
Gak beselang Lama kami hampir sampai di depan sekolahan, dari jarak masih beberapa meter, Aku lihat di gerbang yang biasa nya sepi kini rame teman-teman Ku sekolah berkumpul, gak seperti biasa nya.
" Beb ada apa ya itu kok rame-rame " tanya Seta ternyata Ia juga merhatiin kegerbang sekolah yang lagi rame, " gak tau Aku Beb mungkin ada yang kecelakaan " jawab Ku sambil terus melihat keramaian itu.
Mobil yang kami naiki tepat sampe di dekat keramaian, " Beb yuk turun kita liat " Seta ngajak Aku turun, Pandangan Ku masih lihat keramaian, tangan Ku juga udah mau buka pintu, tapi kemudian ku urungkan Aku duduk kembali dengan dada berdebar kencang.
Seta trus turun tampa lihat Aku lagi, Ayah Ku ada di kerumunan teman-teman sekolah Ku, Aku gemetar merasa kan takut yang dalam.
__ADS_1
pandangan Ku trus berada pada Seta juga kerumunan teman-teman Ku, Ku lihat Seta bicara dengan seseorang gak tau siapa karena tertutup dengan teman-teman Ku, entah Apa yang di bicara kan ku lihat Seta nunjuk ke mobil.
Aku diam gak berani bergerak, kehadiran Ayah kesekolah tentu bukan berita bagus buat Aku, Seta kembali ke mobil, Seta merunduk liat aku dari kaca samping pintu mobil " Beb turun lah itu ada kedua orang tua kamu!, kasian Ibu Mu nangis-nangis " ucap Seta dari luar.
Aku diam jantung Ku semakin bertalu-talu, Aku takut Aku juga gak mau ketemu mereka, "udah lah Beb gak perlu dendam dengan orang tua kasian tu Ibu kamu sampe duduk di lantai jalan " ucap Seta dengan nasehat Dan niat nya yang baik.
Seta mungkin gak paham dengan kata-kata Ku, Dia turun lagi menuju keramaian teman-teman Ku, Aku lihat Ibu jalan di ikuti Ayah dan Seta di belakang, sebenar nya jauh di dasar hati gak tega liat Ibu nangis kayak gitu, tapi Aku kadung sakit hati karena kemarin di suruh pergi.
__ADS_1
Aku masih duduk dalam mobil milik Seta, liat Ibu nangis Aku juga mau nangis, tapi cepat-cepat Ku halau rasa sedih, Aku harus kuat, mereka kemarin terang-terangan ngusir Aku, sekarang buat apa cobak datangin Aku kesekolah, apa Ayah Ku belum puas dengan sumpah serapah nya kemarin.
Ibu buka pintu sebelah Aku duduk, " turun Nak" pinta Ibu sambil sesengukan, entah lah kalau di bilang Aku keras kepala, ya memang Aku keras kepala sama seperti Ayah Ku.
Aku gak bergerak menoleh liat Ibuk pun tidak, punggung Ku serasa di paku di tempat duduk mobil, sebenar nya ingin Aku peluk Ibu Ku tapi Aku juga harus kuat, karena Aku merasa berhak dia anggap Anak jangan seperti kemarin layak nya anak pungut bisa gampang di usir kapan gak sukak.
" Turun lah Nak, maafin Ibu sama Ayah " kali ini Ayah Ku yang bicara, Aku diam rasa sakit hati kemarin kembali menjalar di hati Ku, Ku tatap kedua nya dengan rasa sedih dan benci, biar lah Aku di anggap anak durhaka.
__ADS_1