Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Maccarone


__ADS_3

Hari ini adalah dua pekan setelah aku resmi membuka toko kue. Berbagai jenis kue berjejer cantik di dalam etalase.


Warna-warnanya yang cerah dan beragam bentuk, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa senang, termasuk pemilik toko ini.


Suasananya masih ramai, meski tidak seperti minggu pertama buka. Mereka nampak menyukai rasa dari kue-kue ini, atau mungkin karena mereka adalah teman-teman dari orang tuaku. Entahlah, tapi kebanyakan yang datang adalah mereka.


Antara bangga dan tidak sebenernya. Rasa minder kadang hinggap. Barang kali toko ini ramai karena koneksi semata. Yang bisa dilakukan hanyalah bersyukur. Nikmati saja apa yang ada hari ini. Urusan kedepan biarlah Tuhan yang menentukan.


Matahari mulai menyinari bumi dengan gagahnya. Siapa saja yang ada di bawahnya akan merasa enggan untuk terpapar langsung. Mungkin itu salah satu penyebab toko ini sepi saat siang hari. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang.


Pintu toko ini akan menyapa otomatis saat dia terbuka. Sama seperti saat ini, saat seorang laki-laki berpakaian rapi datang.


Salah satu karyawanku menghampirinya.


"Silakan, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Mau take away atau dinner in?"


"Dinner in." Dia menjawab dengan datar. Tubuh tegap berwibawa. Dengan satu lengan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Stelan jas mahal berwana hitam dan kemeja biru muda yang dia pakai, membuat wajahnya terlihat sangat tampan. Meski rasanya, dia bukanlah laki-laki muda.


"Silakan memilih kursi yang akan Anda tempati."


Laki-laki jangkung itu tampak melihat ke berbagai penjuru ruangan. Mencari bangku kosong yang menurut dia nyaman untuk ditempati. Sepertinya.


"Di sana."


Dia menunjuk kursi yang agak sedikit memojok. Berdampingan dengan bunga besar yang sengaja aku pajang agar toko ini terkesan lebih fresh.


Dia duduk lalu membuka buku menu yang diberikan karyawanku. Matanya bergerak ke kanan dan kekiri. Mengikuti lembaran menu yang dia buka.


"Saya mau ini. Juga ini."


"Siap, Pak. Mohon tunggu sebentar."


Pandangnya lurus ke luar jendela. Sangat fokus hingga mataku ikut melihat kemana manik dia tertuju. Tidak ada apapun di sana. Hanya jalanan yang terlihat panas dan beberapa mobil yang berlalu lalang.


'Apa yang sedang dia lihat? Mungkinkah dia sedang memiliki sesuatu?' aku bergumam dalam hati. Entahlah ... wajahnya yang tanpa ekspresi itu begitu menarik mataku untuk tidak berpaling ke lain arah.


Mendadak tubuhku sulit bergerak saat kami bersitatap. Mata itu begitu tajam meski terlihat berbinar dan meneduhkan. Tatapannya seperti anak panah yang menghujani tanpa ampun.


Beruntung karena karyawanku datang membawa nampan berisi pesanannya. Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah hampir kehabisan nafas seperti tercekik.


Aku menundukkan kepala, berpura-pura menata Maccarone yang memang sudah rapi. Rasanya sangat memalukan jika dia mengetahui wanita ini masih memperhatikan dirinya. Sesekali aku memang masih mencuri pandang melalui celah kue-kue yang berjejer cantik di dalam etalase.

__ADS_1


'Aku ini kenapa? Bukan kali pertama kulihat cowok ganteng. Memalukan!'


"Non, Maaf."


Entah terkejut atau karena aku grogi, saat salah satu karywan menyapa, kepalaku malah terbentur etalase.


"Non, tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah merasa bersalah.


Aku menggeleng. "Ada apa?"


"Ada pesanan untuk acara pesta ulang tahun."


"Untuk kapan?"


"Besok siang."


"Coba tanya chef di belakang. Dia sanggup enggak?"


"Kenapa harus tnya chef dulu? Kalau Nona menerima orderan ini, dia pasti menuruti."


"Enggak gitu juga. Kalau chef tidak sanggup, saya akan tolak pesanan ini. Kalian dan saya itu manusia, bukan robot. Selain uang, di dunia ini yang paling penting adalah kesehatan. Mencari uang hanya untuk membeli obat adalah suatu kebodohan yang hakiki," cerosoku panjang lebar. Dengan tangan masih mengusap kepala yang masih terasa sakit.


Dia tersenyum simpul. Lalu menghela nafas sebelum pergi.


Kembali pada kepura-puraan tadi. Menata Maccarone yang sudah rapi. Melihat mereka yang mungil dengan warna-warna yang cerah, membuatku betah berlama-lama di etalase ini.


"Permisi."


"Ya, ada yang bisa saya bantu?"


Betapa terkejutnya saat aku melihat orang yang akan aku layani saat ini.


"Tolong minta satu kotak."


Sama seperti tadi. Tubuh ini mendadak kaku seperti orang terkena asam urat. Mungkin dengan melihat kue mungil di bawah sana akan menyadarkan tubuh ini. Toh, mata masih berfungsi dengan baik dan benar.


"Iya, saya minta satu kotak Maccarone."


"Oh, iya. Tentu saja. Mau ukuran apa ... Pak?"


"Large."

__ADS_1


"Ok. Tunggu sebentar, akan saya siapkan."


Betapa susah payahnya aku mengucapkan kata.


Meski tidak bisa disembunyikan, tapi aku berusaha agar tangan yang bergetar ini tidak terlalu kentara. Matanya seperti jarum yang menusuk. Tajam.


'Apakah dia merasakan hal yang sama saat aku perhatikan dia dari jauh tadi? Sungguh tidak nyaman.'


"Ini, Pak. Silahkan ke kasir."


"Terima kasih."


Lega rasanya saat laki-laki itu pergi dari hadapanku. Setelah membayar ke kasir, dia keluar dan menaiki mobil berwarna putih. Mobil yang baru saja tiba di parkiran. Dia pun hilang dari pandangan mata.


"Non, ini."


Aku menautkan alis saat karywan yang bertugas menjaga kasir memberikan sesuatu padaku. Paper bag tokoku sendiri yang berisikan Maccarone.


"Ini buat Nona dari orang tadi."


"What?"


Dia hanya tersenyum seraya pergi setelah memberikan paper bag itu.


"Ngapain coba, beli kue terus dikasih lagi ke tukang kuenya. Kalau mau ngasih tuh' yang lain kek." Aku bergumam sendiri. Kusimpan saja paper bag itu di atas etalase.


Masih dengan perasaan aneh, memikirkan pengunjung tadi, aku kembali ke pantry untuk memeriksa beberapa kue yang masih dalam proses.


"Chef, untuk acara besok, sanggup? katakan saja jika keberatan. Saya akan tolak pesanan itu."


"Jangan, Non. Insya Allah saya siap. Nanti saya minta bantuan teman jika memang dirasa tidak sanggup."


"Baiklah. Jika memang menyanggupi. Saya tidak akan memaksakan jika kalian merasa lelah. Kita mencari uang, tapi jangan sampai uang kita habis untuk berobat."


"Iya, Non. Terima kasih karena perduli pada kami semua."


"Kita itu team. Salah satu dari kita oleng, makan bisnis ini akan pincang. Kita harus sama-sama kuat agar bisnis ini lancar."


Mereka hanya manggut-manggut mendengar perkataan ku.


Seperti yang Kakak katakan, jangan merasa bahwa kita itu bos besar meski berada di perusahaan sendiri. Jadilah pemimpin yang mengayomi dan menggenggam erat mereka yang menjadi bawahan kita. Kita tanpa mereka bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


Aku menerapkannya agar mereka betah dan mau menjalankan bisnis ini denganku. Merangkak dari bawah dengan tujuan kesuksesan besar di hari esok.


__ADS_2