Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 7


__ADS_3

Setelah beberapa waktu perjalanan, sampailah mereka di depan sebuah rumah sakit tempat Arif melaksanakan koasnya. Mereka menunggu Arif dengan tenang.


Tak lama Arif terlihat keluar dari pintu depan dan celingak celinguk melihat sekitaran. Avisa menekaan klakson. Terlihat Arif berjingkat kaget. Mereka tertawa. Avisa membuka kaca jendela.


“Nyari siapa lu?”, teriak Avisa.


Arif langsung berlari menghampiri mereka. Jingga membukakan pintu dari dalam agar ia bisa langsung masuk. Di dalam mobil, Arif hanya diam. Bengong untuk beberapa saat.


“Heh! Kenapa lu?”, senggol Jingga di sampingnya.


“Gue tahu tuan Biantara itu kaya. Tapi harus banget ya pake mobil modelan gini? Gue yang miskin kan jadi syok.”, protes Arif.


“Lu pikir Biantara bakal kasih kita kemewahan kayak gini?”, sahut Avisa.


Arif semakin melongo. Mulutnya menganga tak terkontrol, membuat Avisa terpaksa menutupnya dengan kerupuk udang yang mereka beli di warung soto tadi.


“Hmmm.. Enak. Beli dimana?”, tanya Arif.


Jingga langsung memukul bahunya. Arif tertawa keras.


“Jadi kita mau kemana?”, tanya Arif.


Mereka bertiga saling bertatap-tatapan karena memang tidak memiliki rencana apapun.


“Kalian jemput gue tapi nggak punya rencana?”, tanya Arif lagi.


Jingga dan Avisa cengengesan.


“Pulang aja lah gue.”, kata Arif pura-pura kesal.


Arif hendak membuka pintu namun dengan cepat Biru menguncinya dari kemudi.


“Ya udah lah nggak jadi.”, kata Arif.


Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak kecuali Biru. Ia memang jarang sekali tertawa lepas.


“Ajak gue ke rumah baru lu dong bro.”, kata Arif.


Biru menoleh.


“Gue mau minta makan. Laper.”


Awalnya, Biru enggan karena ia juga baru saja menjadi penghuni di kediaman itu. Namun mereka bertiga terus saja memaksa. Akhirnya tanpa basa-basi, biru melajukan mobilnya dan membawa mereka ke kediaman Darmawan.


***


Tiba di kediaman Darmawan. Lagi-lagi Arif melongo. Kali ini karena melihat rumah megah di hadapannya. Biru mengajak mereka masuk. Karena Arif masih saja diam mematung, Jingga mendorongnya dari belakang.


Di dalam rumah, mereka di sambut oleh beberapa pelayan.


“Mbak. Bisa siapkan makan malam?”, tanya Biru pada salah satu pelayan.


“Iya den.”


Setelah itu Biru mengajak mereka ke kamarnya di lantai dua, sembari menunggu hidangan di persiapkan. Suasana di kamarnya seperti membawa mereka ke era jaman penjajahan belanda dulu. Sangat.... Jaman dulu. Banyak hiasan-hiasan vintage di sana. Seperti lukisan istana Majahapit yang bertengger di atas ranjang.


“Waahhh... Gila. Vintage banget ini kamar.”, celetuk Arif.


“Seluruh bagian rumah ini di desain Pak Hendra sendiri. Katanya kemanapun beliau pergi, beliau akan tetap kembali ke Jawa.”


“Pantesan beliau bisa setinggi ini. Prinsipnya aja kuat banget.”, sahut Jingga.


Mereka bersantai sejenak di kamar tersebut sampai seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Biru membuka pintu.


“Ya mbak?”


“Makanan sudah siap den.”


“Iya. Terimakasih mbak.”


Biru mengajak mereka untuk turun ke ruang makan.

__ADS_1


Mereka kaget melihat begitu banyak hidangan berada di atas meja, terutama Arif.


“Mbak, kenapa banyak sekali?”, tanya Biru pada salah satu pelayan.


Seorang pelayan senior yang sudah lumayan berumur memasuki ruang makan.


“Kalau bawa teman itu pastikan mereka pulang dengan perut kenyang. Sudah makan saja!”, teriaknya.


Biru tertegun. Wejangannya persis dengan yang selama ini ibu ajarkan padanya. Hampir saja ia mengharu namun dengan cepat Arif merubah suasana.


“Udah makan aja sebelum si mbok makin marah.”, ajak Arif.


“Terimakasih ya mbok.”, lanjutnya.


Pelayan senior itu langsung balik badan dan pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apapun lagi. Biru mengikutinya, sementara yang lain langsung duduk dan di layani untuk makan.


“Maaf.”


Pelayan senior itu menoleh.


“Apa?”, tanyanya ketus.


“Sejak kapan anda berada di sini?”


“Kenapa?”


“Anda tahu ibu Windari?”


Pelayan senior itu melanjutkan langkahnya.


“Anak kurang ajar itu meninggalkanku sendirian di sini.”, katanya sambil berjalan.


“Ya?”


Si pelayan senior masih saja melanjutkan langkahnya.


“Permisi.”


“Si Mbok!”, bentaknya.


“Kok nggak makan?”, tanya Biru.


Arif mengarahkan matanya pada para pelayan.


“Maaf mbak-mbak, bisakah tinggalkan kami?”


Mereka saling bertatap-tatapan.


“Nanti saya akan jelaskan pada Pak Krisna kalau beliau tahu.”


Mereka membungkukkan badan dan langsung pergi. Arif bernafas lega.


“Gila banget ya rumah baru lu ini. Hampir nggak bisa napas gue.”, oceh Arif.


“Makan.”, sahut Biru.


Arif langsung mengangkat sendoknya dan mulai makan. Jingga dan Avisa tertawa kecil.


“Tapi bener sih. Gila banget pelayanan di sini.”, kata Avisa.


“Lu pikir kemarin gue nggak syok.”, sahut Biru.


Jingga terkejut. Baru kali ini ia mendengar berbicara sangat santai seperti itu.


Selesai makan, Biru mengajak mereka bersantai di ruang tamu. Selang beberapa waktu, Ajeng masuk rumah bersama Nila.


“Eh, ada tamu.”, celetuk Nila.


Mereka berempat sontak berdiri dan menyapa Ajeng.


“Halo tante.”, sapa mereka kecuali Biru.

__ADS_1


“Hai.”


Ajeng menoleh pada Nila.


“Mama masuk dulu.”


“Iya ma.”


Ia lalu pergi masuk ke dalam. Nila menatap mereka satu per satu.


“Apa lu lihat-lihat?”, kata Avisa.


“Saaaa.”, sahut yang lain.


“Kalian berdua anaknya paman Biantara ya?”


Jingga dan Avisa bertatapan.


“Kamu tahu dari mana?”, tanya Jingga.


“Papa bilang, kakak hanya memiliki empat orang teman dan dua di antaranya adalah Biantara bersaudara.”


“Lalu, kamu tahu dari mana kalau kita yang bersaudara.”


"Kelihatan mukanya glowing, sementara kakak itu kucel.”, jawab Nila sambil berlalu pergi.


Arif menunjuk dirinya.


“Waahhh kurang ajar tuh bocil.”, kata Arif.


Mereka tertawa kencang, kali ini termasuk Biru.


“Kelihatan banget kalau dia sekandung sama Biru.”, kata Avisa.


“Cocok.”, sahut Jingga.


Mereka tertawa lagi.


Gubrak!!! Tiba-tiba terdengar sesuatu yang jatuh. Mereka menghampiri asal suara.


“Den, non Nila den.”, kata salah seorang pelayan kepada Biru.


Biru langsung berlari dan menggendongnya ke dalam kamar. Untuk pertolongan pertama, Arif mempraktekkan ilmu yang selama ini sudah ia pelajari. Namun ia juga menyuruh Avisa memanggil dokter untuk berjaga-jaga. Avisa keluar ruangan dan hendak menghubungi dokter namun terlihat Ajeng datang dari ujung lorong.


“Tidak perlu menelpon dokter. Kami punya dokter keluarga.” ucap Ajeng.


“Iya tante.”


Lalu Ajeng masuk dan melihat kondisi putrinya yang sudah mulai membuka mata dengan lemah. Setelah itu, Nila mulai menangis dan di peluk oleh mamanya. Biru mengajak yang lain meninggalkan ruangan agar Nila merasa lebih tenang.


“Gue antar kalian pulang ya.”, ucap Biru.


Mereka mengangguk dan mulai mengambil langkah.


“Tunggu.”, panggil Ajeng.


Mereka menoleh, Ajeng menghampiri mereka.


“Terimakasih sudah memberikan pertolongan pertama pada Nila.”, ucapnya pada Arif.


“Sama-sama tante. Saya Arif. Anak bu Windari, saudara Biru di desa.”


Ajeng terkejut. Lalu tersenyum canggung.


“K-kalau kalian?”


Ajeng bicara dengan terbata-bata. Hatinya masih saja kalut jika mengingat Biru selama ini di asuh oleh orang lain.


“Kami anak Biantara tante. Saya Jingga dan ini adik saya, Avisa.”


“Salam kenal tante.”

__ADS_1


“I-iya. Kalian hati... hati-hati di jalan. Permisi.”


Ajeng kembali masuk ke kamar putrinya.


__ADS_2