MEMBELAH BATAS DIRI

MEMBELAH BATAS DIRI
BAB 5


__ADS_3

Seta pulang setelah aku turun, drama dalam mobil bikin aku geli Plus halu dengan ciuman sekilas tadi, dua tahun pacaran baru tadi kami ciuman. aku terus jalan masuk keep teras.


Seta udah renggut keperawanan bibir ku, aku senyum sambil ngingat rasa ciuman tadi, " dari mana kamu ndok Jam segini baru pulang" Eyang tiba-tiba udah di depan ku.


aku kaget sampe papers back sebagian jatuh dari tangan ku, aku kaku gak bergerak, Eyang melihat kebawah lalu menunduk ambilin papers back yang jatuh.


" apa yang kamu lakukan hingga bisa bawak pulang barang-barang ini" nada Eyang memang lembut, tapi seperti pisau membelah telinga ku.


gak nunggu aku jawab Eyang berbalik pergi masuk sambil bawa barang-barang ku tadi, aku merasakan firasat buruk, pasti akan terjadi keributan seperti yang sudah-sudah, tapi mungkin ini lebih parah.

__ADS_1


berulang kali aku nelan ludah di kerongkongan yang rasa nya sama pahit persis brotowali, yang biasa di bikin untuk campuran jamu.


Malang harus ku tanggung, pasti perang dunia ke tiga akan segera di mulai, fikir ku jadi takut untuk masuk kedalam rumah, " mana anak kurang ajar itu!? " terdengar suara lantang Ayah.


badan ku langsung panas dingin, aku gemetar rasa nya kaki ku gak mampu ku gerak kan, aku cukup tau gimana perangai Ayah ku kalau sudah marah, yang ku kesali cuma Eyang pasti Eyang yang buat gara-gara.


" Ayu dari mana kamu nak" tanya Ibu ku setelah berhadapan dengan aku, aku diam jadi menyesali perbuatan ku, aku dapat lihat air mata mulai mengambang di pelupuk mata ibu ku.


hati ku sakit seperti di remas, " Ayu di ajak teman ke Mall tadi buk" jawab ku apa ada nya, memang seta bawa aku ke Mall, ibu menatap wajah ku, " yaudah masuk yuk jawab aja yang jujur dengan Ayah mu, ucap Ibuk narik tangan ku ajak masuk.

__ADS_1


Aku gak bergeming karena takut, " jangan takut nak kalau memang bener anak ibuk gak ada buat apa-apa gak perlu takut " ibuk ku kembali menatap dan meyakin kan aku biar aku gak takut dan mau masuk kedalam.


" ayok masuk "..ibuk masih narik-narik tangan ku, aku narik nafas sambil mengatur detak jantung yang tidak beraturan, selanjut nya ku ikuti langkah ibuk.


" PlAaak" tamparan Ayah mendarat di pipi ku begitu aku sampai di muka pintu, pipi ku perih tapi lebih perih hati ku, " dari mana kamu, ini yang di ajar kan ibu mu ya kecil-kecil udah jadi ja**** " teriak Ayah ku ingin nampar aku sekali lagi.


Ibuk langsung maju jadi temeng aku, " jangan anak ku tapi aku hayo tampar mas.. "..teriak ibu juga, mendengar ucapan mereka aku gak tau harus apa, kok rasa nya aku kayak anak pungut atau anak yang sekedar minta di akui sebagai anak.


aku cumak bisa geram dalam hati, gak berani berucap apa pun, pertengkaran gak terelak lagi, bumi seperti runtuh sahut-sahutan antara Ayah dan ibuk terus berlangsung, yang bikin aku heran kemana Eyang yang sudah menciptakan keributan ini.

__ADS_1


__ADS_2