Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 11


__ADS_3

Di rumah Biantara, Avisa melemparkan tubuhnya ke kasur.


Klung! Sebuah pesan anonim masuk ke hpnya.


“Hari ini ada seorang perempuan yang mengajak Biru berkenalan.”


Avisa sontak terduduk dan marah besar. Ia bergegas menunggangi motornya dan pergi ke kediaman Darmawan. Sesampainya di sana, ia melihat Biru yang baru saja turun dari mobil. Sedangkan Nila yang sudah turun terlebih dahulu langsung masuk ke dalam rumah bersama salah satu pelayan.


“Woy!”, teriak Avisa.


Biru menoleh. Avisa berjalan cepat menghampiri Biru.


“Siapa?”, tanya Avisa sambil menunjukkan pesan yang ia dapat.


Biru membacanya.


“Dari siapa ini?”


“Siapa!”


Avisa benar-benar marah. Biru hanya tersenyum kecil namun tiba-tiba berubah khawatir melihat Avisa yang mengendarai motor hanya memakai kaos dan sandal.


“Mana jaket lu?”, tanya Biru.


“Nggak usah bahas yang lain!”


Teriakan Avisa membuat Pak Hendra yang sedang berada di ruang tamu penasaran.


“Ada apa ini?”, tanya Pak Hendra.


Biru dan Avisa terkejut dengan keberadaannya.


“Anda sudah pulang?”, tanya Biru.


“Ya. Baru saja sampai.”


Pak Hendra baru menyadari bahwa yang bersama Biru adalah putri Biantara.


“Wah wah. Ternyata cucu menantu. Ajak masuk sini. Jangan di luar. Dingin.”


Biru dan Avisa yang merasa tak enak langsung mengikuti Pak Hendra masuk ke dalam rumah. Mereka di dudukkan di ruang tamu.


“Kalau ada masalah itu, masuk dulu. Jangan teriak-teriak di luar. Nggak malu di lihatin para pelayan?”


“Maaf kek.”, kata Avisa.


“Ya sudah kalian selesaikan dulu saja. Kakek mau istirahat.”


“Iya kek.”, jawab Biru dan Avisa.


Pak Hendra beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


“Jadi, siapa?”, tanya Avisa pelan karena takut Pak Hendra akan mendatangi mereka lagi.


“Guru lesnya Nila.”


“Ngapain ngajak-ngajak kenalan.”


Biru menatap Avisa lumayan lama.


“Cemburu lu?”


“Iya lah.”


Biru tersenyum karena tingkah Avisa yang menurutnya lucu.


“Kalian berdua bertengkar gara-gara ibu Ratu?”, tanya Nila dengan polosnya.


Biru dan Avisa sontak menoleh ke arah Nila yang sedang berdiri memelukm boneka beruangnya, sambil menatap mereka berdua.


“Ibu Ratu? Siapa ibu Ratu?”, tanya Avisa.


“Guru les Nila.”


“Yang ngajak dia kenalan?”, tanya Avisa sambil menunjuk Biru.


Nila mengangguk. Avisa berjalan mendekati Nila dan berbisik padanya.


“Bilang sama ibu Ratu, Avisa akan membuatnya turun tahta jika berani mendekati Biru.”


Setelah itu Avisa memasang senyum jahat. Nila hanya menatapnya.

__ADS_1


“Kamu kira ini drama kerajaan.”, jawab Nila yang langsung nyelonong pergi.


Avisa terbelalak dan tertawa tidak karuan, ia kesal. Biru tidak dapat menyembunyikan rasa gemasnya pada mereka berdua.


“Besok gue ikut jemput dia.”, kata Avisa.


“Ok.”


Avisa beranjak pergi.


“Mau kemana?”, teriak Biru.


“Pulang!”


“Mau di antar nggak?”


“Nggak usah!”


Lagi-lagi Pak Hendra muncul karena teriakan mereka berdua.


“Kalian ini nggak bisa ngomong pelan ya?”


Biru hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.


“Kamu suka dia?”, tanya Pak Hendra.


Biru terdiam. Pak Hendra lalu menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


“Hm?”, tanya Pak Hendra.


“Saya merasa nyaman di dekat dia.”


Pak Hendra menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menghela nafas panjang.


“Kakek akan menyingkirkan dia.”


Biru spontan menoleh.


“Jangan.”


Pak Hendra menatap Biru dengan serius.


“Saya mohon, jangan ganggu dia.”, lanjut Biru.


Biru terdiam.


“Kakek nggak mau anak seperti itu berada di keluarga Darmawan!”


“Kalau begitu, saya juga tidak mau berada di keluarga Darmawan.”, jawab Biru dengan tenang namun penuh penekanan.


Pak Hendra terdiam.


“Sebelum saya di akui sebagai keturunan Darmawan, dia sudah lebih dulu menemani setiap langkah saya. Jika berada di sini berarti harus meninggalkan dia, saya lebih baik keluar saja.”


Biru hendak beranjak pergi namun Pak Hendra tertawa dengan sangat keras. Bahkan membuat Krisna dan Ajeng yang baru saja masuk rumah heran di buatnya. Mereka membeku di ambang pintu, takut kalau-kalau Biru telah membuat kesalahan yang besar.


“Gitu kok nggak ngaku kalau suka. Hahaha...”, kata Pak Hendra sambil menepuk pundak Biru dan berlalu pergi.


Biru bingung karenanya.


“Apa anda akan tetap mengganggunya?”, tanya Biru.


“Buat apa mengganggu cucu menantu sendiri. Hahaha...”, jawab Pak Hendra tanpa menghentikan langkahnya.


Biru sedikit kesal karena merasa telah di kerjai oleh kakeknya tersebut. Krisna dan Ajeng langsung menghampirinya.


“Ada apa?”, tanya Krisna.


“Tidak ada. Kalian tidak perlu khawatir. Saya permisi ke kamar dulu.”


“Ok. Selamat beristirahat.”


Biru hanya membalas ucapan ayahnya dengan senyuman. Setelah itu, ia beranjak pergi ke kamarnya.


Di kamar, Pak Hendra menghubungi Ted melalui teleponnya.


“Halo.”


“Hai pak, bagaimana kabar anda?”


“Kalau mau tahu kenapa nggak datang saja kesini sambil kita bicarakan tentang putrimu dan cucuku.”

__ADS_1


Ted tertawa.


“Apa mereka sudah ada kemajuan?”


“Aku hampir saja kehilangan cucuku lagi karena mengatakan akan menyingkirkan putrimu dari hidupnya.”


Mereka tertawa bersama.


“Baiklah, saya akan atur jadwal dan secepatnya menemui anda.”


“Jangan lama-lama. Pria tua ini juga masih bisa sibuk.”


“Hahaha... Baik, baik Pak Hendra. Saya mengerti.”


“Ya sudah kalau begitu, saya mau istirahat.”


“Baik pak. Selamat malam.”


Pak Hendra menutup sambungan teleponnya.


***


Keesokan harinya, Avisa sudah duduk di ruang tamu bersama Pak Hendra. Menunggu Biru berangkat kerja.


“Kamu suka sekali sama Biru?”


“Iya. Hehe...”


“Kenapa tidak tinggal di sini saja?”


Avisa bingung.


“Maksudnya kek?”


“Ya, kamu tinggal di sini sama Biru.”


“Hahaha... Kakek ada-ada saja.”


Pak Hendra tersenyum.


“Biru kok belum keluar ya kek?”


“Mana ada orang berangkat kerja jam 6 pagi. Lihat aja sana di kamarnya.”


Avisa terdiam menatap Pak Hendra.


“Kenapa? Kamu pikir saya sekolot itu?”


“Boleh kek?”


“Sana sana.”


Avisa langsung berdiri dan berjalan dengan melompat-lompat kecil penuh kegirangan. Sampai di depan kamar Biru, ia mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Ia memutar gagang pintu, ternyata tidak di kunci. Avisa langsung masuk namun tidak ada Biru di sana.


Baru saja Avisa berjalan menuju sofa di pojok ruangan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Biru keluar dari sana hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Mereka saling bertatapan dan bengong seketika. Biru yang kaget langsung masuk kembali ke kamar mandi.


“Mmm... Sorry.”, teriak Avisa.


Biru tidak menjawabnya karena merasa malu.


“Gue tunggu di ruang tamu aja ya.”


Setelah mendengar pintu kamar menutup, Biru baru berani keluar dari kamar mandi. Sedangkan Avisa berjalan kembali ke ruang tamu dengan jantung yang berdegup kencang.


“Kenapa kamu?”, tanya Pak Hendra setelah melihat wajah Avisa yang memerah.


“Ha? E-enggak kek.”


Avisa duduk kembali di sofa bersama Pak Hendra.


“Lihat apa?”, tanya Pak Hendra sambil senyum-senyum.


“Kakek sudah tahu ya kalau jam segini Biru masih mandi?”


“Masa sih?”, goda Pak Hendra.


“Kakeeekkk!!!”, teriak Avisa.


Pak Hendra tertawa keras melihat Avisa yang sedang tersipu malu.


“Nanti kalau sudah nikah juga bakal lihat tiap hari. Anggap saja pemanasan.”

__ADS_1


Avisa memiringkan kepala, bingung dengan pernyataan Pak Hendra barusan.


“Menikah?”


__ADS_2