MEMBELAH BATAS DIRI

MEMBELAH BATAS DIRI
BAB 6


__ADS_3

Lagi aku sibuk liat sana sini nyari keberadaan Eyang, pertengkaran luput sesaat dari penglihatan ku, gak tau apa yang terjadi selanjut nya.


tiba-tiba ibuk ku jatuh, barengan dengan bunyi pecah guci besar kesayangan ibuk juga kursi jati yang masih bergerak datar di lantai , gak tau kursi di tendang Ayah atau bergerak karena ke tendang kaki ibuk saat jatuh.


Aku menjerit panggil ibuk lalu bersimpuh di samping ibuk ku, aku mau segera peluk ibuk ku, " pergi lah nak, pergi cari kehidupan kamu di luar " ucap ibuk dorong aku suruh aku pergi, aku gak ngerti apa maksud nya ibuk ngusir aku.


Aku gak bergeming, aku nangis kesal kenapa ibuk justru ngusir aku, apa ibuk juga marah sama aku setelah aku berkata jujur kalau barang yang aku bawak pulang pemberian teman.

__ADS_1


aku terus nangis gitu juga ibuk yang masih rebah di lantai, aku gak mau liat Ayah ku, yang ku dengar Ayah ku nyumpahin aku berulang kali sambil mendecih jijik seolah aku bukan darah daging nya.


" sudah Yas suruh aja mereka keluar dari rumah ini, mungkin di luar mereka bisa bebas jual diri untuk hidup mewah " ucap Eyang ku dengan suara halus muncul di depan pintu kamar.


nada ucapan Eyang memang halus tapi bisa merobek jantung dan hati, ucapan Eyang sangat padas tajam seperti belati menusuk hati ku dan ibuk ku, batin ku menjerit apa salah kami.


rasa nya selama aku besar tau mana yang boleh Dan yang tidak boleh, gak sekalipun aku atau ibu melawan Ayah dan Eyang, ibuk ku istri yang penurut kalau aku biar pun aku kesel dengan peraturan dan larangan Eyang tapi gak pernah sekalipun aku membantah atau menjawab.

__ADS_1


apa karena aku pulang bawa barang pemberian seta, ahh itu bukan satu alasan untuk di jadikan bukti kalau aku udah berbuat yang tidak-tidak.


Aku berdiri di hadapan Eyang ku, kali ini aku harus berani menjelas kan , " apa kamu mau mengelak dan melawan Eyang ya!?" tanya Eyang ku " gak Eyang Ayu bukan mau ngelawan atau ngelak, apa Eyang udah dengar penjelasan Ayu " Tanya ku, " gak ada maling mau ngaku" ucap Eyang ku lagi.


Aku benar-benar sudah gak tahan dada ku seperti di tabuh, " Ayu bukan mencuri Eyang, Ayu juga gak jual diri, Ayu bukan perempuan hina Eyangg.. " ucap Ku dengan suara lantang sambil nangis Aku benar-benar udah gak tahan.


" PLAAAKK....Jangan pernah kamu bentak orang tua anak ja***** " satu tamparan mendarat di pipi ku lagi, bahkan kali ini lebih sakit dari yang tadi, aku makin muak lihat Ayah ku.

__ADS_1


nafas Ku tersengal-sengal nahan gejolak dalam dada, sekilas aku melirik Ayah dengan segala rasa sakit.


Aku benar-benar sakit hati, jauh dari dasar hati ku mengatakan aku harus pergi, aku benar-benar sudah terluka dan berdarah, Aku gak sudi jadi cucu juga anak kalau hanya untuk di jadi kan musuh.


__ADS_2