
Avisa ingin melanjutkan langkah kakinya namun baru teringat bahwa ia tidak mengetahui ruang kelas Nila. Akhirnya dengan tak enak hati ia menghubungi Ajeng.
“Halo tante.”
“Ya sayang?”
“Ruang kelas Nila di mana ya?”
Terdengar tawa Ajeng di seberang telepon.
“Kamu di mana ini?”
“Aku baru aja masuk pintu gerbang.”
“Ya sudah kamu tunggu di situ saja. Tante akan hubungi gurunya Nila. Biar dia di antar ke situ.”
“Ok tante. Maaf ya tante.”
“Hahaha... Tidak apa-apa. Tunggu ya?”
“Iya tante.”
Tak lama terlihat Avisa berjalan bersama salah seorang guru wanitanya.
“Siang bu.”
“Siang. Anda kakaknya Nila yang di bilang nyonya Darmawan?”
“Benar bu.”
“Oh ya sudah. Hati-hati di jalan.”
“Terimakasih bu.”
Ibu guru itu berbalik badan dan kembali masuk ke dalam gedung. Avisa menoleh pada gadis kecil di sampingnya.
“Halo cewek kecil.”
“Kenapa memanggilku seperti itu terus sih?”, gerutu Nila.
“Karena kamu masih kecil.”
“Hari ini kakak yang mengantarku ke tempat les?”
“Iya. Kenapa? Kamu mau bolos ya?”
Nila tertunduk lesu. Avisa menyadari bahwa saat ini Nila tidak ingin ke tempat les.
“Mau ke kantor kakak Biru aja?”, tanya Avisa.
Nila langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah.
“Dasar.”, kata Avisa sambil tersenyum
Akhirnya Avisa mendukung rencana membolos Nila dengan mengajaknya ke kantor Biru.
Di dalam mobil…
“Kamu nggak takut di marahi papa kamu nanti kalau ketemu?”
“Papa itu urusan kecil.”
Avisa menatap Nila dengan menyipitkan matanya.
“Kalau mama?”
“Kalau mama urusan besar.”
Mereka tertawa bersama. Semakin hari, Avisa merasa semakin menyukai calon adik iparnya ini.
“Kakak kalau ketemu ibu Ratu lagi jangan bertengkar lagi ya?”
“Kenapa?”
“Nila kan malu nanti kalau teman-teman tahu.”
“Teman-teman kamu itu urusan gampang.”, kata Avisa menirukan gaya bicara Nila.
__ADS_1
“Yang besar?”
“Yang besar itu urusan sama kaka kamu.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Sepanjang perjalanan mereka banyak sekali bercerita dan tertawa bersama. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di kantor keluarga Darmawan.
Tok tok tok. Avisa mengetuk ruang kerja Biru dan langsung membukanya. Namun tidak ada Biru di sana. Ia berbalik badan dan kembali ke ruang Krisna yang baru saja mereka lewati dengan mengendap-ngendap.
Tok tok tok. Avisa mengetuk pintu. Krisna yang sejak tadi hanya menunduk fokus pada kertas-kertas di hadapannya sontak mendongakkan kepala. Avisa tersenyum.
“Eh calon mantu.”
“Eh calon mertua.”
Mereka tertawa.
“Sedang apa di sini?”, tanya Krisna.
Nila yang sejak tadi berada di belakang Avisa, menyembulkan kepalanya.
“Loh, Nila kok nggak ke tempat les?”
“Lagi banyak beban pikiran kayaknya om.”, sahut Avisa.
Nila tersenyum lebar.
“Dasar kalian ini.”
Kali ini Avisa ikut tersenyum lebar.
“Oh iya, Biru ke mana om? Kok nggak ada di ruangannya?”
“Masa sih? Om juga nggak tahu. Coba telepon.”
“Ok.”
Avisa mengeluarkan hpnya.
Nila memberikan tanda ‘OK’ dengan kedua jarinya lalu duduk di sofa yang tak jauh dari meja Krisna. Sedangkan Avisa keluar ruangan, mencoba menghubungi Biru sambil berjalan-jalan mencarinya.
“Halo.”
“Dimana?”, tanya Avisa.
“Di kantor?”
“Sebelah mana?”
“Lagi di lobi.”
“Ngapain?”
“Nata spot galeri mini.”
Tanpa Biru sadari, Avisa berbicara sambil menghampirinya.
“Lu dimana?”, tanya Biru.
“Di sini.”
Avisa melangkah dengan senyum yang terus mengembang karena berusaha mengejutkan Biru. Namun justru ia yang di buat terkejut.
“Ngapain lu di sini?”, tanya Avisa kesal.
Ternyata Biru sedang bersama dengan Ratu.
“Nyamperin cowok gue lah.”
Jawaban Ratu membuat Avisa kesal. Namun bukan Avisa namanya jika tidak bisa membuat musuhnya lebih kesal lagi.
“Oh ya? Kamu kenal beb sama cowoknya?”, tanya Avisa sambil menggandeng tangan Biru.
“Enggak. Ibu nggak bilang kalau cowoknya kerja di sini.”
Avisa tersenyum menyebalkan. Ratu mulai kesal.
__ADS_1
“Beb, jangan gitu ih mentang-mentang ada teman kamu.”, kata Ratu genit.
Biru menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ada seorangpun di sana.
“Ibu ngomong sama saya?”, tanya Biru.
Avisa tertawa keras. Namun Ratu belum juga menyerah.
“Kamu kok gitu sih sama aku.”, kata Ratu berlagak ngambek.
Beberapa karyawan yang lewat mulai berbisik.
“Pak Biru mau nikah tapi selingkuh ya itu?”, bisik salah seorang karyawan.
“Hus! Orangnya denger.”, jawab temannya.
Biru yang mendengar pembicaraan itu baru mengerti bahwa Ratu sedang beradu sengit dengan Avisa. Ia langsung memengang tangan Avisa dan menunjukkan cincin berlian hitam darinya.
“Saya sudah memasangkan ini di jarinya, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk berganti arah. Maaf sepertinya saya harus pergi.”
Biru yang masih memegang tangan Avisa langsung menariknya dan hendak melangkah pergi namun Ratu berulah lagi.
“Memangnya boleh ya laki-laki yang sudah mau menikah masih baik ke perempuan lain?”, teriak Ratu.
Langkah Biru terhenti.
“Saya baik kepada anda karena anda adalah guru dari adik saya. Maaf jika saya membuat anda salah paham. Permisi. Silahkan pergi.”
Biru langsung berbalik badan dan menarik Avisa barsamanya. Avisa menoleh sebentar dan menjulurkan lidahnya, mengejek pada Ratu. Ratu kesal bukan main. Para karyawan juga mulai membicarakan Ratu.
Karena merasa sangat malu, ia akhirnya pergi dari kantor itu.
Krisna dan Nila yang masih berada di ruangan melihat Biru yang berjalan cepat sambil menarik Avisa.
“Sayang, sepertinya kamu harus di sini dulu.”, kata Krisna.
“Kenapa?”
“Di ruang sebelah sedang ada perang dunia. Nanti kamu kena nuklir. Boomm! Gosong deh.”
Nila tertawa.
“Papa ada-ada saja.”
“Kamu mau makan apa? Biar papa pesankan ke Mas Didin.”
Krisna menahan Nila di ruangannya dengan baik. Sementara di ruang sebelah, kedua calon mempelai mulai beradu mulut.
“Katanya nata spot, spotnya si Ratu?”, tanya Avisa kesal.
“Gue tadi emang lagi nata spot, terus dia dateng.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Gue tahu kalian itu nggak akur. Kalau gue bilang lu pasti marah.”
“Lu nggak bilang malah bikin gue marah!”
Nada bicara Avisa mulai meninggi. Biru mendekatinya dan berbicara pelan.
“Sa. Gue nggak mau kita berantem cuma gara-gara orang yang nggak penting.”
“Kalau nggak penting ngapain di sembunyiin?”
“Sa…”
Biru menggenggam tangan Avisa.
“Ini hubungan pertama gue. Gue akan berusaha biar nggak ada kejadian kayak gini lagi. Maafin gue. Ya?”
Avisa menatap mata Biru dan melihat kehangatan dan cinta yang penuh di dalam sana. Hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Akhirnya usaha keras yang Avisa lakukan mampu membuat Biru benar-benar mencintainya, sedalam itu.
“Gue mau ke pantai.”, ucap Avisa.
Biru bingung.
“Sekarang?”
__ADS_1