
Biru menuju ruang tamu, bergabung dengan kedua orang tua dan kakeknya. Krisna dan Ajeng takjub melihatnya.
“Ini anak papa? Beneran?”, taanya Krisna yang seolah tidak percaya.
Aajeng menepuk lengannya sambil tersenyum.
“Ganteng banget loh ma. Kayak papa waaktu masih muda dulu.”, lanjutnya.
“Untung aja kelakuannya nggak kayak kamu.”, sahut Pak Hendra.
Biru yang malu hanya bisa tersenyum sambil menggosok-gosok lehernya.
Sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman rumah, tamu yang di tungu-tunggu akhirnya datang juga. Ted datang bersama istrinya. Mereka di sambut oleh para penjaga di luar rumah dan di antarkan sampai ke depan pintu masuk. Seluruh anggota keluarga Darmawan sudah menunggunya di ruang tamu.
“Waahhh... Sudah lama sekali rasanya.”, kata Ted.
“Selamat datang mas. Bagaimana kabarnya?”, sambut Krisna sambil menjabat tangan Ted.
“Hai Kris. Kabarku baik. Kamu bagaimana?”
“Baik juga mas.”
Mereka semua saling menyapa, termasuk para istri. Setelah di persilahkan duduk, Ted baru sadar bahwa pria muda di sebelah Pak Hendra adalah Biru.
“Ini Biru?”
Biru tersenyum dan mengangguk.
“Ganteng ya mas? Kayak aku dulu.”, saahut Krisna.
Mereka semua tertawa.
“Jadi bagaimana?”, tanya Pak Hendra.
“Saya menurut apa kata bapak saja. Saya yakin, bapak lebih tahu yang terbaik untuk mereka dari pada saya.”
“Kalau begitu, biarkan putrimu tinggal di sini.”
“Maaf pak, untuk itu saya tidak bisa menyetujuinya.”
“Kenapa?”
“Karena saya tahu rasanya tinggal di sini. Saya tidak mau dia merasakan tekanan itu juga.”
“Kalau saya memaksa?”
Avisa sudah berada di lorong dan sedikit lagi sampai di ruang tamu.
“Kalau begitu saya tidak akan menyerahkan putri saya untuk keluarga ini.”, kata Ted Biantara.
Teriakan ayahnya membuat Avisa sangat marah dan kecewa. Ia mempercepat langkahnya.
“Kamu tidak berhak mengatur hidup saya!”, bentak Avisa.
Semua orang terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Ini hidup saya! Saya berhak menentukan kemana arahnya!”
Tanpa mendengarkan penjelasan dari siapapun, Avisa yang kecewa berlari keluar rumah. Biru langsung bergegas mengikutinya. Semetara Ted hanya tertawa. Yang lain heran melihatnya.
“Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padanya sampai dia membencimu seperti itu?”
“Dia memang sudah seperti itu sejak pertama kali saya membawanya.”
“Ya pasti kan ada sebabnya.”
“Mungkin dia masih kecewa dengan perpisahan kami pak.”
“Kamu nggak nyoba menjelaskan ke dia yang sebenarnya?”
“Bagaimana mau menjelaskan. Melihat saya saja sudah membuatnya kesal bukan main.”
Suasana semakin tidak enak, akhirnya mereka memutuskan untuk membahas hal yang lain dan mempercayakan Avisa kepada Biru.
Biru berlari ke sana kemari, bingung mencari keberadaan Avisa. Karena tidak ingin menghabiskan banyak waktu, Biru menghubungi Avisa.
“Dimana lu?”, tanya Biru.
__ADS_1
“Di rumah lu.”
“Jangan bercanda.”
“Avisa di sini nak.”, jawab ibu.
“Ya sudah, Biru ke sana.”
Biru mematikan sambungan teleponnya. Kembali ke rumah untuk mengambil mobil dan langsung menuju rumah pak kades. Karena garasi berada terpisah dengan rumah, para orang tua tidak tahu akan hal itu.
Di rumah pak kades.
“Kalian bertengkar?”, tanya ibu.
“Enggak bu.”
“Terus?”
Avisa menceritakan semuanya pada Bu Windari. Tentang penolakan papanya juga.
“Nak, yang di lihat mata itu tidak selalu benar. Karena itu Tuhan menciptakan mulut agar kita bisa bertanya. Kamu sudah pernah bertanya pada papamu?”
Avisa menggelengkan kepala.
“Bertanyalah. Kalaupun nanti menyakitkan, setidaknya kamu tahu yang sebenarnya.”
Avisa terdiam.
“Perbuatan papamu yang meninggalkan kalian tanpa kepastian memang salah. Ibu tahu kamu sakit hati. Tapi tetap saja, kamu harus tahu keseluruhan ceritanya untuk memutuskan salah atau benar.”
Avisa memandang Bu Windari lalu memeluknya. Saat itu terdengar mobil Biru memasuki halaman depan.
“Biru pulang.”, kata Biru.
“Masuk nak.”
Bu Windari berjalan menghampiri Biru.
“Ibu ke kantor bapak dulu ya. Kalian ngobrol santai saja.”
Ibu mengambil rantangnya dan bergegas pergi. Biru duduk di samping Avisa, diam tak bertanya.
“Kenapa diem aja?”, tanya Avisa.
“Emang mau di tanyain?”
“Ya lu jauh-jauh ke sini mau ngapain coba?”
“Nemenin lu.”
“Gue nggak minta.”
“Gue yang mau.”
“Gue nggak mau.”
“Gue mau.”
“Lu kenapa jadi ngeyelan sih?”
“Niruin lu.”
Avisa menatap Biru dengan penuh kekesalan.
“Lu kenapa?”, tanya Biru lembut.
“Sebenernya gue juga capek berantem sama papa terus. Taapi lu tahu sendiri gimana dia. Tadi juga.”
Biru menatap lembut Avisa.
“Nggak ada yang salah sama dia, Sa.”
Avisa terlihat bingung.
“Coba kasih tahu gue kenapa lu bilang dia salah.”, kata Biru lagi.
“Ya dia bilang nggak bakal nyerahin gue buat keluarga lu kan?”
__ADS_1
“Sa, yang lu denger tuh belum semuanya. Lu nggak boleh mutusin itu bener atau salah kalau lu cuma denger sepenggal aja.”
“Maksudnya?”
“Yang nggak di setujuin itu bukan penikahan kita tapi permintaan kakek agar lu tinggal di rumah itu.”
Avisa terdiam sejenak lalu kembali protes.
“Emang kenapa? Kan nggak ada yang salah sama tinggal di sana.”
“Dia cuma nggak mau lu ngerasain yang dulu dia rasain waktu tinggal di sana.”
Avisa kembali terdiam.
“Lu harus luangin waktu buat ngobrol berdua sama dia.”
“Tapi..”
“Gue nggak mau pernikahan kita cuma jadi pelarian buat lu.”
Biru menatap Avisa.
“Ya?”
Avisa mengangguk pelan.
Mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman Darmawan. Biru menghubungi kantor desa untuk berpamitan karena ibu belum juga pulang.
Sesampainya di kediaman Darmawan, Biru tak sedetikpun melepaskan genggamannya dari tangan Avisa. Seakan menyalurkan energi dan keberanian untuknya.
“Kami kembali.”, ucap Biru.
Semua orang di ruang tamu menatap khawatir pada mereka.
“Kita para wanita ngobrol di taman belakang saja yuk.”, ajak Ajeng.
Ajeng tahu bahwa sejak tadi Charlotte juga merasa tidak nyaman berada di sini. Akhirnya para wanita pergi ke taman belakang.
“Ajeng kenapa?”, tanya Ted.
“Nggak kenapa-kenapa. Memangnya kenapa mas?”
“Kok tiba-tiba jadi ramah begitu.”
Mereka semua tertawa kecuali Biru, ia hanya tersenyum kecil.
“Semenjak anak pertamanya ini kembali, dia juga semakin hari semakin kembali jadi manusia.”, kata Pak Hendra.
“Papa pikir istriku monster.”
“Iya kan kemarin-kemarin?”
“Iya.”
Mereka tertawa lagi. Biru menghela nafas panjang.
“Kamu jangan serius-serius. Papa mertuamu ini juga suka sekali bercanda. Saking sukanya sampai nggak akur sama anak sendiri.”, kata Krisna.
“Tadi saya sudah bujuk Avisa agar mau meluangkan waktu bicara berdua dengan anda.”
“Oh ya? Terimakasih.”
Biru mengangguk pelan.
“Kamu sendiri? Nggak ada yang mau kamu sampaikan ke saya?”
Biru menatap Ted.
“Kenapa anda tiba-tiba membawa papa dan kakek di hari wisuda saya waktu itu?”
Ted terdiam sejenak.
“Karena saya ingin dia bertemu dan menyimpan kamu di sisa ingatannya.”
Semua terkejut. Terlebih Biru yang belum mengetehaui persoalan ini.
“Kurang ajar kamu!”, bentak Pak Hendra.
__ADS_1