MEMBELAH BATAS DIRI

MEMBELAH BATAS DIRI
BAB 17


__ADS_3

" Kita pulang ya?" ucap Ku langsung menghidup kan mesin mobil, hati Ku kini berbunga-bunga mungkin Ayu juga sama ingin rasa nya ngulang ciuman lagi tapi Aku malu juga takut kebablasan jauh.


Aku dan Ayu, sampai di rumah tepat pukul empat sore, Ayu melarang Aku turun, Aku juga merasa takut dan segan pada orang tua Ayu , apa lagi Aku baru sesore ini antar Ayu, namun Aku tetap harus bertanggung jawab antar Dia sampe ke tangan orang tua nya.


" Yaudah yuk Kita turun " ucap Ku ajak Ayu turun, Karena Ku lihat kayak nya Ayu malas untuk turun.


" Beb.. " panggil nya, baru Aku noleh Ayu tarik leher Ku, Ayu bungkam Aku, jujur ini yang memang Ku mau, Ayu lihai, Aku dapat merasakan manis nya, setelah hampir abis nafas Ayu baru lepas tautan kami.


" Aku sayang kamu, terimakasih Aku turun, sampe ketemu besok ya Beb" ucap Ayu langsung lompat turun.

__ADS_1


Jantung Ku berdebar kencang, gak Ku sangka Ayu bisa seberani itu, tapi udah lah cukup buat Aku kebingugan Karena bahagia, cuma lihat Dia dari dalam mobil, mungkin Dia sengaja gak biarin Aku turun.


Ku lihat ada perempuan tua keluar menyambut Ayu, Ayu dingin menanggapi perempuan tua itu, Aku gak tau siapa Dia, Ayu noleh lihat ke mobil lalu Ayu melambai kan tangan sambil sedikit mengibas kode nyuruh Aku pulang.


Aku klason dua kali nandain kalau Aku mau berangkat pulang, Ayu tersenyum manis lalu ngangguk dan dada melambai kan tangan.


frov : Ayuninda Hapsary


Di sapa nya Aku dengan bahasa nya yang halus, Tapi Aku jawab sedikit ketus, Aku tau itu dosa tapi gimana ya Aku bukan orang yang bisa berpura-pura.

__ADS_1


Aku masuk kedalam rumah setelah mobil Seta meninggal kan halaman rumah Ku, malas lama-lama di luar Sama Eyang.


Sampe di dalam Ku lihat Ayah Ku sedang duduk santai berdua dengan Ibuk, pandangan yang aneh bagi Ku juga yang pertama kali kulihat, sejak bayi sampe umur Ku delapan belas tahun baru ini pertama Aku lihat kedua orang tua ku harmonis.


" Baru pulang nak!? " sapa Ibuk dengan senyum tergantung di wajah nya Ayah juga begitu, " Iya Buk maaf agak telat " jawab Ku juga senyum hati Ku senang lihat Ibu Ku bisa senyum bahagia.


" Sini kamu duduk dulu dekat Ayah " ucap Ayah Ku, bikin jantung Ku kayak di gedor-gedor, Aku jelas takut lah, baru kemarin Ayah Ku marah-marah nyumpahin Aku, eh dalam satu malam berubah seribu derajat siapa yang gak takut.


" Duduk lah Nak " Suruh Ibuk Ku, Ku lihat senyum bahagia itu masih ada di wajah nya, Aku duduk tapi agak ke ujung gak mau di samping Ayah seperti yang Ayah perintah kan tadi.

__ADS_1


Eyang masuk duduk tepat di hadapan Ku bersebrangan karena meja di tengah, jantung Ku seperti mau berhenti, suasana ini mirip kayak di persidangan fikir Ku, Eyang hakim ketua, Ayah jaksa penuntut dan Ibuk jaksa pembela.


Perasaan Ku gak menentu, Aku mirip terdakwa yang nunggu keputusan hukuman dari Hakim.


__ADS_2