Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!

Mega Di Antara Biru Dan Jingga: Birunya Avisa!
BA 13


__ADS_3

Di ruang kerjanya, Biru sudah bersiap untuk pulang dan menjemput adiknya. Ia tahu betul bahwa saat ini adalah yang di tunggu Avisa sejak pagi.


“Udah?”, tanya Avisa.


“Hm.”


“Ayo!”


Tangan Avisa baru saja akan memegang gagang pintu namun pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka. Mereka kaget bersama-sama.


“Tumben tepat waktu. Biasanya harus di ingatkan dulu kalau sudah waktunya pulang.”, kata Krisna.


Avisa tersenyum jahat.


“Ooohhh.... Kalian mau kencan ya?”


“Aku mau membasmi ratu hama yang coba-coba mendekati milikku.”, kata Avisa kesal.


Krisna yang bingung langsung mengalihkan pandangannya pada Biru.


“Permisi om.”


“Oh iya.”


Avisa melangkah pergi lebih dulu. Sementara Biru berhenti sejenak karena di hadang oleh sang ayah.


“Dia kenapa?”


“Kemarin guru lesnya Nila ngajak kenalan.”


Krisna tertawa keras.


“Ya sudah sana. Perempuan kalau sedang cemburu itu menakutkan.”


“Biru duluan pa.”


“Ya ya. Hati-hati di jalan.”


Biru melanjutkan langkahnya, menyusul Avisa. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung berangkat menyusul Nila.


Sesampainya di tempat les, Avisa turun dari mobil dan berjalan masuk terlebih dahulu. Meninggalkan Biru yang baru saja turun dari mobil. Benar kata Krisna, perempuan yang sedang cemburu itu menakutkan.


“Dari keluarga?”


“Biantara.”


“Maaf di sini tidak ada keluarga Biantara.”


“Oh, Darmawan.”


“Hubungan keluarga?”


“Cucu menantu.”, jawab Biru yang sudah berada di belakang Avisa.


“Sama den Biru ternyata. Silahkan masuk.”


“Terimakasih mas.”


Avisa hendak berjalan mendahului lagi namun Biru dengan cepat menggenggam tangannya. Dengan terpaksa, Avisa harus berjalan bersamanya. Nila sudah menunggu di tempat biasa bersama dengan ibu Ratunya. Ratu yang awalnya tersenyum cerah menantikan kedatangan Biru langsung kaget, begitupun Avisa yang langsung menyilangkan lengannya. Mereka tahu betul siapa lawan masing-masing.


“Ajak adek lu ke mobil dulu.”, perintah Avisa.


“Nggak usah aneh-aneh.”


“Gue kenal dia.”


Mendengar itu Biru merasa tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Ia langsung menghampiri Nila.


“Jangan berani-berani nyapa!”, teriak Avisa.


“Permisi.”, pamit Biru pada Ratu.


Avisa kesal. Ratu tersenyum sinis melihatnya.


Biru yang tidak mau di pusingkan oleh situasi ini langsung mengajak Nila untuk menunggu Avisa di dalam mobil.

__ADS_1


“Ngapain lu di sini?”, tanya Ratu.


“Karena gue denger ada lalat yang mau coba-coba nemplok ke cowok gue.”


Ratu kesal karena gaya bicara Avisa yang menyebalkan.


“Lu pikir lu bisa dapetin semua yang lu mau cuma karena lu putri Biantara.”


“Tentu.”


“Lu pikir lu siapa?”, teriak Ratu.


“Putri Biantara. Kan lu udah tahu.”, jawab Avisa santai.


Ratu semakin kesal.


“Hebat banget lu ya bisa nyembunyiin sifat asli lu dari murid-murid di sini.”, sindir Avisa.


“Nggak ada urusannya sama lu.”


“Emang.”


Ratu yang tidak mau kalah mencoba memprovokasi Avisa.


“Gue bakal rebut cowok lu!”


“Hah?”


"Lihat aja, gue bakal bikin lu nangis karena kehilangan dia.”


Avisa menatap Ratu dengan sangat tajam. Seketika itu juga tangan Biru kembali menggenggam tangannya da membawanya pergi dari sana.


Di dalam mobil.


“Lu ngapain sih masuk lagi?”, tanya Avisa kesal.


“Udah malem. Nila harus istirahat.”, jawab Biru sambil menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya.


Avisa langsung terdiam mendengar Biru berkata dengan begitu lemah lembut.


“Heh cewek kecil. Jangan deket-deket sama Ratu. Dia orang jahat.”, kata Avisa.


“Udah selesai kan?”


“Belum.”


“Kan udah ketemu.”


“Kalau dia cewek lain, pasti udah selesai.”


“Jadi, lu maunya gimana?”


“Pokoknya gue nggak mau lu ketemu lagi sama dia.”


“Kenapa sih?”


“Yakin lu mau gue cerita di depan muridnya?”


Biru menoleh pada Nila sejenak.


“Ya udah ntar aja.”


Setelah itu Biru fokus mengemudikan mobil sampai rumah. Nila yang sudah di sambut pengasuhnya langsung di antarkan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sementara Biru mengajak Avisa untuk ngobrol di kamarnya karena takut Pak Hendra tiba-tiba muncul dan menggodanya lagi.


“Tunggu di sini, gue ambilin minum.”, kata Biru.


“Ok.”


Biru melangkah menuju dapur, hendak membuatkan minum untuk Avisa. Para pelayan yang melihat hal itu panik di buatnya.


“Biar kami saja den.”


“Nggak usah mbak. Terimakasih.”


“Aduh den nanti kita di hukum.”

__ADS_1


Simbok yang mendengar kegaduhan di dapur langsung menghampiri mereka.


“Sedang apa kamu?”, bentaknya.


Biru yang kaget hampir saja menjatuhkan sendoknya.


“Kasih ke mereka!”, perintahnya.


Para pelayan langsung mengambil alih peralatan minum yang ada di tangan Biru.


“Kamu ini baru di sini sudah mau merusak peraturan. Mereka di gaji untuk bekerja. Jangan buat mereka kehilangan gaji karena ulahmu.”


Setelah mengomel sepanjang itu, Simbok langsung pergi begitu saja. Biru masih berdiri di tempatnya.


“Maaf ya mbak.”, kata Biru merasa bersalah.


“Tidak apa-apa den.”


Akhirnya Biru hanya diam menunggu pelayan membuatkan minum untuknya yang setelah itu ia bawa ke kamar untuk di suguhkan pada Avisa.


“Makasih.”


“Hm.”


Biru duduk di samping Avisa dan terus menatapnya. Avisa yang merasa aneh karena terus di tatap akhirnya sadar bahwa ia sedang menagih cerita yang tadi belum selesai.


“Ah yang tadi ya?”


Biru mengangguk.


“Jadi, si Ratu itu bisa di bilang rival akademis gue di Inggris dulu. Dia juga salah satu murid terbaik. Di sekolah kami, teman kelas akan berubah setiap tahunnya. Dan sialnya, di tahun terakhir gue harus sekelas sama dia.”


Avisa menjeda ceritanya.


“Bentar minum dulu.”


Ia meneguk teh hangat yang Biru suguhkan.


“Nah sialnya lagi... Mmm... Atau malah untungnya ya? Pokoknya di tahun terakhir gue jadi peringkat pertama. Padahal tahun-tahun sebelumnya dia selalu peringkat pertama di setiap kelasnya. Begitupun gue. Terus salah gue dimana coba?”


“Ya... Nggak ada.”


“Ya kan? Gue juga pengen lulus cepet biar bisa cepet-cepet balik ke sini. Eh si Ratu itu malah musuhin gue. Katanya gue ngambil tempatnya. Udah gila emang tuh anak.”


“Tapi bagi sebagian, emang bakal nyebelin banget kalau ada yang nyalip peringkatnya. Karena selama ini dia juga sudah berusaha keras untuk berada di titik itu.”


Avisa melirik tajam.


“Lu belain dia?”


Biru kelabakan.


“Lu belain dia? Ha? Lu belain dia?”, kata Avisa berkali-kali sambil mencubit-cubit kecil badan Biru.


Biru yang di serang dengan cubitan bertubi-tubi hanya tertawa tanpa mengelak.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas mereka.


“Masuk.”, kata Biru.


Pintu terbuka. Arif berdiri di sana dengan muka lesu.


“Loh, Rif.”, kata Avisa.


Biru yang melihat Arif terlihat kacau mulai merasa khawatir. Ia menghampiri Arif ke ambang pintu dan mengajaknya duduk bersama.


“Ada apa?”, tanya Biru.


Arif menangis. Ini adalah pertama kali Biru melihatnya seperti itu. Avisa menepuk pundaknya pelan.


Setelah beberapa waktu, air mata Arif berhenti. Avisa memberikan teh hangat milik Biru padanya.


“Sorry, gue bikin suasana jadi nggak enak.”, kata Arif.


Biru dan Avisa menyilangkan lengan dan hanya menatap padanya tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


“Jangan gitu dong. Gue kan jadi pengen nangis lagi.”, protes Arif.


“Udah buruan cerita.”, perintah Avisa.


__ADS_2