
Krisna yang baru saja datang setelah menghadiri pertemuan mendengar teriakan Biru. Ia mengintip dari jendela pojok ruangan. Terlihat di sana putra dan calon menantunya sedang saling bertatap tajam. Karyawan yang mendengar teriakan itupun tak kalah penasaran di buatnya.
“Lu mau dengerin gue atau enggak?”, tanya Biru tegas.
Avisa terdiam.
“Gue nggak berniat ngelarang atau keberatan sama keputusan lu. Gue akan ikut kemanapun lu pergi tapi gue mohon, rundingin dulu. Seenggaknya gue juga harus bersiap sebelum pergi. Nggak mungkin kan gue tiba-tiba pergi ninggalin keluarga gue gitu aja. Gue juga butuh ngejelasin semuanya ke mereka.”
Avisa menundukkan kepalanya, menyesali semua perkataan menyakitkan yang sebelumnya ia lontarkan.
“Saat kita menikah nanti, fokus utama gue emang elu. Tapi gue juga berhak memperlakukan keluarga gue dengan baik kan?”
“Maafin gue.”
Krisna yang melihat itu merasa tidak enak hati. Ia mencoba masuk dan menengahi mereka. Biru dan Avisa yang mendengar langkah kaki mendekat langsung berlagak baik-baik saja.
“Kalian berantem?”, tanya Krisna.
Mereka hanya diam.
“Kenapa diam?”
“Maaf pa.”
“Maaf apa?”
“Maaf udah buat ribut di kantor.”
Krisna tertawa. Biru dan Avisa heran melihatnya.
“Kamu pikir papa mau marahin kalian?”
Mereka berdua sama-sama bingung.
“Sebelum menikah memang sudah biasa berantem-berantem kayak kalian begini. Berantem aja tapi jangan sampai berpisah. Pasti suati saat nanti kalian akan menertawakan momen ini bersama.”
Biru dan Avisa saling melirik.
“Kalian keluar saja jalan-jalan atau cari baju pengantin sana.”
“Iya pa.”
“Iya om.”
“Jangan lupa berdamai lagi.”
Krisna meninggalkan mereka berdua dan melangkah pergi menuju ruangannya.
“Mau jalan-jalan?”, tanya Biru.
“Iya.”
Di perjalanan mereka menutup rapat mulut masing-masing. Masih merasa tidak enak hati karena pertengkaran tadi.
“Mau jalan-jalan aja atau sekalian cari gaun?”
“Sekalian cari gaun juga nggak apa-apa.”
“Ok.”
Biru kembali fokus pada kemudinya.
“Tapi gue nggak tahu tempat yang jual gaun pengantin.”
Perkataan Biru sontak membuat Avisa tertawa keras.
“Ngapain lu ketawa?”
“Terserah gue dong.”
Biru sedikit kesal.
“Ntar abis cari gaun, kita ke rumah mama gue ya?”, pinta Avisa.
“Nggak apa-apa?”
“Kemarin gue udah bilang sama papa.”
“Ya udah.”
“Sekalian ke rumah pak kades juga.”
__ADS_1
“Ngapain?”
“Emang lu nggak mau ngundang mereka?”
Biru terdiam sejenak.
“Ok lah.”
Mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari gaun pengantin, setelah itu langsung ke rumah Dila.
Belum juga Avisa mengetuk pintu, ia sudah mendengar teriakan dari dalam.
“Kerjamu tiap hari cuma nonton tv, makan tidur. Istri macam apa kamu!”
Brak! Brak! Bug! Prang!
Avisa menghela nafas berat lalu mengetuk pintu. Dila membukanya. Terlihat banyak sekali lebam di wajahnya.
“Avi.”
“Hai ma.”
“Siapa itu?”, teriak suami Dila.
“Avisa.”, jawab Dila.
Tak lama pria itu keluar dan menghampiri mereka.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Menemui mama.”
“Untuk apa?”
“Memangnya harus ada alasan untuk menemui mama sendiri?”
“Kurang ajar!”
Biru langsung maju untuk memberikan penjelasan.
“Maaf, kami ke sini hanya untuk meminta tante datang mendampingi Avisa di hari pernikahan kami beberapa bulan lagi.”
“Tidak perlu! Minta dampingi istri Biantara saja!”
Pria itu langsung menutup pintu dengan keras. Biru melihat Avisa yang hanya bisa terdiam.
“Sa.”
“Kita langsung ke rumah pak kades aja.”, kata Avisa yang langsung kembali ke mobil.
Biru mengikutinya.
Baru saja Biru menutup pintu mobil, Dila berlari menghampiri mereka dan masuk ke dalam mobil.
“Ayo jalan.”, katanya.
Biru menoleh ke Avisa. Ia mengangguk. Biru melajukan mobilnya dan berhenti di salah satu tempat peristirahatan. Ia turun dari mobil, memberikan ruang pada Avisa dan Dila.
“Kenapa waktu itu mama nggak cerita?”, tanya Avisa.
“Menikah dengannya adalah pilihan mama dan mama harus bertanggung jawab atas itu.”
“Berakhir seperti ini setelah menghianati papa, mama tahu nggak kalau mama terlihat menyedihkan.”
“Maafkan mama, sayang. Mama pantas menerima ini semua.”
“Ya. Mama memang pantas menerimanya.”
Dila tertunduk untuk menutupi air matanya.
“Avi nggak akan menghakimi kehidupan papa dan mama. Itu sudah keputusan kalian. Avi cuma mau minta mama hadir ke pernikahan Avi sama Biru.”
“Iya sayang.”, jawab Dila dengan suara yang mulai bergetar.
Avisa menghela nafas berat.
“Mama cinta sama dia?”
“Iya.”
“Mama bahagia?”
__ADS_1
“Iya.”
“Baiklah, Avi akan anggap seperti itu.”
“Terimakasih sayang.”
Avisa menghela nafas lagi.
“Resepsi pernikahan akan di adakan tanggal 30 Juli nanti. Avi butuh mama di hari itu.”
“Iya sayang.”
Suasana mendadak hening. Avisa memberikan waktu agar Dila bisa menuntaskan air matanya.
Saat ini Dila sadar betul bahwa putrinya sangat kecewa dengan pilihannya namun tetap menghargainya. Ia masih putri yang pengertian seperti dulu.
“Jadi, kamu dan abang sudah tahu cerita tentang mama yang sebenarnya.”
“Avi yang maksa papa untuk cerita. Kalau abang, entahlah.”
“Abang sudah tahu.”
“Mama tahu dari mana?”
“Abang pernah menemui mama.”
Avisa terdiam sejenak. Karena tidak ingin semakin menumbuhkan kecanggungan, ia beralih pertanyaan dan pembahasan tentang hal-hal kecil.
“Adik Avi cewek atau cowok?”
“Cowok. Baru beberapa hari yang lalu dia berulang tahun yang ke-5.”
“Oh ya? Tadi kenapa nggak di ajak.”
“Dia di rumah nenek. Mama menitipkan dia di sana selama satu minggu. Mama nggak mau dia lihat mama kayak gini.”
Avisa menghela nafas berat.
“Ma, Avi nggak bermaksud lancang tapi apa mama yakin akan tetap bertahan?”
“Mama sudah kehilangan dua anak, mama nggak mau kehilangan adik kamu juga.”
Avisa terdiam, tak enak hati karena tidak mampu melakukan apapun untuk mamanya.
“Maafin Avi, ma.”
“Ini semua kesalahan mama, kamu tidak perlu meminta maaf. Memang sebaiknya kalian bersama papa. Karena mama tidak bisa memberikan kehidupan yang baik untuk kalian.”
Avisa menundukkan kepala.
“Kalau suatu saat mama nggak tahu harus kemana, mama boleh hubungi Avi. Kita bisa tinggal sama-sama.”
Dila tersenyum.
“Mama senang mendengarnya. Tapi mama tidak akan menjalani perpisahan untuk yang kedua kalinya.”
“Iya ma.”
Dila melihat jam di tangannya yang sudah menunjuk angka 9.
“Kita bisa pulang sekarang?”, tanya Dila.
Avisa membunyikan klakson, memberi tanda pada Biru bahwa mereka sudah selesai berbicara. Biru yang duduk di depan sebuah minimarket langsung kembali ke mobilnya.
“Kalian langsung pulang kan?”, tanya Dila.
“Kita masih mau ke rumah orang tua angkatnya Biru, ma.”
“Orang tua angkat?”
“Kapan-kapan Avi akan kasih tahu mama.”
Mereka sudah hampir sampai tapi Dila meminta untuk di turunkan di tepi jalan raya saja. Ia tidak mau suaminya melampiaskan amarahnya pada mereka juga. Meskipun khawatir tapi Avisa meminta Biru untuk menurutinya.
"Kalian hati-hati di jalan ya.”
“Iya ma.”
“Iya tante.”
Di kejauhan terlihat suami Dila berlari menghampirinya. Pria itu langsung menjambak rambutnya lalu menyeretnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1