
"Saya tidak akan meminta maaf untuk apa yang terjadi. Apa yang saya lakukan sepenuhnya berada dalam kesadaran, bukan kesalahan."
Aku masih terdiam membeku dalam dekapan Juna. Menggigit ujung kuku dengan air mata yang terus menetes.
"Jangan menangis. Apapun yang terjadi, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya."
"Aku merasa jijik pada diriku sendiri."
"Jangan berkata seperti itu. Jangan memikirkan hal-hal buruk. Semua akan baik-baik saja. Percayalah."
Meski rasa takut itu tidak bisa enyah dari lubuk hati, aku berusaha percaya pada Juna. Aku berharap dia benar-benar melakukan semua ini karena rasa cintanya. Bukan karena nafsunya. Lalu apa yang aku rasakan? bahwa aku sendiri bingung kenapa aku menerimanya. Apakah karena cinta, atau karena sama-sama terjerat nafsu?
Hari ini Juna memilih tidak masuk kerja. Dia takut aku mengalami sesak nafas karena memikirkan hal-hal buruk.
Tidak ada yang kami lakukan selain aktifitas normal yang orang lain lakukan. Mandi, makan lalu menonton televisi atau ngobrol tentang kehidupan masing-masing. Begitu seterusnya sampai malam kembali datang. Malam yang kami lalui seperti malam kemarin. Malam yang akan selalu menjadi malam paling panjang yang kami lewati.
Sudah hampir satu bulan lamanya kami tinggal bersama layaknya suami istri. Melakukan segala sesuatu yang pengantin baru lakukan.
Menyiapkan sarapan dan keperluan Juna setiap pagi. Mengantarnya sampai pintu, lalu berpelukan saat dia hendak keluar. Kecupan itu tidak lagi di kening atau di pipi. Tapi lebih kepada sesuatu yang kadang hampir membuat Juna mengurungkan niatnya untuk bekerja.
Dia bahkan sangat sering menelpon hanya untuk mengatakan kerinduannya. Bersikap seperti anak kecil yang ingin bertemu dengan ibunya. Merengek manja.
Juna bercerita tentang bagaimana dia menjalani hidup sedari dia kecil. Orang tua yang bercerai hingga kekerasan yang mereka terima dari ayah tirinya. Ayah tiri yang dia bunuh secara tidak sengaja karena dia tidak tahan melihat ibunya diperlakukan dengan kasar.
"Puncaknya saat aku melihat bajingan itu meminta haknya sebagai suami, tapi melakukan itu di depan teman-temannya yang melakukan video call. Ibuku menangis dan meronta, tapi ayah memukulnya hingga lemas."
Untuk pertama kalinya aku melihat Juna menangis. Dia yang selalu disegani banyak orang, di hormati dan ditakuti ternyata menyimpan luka yang menganga sampai saat ini.
"Aku memukul bajingan itu dengan botol minuman yang selalu dia tenggak. Tapi situasi berpihak padanya, dia tidak apa-apa. Botol itu dia ambil dan dihunuskan padaku. Ibuku dengan nalurinya mencoba melindungi dan menusuk dia dengan pisau buah berkali-kali."
"Itu artinya bukan kamu yang membunuh ayahmu, kan?"
"Bukan. Teman-teman laki-laki itu menghilang sejak kejadian malam itu. Semuanya ditutup rapat oleh keluarganya. Sebagai gantinya, aku diperlakukan seperti budak yang harus bekerja keras menjalankan perusahaan keluarga bajingan itu. Aku sadar, mereka tidak memiliki belas kasih padaku karena aku hanyalah anak tiri mereka."
"Apa itu artinya ...."
"Ya. Keluargaku yang sekarang bukan keluarga asliku. Aku dan ibu hanyalah alat untuk menghidupi mereka."
"Lalu dimana ibumu? apa dia masuk penjara?"
"Tidak. Nanti, jika waktunya sudah tepat, aku akan mengajakmu bertemu dengannya."
Percakapan malam itu kembali terngiang di kepalaku. Mungkin ini sebabnya aku sangat ingin mengenalnya lebih dalam. Sejak awal, hati ini tidak percaya bahwa Juna seorang yang kejam. Tersembunyi dalam netranya, aku melihat kesedihan sejak pertama melihatnya di toko.
Semakin lama, aku semakin yakin ingin selalu mendampinginya. Menemani di setiap suka dan duka yang akan dia hadapi nanti. Menjadi pelengkap dalam kesempurnaan yang dia ciptakan, karena sesungguhnya itu hanya topeng untuk menjaga martabatnya.
Cookies yang aku buat sudah selesai dipanggang. Untuk mengisi waktu saat Juna bekerja, aku selalu membuat berbagai cemilan. Sudah sangat lama juga aku tidak lagi membuat kue. Rasa rindu pada toko tiba-tiba hinggap. Rindu pada aromanya saat pertama kali membuka pintu. Manis.
Bel berbunyi. Aku melihat jam dinding, tapi belum saatnya Juna pulang. Ini masih terlalu siang.
Begitu aku membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada buket bunga mawar merah yang sangat besar.
Untuk Gadis pintarku
Sepertinya aku tahu siapa pengirim bunga ini. Hatiku dan juga duniaku seperti bertaburan bunga.
__ADS_1
Bunga itu aku simpan di atas meja depan televisi. Kaki baru beberapa langkah menuju dapur, bel kembali berbunyi.
Kali ini, Juna tengah berdiri di sana. Lelakiku yang entah sejak kapan selalu tersenyum saat kami bertemu.
"Kenapa harus menekan bel? kenapa gak langsung masuk saja," ujarku saat berada dalam gendongannya.
"Wangi apa ini? aromanya mengalahkan manisnya tubuhmu."
"Ish!" aku memukul dadanya. "Aku sedang membuat kue hari ini. Mau icip?"
"Icip yang lain dulu boleh?"
"Masih siang."
"Berarti kalau malam boleh?"
"Sejak kapan kamu meminta izin?"
Juna menurunkan tubuhku saat kami sampai ke dapur.
"Hemm ... terlihat sangat cantik. Bahkan melebihi kecantikan pembuatnya."
"Benarkah? kalau begitu malam ini akan menjadi malam yang sangat pendek dan dingin."
"Ancaman yang paling menakutkan." dia berdiri dibelakangku. Memperhatikan tanganku yang sedang merapikan cookies ke dalam toples.
"Apa kamu mau bertemu dengan ibu?"
Pertanyaan yang membuatku menghentikan kegiatan saat itu juga. Aku membalikkan badan agar bisa menatapnya.
"Aku mau. Tunggu sebentar, aku bersiap dulu." aku begitu bersemangat.
"Ada apa?"
"Mungkin kamu akan merasa kecewa dengan kondisi ibu saat ini. Bahkan, kamu bisa saja meninggalkan saya. Tapi tidak apa, saya akan menerima semuanya."
"Seburuk apapun kondisinya, dia akan menjadi ibuku juga. Aku tidak perduli apapun lagi. Aku mencintaimu tanpa syarat. Tunggulah sebentar, jangan sampai bidadari itu tidak menyukai menantunya karena tidak pandai berdandan."
"Terima kasih."
"No! bukan itu password-nya."
"I love you."
"Me too."
Aku benar-benar excited. Mengguyur tubuh dibawah air hangat. Membersihkan semuanya dan memastikan tidak ada yang terlewat. Memaki dress paling cantik yang Juna berikan. Memaki parfum paling lembut aromanya.
"Aku sudah siap."
Ekspresi Juna selalu sama. Dia selalu terlihat kagum setelah melihat aku berdandan rapi dan wangi.
"Apakah ada hari di mana kamu terlihat tidak cantik?"
"Ada."
__ADS_1
"Kapan?"
"Saat bangun tidur."
"Bahkan saya menyukai bau tubuhmu saat pagi hari. Sangat menggoda."
"Ck! kamu itu. Tunggu sebentar, aku akan membawa cookies untuk ibumu."
Wajahku terasa sangat ringan dan segar. Senyum tak pernah hilang menghiasi. Wanita yang selama ini tidak pernah Juna pertemukan dengan siapapun, dia akan mempertemukannya denganku. Wanita istimewa Juna.
Begitu mobil sampai di gerbang rumah sakit, aku merasa terkejut. Bukan karena rumah sakitnya, tapi para pasien di sini bukan menderita sakit fisik melainkan jiwa mereka.
Seberapa besar usahaku untuk bersikap biasa saja, nyatanya tidak bisa mengelabui Juna.
"Jika tidak siap, kita bisa urungkan. Kita pulang saja."
"Tidak, Juna. Jujur, aku memang terkejut tapi bukan berarti aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku hanya terkejut karena kamu begitu banyak menyimpan semua ini sendirian sejak kecil."
"Naya ...."
"Berhentilah bersikap sempurna agar aku bisa melengkapi sisanya. Biarkan aku menjadi tempat untukmu berbagai rasa. Bukan hanya suka tapi rasa duka. Izinkan aku membantumu mengobati luka yang tidak pernah ada penawarannya sampai saat ini."
"Nay, maaf jika kamu merasa terjebak dalam hubungan kita."
"Sayang ...," Juna sedikit terperangah mendengar sapaanku. "Bahkan aku bersedia untuk terjebak ribuan kali olehmu. Ayo, kota temui ibumu."
Aku segera turun dari mobil, meninggal dia yang masih terdiam membeku setelah aku mengecup bibirnya dengan lembut.
Juna merangkul tubuhku saat kami berjalan menuju tempat ibunya. Sepanjang jalan, suster yang merawat Ibu Juna menjelaskan kondisinya sampai saat ini.
Diluar dugaan. Ibu Juna bukanlah ODGJ yang aku pikir. Dia tidak tertawa dan menangis apa lagi berteriak seperti orang gila kebanyakan. Ibu Juna hanya tidak bisa diajak berkomunikasi. Dan kadang menangis dengan tenang tanpa meraung dan marah tidak karuan.
Kami sampai pada sebuah taman yang sangat asri. Berada di belakang gedung rumah sakit ini. Perawatan menunjuk seseorang yang tengah duduk di sebuah bangku yang menghadap hamparan rumput hijau yang mulai mengering di beberapa tempat. Mungkin karena ini sudah menginjak bulan saat kemarau datang.
Juna bersimpuh. Menggenggam tangannya dan menangis di lutut wanita itu. Parasnya masih terlihat cantik meski beberapa bagian sudah keriput. Dia bersih dan wangi. Rambutnya rapi terikat. Tidak seperti pasien kebanyakan.
"Ibu, Juna datang. Juna membawa seseorang yang ingin Juna kenalkan pada ibu." Juna menatapku lalu memberikan isyarat agar aku mendekat padanya. Aku berlutut dan menjabat tangan ibu Juna.
Sungguh di luar dugaan. Dia merespon. Tangannya bergerak perlahan lalu mengusap wajahku sekilas. Juna sendiri merasa kaget melihatnya.
"Bu, dia Naya. Dia wanita yang ingin Juna jadikan istri. Dia cantik bukan? apa ibu menyukainya? Bu, dia gadis yang pintar. Dia tidak seperti wanita lainnya. Nayanika wanita istimewa, sama seperti Ibu. Dia sedikit nakal karena sering membantah."
Aku menyenggol pinggangnya.
"Bu. Saya Naya. Ibu jangan cemas lagi, saya akan menjaga Juna dengan baik. Saya akan pastikan dia tidur dengan lelap saat malam tiba. Saya akan memberikan dia makanan yang sehat. Saya tidak akan membiarkan dia kelaparan atau telat makan."
Ibu Juna memiringkan kepalanya. Wajahnya semakin mendekat padaku. Sebenarnya ada sedikit rasa takut dalam hatiku. Takut jika tiba-tiba dia bersikap kasar.
"Cantik," lirihnya.
"Bu. Apa ibu baru saja mengatakan sesuatu?" Juna begitu bersemangat. "Katakan sekali lagi. Juna rindu suara Ibu, Bu."
"Juna ... tenanglah sebentar. Bukan begitu caranya."
"Nay. Entah berapa tahun lamanya saya tidak pernah mendengar suaranya lagi." Juna mulai putus asa. Dia duduk lalu mulai menangis.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, Juna. Jika kita terlalu memaksa, takut malah menyakiti dirinya. Kita hanya harus sering datang ke sini untuk merangsang jiwanya. Oke!"
Juna tertunduk. Bahunya turun naik seiring dengan suara tangisannya yang semakin jelas terdengar. Hatiku perih melihatnya seperti ini.