
Biru langsung menggendongnya ke ruang gawat darurat. Sedangkan Arif meminta salah satu temannya untuk menggaantikannya berjaga setelah itu langsung menyusul Biru.
“Gimana katanya?”, tanya Arif.
“Terkilir doang.”
“Terus kenapa belum bangun?”
Biru merangkul Arif dan mengajaknya berjalan agak menjauh lalu berbicara pelan.
“Sebenernya hari ini gue sama Avisa abis dari rumah mamanya.”
“Terus?”
“Ternyata kehidupan mamanya nggak begitu baik. Kayaknya dia udah sering ngalamin KDRT.”
Arif terbelalak dan spontan menoleh pada Avisa.
“Nggak mau di laporin aja?”
“Mamanya nggak mau.
Arif menghela nafas berat. Sejenak bersyukur karena meskipun kehilangan seluruh keluarga, ia masih memiliki ibu dan bapak yang sangat menyayanginya dan selalu ada untuknya.
“Jangan pernah biarin dia sendiri ya bro. Hubungi gue juga, gue selalu siap bantu.
“Makasih.”
Arif mengangguk pelan.
Mereka kembali ke samping Avisa setelah selesai berbicara.
“Lu nggak balik jaga?”, tanya Biru.
“Bentar lagi.”
***
Esok paginya keluar dari rumah sakit bersama karena Avisa hanya terkilir saja dan di persilahkan istirahat di rumah.
Di parkiran rumah sakit Arif berpencar.
“Nggak bareng gue aja?”
“Terus motor gue? Besok gue berangkat gimana?”
“Udah gue bilang kan pake motor gue.”
“Terus besok gue pulang bawa dua motor gitu? Pinter banget lu.”
Biru tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Udah lu buruan pulang aja biar Avisa bisa istirahat.”
Biru menoleh pada Avisa.
“Ok deh. Lu hati-hati di jalan.” kata Biru.
“Kalian juga.”
“Dadah Rif.”, ucap Avisa sambil melambaikan tangan.
Arif membalas lambaian itu lalu melangkah pergi menuju motornya. Mereka pulang ke tempat masing-masing.
“Lu pulang ke rumah gue aja.”, perintah Biru.
“Iya.”
Di kediaman Darmawan. Biru membantu Avisa yang kesulitan dengan tongkatnya. Ajeng yang sejak pagi sudah berada di ruang tamu melihat mereka.
“Avisa kenapa?”
“Terkilir tante.”
“Kok bisa terkilir?”
“Nggak bisa diem sih anaknya.”, sahut Biru.
Avisa mengangkat tongkatnya, berlagak akan memukul Biru namun justru ia yang hampir ambruk karena kehilangan keseimbangan. Biru spontan menangkapnya.
__ADS_1
“Tuh kan ma.”
“Diem.”, kata Avisa.
Ajeng tersenyum melihat kelakuan mereka.
“Avisa biar tinggal di sini dulu ya ma.”
“Selamanya kan juga nggak apa-apa.”
Biru dan Avisa tersipu malu.
“Permisi tante.”, kata Avisa sambil nyelonong pergi karena malu.
Biru langsung mengikutinya.
Selama Avisa tinggal di kediaman Darmawan, Biru menyiapkan kamar tamu agar dapat senyaman mungkin di gunakan oleh Avisa. Ia membeli bunga, boneka dan menaruh beberapa lukisannya di kamar itu. Jangan lupa, Avisa adalah fans Biru nomor satu.
Selang dua hari, Biru menggiring Avisa untuk ke ruang tamu dan menunjukkan hasil kerjanya.
“Lu nata sendiri?”
“Iya.”
Avisa menatap Biru dengan penuh cinta.
“Makasih.”
Biru tersenyum.
“Gimana kaki lu?”
“Udah enakan sih.”
“Jadwal kontrolnya lusa kan.”
“Iya.”
“Jangan pecicilan dulu biar cepet sembuh.”
“Hahaha.. Iya.”
***
Semenjak kakinya terluka, Avisa tak pernah lagi ikut Biru ke kantor. Ia mulai dekat dengan Ajeng selama mengatur persiapan pernikahan bersama. Terkadang mereka juga menyambangi rumah pak kades untuk meminta pendapat dari Bu Windari. Avisa merasa beruntung karena memiliki empat mertua yang sangat baik dan pengertian padanya.
Hari-hari berlalu dan berubah menjadi minggu-minggu yang juga berlalu. Tak terasa seminggu lagi acara pernikahan Biru dan Avisa akan di laksanakan. Avisa mendapatkan beberapa kiriman dari Inggris. Di antaranya ada kalung Pink Diamond pemberian Charlotte yang ia dapatkan melalui salah satu teman bisnisnya.
(di sini mereka berbicara menggunakan bahasa inggris yang sudah author terjemahkan)
“Mom.”
“Ya baby?”
“Kalungnya..”
“Kenapa kalungnya?”
“Cantik sekali. Terimakasih. Tapi apa ini tidak terlalu berlebihan?”
“Tidak ada yang berlebihan untuk anak secantik kamu.”
Avisa terharu. Tidak di sangka, ibu tiri yang dulu sangat ia benci justru mencintainya sebanyak ini.
Selain itu, Avisa juga mendapatkan beberapa hadiah lucu dari adik-adiknya di Inggris. Ada mug pasangan yang mereka buat sendiri, ada syal yang bertuliskan ‘i love you’, ada juga beberapa perintilan kecil seperti gantungan kunci.
***
Tiga hari lagi menuju pernikahan. Jingga kembali ke Indonesia bersama Alexa. Avisa yang sudah mendapat kabar kepulangan itu beberapa hari yang lalu, langsung kembali ke rumahnya.
“Apa kabar lu?”, katanya sambil merangkul Avisa dan mengacak-ngacak rambutnya.
“Arrgghh! Nyebelin!”
“Kenapa lu nikah duluan?”
“Suka suka gue!”
Jingga yang hendak menjitak adiknya itu mengurungkan niatnya karena sedikit menjaga sikap di depan calon istrinya. Avisa mengacuhkan abangnya dan menyapa Alexa.
__ADS_1
“Hai. Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Selamat ya, Vi.”
“Terimakasih, kakak ipar.”
Mereka saling melempar senyum.
***
Tak terasa, hari yang di nantikan telah tiba. Avisa yang berada di ruang pengantin merasa sangat gugup menunggu waktu akad. Untungnya baik Charlotte maupun kedua ibu mertuanya tak pernah meninggalkannya. Sedangkan Biru di temani oleh Arif.
Pak kades, Krisna dan Ted menyambut tamu undangan bersama Pak Hendra yang semakin melemah.
“Gugup ya nak?”, tanya ibu.
Avisa mengangguk pelan. Ia juga meraasa khawatir karena mamanya tak kunjung datang.
Tok tok tok. Seseorang mengetuk pintu. Ajeng membukanya. Dila baru saja sampai.
“Mbak Dila. Kenapa baru datang?”, tanya Ajeng.
“Iya tadi masih ada urusan.”
Ajeng mengajak Charlotte dan Bu Windari untuk keluar dari ruangan, memberikan waktu pada Avisa dan Dila.
“Maaf mama terlambat.”
“Belum mulai kok ma.”
Suasana hening untuk sejenak.
“Mama habis dari kantor polisi.”, ucap Dila.
Avisa terkejut.
“Mama nggak kenapa-kenapa kan?”, tanya Avisa.
“Mama melaporkan dia.”
Avisa terdiam.
“Setelah berpikir panjang, mama rasa mama tidak ingin membuat anak-anak mama khawatir lagi. Kamu benar. Mama tidak sanggup hidup seperti ini.”
“Kalau gitu mama tinggal sama Avi ya?”
Dila menggelengkan kepala.
“Mama nggak mau lihat kamu dan papa bertengkar lagi.”
“Avisa bakal bujuk papa. Papa pasti mau ngerti ma.”
“Sayang... Tolong dengarkan mama.”, kata Dila sambil memegang tangan putrinya.
Avisa menurut.
“Yang mama ingin cuma kamu sama abang bahagia. Kalau kalian bahagia, mama juga pasti akan bahagia. Mama janji akan sering-sering mengunjungi kamu.”
Avisa memeluk mamanya, air matanya seakan sudah tak terbendung.
“Jangan nangis dulu. Sayang riasannya.”
Ucapan Dila membuat Avisa tertawa.
“Adik nggak ikut?”, tanya Avisa.
“Tadi sama abang.”
Tok tok tok... Ajeng membuka pintu.
“Sudah waktunya sayang.”
“Iya ma.”
Ajeng dan Dila membantu Avisa dengan gaunnya. Mereka berjalan bersama ke taman belakang rumah yang sudah di desain sedemikian rupa sesuai dengan keinginan kedua mempelai. Meskipun dengan desain modern namun tetap tidak meninggalkan kesan jawanya, demi menjaga prinsip Pak Hendra.
Acara berjalan dengan lancar. Mereka melaksanakan sungkeman dua kali. Yang pertama kepada orang tua kandung mereka dan yang kedua kepada bapak-ibu kades dan Charlotte. Mereka ingin meghormati semua orang tua tanpa terkecuali.
*END*
__ADS_1