
Selesai mandi, Avisa bergegas menuju ruang tamu. Tapi tidak ada seorangpun di sana. Ia hendak menuju ruang makan namun malah bertemu dengan musuh kecilnya.
“Kamu sedang apa pagi-pagi di sini?”, tanya Nila dengan masih mengenakann baju tidurnya.
“Kamu sendiri ngapain masih pakai baju tidur udah berkeliaran sampai sini?”
“Ini kan rumah Nila.”
“Ini juga calon rumahku, wleeee..”, ejek Avisa.
“Dasar gila.”, kata Nila yang langsung pergi begitu saja.
Avisa kesal di buatnya.
“Hei, mau kemana kamu?”, teriaknya.
Nila mempercepat langkahnya agar tidak tersusul oleh Avisa. Namun tanpa sengaja ia justru menabrak Biru yang sedang lewat di depannya.
“Aduh!”, katanya kesakitan.
“Haha.. Sukurin.”, ejek Avisa.
Biru yang melihat tingkah Avisa langsung memberikan isyarat agar ia berhenti menggoda Nila.
“Nila kok belum mandi?”, tanya Biru.
“Mbak yang biasanya ngurusin Nila lagi sakit. Nila mau minta tolong ke mama tapi malah ketemu dia.”, kata Nila menunjuk pada Avisa.
Biru baru ingat kalau kedua orang tuanya sedang berada di ruangan kakeknya. Karena tidak ingin mengganggu akhirnya ia memberikan sebuah ide.
Di kamar mandi Nila.
“Udah gede masih harus di mandiin juga?”, tanya Avisa.
“Kalau tidak mau silahkan mengadu pada kak Biru.”
Avisa yang mendengar ancaman itu rasanya ingin sekali menyentil gadis kecil di hadapannya ini. Tapi tiba-tiba saja darah segar mengalir dari hidung Nila. Avisa panik di buatnya. Ia langsung mengambil handuk kecil untuk menutupi hidung bocah itu.
“Kamu nggak apa-apa?”, tanya Avisa khawatir.
Nila tersenyum.
“Kamu khawatir ya?”, tanya Nila.
“Iya lah. Tiba-tiba mimisan gini gimana nggak khawatir? Kemarin juga tiba-tiba pingsan. Kamu sakit apa sih?”
“Leukimia.”, jawab Nila sambil tersenyum.
Avisa kaget mendengarnya. Akhirnya ia memandikan Nila tanpa banyak bicara lagi. Sedangkan Biru di kamar mempersiapkan seragam sekolah untuk adiknya.
“Udah?”, tanya Biru yang melihat Avisa dan Nila keluar dari kamar mandi.
“Kakak keluar dulu. Nila mau ganti baju.”
“Baik tuan putri.”
Biru beralih menatap Avisa.
“Kenapa?”, tanya Biru.
“Nggak.”
“Bisa kan?”
Biru bertanya tentang memakaikan seragam sekolah Nila.
“Bisa.”, jawab Avisa.
“Tolong ya.”
“Iya.”
Setelah itu Biru keluar dari kamar dan menunggu mereka di ruang tamu. Karena libur kerja, rencananya ia akan mengantarkan adiknya ke sekolah sekalian mengajak Avisa jalan-jalan dan membeli baju baru seperti perintah Pak Hendra.
“Kamu kok sudah di sini?”, tanya Krisna yang baru saja masuk rumah setelah mengantar Dokter Darto.
“Hari ini biar saya saja yang mengantar Nila. Sekalian mau ajak Avisa jalan-jalan. Di suruh kakek.”
Biasanya, Nila akan di antarkan oleh supir karena sekolahnya di mulai jam 9 pagi sedangkan Biru dan Krisna biasa berangkat kerja jam 7 pagi.
“Oh begitu. Ya sudah hati-hati di jalan.”
__ADS_1
Biru heran karena Krisna tidak seheboh biasanya.
“Papa baik-baik saja?”, tanya Biru.
“Ha? Oh iya.”
Setelah itu Ajeng masuk ke dalam rumah.
“Mama dari mana?”, tanya Biru.
“Ha? Eh habis dari depan tadi.”
“Bukannya kalian mau bicara sama kakek?”
“Udah tadi. Kakek sedang tidak enak badan jadi sekarang lagi istirahat.”, sahut Krisna.
Biru merasa ada hal yang di sembunyikan darinya namu ia ingin menghargai keputusan orang tuanya dengan tidak bertanya saat itu juga.
Tak lama, Avisa menghampiri Biru di ruang tamu.
“Selamat pagi om.”, sapa Avisa.
“Oh iya. Selamat pagi. Kamu kok sudah di sini?”
“Semalam papa nyuruh dia menginap di sini.”, sahut Ajeng.
“Oh begitu.”
“Nila sudah menunggu di ruang makan om, tante, Bi.”
“Ya sudah kita sarapan dulu saja.”, kata Krisna.
Mereka semua bergabung di meja makan bersama Nila. Setelah itu mulai melakukan aktifitas masing-masing.
Di perjalanan mengantar Nila ke sekolah, Avisa jadi sangat pendiam. Padahal sebelum-sebelumnya ia sangat gencar mengajak gelut bocah itu. Setelah Nila masuk sekolah, tinggallah Biru dan Avisa di dalam mobil. Sebelum melanjutkan perjalanan, Biru memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada apa sih Sa?”
Avisa yang sejak tadi melamun sedikit terkejut karena Biru tiba-tiba bersuara.
“Ha? Ah nggak.”
Avisa terdiam sejenak.
“Bi.”
“Hm.”
“Gue kasihan sama Nila.”
Biru sontak menatap Avisa.
“Kenapa sama Nila?”
“Tadi waktu gue mandiin, dia mimisan. Gue tanya dia sakit apa.”
Avisa menghela nafas berat.
“Dia bilang leukimia.”, lanjutnnya.
Biru terus menatap pada Avisa yang tampak sangat khawatir. Saat itu, tangannya seolah bergerak sendiri untuk mengusap lembut kepala Avisa. Membuat perempuan itu langsung menoleh padanya.
Mereka saling bertemu pandang. Avisa dapat melihat kehangatan dalam pandangan mata lelaki di hadapannya tersebut.
“Nggak usah khawatir. Ya?”, kata Biru.
“Iya.”
“Berangkat sekarang?”
“Ok.”
Avisa mulai mengembangkan senyumnya lagi. Mereka melanjutkan perjalanan menuju salah satu mall di kota.
“Ngapain ke sini?”
“Kakek nyuruh gue beliin baju buat lu.”
“Buat apa?”
“Papa lu mau ke rumah hari ini?”
__ADS_1
Avisa terkejut.
“Dia nggak pernah ngomong sama gue tuh.”
“Gue juga baru tahu tadi pagi.”
“Terus ngapain beli baju?”
“Lu mau pakai baju gue? Udah lah beli aja dulu dari pada ntar kena omel kakek.”
Biru langsung menggenggam tangan Avisa dan membawanya masuk ke dalam. Di dalam mall, mereka berdua malah kebingungan.
“Lu mau yang gimana?”, tanya Biru.
“Nggak tahu.”
“Kok nggak tahu?”
“Gue nggak pernah belanja ke mall.”
“Baju-baju lu?”
“Papa nyuruh sekretarisnya beliin.”
Biru menghela nafas panjang.
“Jadi gimana?, tanyanya lagi.
“Ya udah lah pilih yang mana aja. Pokoknya dapet baju.”
Mereka berdua yang sama-sama tidak pernah masuk mall akhirnya masuk ke manapun kaki melangkah. Semakin lama mereka semakin pusing melihat banyaknya pilihan baju di sana. Akhirnya tidak ada satupun yang bisa mereka pilih saking bingungnya.
“Arrgghh... Pusing gue. Kenapa banyak banget sih!”, teriak Avisa sambil mengacak-ngacak rambutnya seperti orang gila.
Birupun ikut frustasi karenanya.
“Gue ke toilet dulu.”, pamit Biru.
Avisa memberi tanda OK dengan jarinya.
Di toilet, Biru menelpon Ajeng.
“Halo?”
“Ya Bi?”
“Biru lagi di mall, cari baju buat Avisa. Tapi kami sama-sama bingung harus pilih yang mana.”
“Kalian di mall mana?”
“Heaven Mall.”
“Ok, sebentar mama hubungi lagi.”
Ajeng mematikan sambungan teleponnya. Biru menunggu dengan tidak sabar.
Kriinngg!!! Ajeng kembali menghubungi.
“Bi?”
“Ya?”
“Kamu ke lantai empat ya. Cari toko Adam & Eve. Tadi mama sudah menghubungi mereka.”
“Ok. Makasih ma.”
“Iya.”
Setelah itu, Biru menutup sambungan teleponnya dan kembali menghampiri Avisa yang sedang duduk di salah satu kursi lorong mall.
“Lama banget sih?”, gerutu Avisa.
“Sorry. Yuk.”
“Kemana?”
Tanpa menjawab pertanyaan Avisa, Biru langsung menarik tangannya dengan lembut dan mengajaknya ke toko yang di beri tahukan oleh Ajeng. Tak sulit menemukannya karena toko itu sangat berbeda dengan yang lainnya. Mereka masuk ke sana.
“Selamat pagi, boleh kami lihat kartu anggotanya pak?”
Biru bingung karena Ajeng tidak memberitahunya soal kartu anggota.
__ADS_1