
“Bayangkan bagaimana perasaan abangmu kalau dia tahu mamanya seperti itu. Papa tidak pernah mau membicarakan ini karena papa tidak mau membuka rahasia buruk mama pada kalian.”
Saat itu, Avisa merasa telah menjadi anak yang tidak tahu diri. Ia menundukkan kepala, mengusap wajah dengan kedua tangannya. Setelah itu, ia langsung beranjak untuk duduk di samping papanya dan menangis dalam pelukannya
“Maafin Avisa pa. Avisa nggak pernah mau dengerin papa dan menyimpulkan semuanya sendiri.”
Charlotte tersenyum melihat pemandangan itu. Ia tidak menyangka, anak perempuan yang selama ini membuatnya sakit kepala ternyata memiliki sisi manis juga.
“Sekarang, mau ngobrol sama Charlotte?”, tanya Ted.
Avisa melepaskan pelukan dan mengusap air matanya. Lalu mengangguk pelan.
“Kalau begitu papa mau bikin camilan malam dulu, nanti kita nonton bareng.”
“Iya.”
Ted berjalan ke dapur, memberi ruang untuk mereka berdua. Charlotte membuka tangannya lebar-lebar, Avisa langsung memeluknya.
“Maaf ya, baby.”
“Aku juga minta maaf selama ini sudah membuat anda kesal.”
Charlotte tertawa kecil.
“Senang sekali melihatmu tumbuh sebesar ini dengan baik.”
Beberapa waktu berlalu, camilan yang Ted janjikan sudah selesai di buat. Mereka makan bertiga sambil nonton film di salah satu saluran tv berbayar.
“Anna sama Jason kenapa nggak di ajak juga?”, tanya Avisa.
“Kenapa? Kamu kangen berantem sama mereka?”, sahut Ted.
“Iya.”
Mereka tertawa.
“Mereka bilang ada camping minggu ini. Jadi ya papa nitipin mereka ke abangmu.”, jawab Ted.
Mereka menghabiskan malam dengan berbincang, tertawa dan menyelesaikan satu film di tv setelah itu beristirahat.
***
Di kediaman Darmawan, Biru menghampiri kamar adiknya. Ia mengetuk pintu lalu menyembulkan kepalanya melalui sela-sela pintu.
“Hai.”
“Ada apa kak?”
“Maaf ya kakak nggak bisa jemput hari ini. Ternyata pertemuannya lumayan lama.”
“Tidak apa-apa kak. Nila mengerti.”
“Terimakasih.”
“Sama-sama.”
Biru terdiam sejenak.
“Mmm... Mau di nyanyikan lagu pengantar tidur?”
“Boleh.”
Biru masuk dan duduk di sebelah adiknya yang sudah terbaring. Lalu menyanyikan salah satu lagu ballad kesukaannya.
“Kak.”
“Hm?”
__ADS_1
“Nila suka sama kak Avisa.”
“Kakak juga.”
Mereka sama-sama tersenyum. Setelah itu Biru melanjutkan nyanyiannya sampai Nila tertidur.
***
Keesokan harinya, Pak Hendra memutuskan untuk ikut ke kantor bersama anak dan cucunya. Katanya hendak menyampaikan sesuatu pada para karyawannya.
Seluruh karyawan di kumpulkan di aula.
“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian semua?”, tanya Pak Hendra melalui mikrofon kecil yang sudah di sediakan.
“Baik pak.”, jawab para karyawan dengan penuh senyum.
“Hari ini saya akan menyampaikan dua berita penting.”
Krisna dan Biru bingung namun tetap diam untuk menghormati Pak Hendra yang sedang berbicara.
“Yang pertama. Di musim liburan tahun ini, saya akan memberikan cuti bergilir untuk kalian selama beberapa hari agar bisa menghadiri pesta pernikahan cucu pertama saya.”
Seluruh ruangan heboh, hal ini tidak pernah di lakukan oleh Pak Hendra mengingat permintaan konsumen sangat tinggi untuk produk unggulan mereka.
“Tapi pak, bagaimana dengan target harian kita?”, tanya salah seorang manajer.
“Tidak apa-apa. Kalian juga butuh istirahat.”
Mereka semua merasa terharu.
“Yang kedua. Mulai hari ini, saya bukan lagi Presiden perusahaan ini.”
Seluruh ruangan kembali heboh.
“Saya juga butuh istirahat. Lagipula, cucu saya sudah bersedia mengabdikan diri untuk perusahaan ini. Kalau di awal pekerjaannya tidak begitu bagus, mohon di maklumi. Tidak ada yang langsung jadi profesional dalam sekali coba.”
Seluruh karyawan mendengarnya dengan seksama. Pak Hendra adalah sosok yang sangat di hormati, jadi tidak ada seorangpun yang meragukan keputusannya.
Semua orang tertawa.
“Selamat pagi dan selamat bekerja.”
“Siap pak.”
Krisna, Biru dan jajaran direktur lain mengantar Pak Hendra sampai di depan pintu kantor setelah itu kembali ke pekerjaan masing-masing.
***
Sementara itu di rumah Biantara, keluarga yang baru mendeklarasikan perdamaiannya semalam ini ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama dan bersenang-senang. Hari ini mereka berencana untuk jalan-jalan ke beberapa tempat wisata, sembari mengenalkan kota ini pada Charlotte.
Tok tok tok. Ted mengetuk pintu kamar putrinya.
“Baby, sudah siap?”
“Sebentar pa.”
“Papa sama Charlotte tunggu di mobil ya?”
“Ok.”
Setelah menunggu beberapa menit, putri cantik Ted akhirnya terlihat juga.
(di sini mereka berbicara menggunakan bahasa inggris yang sudah author terjemahkan)
“Jalan sama papa aja dandannya lama banget, gimana kalau sama Biru.”, goda Ted.
“Mungkin bisa seharian.”, sahut Charlotte.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama.
“Kita berangkat sekarang?”, tanya Ted.
“Let’s gooo....!!!”, sahut Charlote dan Avisa.
Mereka memulai perjalanan keliling kota dengan senang dan gembira. Ke tempat satu menuju tempat lainnya lalu memutuskan untuk mampir ke butik Ajeng. Membeli beberapa baju untuk oleh-oleh di Inggris.
“Hallo.”, sapa Ajeng.
“Hai.”, sahut keluarga Biantara.
“Kok nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini? Untung aja aku masih di sini.”
“Emang tante mau ke mana?”
“Mau ke sekolahnya Nila. Sudah waktunya pulang. Mau ke tempat les juga.”
“Kalau gitu Avisa aja yang anter tante.”
“Beneran nih?”
“Iya.”
“Ya sudah kalau gitu. Makash ya sayang.”
Avisa tersenyum.
“Pa, mom, aku jemput Avisa dulu ya?”
“Ok, hati-hati di jalan baby.”, sahut Ted.
Sementara Charlotte hanya tersenyum, tenggelam dalam rasa bahagia karena baru saja mendengar Avisa memanggilnya ‘Mom’ untuk yang pertama kalinya.
“Dari mana saja hari ini?”, tanya Ajeng.
“Tadi aku di ajak jalan-jalan sama mereka. Keliling kota, ke kebun binatang, ke taman dan banyak lagi tempat lainnya.”, jawab Charlotte.
“Wah, pasti menyenangkan sekali ya?”
“Sangat menyenangkan.”
“Kita ke sini mau milih beberapa baju buat Anna dan Jason. Sekalian buat keluarga George juga.”, kata Ted.
“Benarkah? Kalau begitu ayo ikut aku. Aku akan tunjukkan ke kalian koleksi baju terbaik yang aku punya.”
Ted dan Charlotte memilih beberapa baju yang sekiranya sangat menggambarkan Indonesia. Seperti ajaran Pak Hendra, “Jika kamu menapakkan kaki di suatu wilayah, pastikan kamu membawa oleh-oleh yang mampu memperkenalkan tempat itu pada penerimanya. Agar mereka merasa pernah ke sana juga.”
Pak Hendra mampu menghargai setiap hal kecil dalam hidupnya. Sebagai penebusan dosa akan hal-hal yang pernah ia perlakukan dengan tidak baik, seperti istrinya.
***
Di sekolah Nila, Avisa langsung bergegas masuk karena takut Nila akan menunggu lama.
“Jemput siapa?”, tanya penjaga gerbang.
“Nila.”
“Nila siapa?”
“Mmm... Kayaknya saya belum pernah tanya nama lengkapnya.”
“Kamu jangan main-main ya!”
“Berisik banget sih pak. Iya iya. Saya mau jemput cucu Darmawan.”
“Kamu siapanya?”
__ADS_1
“Saya calon kakak iparnya.”, kata Avisa dengan nada yang menyebalkan.
Penjaga itu langsung membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Avisa masuk.