
" Ini Eyang teh nya " ucap Ku setelah menemukan Eyang di ruang tamu, " Taruh aja di meja situ ndok " jawab nya tampa melihat Aku.
Aku segera bergegas pergi paling malas berlama-lama dekat Eyang, bukan benci atau apa tapi memang Aku kurang dekat dengan Eyang sedari Aku kecil dulu, Cuma Eyang laki-laki yang dekat dengan Aku.
Aku menuju teras lalu Aku duduk setelah meletakan teh di atas meja, Rumah Ku tidak jauh dari jalan raya, masih banyak kendaraan lalu lalang di jam-jam segini.
Aku menatap lurus kedepan, sorot lampu kendaraan kadang menyilaukan mata Ku, terpaksa aku harus menunduk Karena silau, Aku kembali teringat ucapan Ibuk, harus berdamai dengan keadaan dan juga nuruti mau nya Eyang, Aku benar-benar gak ngerti apa maksud dari perkataan Ibuk.
__ADS_1
Seingat Ku, Aku tidak pernah membantah atau melawan ucapan Eyang, memang Aku kerap menggerutu dan kesal dengan aturan-aturan yang menurut ku terlalu ngadi-ngadi.
Ku akui semua ajaran Eyang itu sebenar nya baik, tapi bagi Ku ajaran dan aturan itu terlalu kaku dan terlalu kolot seperti peraturan yang di buat-buat, sementara Aku orang nya pecicilan, tapi bukan pecicilan yang nakal.
Dulu sebelum Eyang datang, Ayah atau Ibuk Fain-fain aja, gak pernah larang Aku ini itu, tapi setelah kedatangan Eyang semua berubah, kalau ngomong harus kemayu gak boleh suara besar kalau besar di samain dengan preman pasar.
" Ndok sudah malam, gak baik anak gadis duduk di luar malem-malem gini " ucap Eyang membuyar kan lamunan Ku, entah kapan pula tiba-tiba muncul di depan pintu kok bisa nya Aku gak sadar.
__ADS_1
" Ya Eyang " jawab Ku, Aku langsung bangun dan masuk sambil membawa gelas berisi teh yang baru ku minum sedikit tadi, sampe di dalam Ku lihat, teh Eyang juga masih utuh, "apa teh buatan Ku kemanisan ya?, atau mungkin Eyang takut Aku kasih racun ya? Fikir terus ngakak sendiri.
" Sana masuk tidur!, kok malah cekikikan koyok mbok kunti " ucap Eyang Ku gak tau entah kapan udah berdiri di belakang Ku, Aku langsung diam tutup mulut, " Eyang lah yang kayak mbok kunti selalu datang tiba-tiba" jawab Ku dalam hati sambil tertawa lalu melangkah kedapur untuk naruh gelas juga sekalian ngabisin sisa teh.
Setelah di kamar Aku gak langsung naik ke atas tempat tidur, Aku bersandar di pintu, fikiran Ku selalu tertuju pada omongan Ibuk, Aku masih gak ngerti dengan maksud omongan Ibu.
selepas mata memandang Aku lihat ada satu tas di atas lemari yang begitu asing perasaan Aku gak pernah punya tas itu sejak kapan pula ada di atas lemari, Aku melangkah untuk ambil tas itu dari atas lemari.
__ADS_1
Tas lumayan berat tapi apa ya isi nya, apa mungkin pakaian yang sudah tidak terpakai tapi gak mungkin lah Ibuk jadi kan kamar Ku gudang untuk nyimpan pakaian bekas, Aku benar-benar penasaran dengan isi tas, aneh nya lagi di gembok.