Memilih Cinta

Memilih Cinta
END


__ADS_3

“Nico, maafkan aku,” gumam Aihara, air mata menetes. Perasaannya sangat pedih, ia mengkhianati suaminya.


Aihara baru saja memberikan obat kepada Song Hanyu melalui mulutnya. Mendorong obat itu masuk ke dalam mulut Hanyu menggunakan lidahnya, dan beberapa kali memberikan air minum kepada Hanyu dengan cara langsung dari mulutnya.


Aihara tak bergeming, ia duduk di tepi ranjang sambil matanya mengawasi wajah Song Hanyu, pria yang ia idolakan bertahun-tahun itu masih terlihat tampan meski terlihat begitu pucat. Alis matanya yang tebal dan hitam, bibirnya berwarna merah jambu, tulang hidung yang sempurna.


Ah, andai Hanyu tidak menjadikan dirinya sebagai tawanan dengan cara melihat Aihara dalam wanita yang di cintai di masa lalunya pastilah ceritanya akan berbeda.


Andai saja Nico tidak terlalu lama mengutarakan perasaannya tentu saja keadaan tidak akan serumit ini, seharusnya ia dan Nico bisa menjadi pasangan yang sempurna, menjalani hari-hari mereka membina rumah tangga dengan normal, tidak perlu ada ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Sayangnya di dunia ini tidak ada seandainya.


Aihara meraba kening Hanyu, mengukur suhu tubuh pria itu. Ia mengembuskan napas lega karena demam Hanyu telah sedikit turun. Ia beringsut menjauhi ranjang dan mengambil selimut baru untuk dirinya sendiri lalu memutuskan untuk membungkus tubuhnya menggunakan selimut, merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu berusaha memejamkan matanya.


Paginya ia membuka matanya menemukan tubuhnya berada di atas ranjang kamar tamu. Aihara melirik ke arah jam yang berada di dalam ruangan itu, ternyata ia tertidur begitu lama. Ia segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, menurunkan kakinya ke lantai lalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya kemudian mengeringkan menggunakan handuk.


Aihara berjalan menuju pintu, dengan lembut ia menekan gagang pintu, lalu menariknya. Baru satu langkah di ambang pintu ia tertegun menyaksikan pemandangan di depannya. Nico duduk berhadap-hadapan bersama Song Hanyu.


“N-nico....” Aihara menggumamkan nama suaminya, pelan. Nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.


“Istrimu telah bangun,” ucap Hanyu sambil tatapan matanya mengarah kepada Aihara.


“Sayang, Rara....” Nico bangkit dari duduknya bermaksud menghampiri istrinya tetapi di luar dugaannya jika Aihara justru menjauhinya.

__ADS_1


Wanita itu justru muncul dua langkah. “Jangan dekati aku,” katanya.


Nico mengerutkan keningnya. “Aku kesini untuk menjemputmu, Rara,” katanya.


“Tidak Nic, keberadaanku hanya menyusahkan keluargamu.” Susah payah Aihara mengucapkan kalimat itu.


“Rara, ada apa denganmu?”


“Nic, maafkan aku... aku rasa begini lebih baik.”


“Bicara apa kau ini, Rara? Kau salah paham, kita semua salah paham.” Nico berusaha menjelaskan kepada istrinya.


“Tidak, aku tidak ingin menyusahkan kau dan Rebecca,” ucap Aihara yang telah berderai air mata di wajahnya.


“B-benarkah?” bibir Aihara tampak bergetar.


Nico mengangguk, dengan sangat lembut ia meraih tubuh istrinya membawanya ke dalam pelukannya. “Dengarkan aku, kita semua salah paham, bukan Hanyu yang menculik Rebecca,” katanya memberi tahu.


Aihara mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya, Ia sedikit merenggangkan pelukannya dari Nico. “Lalu siapa?”


“Feifei dan Tianzhi,” jawab Nico dengan nada pelan.

__ADS_1


“Mereka?”


“Ya, mereka. Mereka berdua akan mempertanggungjawabkan perbuatannya,” jawab Nico dengan nada tidak main-main. “Sekarang kita harus meminta maaf kepada Hanyu,” kata Nico lalu mengecup kening istrinya.


Aihara mengangguk, Nico melepaskan pelukannya, menggenggam erat telapak tangan istrinya lalu mereka melangkah menuju di mana Hanyu duduk.


Untuk pertama kalinya dan mungkin juga untuk terakhir kalinya mereka berbicara bertiga untuk meluruskan semua masalah yang membelenggu ketiganya.


***


“Kau seharusnya meminta maaf kepadaku,” ucap Nico seusai mereka melepaskan kerinduan. Mereka masih berada di Shanghai tetapi besok pagi mereka akan kembali ke Indonesia.


“A-aku....” Aihara menatap Nico dengan tatapan ketakutan.


Nico terkekeh. “Tidak perlu, aku hanya bercanda. Tetapi, berjanjilah untuk tidak mengambil tindakan tanpa berdiskusi denganku terlebih dulu,” katanya.


Aihara mengangguk. “Maafkan aku,” ucapnya lirih.


Maafkan aku Hanyu, tidak semua cinta harus memiliki, aku harap kau bisa menemukan cintamu suatu saat nanti.


THE END.

__ADS_1


UNTUK SELANJUTNYA KALIAN BISA FOLLOW IG AKU @cherryblossom0311 UNTUK INFO NOVEL TERBARU DAN FB : SAKURA HIKARU.


__ADS_2