
Di rumah pak kades.
“Buu.... Arif pulaaannnggg.”
Biru menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Arif masih setia dengan kebiasaannya.
“Iya nak.”
Ibu yang sedang menonton tv membelakangi pintu lalu menoleh.
“Kok malam seka....”
Pertanyaannya terhenti ketika melihat sosok Biru. Air matanya serasa berjejalan, ingin keluar saat itu juga. Biru berjalan menghampiri ibu, berjongkok di depannya dan mencium tangannya.
“Biru pulang bu.”, ucapnya.
Ibu mengelus kepala Biru dengan lembut. Arif tersenyum melihatnya.
“Bapak kemana bu?”, tanya Arif.
“Bapak sedang mengawasi pengerjaan jembatan. Kalian sudah makan?”
“Sudah bu. Tadi Arif minta makan ke Biru.”
“Dasar kamu ini.”
Arif cengengesan lalu masuk ke dalam kamar. Beberapa detik kemudian ia keluar lagi dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara ibu dan Biru duduk bersama menonton acara malam kesukaan ibu di tv sambil berbincang-bincang ringan tentang kabar dan keseharian mereka.
“Di kediaman Darmawan ada seorang pelayan senior yang di panggil Simbok. Orangnya suka marah-marah. Tapi Biru merasa dia mirip sekali dengan ibu.”
Ibu terdiam. Antara takjub karena putranya ini kini banyak bicara dan kaget karena mendengar cerita tentang Simbok.
“Dia memang seperti ibu nak.”
Biru yang tadinya melihat ke layar tv langsung menoleh pada ibu.
“Dia adalah orang yang selalu melindungi ibu di kediaman Darmawan. Dia selalu ada buat ibu. Tapi ibu meninggalkan dia di sana sendirian.”
Biru langsung teringat dengan ucapan Simbok yang mengatakan bahwa ia di tinggal sendirian di sana.
__ADS_1
“Jadi ibu dekat dengan Simbok?”
“Sangat.”
“Apa yang terjadi sebenarnya bu?”
Ibu menghela nafas berat lalu mulai bercerita bahwa dulu Simbok sudah melarangnya untuk membawa Biru pergi. Karena di kemudian hari, ibu akan merasa sangat sakit saat tiba waktunya melepaskan Biru kembali pada keluarga Darmawan.
“Tapi ibu tetap menuruti ego ibu sendiri dan membawamu pergi dari sana. Agar ibu dapat merawat kamu sepenuhnya. Simbok sangat marah. Akhirnya ibu pergi tanpa berpamitan padanya.”
Biru mencoba memahami posisi ibu.
“Sekarang ibu tahu, Simbok benar dengan semua ucapannya. Beliau hanya tidak ingin ibu merasakan sakitnya kehilangan. Seperti yang ia alami.”
“Seperti yang ia alami?”
Ibu terlihat kaget. Sepertinya ibu mengucapkan sesuatu yang rahasia.
“Bu?”
Ibu menatap Biru kebingungan.
“Biru akan sangat marah kalau ibu masih saja menyembunyikan rahasia pada Biru.”
Ibu terdiam.
“Itu bukan hal yang harus ibu sembunyikan dari Biru.”
“Dengan pak Hendra.”
Biru terkejut.
“Maksud ibu?”
Dengan ragu, ibu mulai bercerita.
“Dulunya, Simbok seperti seorang adik yang sangat di sayangi oleh pak Hendra. Mereka satu kampung. Setelah tamat SD, pak Hendra merantau ke kota namun akan pulang setiap tahunnya untuk menemui Simbok.”
Ibu mengambil nafas sejenak lalu lanjut bercerita.
__ADS_1
“Beranjak dewasa, mereka memutuskan untuk berpacaran karena takut kehilangan satu sama lain. Apalagi dengan jarak yang jauh dan pertemuan yang sangat jarang.”
Biru masih menyimak dengan seksama. Arif yang sudah selesai mandi memutuskan untuk duduk dan ikut mendengarkan cerita dari ibunya.
“Sudah ya nak. Ibu merasa bersalah kalau harus menceritakan semuanya.”
Biru menatap ibu dengan serius. Saat itu, ibu tau ancamannya tidak main-main. Ibu takut Biru tidak akan menemuinya lagi. Akhirnya ibu melanjutkan ceritanya.
---
Saat itu Simbok menginjak usia 15 tahun. Pak Hendra pulang kampung untuk yang ke sekian kalinya. Seperti pasangan lainnya, mereka menghabiskan waktu bersama selagi bisa. Malam itu mereka benar-benar sedang di mabuk cinta hingga melakukan hal yang terlarang. Beberapa hari kemudian waktunya pak Hendra kembali ke kota. Ia berpamitan pada kekasih yang sangat di cintainya itu.
Hari-hari Simbok berjalan seperti biasanya sampai ia merasakan hal yang aneh pada dirinya, sering merasa mual dan pusing. Beberapa bulan kemudian barulah ia menyadari bahwa dirinya tengah mengandung. Ia merasa bahagia namun juga takut secara bersamaan.
Semakin lama, perut Simbok semakin besar. keluarga akhirnya tahu akan kehamilannya. Mereka marah besar. Warga kampung juga menggunjingnya setiap hari. Namun karena Simbok bersikeras untuk mempertahankan kandungannya, ia di usir dari kampung. Dengan bekal seadanya, ia merantau ke kota pak Hendra berada. Namun seberapa keras Simbok berusaha mencari, ia tak pernah menemukan kekasihnya.
Di kota, sambil masih mencari pak Hendra, Simbok bekerja di rumah keluarga kaya sebagai buruh cuci. Hingga tibalah hari ia melahirkan. Majikan di rumah itu tidak peduli pada kondisinya, yang membuatnya memutuskan untuk berjalan sendiri mencari dukun bayi di kota. Usahanya membuahkan hasil, ia bertemu dengan seorang dukun bayi. Namun karena terlalu lama di dalam perut, bayi dalam kandungan Simbok keracunan air ketuban dan meninggal sebelum di lahirkan. Simbok hancur sehancur-hancurnya.
---
Saat ini Biru merasa sangat benci pada kakeknya.
“Lalu pak Hendra menikah dengan orang lain? Begitu?”
Ibu yang melihat kemarahan di raut muka Biru langsung melanjutkan lagi ceritanya.
---
Beberapa bulan setelah Simbok di usir dari kampung, pak Hendra pulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun Simbok sudah tidak ada. Padahal saat itu ia ingin mengabarkan kenaikan pangkatnya dan berencana membawa Simbok bersamanya. Dengan kata lain akan menikahinya.
Pak Hendra bertanya pada siapapun yang di temuinya namun mereka tidak pernah tahu kemana tujuan kepergian Simbok. Akhirnya dengan berat hati, pak Hendra pergi ke kota besar tanpa kekasihnya. Sesekali pak Hendra mengunjungi kota tempatnya bekerja dulu untuk mencari keberadaan Simbok. Tapi mencari seseorang di tengan ratusan penduduk itu tidak mudah.
Lima tahun setelah kejadian itu, atasan pak Hendra memintanya untuk menikahi putri tunggalnya, namanya bu Tari. Ia sangat menyukai pak Hendra karena kerja keras dan kejujurannya. Ia juga tak pernah sekalipun melihat pak Hendra bersama seorang wanita.
Karena tak kunjung menemukan keberadaan Simbok, pak Hendra mulai merasa lelah mencari dan akhirnya menerima permintaan atasannya tersebut begitu saja. Sebagai calon menantu satu-satunya, ia di sayangi dan di perlakukan sangat istimewa di keluarga itu. Beberapa bulan kemudian mereka melangsungkan pesta pernikahan yang sangat meriah.
Sebagai hadiah pernikahan, mertua pak Hendra memberikannya rumah mewah serta cuti kerja untuk berbulan madu dengan istrinya. Saat itu pak hendra memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan di kota tempat pak Hendra bekerja dulu. Kali ini ia sudah tidak berharap untuk bertemu Simbok.
Rencana Tuhan sungguh tidak dapat di tebak. Pak Hendra justru bertemu dengan Simbok di sebuah warung makan. Pertemuan yang selama ini mereka nantikan, yang seharusnya membuat bahagia keduanya justru malah membuat luka yang sangat menyakitkan. Demi menghargai bu Tari, mereka memilih untuk berpura-pura tidak saling kenal dan bertemu diam-diam setelahnya.
__ADS_1
Awalnya mereka hanya bertemu untuk menanyakan kabar masing-masing dan ingin mengetahui apa saja yang terjadi selama lima tahun tidak berjumpa. Betapa terkejutnya pak Hendra mendengar tentang kehamilan Simbok karena orang-orang di kampung tidak pernah memberitahukannya. Karena merasa bersalah, pak Hendra memutuskan untuk membawa Simbok ke kota besar bersamanya, mencarikan pekerjaan dan menyewakan tempat tinggal untuknya. Agar mereka bisa bertemu sesering mungkin.
Namun serapat apapun bangkai di sembunyikan, lama kelamaan aroma busuknya akan tercium juga. Bu Tari akhirnya tahu tentang mereka. Karena merasa sudah di hianati, ia berencana untuk mengajak pak Hendra berpisah. Namun ternyata saat itu ia sudah mengandung selama beberapa minggu.