Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 8


__ADS_3

Di perjalanan, mereka lebih banyak diam sampai Arif membuka pembicaraan.


“Bro.”


“Hm.”


“Kayaknya penyakit adek lu serius deh."


Mereka menyimak perkataan Arif dengan serius.


“Kondisi jantungnya sama sekali nggak bagus.”, lanjut Arif.


Mereka terdiam. Biru tidak mengatakan apapun selama dalam perjalanan.


Setelah mengantar Jingga dan Avisa terlebih dahulu, tibalah Biru di gapura perbatasan desa.


“Nggak ke rumah?”, tanya Arif.


“Lebih baik gue nggak ketemu bapak ibu dulu.”


“Ok. Hati-hati di jalan.”


Arif keluar dari mobil. Biru langsung memutar balik mobil dan kembali ke rumah barunya.


Di rumah pak kades.


“Buuuu... Arif pulang.”


“Kok malam sekali?”


“Tadi ketemu temen bu.”


“Sudah makan?”


“Sudah bu.”


“Ya sudah kamu cepat istirahat saja. Besok berangkat pagi kan?”


“Iya bu.”


Arif langsung masuk ke dalam kamar. Dalam hatinya, ia ingin mengabarkan pada ibu bahwa Biru baik-baik saja tapi ia tak sampai hati jika nanti ibu akan semakin bersedih.


Di kediaman Darmawan.


Biru yang baru saja sampai melihat mobil ayahnya sudah terparkir di halaman. Ia bergegas masuk untuk melihat kondisi Nila. Di ruang tamu, ia melihat ayahnya sedang berbicara dengan seseorang.


“Tapi nggak apa-apa kan mas?”, tanya Krisna.


“Untungnya tadi dia cepet dapat pertolongan pertama. Jadi untuk saat ini dia baik-baik saja.”


Biru menghampiri mereka.


“Saya pulang.”, ucapnya.


Dua pria di ruang tamu tersebut menoleh kepadanya.


“Oh mas, kenalkan. Ini anak pertama saya.”


“Biru.”


“Panggil saja om Darto.”


“Iya om.”


“Papamu ini sering banget cerita tentang kamu.”


Biru tersenyum.


“Om Darto ini dokter keluarga Darmawan. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan menghubungi beliau kalau butuh sesuatu tentang kesehatan. Nanti papa kasih nomornya.”


“Iya.”


“Ya sudah saya pulang dulu.”, pamit dokter Darto.


“Iya om.”


Dokter Darto menyalami Biru lalu melangkah pergi. Krisna mengantarnya sampai depan rumah lalu kembali ke ruang tamu. Biru sudah tidak ada di sana.


Tok tok tok! Biru mengetuk pintu kamar adiknya dan membukanya pelan.


“Hai.”, sapa Biru.


“Halo.”


“Boleh masuk?”


Nila mengangguk. Biru masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah adiknya.

__ADS_1


“Kamu suka gambar?”


Nila memiringkan kepala, bingung.


“Lukisan.”, kata Biru memperjelas.


“Suka. Apalagi lukisan kakak.”


Biru terkejut.


“Kamu tahu darimana?”


“Di kamar mama banyak.”


Biru terdiam sejenak.


“Mau lihat yang lain?”


“Mau!", kata Nila dengan penuh semangat dan mata yang berbinar.


Biru tersenyum melihatnya.


“Kalau begitu, sekarang Nila istirahat dulu. Besok pulang les kakak ajak ke galeri.”


“Baik kakanda.”, sahut Nila menggemaskan.


Biru membenarkan selimut adiknya dan menepuk-nepuk tangannya dengan lembut agar ia lekas tidur. Di luar kamar, Ajeng melihat pemandangan itu melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Dadanya terasa hangat.


***


Keesokan harinya, Biru kembali mengikuti ayahnya ke kantor untuk melanjutkan pelajarannya. Di ruang presdir, Krisna sibuk dengan dokumen-dokumennya sementara Biru di beri tugas untuk membuat desain yang cocok untuk kantor ini. Biru mengerjakannya dengan sangat serius.


“Mmm... Pa, gimana kalau di lobi kita buat galeri kecil di pojok sini. Aku bakal gambar beberapa produk terus di kasih beberapa keterangan inti, biar orang-orang tahu lebih banyak tentang produk kita. Area ini terlalu mubadzir jika hanya di isi vas bunga saja.”, kata Biru sambil menunjukkan dekorasi ruang di tabletnya.


Krisna terdiam. Biru baru saja memanggilnya ‘pa’. Ia lalu tersenyum. Biru menoleh padanya karena ia tak kunjung memberikan jawaban.


“Oh, iya boleh boleh. Kamu rancang saja.”


“Ok.”


Krisna bangga melihat putranya yang begitu serius mengerjakan tugas darinya.


“Oh iya. Tadi pagi Nila bilang mau kamu aajak jalan-jalan ke galerimu itu ya?”


“Iya.”


Biru terdiam sejenak.


“Nanti Biru kirim alamatnya.”


Krisna tersenyum.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam kurang beberapa menit tapi Biru masih saja serius dengan pekerjaannya. Krisna menghampirinya dan menepuk pundaknya.


“Sudah hampir jam 8.”


“Tapi ini belum selesai.”


“Besok lagi saja. Kasian nanti Nila nungguin.”


Biru baru sadar dengan janjinya. Ia langsung membereskan peralatannya dan segera pergi menjemput Nila.


Sesampainya di tempat les, Biru bergegas masuk ke dalam.


“Atas nama?”, tanya penjaga di luar pintu dengan tegas.


“Biru.”


“Keluarga?”


“Darmawan.”


“Hubungan keluarga?”


Biru masih merasa canggung untuk menyebut dirinya sendiri cucu Darmawan tapi karena waktu sudah sangat mepet, ia akhirnya menjawab pertanyaan itu.


“Cucu pertama.”


Penjaga itu terlihat kaget dan langsung berubah sopan.


“M-maaf tuan. Silahkan masuk. Nona Nila sudah menunggu di dalam.”


“Terimakasih.


Penjaga itu membukakan pintu dan Biru langsung masuk untuk mencari adiknya. Terlihat Nila bersama seorang perempuan yang terlihat masih muda, sedang duduk di sebuah kursi tunggu yang sangat mewah. Lebih seperti singgasana.

__ADS_1


“Hai. Maaf terlambat.”, ucap Biru sambil mengatur nafasnya.


“Tidak apa-apa.”


“Kita berangkat sekarang?”


“Baik.”


“Saya pulang dahulu wahai ibu pengajar.”, pamit Nila.


“Baik tuan putri.”


Biru hanya menatap mereka yang sedang bertingkah seperti di film kolosal. Guru les Nila menatap Biru daan tersenyum padanya. Biru tersentak.


“Permisi.”, pamit Biru.


“Iya. Hati-hati di jalan.”


Biru menggandeng tangan adiknya dan keluar dari sana. Sesampainya di samping mobil, Biru membukakan pintu untuk adiknya sebelum ia menuju bangku kemudi.


“Rupawan ya kak?”, celetuk Nila.


“Hm? Siapa?”


“Guru les Nila.”


“Kenapa tiba-tiba bilang begitu?”


“Tadi kakak menatap beliau terus menerus.”


Biru menghela nafas panjang.


“Kakak sedang melihat drama kolosal yang sedang kalian mainkan.”


Nila tertawa kecil mendengarnya.


“Siap?”


“Siap!”


“Ok. Berangkat.”


“Let’s go!”


Nila sangat bersemangat. Benar-benar menggemaskan.


***


Di Galeri.


“Hai mas Indra.”


“Hai, Bi. Siapa ini? Cantik sekali.”


“Terimakasih atas pujian anda. Nama saya Nila, adik kandung dari kakak Biru.”


Mas Indra melongo. Biru tertawa kecil.


“Nanti aku ceritain. Aku ke dalam dulu mas.”


“Ok. Ok.”


“Permisi om.”


“Iyaaa..”


Biru mengajak Nila ke ruang kerjanya. Nila memasuki ruangan dengan perasaan takjub melihat begitu banyak karya abanya yang belum di publikasikan. Ia berjalan dari kiri ke kanan, dari sudut satu ke yang lainnya dengan mulut melongo.


“Wahhh.... Semuanya indah sekali. Tapi kenapa yang satu ini penuh coretan?”, tanya Nila sambil menunjuk ‘Langit’ yang sudah Avisa hancurkan.


“Mmm... Itu... Karya gagal.”


“Ooohhh..”


“Kamu tunggu di sini sebentar ya? Kakak mau ngobrol sama on yang tadi.”


“Baik.”


“Anak baik.”, puji Biru sambil mengusap kepala adiknya.


Nila lanjut melihat-lihat sementara Biru keluar ruangan untuk menemui mas Indra. Ia menceritakan kondisinya saat ini.


“Mungkin ke depannya aku akan jarang kesini.”


“Nggak apa-apa. Kamu bisa kesini sesekali.”


“Makasih mas.”

__ADS_1


Mas Indra tersenyum. Ia mencoba memahami Biru meskipun tahu bahwa nanti ia akan merasa kehilangan.


__ADS_2