ajeng mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Ia lalu berjalan menuju ruang tamu, ternyata pak Hendra sedang berada di sana.


“Tehnya pa.”, ucap Ajeng sambil meletakkan secangkir teh di meja.


“Duduk.”, perintah pak Hendra lembut.


“Saya mau masak buat Biru.”


“Sebentar saja.”


Ajeng duduk.


“Papa tahu kamu sebenarnya sangat membenci keluarga ini. Maaf, ini semua salah papa.”


Ajeng terdiam. Pria tua yang biasanya terlihat sangat berwibawa di hadapannya ini, kini terlihat sangat sedih.


“Tapi papa tidak mau jadi manusia yang di hancurkan penyesalan. Papa bersyukur karena jalan ini membawa papa pada menantu sebaik kamu. Terimakasih karena kamu tidak menyerah menjadi satu-satunya nyonya di rumah yang kacau ini.”, lanjutnya.


Harusnya Ajeng merasa senang mendengar permintaan maaf yang sudah sekian lama ia nantikan. Namun kini ia justru merasa bersalah karena selama ini hanya menjadikan keluarga ini sumber pertahanan hidupnya. Ia mulai menangis.

__ADS_1


“Maafkan Ajeng pa.”, ucapnya.


__ADS_2