Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 12


__ADS_3

“Kalian berdua kan saling suka. Memangnya tidak mau menikah?”, tanya Pak Hendra seriius.


“Apa ini permintaan papa saya?”


“Maksudnya?”


“Saya memang sangat menyukai Biru tapi saya tidak akan menikah dengannya untuk kepentingan bisnis. Pernikahan bukan hal yang bisa di hitung keuntungannya.”


Pak Hendra terkejut mendengar penuturan Avisa.


“Papamu bilang seperti itu?”


Avisa mengangguk pelan. Pak Hendra menghela nafas berat.


“Saya memang pebisnis tapi saya bukan orang yang akan menjadikan hal sakral seperti pernikahan menjadi sebuah bisnis.”


Avisa terdiam.


“Kamu jangan khawatir. Saya akan mengurus semuanya. Termasuk papa kamu itu.”


Avisa terharu menatap Pak Hendra.


“Terimakasih kek.”


“Macam-macam saja dia itu.”


Dalam hatinya, Avisa merasa sangat bahagia karena ada orang dewasa yang bersedia melindunginya setelah selama ini ia harus berjuang hanya dengan abangnya.


Tak lama, Biru yang akan berangkat ke kantor berjalan melewati ruang tamu. Pak Hendra yang melihatnya tidak berhenti melangkah langsung memanggilnya.


“Mau kemana kamu?”


“Ke kantor.”


“Ada yang sudah nunggu lama mau di tinggal?”


“Ayo.”, ajak Biru pada Avisa.


Biru melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa. Pak Hendra tertawa di buatnya.


“Ya sudah sana. Sepertinya dia malu sama kakek.”


“Saya pergi dulu ya kek.”, pamit Avisa.


“Ya. Hati-hati di jalan.”


Avisa bergegas mengikuti Biru ke dalam mobil. Di perjalanan mereka sama sekali tidak bersuara karena masih canggung dengan kejadian tadi pagi.


Sesampainya di parkiran kantor, Biru membukakan pintu mobil untuk Avisa tanpa berkata apapun. Lalu Avisa mengikutinya juga masih dengan tanpa berkata apapun. Di sepanjang jalan menuju ruangan, banyak pasang mata yang mengikuti langkah mereka berdua. Penasaran dengan perempuan yang sangat serasi berjalan bersama atasan mudanya tersebut.


Saat masuk ke dalam ruangan Biru, Avisa takjub. Ruangan itu seperti galeri galeri versi mini.


“Waahh... Pantesan aja betah banget, ternyata ruangannya kayak gini.”, gerutu Avisa seorang diri.


Biru menatap Avisa yang sedang mengagumi ruang kerjanya tersebut. Senang sekali rasanya melihat keberadaannya di ruangan ini.


“Eh, calon mantu.”, kata Krisna dari ambang pintu yang masih terbuka.


“Hai om.”


“Hai sayang. Dari tadi?”


“Dari sejak di rumah om.", jawab Avisa cengengesan.


“Pantesan papanya di tinggalin.”


“Tadi kakek nggak bilang sama om?”


“Kakekmu itu manusia paling sibuk di keluarga Darmawan. Tadi om berangkat aja udah nggak ada.”


“Oh ya?”


“Iya. Nanti kamu pasti tahu sendiri.”


Biru merasa sedikit iri melihat keakraban mereka.


“Ya sudah, om kerja dulu ya. Kamu kalau butuh apa-apa, minta Biru aja.”

__ADS_1


“Iya om.”


Krisna pergi ke ruangannya, meninggalkan dua insan canggung di ruangan ini. Sejenak mereka saling bertatap-tapan namun masih dengan suasana yang tidak nyaman.


“Lu canggung?”, tanya Biru.


“Lu pikir lu enggak?”


“Ternyata kita sama-sama manusia normal.”


Mendengar itu, Avisa sontak tertawa terbahak-bahak. Birupun ikut tertawa bersamanya. Ini pertama kalinya Biru tertawa lepas seperti itu.


“Dah ah, capek gue diem mulu. Lu tadi ngapain keluar cuma pake anduk?”


“Gue lupa bawa baju ganti.”


Mereka sejenak terdiam.


“Tapi kan itu kamar gue.”, protes Biru.


“Oh iya. Gue salah nanya kalau gitu. Hehe...”


Biru tersenyum melihat Avisa sudah kembali ke setelan pabriknya.


“Mau minum?”, tanya Biru.


“Boleh.”


“Mau apa?”


“Apa aja deh.”


“Ok.”


Biru berjalan menuju mejanya dan memanggil seseorang melalui sambungan telepon kantornya.


“Halo. Mas Didin, tolong bawain dua jus wortel sama camilan ya. Makasih mas.”


Setelah pesanannya di terima, Biru menutup teleponnya dan kembali duduk dengan Avisa.


“Jus wortel?”, tanya Avisa.


“Kesukaan gue.”


“Udah tahu.”


“Tahu dari mana?”


“Mega pernah ngasih tahu gue.”


“Mega? Gimana kabarnya tuh anak?”


“Kayaknya sih udah mulai masuk kuliah lagi dia.”


Avisa senang mendengar kabar Mega baik-baik saja. Maklum saja, semenjak acara wisuda Avisa tidak mau melihat hpnya sama sekali. Jadi banyak sekali pesan yang belum ia baca.


“Lu tadi ngobrolin apa aja sama kakek?”


“Hmmm....”


Biru kesal karena Avisa tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia langsung menggelitiki Avisa tanpa ampun. Baru kali ini ia bertingkah seperti itu.


“Aahhhahahaha.... Ampun... Ahihihih... Stop. Stop.”, pinta Avisa.


Namun Biru terus saja menggelitikinya sambil tertawa jahat.


Tok tok tok. Ketukan pintu membuat mereka kaget. Biru spontan menarik tangannya dari pinggang Avisa. Didin, seorang OB di kantor itu, juga kaget melihat mereka.


“Ehm. Ya mas?”, kata Biru.


“Ini minuman sama camilannya, pak.”


“Iya mas.”


Biru beranjak mengambil nampan di tangan Didin. Setelah itu Didin melangkah pergi dengan senyum-senyum sendiri. Sampai di depan ruangan Krisna, ia di hadang oleh pemilik ruangan.


“Ada apa Din?”, tanya Krisna setengah berbisik.

__ADS_1


“Orang kalau lagi kasmaran nggak tahu tempat ya pak.”


Mereka berdua tertawa bersama.


“Maklum Din, cinta pertama.”


“Masa sih pak? Padahal ganteng sama cantik gitu.”


“Kamu pikir anak saya gampangan?”


“Eh, iya maaf pak.”, kata Didin sambil membungkukkan badan berkali-kali.


“Sudah sana kerja lagi.”


“Iya pak.”


Didin dan Krisna langsung bubar jalan, kembali melakukan pekerjaanya masing-masing. Sementara di ruang sebelah, dua sejoli yang baru saja bergelitik-ria kembali canggung untuk beberapa saat namun tertawa bersama kemudian. Aaahhh... Lucu sekali memang tingkah manusia yang sedang jatuh cinta.


“Jadi?”, tanya Biru.


“Jadi apa?”


“Masih nggak mau jawab?”


“Iya iya.”


Biru bersiap mendengarkan cerita Avisa sambil menatapnya dalam, seakan terpesona dengan sosok yang kini berada di hadapannya.


“Tadi kakek bilang tentang pernikahan.”


Namun cerita Avisa hanya sampai di situ. Biru sedikit kesal.


“Udah?”


“Hm?”


“Cuma gitu doang?”


“Emang lu tahu pernikahan siapa?”


“Kita kan?”


“Kok tahu.”


“Semalem abis lu pulang, gue di kerjain abis-abisan.”


“Oh ya? Di kerjain gimana?”


“Tahu ah. Mau kerja.”


Avisa yang belum mendapatkan jawaban, terus saja mengikuti kemanapun Biru melangkah. Biru bertingkah risih namun senyumnya tak dapat di sembunyikan juga. Mereka benar-benar di mabuk cinta.


***


Di rumah sakit tempat Arif melaksanakan koasnya, suasana sangat tidak kondusif. Banyak sekali pasien masuk karena keracunan makanan di sebuah pabrik. Riuh kepanikan menggema di seluruh bangsal.


Pukul 9 malam, sudah sangat jauh dari jam pulang Arif yang sebenarnya namun ia masih tetap berada di sana.


“Mas Arif pulang saja. Ini nggak akan ada habisnya. Kamu juga harus jaga kesehatan.”, kata seorang perawat senior.


“Tapi bu.”


“Sudah. Sana pulang.”, perintahnya sambil mendorong Arif menjauh dari para pasien.


Dengan berat hati Arif melangkah pergi menuju ruang ganti. Di sana ia bertemu dengan teman sesama koasnya yang baru akan memulai shift malam ini.


“Hai Rif.”


“Hai bro.”


“Nggak perlu merasa bersalah, rumah sakit ini nggak kekurangan tenaga medis kok.”, katanya sambil membenarkan kancing baju.


Arif hanya membalas ucapannya dengan senyum paksa.


“Gue duluan ya.”, lanjutnya yang langsung bergegas pergi bertugas.


Semua orang tahu bahwa Arif sangat bertanggungjawab dalam pekerjaannya. Ia tidak akan pernah bisa tenang jika keadaan belum kondusif.

__ADS_1


***


__ADS_2