
“Nanti. Buat bulan madu.”, jawabnya sambil cengengesan.
“Hampir aja gue pergi pesen tiket.”
Avisa tetawa lepas. Biru senang melihatnya.
“Jangan marah-marah lagi ya? Lu cantik kalau senyum.”, ucapnya.
“Iya.”
Suasana yang tadinya memanas kini mulai mencair. Di ruangan sebelah, Krisna yang samar-samar mendengar nama Ratu bertanya pada Nila karena penasaran.
“Kakak Biru ada hubungan apa sama ibu Ratu?”
“Ibu Ratu suka sama kakak Biru.”, jawab Nila sambil memakan snack yang sudah di bawakan oleh Mas Didin.
“Oh ya? Wah diam-diam kakak jadi incaran perempuan-perempuan hebat ya?”
Nila memiringkan kepalanya, bingung.
“Kakak Avisa hebat?”
“Kamu nggak tahu? Kaka Avisa itu siswa unggulan sekolah menengah favorit di Inggris. Dia lulus lebih cepat dari yang lain.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Nila terdiam sejenak.
“Nila boleh ke kakak Biru?”
“Kamu ke sini cuma buat ketemu kakak Biru ya?”
Nila tersenyum malu.
“Papa sedih tahu. Sejak kakak Biru kembali, Nila sama mama cuma peduli sama kakak Biru.”, kata Krisna sambil memasang tanpang sedih.
Nila berjalan menghampirinya, memeluknya sebentar lalu langsung pergi ke ruangan kakaknya.
“Haa... Aku benar-benar iri pada anak sendiri.”, gerutu Krisna seorang diri.
Tok tok tok. Nila mengetuk pintu ruangan Biru dan langsung masuk.
“Loh, kok nggak ke tempat les?”
“Nila mau lihat kakak Biru.”
“Terus Nila ke sini sama siapa?”
Nila menatap Avisa, Biru sontak menoleh dan menatapnya juga. Avisa cengengesan.
“Kalian ini ya....”, ucap Biru sambil memeluk dua gadis kesayangannya tersebut.
Mereka tertawa bersama hingga membuat tersenyum penghuni ruang sebelah.
“Habis ini mau kemana?”, tanya Biru.
“Kita ke butik mama kamu. Papa sama momyku di sana.”
Biru senang mendengar Avisa yang sudah mulai akur dengan keluarganya.
“Nila nggak apa-apa ke tempat mama?”, tanya Biru pada adiknya.
“Kan ada kakak Biru dan kakak Avisa.”
Biru dan Avisa saling bertatapan lalu tertawa bersama lagi, gemas dengan tingkah Nila.
“Papa nggak di ajak nih?”, tanya Krisna dari ambang pintu.
Mereka tertawa lagi.
***
20:00 di butik Ajeng, Ted dan Charlotte masih berada di sana karena Avisa membawa mobil mereka.
“Kenapa Avisa nggak balik ya mas?”, tanya Ajeng.
__ADS_1
“Halah, paling juga ke kantor anakmu.”
“Dari dulu begitu ya mas?”
“Iya. Kemana saja anakmu pergi, pasti di ikutin. Nggak mau dia ketinggalan Biru sedikitpun.”
Mereka tertawa bersama.
“Agresif sekali anak kita.”, ucap Charlotte.
Selagi mereka sibuk membicarakan anak-anak mereka, Biru dan Avisa ternyata sudah sampai di parkiran bersama Krisna dan Nila. Mereka memasuki butik dan langsung ke ruangan Ajeng, dimana tiga orang tua itu sedang bergosip.
“Hayooo.... Gosipin Aku ya?”, ledek Avisa.
Ajeng, Ted dan Charlotte sontak menoleh.
“Tuh kan, aku bilang apa. Pasti ke anakmu.”
Mereka bertiga tertawa. Avisa mendadak tersipu malu.
“Kenapa kalian berkumpul tanpa aku?”, protes Krisna yang langsung nyelonong masuk.
“Kamu kan masih kerja Kris.”, sahut Ted.
Malam itu, dua keluarga berkumpul menjadi satu. Sekaligus reuni bagi Ted dan Kris yang dulunya memang sering bersama ketika Ted masih tinggal di kediaman Darmawan. Bahkan bisa di bilang hanya Ted satu-satunya saudara yang Krisna miliki sejak seluruh keluarga dari ibunya memutuskan hubungan karena mengetahui skandal Pak Hendra dan Simbok.
Sepulangnya dari butik, di dalam mobil Avisa bertanya pada papanya.
“Pa.”
“Ya, baby?”
“Avi boleh undang mama ke pernikahan Avi?”
Ted menoleh pada Charlotte.
“Avi bilang gini di depan momy karena Avi nggak mau nyembunyiin apa-apa. Momy ibu Avi juga.”
Charlotte tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan Ted.
“Ya sudah kalau begitu boleh.”
“Kamu tahu kami mencintai kamu kan?”, tanya Charlotte.
“Tentu.”
Mereka tersenyum bahagia menerima kasih sayang dari masing-masing.
***
Esok harinya masih di pagi buta, Ted dan Charlotte kembali ke Inggris karena harus mengurusi pekerjaan yang sudah beberapa hari di tinggal. Sebelumnya mereka juga sudah berpamitan pada keluarga Darmawan. Mereka akan kembali ke Indonesia di hari pernikahan Avisa.
Avisa yang tidak mau bosan sendirian di rumah memutuskan untuk menghubungi Biru.
“Halo.”, jawab Biru di seberang telepon.
“Udah berangkat?”
“Belum, masih mau sarapan.”
“Jemput gue.”
“Mau kemana?”
“Ikut lu kerja.”
“Tunggu bentar.”
“Ok.”
Sekitar 20 menit kemudian, Biru sudah berada di depan rumah. Ia menghubungi Avisa.
“Gue udah di depan.”
“Ok.”
Avisa terlihat keluar rumah dengan senyum penuh di wajahnya.
__ADS_1
“Udah sarapan?”
“Belom.”
“Nih.”
Biru memberikan sekotak bekal yang berisikan roti isi untuk Avisa.
“Emang lu udah sarapan?”, tanya Avisa.
“Belom.”
“Pantesan cepet banget nyampe sini. Nih.”
Avisa mengulurkan tangannya yang memegang roti isi ke mulut Biru.
“Apa sih?”
“Nggak usah sok malu-malu deh dari pada ntar gue abisin nih rotinya.”
Dengan malu-malu, Biru akhirnya mau menerima suapan dari tangan Avisa. Lalu mulai melajukan mobilnya. Di sepanjang perjalanan mereka menikmati roti isi itu hingga habis.
Mereka masuk ke dalam gedung kantor, melewati ruangan Krisna yang belum ada penghuninya.
“Om Kris belum datang?”
“Katanya ada pertemuan luar.”
“Oooh..”
Avisa menemani Biru sambil melihat-lihat beberapa pilihan kampus di Inggris. Biru yang sedang berjalan tidak sengaja melihatnya.
“Lu mau kuliah lagi?”
“Iya.”
Avisa menjawab tanpa memalingkan pandangannya dari hp.
“Kenapa di Inggris?”
“Mmm... Pengen aja.”
“Terus gue gimana?”
“Ikut lah.”
Biru langsung duduk di sampingnya.
“Kenapa nggak di rundingkan dulu?”
“Kalau lu nggak mau juga nggak apa-apa kok Bi.”, jawab Avisa dengan santai dan masih fokus pada hpnya.
“Bukan masalah mau nggak mau Sa. Kita ini sebentar lagi menikah tapi kamu masih saja memutuskan hal sepenting ini sendirian.”
Avisa yang mendengar perkataan Biru langsung mematikan hpnya dan menatap Biru.
“Lu kan udah tahu kalau gue minat ambil S2 di Inggris. Kita sering ngomongin ini bareng Arif juga.”
“Itu kan sebelum kita memutuskan untuk menikah.”
“Ya terus lu mau gue nggak lanjutin kuliah gue? Gitu?”
“Bukan gitu juga Sa.”
“Lu nggak mau lanjut kuliah, itu urusan lu. Lu nunda lanjut kuliah itu juga urusan lu. Gue nggak pernah keberatan sama pilihan lu. Kenapa lu keberatan sama keputusan gue?”
“Sa, maksud gue bukan kayak gitu.”
Biru mencoba menjelaskan namun amarah Avisa sudah menjalar dengan sempurna hingga tak dapat lagi di bendung.
“Gue juga udah bilang kan kalau lu nggak mau ikut juga nggak apa-apa. Kita bisa ketemu kapan aja, toh papa juga nggak bakal keberatan ngasih gue tumpangan setiap hari pake salah satu pesawatnya.”
“Sa...”
“Belum nikah aja lu udah ngatur-ngatur gue kayak gini. Yakin lu mau kita nikah?”
“Sa!”
__ADS_1
Biru mulai kehilangan kesabarannya. Avisa menatapnya tajam.