
“Saya di minta ke sini oleh ibu Ajeng.”, kata Biru.
Karyawan itu tidak mengerti dengan yang di maksud oleh Biru.
“Sebentar.”
Biru berbalik badan, kembali menghubungi Ajeng.
“Ya Bi?”
“Mmm.... Mereka menanyakan tentang kartu anggota.”
“Berikan teleponnya pada mereka.”
Biru memberikan hpnya pada karyawan itu.
“Halo?”
“Halo. Saya Nyonya Darmawan.”
“Oh iya bu.”, jawabnya sopan.
“Itu anak saya. Tolong sampaikan pada Hawa.”
“Baik bu, akan saya sampaikan.”
“Terimakasih.”
“Sama-sama bu.”
Ajeng menutup sambungan teleponnya. Karyawan itu mengembalikan hp Biru.
“Mari pak, bu, saya antarkan ke ruangan.”
Mereka mengikuti karyawan itu menuju ke sebuah ‘ruangan’.
“Waahhh… Yang kayak gini beneran ada ya?”, celetuk Avisa.
Karyawan itu hanya tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua. Tak lama ia kembali dengan seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Ajeng.
“Hallo.”, sapanya sambil mengulurkan tangan.
Biru dan Avisa menjabat tangannya.
“Hai.”, sahut mereka.
“Saya Hawa, sahabatnya nyonya Darmawan.”
“Saya Biru.”
“Avisa.”
“Silahkan memilih apapun yang kalian mau, sepuasnya.”
“Terimakasih.”, ucap Biru.
Hawa pamit pergi dari ruangan dan memerintahkan beberapa karyawannya untuk melayani mereka. Seperti cerita romansa di tv, Biru dan Avisa mendapat pelayanan spesial di ruang VVIP toko ini.
Satu persatu dari para karyawan membawakan mereka rak berisi baju, tas, sepatu dan perlengkapan lainnya. Saat itu, Biru baru menyadari bahwa apa yang di tampilkan di sinetron-sinetron itu benar adanya.
Meskipun belum pernah berbelanja seperti ini, Avisa tetap berusaha memilih dengan teliti. Ia ingin hari ini tampil semaksimal mungkin.
“Gue coba pakaiannya, lu yang nilai ya.”, kata Avisa.
“Ok.”
Avisa mencoba satu per satu pakaian dari rak gantung tapi Biru hanya duduk bengong tanpa memberikan satu penilaianpun.
“Yang mana?”, tanya Avisa kesal.
“Semuanya bagus.”
“Ih ngeselin banget sih!”
“Ya gimana, lu cantik pakai apapun juga.”
Para karyawan mencoba untuk tidak tersenyum. Sedangkan Avisa yang tadinya kesal, kini malah tersipu malu.
“Dah lah beli semuanya aja.”, kata Biru kesal.
__ADS_1
“Mau bayar pakai duit bapak lu?”
“Iya.”
Avisa terdiam sejenak dan baru menyadari bahwa mereka memang berbelanja memakai uang Darmawan.
“Jadi yang mana?”, tanya Avisa.
“Semua.”
“Buat apa sebanyak ini?”
“Buat lu lah. Udah ayo. Capek gue.”
Sebenarnya saat itu Biru sedang menyembunyikan rasa malunya karena telah menyebut Avisa cantik di depan umum.
Biru keluar ruangan begitu saja tanpa memberikan pilihan. Akhirnya Avisa memilih beberapa baju yang sekiranya menarik perhatian. Tentunya dengan meminta pendapat dari para karyawan yang melayaninya.
Selesai memilih baju, Avisa langsung menyusul Biru yang sudah menunggunya di depan meja kasir.
“Udah?”, tanya Biru.
“Dah.”, jawab Avisa kesal karena di tinggalkan.
Biru membayar belanjaan Avisa, setelah itu mereka turun ke lantai dasar untuk mengambil mobil. Di dalam mobil, Avisa masih saja betah dengan raut kesalnya.
“Sorry.”, ucap Biru.
Avisa tidak menjawab, membuat Biru menghela nafas berat. Ia lalu keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun dan kembali masuk ke dalam gedung. Karena masih bertingkah kesal, Avisa gengsi untuk mengikutinya.
***
Biru kembali menuju toko Adam & Eve hanya untuk bertanya pada karyawan di sana. Setelah mendapatkan jawaban, Biru langsung berlari menuju lantai lima.
***
Hampir satu jam berlalu tapi Biru belum kembali juga. Padahal Avisa mati-matian bertarung dengan gengsinya. Tak lama Biru terlihat keluar dari gedung. Avisa berpura-pura kesal lagi.
“Nih.”, ucap Biru sambil memberikan segelas es krim.
Avisa semakin kesal.
“Udah, makan.”
Avisa kesal namun tak bisa menahan godaan es krim vanilla di hadapannya. Ketika akan menyuapkan sesendok es krim itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba Biru menarik tangannya.
“Apa sih!”, teriak Avisa semakin kesal.
Dengan perlahan, Biru memasangkan cincin berlian hitam di jari manisnya. Seketika itu juga, Avisa merasa hampir gila. Namun Biru tak berkata apapun dan langsung melajukan mobilnya.
***
Pukul 12 siang di kediaman Darmawan, seluruh pelayan sibuk mempersiapkan jamuan untuk tamu penting hari ini. Krisna dan Ajeng juga sudah bersiap untuk menyambut mereka bersama Pak Hendra.
Mobil Biru memasuki halaman depan. Avisa langsung turun dan masuk ke kamar Biru. Sementara Biru masih terdiam di dalam mobil, tidak menyangka bahwa ia akan bersikap seperti tadi.
Tok tok tok. Seorang penjaga mengetuk jendela mobil.
“Ya mas.”
“Bapak bilang suruh cepat siap-siap den. Soalnya tamunya sudah sampai bandara.”, kata salah seorang penjaga.
“Kalau begitu tolong masukin mobilnya ya mas.”
“Baik den.”
Biru keluar dari mobil dan menuju kamarnya. Namun sebelum membuka pintu, ia teringat bahwa Avisa sedang berada di sana. Biru mengetuk pintu.
“Ya?”
“Mmm… Papa lu udah sampai bandara.”
Avisa membuka pintu dan langsung berlari.
“Gue siap-siap di kamar Nila aja!”, teriak Avisa.
Meskipun pecicilan namun Avisa adalah gadis yang pengertian. Ia tahu bahwa Biru juga ingin mempersiapkan diri untuk pertemuan ini.
Selang beberapa waktu.
__ADS_1
Tok tok tok. Seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Biru membukanya.
“Ya mbak?”
“Tamunya sudah tiba den.”
“Ok. Terimakasih ya mbak.”
“Sama-sama den.”
Pelayan itu hendak pergi namun Biru memanggilnya kembali.
“Mbak.”
“Ya den?”
“Saya boleh minta tolong?”
“Silahkan den.”
“Avisa sedang bersiap-siap di kamar Nila. Mbak bisa temani dia?”
“Bisa den.”
“Terimakasih mbak.”
“Sama-sama den.”
Pelayan itu langsung bergegas menuju kamar Nila.
Tok tok tok. Ia mengetuk pintu.
“Siapa?”, tanya Avisa dari dalam.
“Saya mbak pelayan non.”
Avisa membuka pintu sedikit, mengintipnya terlebih dahulu baru membukanya dan menarik masuk pelayan itu. Ternyata sejak tadi Avisa kesusahan menaikkan risleting bajunya.
“Mbak, tolong ya?”, katanya sambil berbalik badan.
Pelayan itu membantu Avisa sesuai permintaan.
“Mau saya rapikan rambutnya sekalian non?”
“Bisa mbak?”
“Bisa non.”
“Ok deh kalau gitu.”
Avisa duduk di kursi depan meja rias mini milik Nila sementara pelayan itu merapikan rambutnya.
“Sudah berapa lama bekerja di sini mbak?”, tanya Avisa basa basi.
“Sudah 13 tahun non.”
“Memangnya mbak umur berapa?”
“25 non.”
“Berarti dari umur 12 dong. Mbak nggak sekolah?”
“Saya sekolah cuma sampai lulus SD non. Orang tua nggak mampu bayar biaya sekolah. Buat makan saja susah. Saya beruntung karena Pak Hendra mau memperkerjakan saya di rumah ini. Gajinya memang nggak seberapa tapi kesejahteraan keluarga saya terjamin non.”
Saat itu, Avisa merasa sangat menghormati calon kakek mertuanya tersebut. Tidak banyak orang yang akan mengingat sesamanya ketika sudah berada di atas. Namun Pak Hendra tetap memperjuangkan orang susah yang ia temui dan memperbaiki kehidupannya.
Karena mendengar cerita pelayan tersebut, tak terasa rambut Avisa sudah hampir selesai di rapikan dan di hias olehnya.
“Wah, bagus sekali mbak. Belajar di mana?”
“Belajar sendiri non. Biasanya saya merapikan rambut nyonya sama nona kecil.”
“Terimakasih ya mbak.”
“Sama-sama non.”
Semua persiapan telah selesai, Avisa siap untuk menunjukkan pada semua orang.
“Saya tidak akan menyerahkan putri saya untuk keluarga ini.”, kata Ted Biantara.
__ADS_1