Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 6


__ADS_3

Setelah puas tertawa, Avisa mulai merasa lapar.


“Laper.”, celetuknya.


“Kita jalan-jalan yuk, sekalian cari makan.”, ajak Jingga.


“Kalian nggak makan di rumah?”, tanya Biru


“Dia ini cuma mau masak buat lu. Hampir seminggu gue di sini rasanya badan gue makin ringan. Adek gue nggak mau ngurusin gue.”


“Berisik”, sahut Avisa


Ia langsung menarik tangan Biru dan membawanya pergi. Jingga mengikuti mereka.


“Ngapain lu?”, tanya Avisa.


“Gue yang bikin dia kesini.”, sahut Jingga.


Biru yang melihat tatapan sengit antara dua saudara ini langsung memasukkan mereka di kursi belakang sedangkan ia menuju kursi depan sendirian.


“Kenapa gue juga di masukkin ke belakang sih?”, protes Avisa.


Biru tidak menghiraukannya dan langsung melakukan panggilan melalui hpnya.


“Selesai jam berapa?”, tanya Biru.


“Jam 5 kayaknya.”


“Kirim alamatnya, ntar gue jemput.”


“Yang bikin rencana si Jingga, bro. Gue cuma bantu aja.”


“Bacot.”


Biru langsung menutup sambungan teleponnya dan melajukan mobilnya menuju salah satu restoran di sekitaran kota. Avisa menghela nafas panjang.


“Kenapa?”, tanya Jingga.


“Ngeliat mobil ini, gue jadi inget dia bukan Biru yang kemarin gue kejar-kejar.”


“Gue tetep gue. Gue nggak bakal jadi orang lain cuma gara-gara hal kayak gini.”


Avisa tersnyum, ia tahu Biru sedang mencoba menenangkan hatinya.


“Arif balik jam berapa?”, tanya Jingga.


“Jam 5 katanya.”


“Sekarang masih jam 3. Kita mau nungguin dia dimana?”


Kruyuuuukk... Perut Avisa berbunyi. Biru melihatnya dari spion depan. Avisa nyengir kuda.


“Kita cari makan dulu aja.”, sahut Biru.


“Ok.”


Setelah beberapa menit perjalanan, Biru melihat sebuah warung soto yang cukup ramai.


“Mau soto?”, tanya Biru.


“Ok deh.”, jawab Jingga.


“Apa aja ok gue sih.”, sahut Avisa.


Perempuan satu ini memang tidak pernah pilih-pilih soal makanan. Biru sangat suka sifatnya yang satu ini. Meskipun sudah lama ikut ayahnya yang kaya raya, tidak sedikitpun membuatnya sombong dan manja.


Biru memarkirkan mobilnya. Semua mata tertuju padanya, ia heran. Dua bersaudara yang berada di kursi belakang tertawa bersama.


“Kenapa mereka liatin kita?”, tanya Biru polos.


“Lu nggak sadar yang lu bawa ini mobil apa? Cuma konglomerat yang punya.”, jawab Avisa.


Masih tertawa, Jingga dan Avisa langsung membuka pintu dan keluar dari mobil. Sedangkan Biru merasa malu jika harus keluar dari mobilnya dengan di perhatikan banyak pasang mata. Jingga mengetuk kaca mobil di samping Biru.

__ADS_1


“Nggak keluar?”, tanya Jingga.


Sebenarnya Biru enggan namun ia tidak ingin terlihat memalukan. Akhirnya ia turun dengan penuh rasa canggung. Jingga dan Avisa menggandeng di kanan kirinya.


“Udah jangan tegang.”, kata Jingga.


Mereka akhirnya masuk dengan Biru yang masih merasa canggung. Salah satu rombongan pengunjung baru saja selesai makan dan hendak pulang.


“Kalian berdua cepet duduk sana. Biar gue yang pesen.”, perintah Jingga.


Biru dan Avisa menurutinya dan langsung duduk di sana sebelum di serobot oleh orang lain. Tak lama Jingga bergabung dengan mereka.


“Rame banget ya?”, ucap Avisa.


“Kata ibu kalau dagangan banyak pembelinya gini pasti masakannya enak.”, sahut Biru.


“Loh, kok sama kayak yang mama bilang.”, sahut Jingga.


“Jangan-jangan mereka satu tongkrongan.”, kata Avisa.


Dua bersaudara itu tertawa. Biru hanya melihat mereka dengan muka datar.


“Eh, katanya lu tadi abis dari kantor. Dimana kantor lu?”, tanya Jingga.


“Lu beneran nggak tahu? Di google nih ya kalau lu ketik ‘Kantor Darmawan’, yang keluar pertama pasti kantor dia. Beneran lu nggak tahu?”


Jingga yang tak terpikirkan untuk mencarinya di internet mulai menyadari kebodohannya. Lalu ia nyengir pada adiknya yang sudah mulai kesal tersebut.


“Dulu pas pembagian otak, gue minta secukupnya aja. Kalau ada jatah lebih, gue suruh kasih elu. Makanya lu pinter. Makasih lu sama gue.”, alasan Jingga.


“Gue boleh mukul lu nggak sih?”


Avisa semakin kesal dengan ocehan abangnya tersebut.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesanan mereka datang juga. Avisa menyantap soto lamongan di depannya dengan sangat lahap hingga selesai lebih dulu. Ia lalu melirik kedua lelaki di kanan kirinya tersebut. Mereka makan dengan santai, bahkan belum berkurang setengahnya. Biru menyadari hal itu.


“Masih laper?”, tanya Biru.


“Mmm... Iya. Hehe...”


“Mau camilan sekalian?”, tanya Biru yang sedikit berteriak dari meja kasir.


“Boleh! Bungkus aja! Ntar buat di mobil!”, sahut Avisa dengan teriakannya.


Jingga hanya diam mengamati mereka.


“Kenapa lu?”, tanya Avisa.


“Pantesan lu suka banget ya.”, ucap Jingga sambil tersenyum dan mengusap-ngusap kepala adiknya tersebut.


Dalam hati Avisa senang di perlakukan seperti itu namun egonya memaksa tangannya untuk menyingkirkan tangan abangnya.


“Gue bukan anak kecil.”, ucapnya.


“Sebesar apapun kamu tumbuh, seorang adik akan tetap menjadi adik kecil bagi kakaknya.”


Avisa memasang tampang pura-pura marah. Biru yang baru saja kembali heran melihat raut wajahnya tersebut.


“Nggak sama Arif, nggak sama abang sendiri kerjaan lu berantem mulu.”, celetuk Biru.


“Kalau bisa di ukur nih ya, kesabaran dia tuh bahkan lebih tipis dari selembar tisu.”, sahut Jingga.


Avisa menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menyilangkan lengannya dan mulai memajukan bibirnya, cemberut. Tidak ada satupun dari mereka yang menghiraukannya. Ia semakin kesal. Tiba-tiba saja ia berdiri, membuat yang lain kaget.


“Mau kemana?”, tanya Jingga.


“Toilet.”, jawab Avisa kesal.


Namun sebelum ia melangkah pergi, seorang karyawan tiba di meja untuk mengantarkan pesanan tambahan mereka. Tanpa menoleh, Biru menarik tangan Avisa dengan lembut. Avisa duduk kembali dan lanjut menumpas kelaparannya. Jingga menahan tawa.


***


Selesai makan mereka langsung pergi karena banyak sekali pengunjung berdatangan, tidak enak jika harus berlama-lama karena meja warung selalu penuh.

__ADS_1


“Cepet banget udah jam setengah 5 aja. Perasaan juga baru sampe.”, celetuk Avisa.


“Ya kan tadi nunggu giliran pesanannya lama. Maklum lah kalau tempat rame.”, sahut Jingga.


“Jadi kita langsung ke Arif aja nih?”, tanya Avisa


Biru menangguk. Di depan warung, langkah Biru terhenti. Ia masih memikirkan caranya memasuki mobil itu tanpa rasa canggung. Jingga dan Avisa yang sudah sampai pintu mobil baru menyadari bahwa Biru masih mematung di depan warung.


“Lu nggak nyuruh kita mecahin kaca buat masuk kan?”, teriak Avisa.


Malu. Biru semakin malu. Ia langsung berlari dan masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi dua bersaudara ini tertawa karena tingkahnya.


“Berapa pak?” tanya Jingga pada tukang parkir.


“Lima ribu den.”


Jingga memberikan selembar uang biru pada bapak tukang parkir tersebut. Lalu langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Avisa sudah nyaman sekali berada di kursi depan.


Baru saja Jingga menutup pintu, tukang parkir itu menghampirinya dan mengetuk kaca jendelanya.


“Kenapa pak?”


“Ini mas kembaliannya.”


“Bapak bawa saja. Sayang sedang senang hari ini.”


“Wah. Terimakasih ya mas. Terimakasih.”


Setelah itu bapak tukang parkir mengaarahkan mobil untuk keluar dari sana.


"Seneng kenapa lu?”, tanya Avisa.


“Ada lah.”


Kriiiinnnggg..... Avisa mengurungkan niat untuk bertanya lagi karena ada panggilan masuk ke hp Jingga.


(di sini Jingga dan Alexa berbicara menggunakan bahasa Inggris yang sudah author terjemahkan.)


“Halo.”, jawab Jingga.


“Bagaimana kabar kalian?”


“Baik. Saat ini kita sedang menuju RS untuk menjjemput Arif, bersama Biru.”


“Biru? Wah aku tahu, pasti sekarang Avisa sudah bugar kembali.”


“Tentunya.”


Mereka berdua tertawa.


“Apa aku harus kembali sekarang?”, tanya Jingga.


“Tidak. Nikmati saja waktumu di sana dan kembali saat sudah benar-benar puas di sana.”


“Aku merindukanmu.”


“Aku juga.”


Sebuah suara terdengar memanggil Alexa.


“Aku harus pergi. Banyak sekali pekerjaan hari ini.”, kata Alexa.


“Ok. Jaga kesehatan.”


“Ok. Aku mencintaimu.”


“Aku juga.”


Jingga memasukkan kembali hpnya ke dalam saku. Avisa dan Biru menahan tawa karena mendengar obrolan barusan.


“Nggak usah ketawa-ketawa.”, kata Jingga.


“Mesra banget lu ya.”, hardik Avisa.

__ADS_1


“Dalam sebuah hubungan, wajar dong. Kalian tuh yang nggak wajar. Kangen aja mesti gue yang nyusun skenario biar bisa ketemu.”


Biru dan Avisa saling melirik lalu anteng melihat ke depan.


__ADS_2