
Perjalanan yang dipikirkan hanya setengah hari itu, kenyataannya dalam empat hari barulah mereka tiba di rumah orang tua dari Afeng.
Ada begitu banyak zombie di perjalanan sehingga menghambat kecepatan perjalanan mereka. Dalam perjalanan ini mereka baru menyadari bahwa dunia sedang dalam krisis kemanusiaan yang mengerikan.
Beruntung mereka menemukan sebuah berita darimu mulut seseorang yang mereka selamatkan dijalan.Di kabarkan sudah ada beberapa pangkalan kecil bagi orang-orang yang selamat.
Banyak orang-orang yang menunggu bantuan dari pemerintah terutama para prajurit seperti mereka. Jiwa prajurit yabg sudah mengarah daging seketika tergugah untuk datang menolong. Tapi segera berpikir ulang jika keluarga juga membutuhkan mereka saat ini.
Apalagi mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah sekian lama tidak kembali.Hanya perlu pergi untuk memeriksa nya dalam sekali jalan.
Di jalan mereka juga masih mencoba membantu beberapa penyintas tanpa pandang bulu. Banyak orang-orang yang meminta di kawal sampai ke tujuan.Jelas saja mereka menolak dengan ramah.
Mereka tidak sedang di dalam misi penyelamatan. Di belakang masih ada keluarga asli yang menunggu tanpa tau kondisi nya.
Sepanjang jalan sangat di rasakan betapa bahaya nya dunia sekarang. Pagi hari kita masih bisa ngobrol bersama dengan seseorang namun sore hari mungkin itu bukan lagi teman ngobrol mu yang sama.
Dalam empat hari perjalanan mereka , mengalami pasang surut pertarungan antara hidup dan mati melawan zombie yang kelaparan.Namun begitu mereka pada akhirnya berhasil sampai ke lokasi dalam keadaan selamat tidak kurang apapun.
Rumah A feng.
Afeng dilahirkan di sebuah desa pinggir kota.Di masa lalu dia tidak selalu berhubung dengan keluarganya setelah memasuki dunia militer.
Setelah bertahun-tahun tidak kembali, berulah dia berpikir untuk melihat-lihat kondisi keluarganya saat ini. Tetapi sekarang situasi sudah tidak begitu memungkinkan lagi.
Afeng melihat ke kiri dan ke kanan dari kaca mobil. Sepertinya tidak begitu banyak perubahan yang terjadi di kampung halamannya ini. Hanya ada beberapa bangunan baru iyang tidak begitu mencolok di matanya.
Meskipun dia sudah lama tidak kembali ke rumah. Tapi Afeng bisa menunjukkan dengan cepat arah rumah yang sebenarnya.
Kondisi desa sungguh miris tapi masih bisa dilihat bahwa ada banyak manusia yang masih selamat.
Tiga bus mini melewati mobil mereka yang menunjukkan bahwa beberapa warga desa bergegas pergi ke pangkalan terdekat. Kapten Gu tiba-tiba menghentikan bus itu.
Dia berdiri tepat di tengah jalan memaksakan mobil bus mini untuk berhenti. Supir yang mengemudikan bus tentu saja merasa marah .Hanya saja pakaian militer yang dipakai oleh kapten Gu saat ini membuat dia gugup dan berkeringat dingin.
"Ada apa pak?" tanya si supir.
" Apakah ada keluarga " feng "di dalam ?" kapten Gu pikir mungkin ada keluarga Afeng di dalam sana. Sikap nya memberhentikan mobil untuk hanya untuk mencegah kemungkinan mereka melewati keluarga Afeng
" Keluarga feng ya,maaf pak sebentar saya akan tanyakan dulu" katanya ketakutan, supir merasa lega jika para militer ini hanya datang untuk menanyakan seseorang dari desa.
Dia turun dengan rapi dan menanyakan satu persatu dari mobil yang dibelakang nya . Setelah beberapa saat dia kembali lagi kepada kapten Gu.
" Maaf pak, tidak ada keluarga Feng di kelompok ini tapi ada yang mengatakan jika keluarga "feng" sudah pergi dengan rombongan lain dua hari lalu" kata supir itu terbata bata.Dulu si sopir adalah mantan preman pasar yang pernah masuk bui.Setelah keluar dari penjara, dia masih trauma dengan orang berpakaian seragam.
Apalagi kapten Gu menatap nya seperti menatap pejabat yang kedapatan korupsi.
Kapten Gu menatap nya dingin hanya karena dia terlihat gugup dan berkeringat seperti merasa bersalah.
Dari perkataannya dia bukanlah warga asli dari desa. Sampai-sampai dia tidak mengenali sosok Afeng yang berdiri di pintu mobil.
Afeng adalah penduduk asli desa yang tumbuh kembang di sini. Dia hanya pergi ke militer dan belum kembali sejak itu .Tidak mungkin penduduk asli yang tidak mengenal dia.
Padahal penduduk desa sekarang tidak lagi peduli dengan orang lain selain dari diri mereka sendiri. Bahkan berpikir jika ada tambahan orang malahan membuat jatah makan berkurang drastis.
Jadi siapa yang peduli dengan keluarga Afeng.
Afeng juga tidak bertanya banyak ketika mengetahui keluarganya mengikuti rombongan lain di depan.
Awalnya dia juga mengkhawatirkan keluarganya itu tapi sekarang dia yakin mereka baik-baik saja meski tanpa dirinya di sisi.
Setelah bertanya beberapa pertanyaan lagi akhirnya bus bus itu pergi meninggalkan desa yang sekarang dalam keadaan sunyi dan sepi.
"Kapten"
" di mana rumahmu?" tanya kapten Gu langsung.
" Bukankah mereka mengatakan bahwa keluargaku sudah pergi dengan rombongan lain. Kurasa tidak perlu lagi melihat ke rumah " kata Afeng yang memang dari awal tidak menginginkan untuk kembali.
Dia pulang juga atas desakan kapten gu bukan atas hati dan nuraninya sendiri. Mengetahui jika keluarganya dalam kondisi baik-baik saja itu sudah bagus sekali.
" bukankah kita sudah hampir sampai di sana. Ada baiknya kita memastikan nya terlebih dahulu daripada mendengarnya sepihak dari orang yang belum jelas" kata Asu sok bijak.
__ADS_1
"Ayolah kawan, mampir sebentar siapa tau masih ada sisa tahun baru " yang di maksud di sini adalah hidangan panas. Bisa sup sayur atau sejenis nya.
Di jalan mereka hanya makan seadanya tanpa penuh. Ada kerinduan yang aneh kepada nasi putih
Mereka sudah sampai di sini jadi kenapa tidak melihatnya sebentar.Afeng akhirnya mengalah juga.Apa salahnya dengan mampir sebentar. Hitung hitung mengingat masa kecil nya.Tapi apa pantas membawa tamu sedangkan pemilik nya sedang pergi.
Kapten Gu dan Shen you sama-sama memandang wajah Afeng seolah-olah mengiyakan apa yang dikatakan oleh Asu tadi.Sekarang ada alasan untuk afeng menolak ide tentang apa yang mereka katakan .
Pulang ayo pulang.
Akhirnya Shen You kembali mengemudi ke arah yang ditunjuk Afeng . Mereka tiba di rumah dengan halaman kecil bergaya modern.
Rumah Afeng tidak terlalu besar tapi terlihat cukup rapi dengan jajaran bunga bunga indah yang bermekaran. Semua orang akan mengagumi keindahan dari bunga bunga itu. Seandainya mereka tidak berantakan seperti baru saja terkena serangan tornado.
Hanya perlu sekilas pandang empat orang ini tahu apa yang terjadi di halaman ini sebelumnya. Bukan rumah ini saja yang mengalami itu melainkan hampir semua rumah di desa mengalami hal yang sama.
Sebenarnya ada banyak zombie yang tersebar di desa ini. Akan tetapi mereka pada umumnya terkunci di rumah masing.
Meskipun mereka telah menjadi makhluk menjijikkan yang bernama zombie .Namun mereka masih lah keluarga yang berhubungan dengan darah.
itulah sebabnya tidak banyak warga desa yang sampai hati membunuh keluarganya sendiri mungkin mereka berpikir suatu hari akan akan ada keajaiban yang bisa membuat segalanya kembali seperti semula.
Betapa naif nya warga desa jika berpikir bahwa virus zombie ini suatu hari bisa ditemukan obatnya. Ada baiknya keluarga yang telah berubah menjadi zombie dikunci dari dunua luar. Menunggu suatu hari ketika obat sudah ditemukan .
Afeng dan tiga orang lainnya pasti tidak menyangka jika pintu yang dikunci dari luar ini sebenarnya menyimpan dan enam zombie yang berbahaya.
Afeng pikir keluarga nya sudah berhasil pergi .Sebelumnya mereka pasti mengunci pintu untuk keselamatan barang barang berharga.
Siapa tahu begitu pintu dibuka dia langsung diserang oleh zombie tua yang dia kenali sebagai kakeknya sendiri.
"Kakek !"
Afeng jelas tidak siap dengan serangan itu hasilnya dia berhasil di cakar oleh kakek. Beruntung dia masih memiliki gerak refleks sehingga gigi tajam kakek gagal menangkap lehernya.
Dengan cepat dia menerjang perut kakek dengan kaki panjangnya sehingga lelaki tua itu terpental beberapa meter ke dinding.
Kakek jelas tidak senang dia cepat bangun dan datang lagi dengan berlari secepat yang dia bisa. Di sinilah air mata Afeng akhirnya tumpah ruah.
Ayah dan ibunya terkadang agak cuek dengan dirinya tapi kakek dan nenek adalah orang pertama yang menyambutnya setiap kali dia kembali ke rumah tua ini.
"Xiou tian, makan lah,nenek mu sudah memasakkan hidangan favorit mu hari ini" Kata kakek nya setiap kali dia kembali dari sekolah ataupun dari bermain main diluar.
Jika dia sakit, kakek adalah orang yang pertama kali yang bisa menebak kondisi tubuhnya itu hanya dengan satu kali pandang.
"Xiou tian,wajah mu memerah,apa kau sedang demam?" kata kakek setiap kali dia mendeteksi kelainan di tubuh Afeng muda
Sekarang kakek tetap saja menyambutnya dengan antusias seperti masa yang ada lalu.Bedanya sekarang kakek tidak lagi menganggapnya seorang cucu melainkan makanan yang bisa dimakan .
Akkkhhhh
Aggkhhh
Agkhhh
Agkkkhh
Bukan kakek saja yang datang menyerang tapi tiga zombie lain lagi ikut datang dengan keinginan yang sama.Bukan siapa siapa tapi itu adalah nenek dan ayah dan juga ibu Afeng sendiri.
Betapa terkejutnya Afeng melihat kedatangan mereka yang menyambutnya dengan cara ini. Bukankah tadi orang-orang mengatakan jika mereka sudah pergi dengan rombongan yang lain.
Nenek...
Ayah...
Ibu...
Tidak mungkin, bukan kah mereka bilang keluarga nya sudah pergi ke tempat yang selamat?
Tidak mungkin...
Memang ada beberapa keluarga di desa yang memiliki nama keluarga yang sama dengan miliknya .Siapa tau keluarga feng yang mereka katakan bukanlah keluarga Feng yang dia maksud kan.Dari kejadian ini dia meragukan jika semua keluarganya tidak selamat lagi.
__ADS_1
Afeng tidak lagi bisa melawan zombie yang berdatangan Dia membeku di tempat ,akan tetapi kapten Gu dan Asu tidak tinggal diam. Mereka juga akan merasakan perasaan yang sama yang dirasakan oleh Afeng saat ini.
Mereka dengan cepat maju menghunus parang di tangan yang tadi mereka selipkan di punggung masing-masing. Sedangkan Afeng di dorong untuk menjauh dari ruang pertempuran oleh Shen you.
Membunuh zombie ini sekarang bukanlah giliran Afeng lagi .
Srettt
tiskkk
Tiskkk
Streeet
Dengan mudah empat zombie segera lumpuh tidak lagi berkutik. Afeng yang masih tidak bergerak segera ditarik ke dalam rumah . Jendela dan pintu segera dikunci dari dalam untuk mengantisipasi segala sesuatu yang tidak diinginkan.
Lama Afeng berdiam diri di sofa yang sudah lama tidak dia duduki ini. ini adalah sofa yang sama yang baru dia beli dengan gaji pertamanya sebagai seorang prajurit.
Sekarang sofa nya sudah hancur dengan busa kemana mana.Sofa yang sudah menjadi barang tidak layak pakai .
Empat mayat masih tergeletak di pintu depan membuat udara di didalam rumah tidak menyenangkan. Mata Afeng terpaku kepada mayat mereka yang tidak lagi bergerak itu.
Baru sekarang Afeng merasakan penyesalan besar. Mengapa dia tidak pernah pulang sebelumnya sekarang dia benar-benar tidak lagi mempunyai tempat untuk kembali.
Nenek yang selalu memasakkan makanan favoritnya setiap kali kembali sekarang sudah ter bujur kaku dengan luka di sekujur tubuhnya.
Kepala nya hancur demi membuat dia tidak bergerak lagi .Neneknya..itu Neneknya.
Dia adalah wanita tua yang selalu mengomel tentang dirinya yang belum memiliki pasang hidup .Nenek tua yang ingin melihat cicit kecil darinya ini, sudah tidak bisa berkata lagi untuk mengomel tidak tau waktu.
Omelan yang terkadang bikin Afeng pusing mendengar nya. Sekarang tidak akan pernah lagi dia dengar .
Di sisi nenek adalah ada kakek tua yang selalu mengajak nya untuk ke ladang.Kadang kadang mereka pergi memancing di danau bersama sepupu lainnya.
Ayah Afeng memiliki tiga saudara yang tinggal di kota lain.Mereka hanya kembali ketika tahun baru saja.Kemungkinan besar mereka kembali tahun ini meski pun Afeng tidak.
Apa mereka semua masih ada di desa ketika kejadian itu?
Para sepupu baik nya.
"Afeng ,mana saudara mu yang lain?" tanya kapten Gu.
Mendengar pertanyaan kapten gu ,barulah Afeng teringat kepada saudara dan saudari nya. Seharusnya mereka ada di sini karena ayah dan ibu masih menyambut tahun baru di desa.
Bergegas afeng bangun dan membuka pintu kamar di sebelah. Siapa tahu dua orang itu sudah menjadi zombie dan terkunci di dalamnya.
Setelah pintu dibuka tidak ada tanda-tanda ada makhluk hidup atau zombie di dalam ruangan manapun.
" kapten Gu "kata Afeng putus asa. Ada kecemasan yang tiba-tiba tertanam di pikirannya sekarang. Apakah saudara lelaki dan saudara perempuannya itu masih hidup atau sudah menjadi zombie seperti yang lain.
"Mereka tidak ada di sini artinya mereka masih hidup dan baik-baik saja di suatu tempat" kata-katamu untuk meredakan kekhawatiran di hati afeng.Tidak menemukan mereka di sini artinya mereka tidak menjadi zombie.Semua orang masih menyimpan harapan terbaik mereka.
"Semoga begitu "
Sementara kapten gu dan afeng saling berbincang untuk menguatkan satu sama lain. Duo prajurit sedang membongkar isi dapur dengan semangat.
Sekarang mereka begitu mengerti arti dari makanan. Di jalan memang bisa menemukan beberapa makanan ringan dan roti tapi mereka belum menemukan nasi sebutir pun.
Dewa saja yang tahu bagaimana rindunya mereka dengan butiran putih itu. Di lemari makan masih ada beberapa hidangan sajian tahun baru. Namun mereka sudah membusuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Hanya ada beberapa sayuran dan daging kering dan yang ada di lemari penyimpanan. Nenek membuat banyak sayuran kering dan daging asap juga beberapa sosis di saat tahun baru. Dia akan memberikan kepada sanak saudara sebagai oleh oleh.
Di kulkas masih ada beberapa pangsit beku tapi sudah tidak beku lagi karena listrik tidak lagi berfungsi. Ada banyak daging yang tidak dapat di selamatkan
Untungnya setelah meraba ke mana mana,mereka menemukan satu karung kecil beras dan tepung.Ada juga telur ayam dan telur bebek asin.
Keduanya segera mengambil panci dan memasak nasi tanpa mencuci beras nya terlebih dulu. Air sekarang tidak bersih lagi. Masih untung di rumah nenek ada galon besar.
Untuk minum nenek memang mengandalkan air galon alih alih air ledeng.Nenek bilang demi penghematan sekaligus kesehatan karena doa masih akan memasak air ledeng sebelum di gunakan untuk minum.
Ohh untung gas masih berfungsi dengan baik jika tidak apa jadi beras di kompor.
__ADS_1
Nasi baru diletakkan di panci tapi aroma nasi sudah membuat perut berbunyi dengan tidak tau malu nya.
Krukkk..krukkkk..Kruukkk