Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Kabar Pernikahan


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian itu, aku menghabiskan waktu di dalam kamar sendirian. Selama itu pula aku tidak bekerja mengurus toko.


Pikiran ini melayang jauh entah kemana. Berbagi macam hal muncul begitu saja. Sesuatu yang belum tentu terjadi membuat aku begitu takut. Dengan kuat, aku meremas dada yang kembali terasa sakit. Keringat mulai menghiasi pelipis dan kening.


"Dek. Makan dulu, Yuk!"


Bisa kudengar Abang masuk ke kamarku. Dalam hati aku mengucap syukur. Aku butuh bimbingan untuk mengatur nafasku yang semakin sesak.


"Dek!"


Dia meraih tanganku. "Pejamkan mata kamu. Coba tarik nafas dalam-dalam, ok. Nah, begitu. Keluarkan dari mulut perlahan-lahan. Ayo, lakukan berulang sampai kamu benar-benar merasa nyaman."


Dengan instruksi yang Abang berikan, kini aku bisa bernafas kembali. Lega rasanya.


"Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Itu namanya mendahului tuhan," ucapnya sambil menghapus keringan di wajahku.


"Kuatkan dirimu dulu. Setelah itu abang akan ceritakan semuanya. Bagaimana maura kecil bisa hadir ke dunia ini. Lalu tentang–"


"Apa yang akan terjadi jika mami tau?"


Tangan Abang terhenti setelah mendengar pertanyaan dariku. Dia mungkin berusaha tenang, tapi aku tahu dia cemas dan takut. Ya, mami akan sangat marah tentunya. Terlebih lagi, mami tidak akan setuju meskipun Abang ingin bertanggung jawab pada wanita itu.


"Abang ... Bagaimana jika nanti mami marah? Mami pasti tidak akan setuju jika Abang akan menikahi wanita itu. Mami pasti ...."


"Dek. Pelan-pelan. Atur nafasnya yang bener, ok."


Mataku kembali terpejam. Mencoba mengatur nafas yang kembali terasa sesak.


"Namanya Santi. Ibu dari maura. Dia hanya minta bantuan agar abang membiayai hidup anak kami. Abang tidak ada niatan untuk menikahinya. Mami tidak perlu tahu masalah ini, Dek. Cukup kita saja. Abang hanya ingin menjamin kebutuhan dia saja."


Kini aku menangis sejadinya. Secengen itulah aku. Berpikir bahwa Abang akan menikahi wanita itu membuatku sangat takut.


Pernikahan itu akan membuat Abang dan mami bertengkar. Pada akhirnya, Abang akan kembali fustasi. Bermain game sampai dia kembali pingsan. Mungkin akan ada hal yang lebih buruk dari sekedar pingsan belaka. Aku tidak ingin kehilangan dia.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Abang baik-baik saja, Dek," bisiknya saat mendekap tubuhku.


Ada kelegaan luar biasa yang kurasakan. Duniaku kembali hidup. Rasanya ringan dan menyegarkan.


*****

__ADS_1


Tidak ada yang mengungkit masalah Abang pada Mami dan Papi saat mereka kembali. Semua berjalan seperti biasanya. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Lega rasanya.


Kami berkumpul hanya saat makan malam. Sisanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Terlebih pagi. Mami dan Papi kadang pergi sebelum salah satu dari kami bangun.


Sawang sinawang. Apa yang orang lihat, belum tentu sebuah kebenaran. Aku contohnya. Terlahir dari keluarga berada, yang mana orang pasti berpikir sangat enak. Nyatanya, ada hal yang hilang di keluarga ini. Yaitu waktu. Kami kehilangan waktu bersama keluarga. Kehilangan kebersamaan yang seharusnya kami lalui dalam suka cita.


Beruntung aku memiliki Abang dan Kakak yang sangat perduli dan perhatian padaku.


Berbeda dengan hari ini. Mami meminta kami bertiga agar pulang pas jam makan siang. Terkecuali Abang. Waktunya memang tidak fleksibel. Pekerjaannya berhubungan dengan nyawa manusia yang tidak bisa ditawar oleh apapun.


"Kita mulai saja makan siangnya. Biarkan saja Arga, sih. Dia tidak bisa kita ganggu."


"Emang ada apa, sih, Mi? Tumben banget kita makan siang bersama. Pasti ada sesuatu. Ya kan?"


"Pinter putri Mami. Sok, Papi aja yang umumkan."


Papi berdehem. "Dalam waktu yang dekat ini, rumah kita akan mengadakan pesta pernikahan."


Bukan hanya aku, tapi Kakak juga terkejut bukan main. Mulut kami sama-sama terbuka lebar.


"Helmi akan menikah dengan Lidya. Dia putri teman Papi dari Tasikmalaya."


"Helmi, kenapa?" tanya Papi saat Kakak bergegas menghampiriku dengan raut wajah cemas.


"Enggak, Pi. Kemarin sesak nafas naya kambuh. Helmi takut itu terjadi lagi sekarang."


"Tuh! Ade kamu keliatan baik-baik saja."


Kakak dan aku saling bersitatap. Kami berdua sama-sama heran dengan keadaanku yang baik-baik saja.


"Kamu enggak sesek nafas? Dada kamu sakit enggak?" Kakak menyibak anak rambut yang menutupi keningku. Dia memastikan apakah aku berkeringat atau tidak.


"Syukurlah. Kamu baik-baik saja."


"Itu artinya ... Ade kamu setuju kakaknya akan menikah."


"Iya, Mi," lirihku ragu.


"Naya!"

__ADS_1


Aku segera berlari saat mendengar teriakan dari Kakak. Siksaan terberat darinya adalah menggelitik perutku. Sebisa mungkin aku harus menghindar agar dia tidak berhasil mendapatkanku.


"Toloooong, Abang!"


Rasanya seperti akan diterkam harimau, yaa meski aku sendiri tidak pernah merasakannya.


"Awas kamu, Dek!"


"Kalian itu, berhenti dong. Udah tua loh. Inget umur." Mami berteriak.


Kami tidak perduli. Kakak masih mengejar dan aku masih berusaha menghindar.


Lelah. Nafasku hampir habis. Langkkahku sudah tidak secepat tadi. Namun, aku masih beruntung karena Abang datang dan melindungiku saat hampir saja tertangkap Kakak.


"Udah, Kak. Dia udah kehabisan nafas. Kasian!"


"Ga, dia benar-benar pilih kasih." Kakak terbata-bata. Nafasnya sama memburunya denganku. "Dia bisa bengek dan pingsan karena cemas sama kamu. Lah, dia malah riang gitu pas tau kakaknya mau nikah sama cewek yang cuma kenal sekilas doang."


"Nikah? Siapa?"


"Bang. Kakak mau nikah sebentar lagi. Dia sudah dijodohkan sama orang tua kita." Aku pun sama ngos-ngosannya. Selesai bicara, langsung berlindung lagi di belakang punggung Abang.


"Wahhh. Keren! Selamat, ya, Kak."


"Ish. Kurang ajar! Mami, kenapa melahirkan kedua adik macam ini, sih?"


"Kabuuur ...." Langkah seribu adalah pilihan paling bagus yang aku dan Abang ambil. Masuk ke kamar lalu menguncinya. Tidak perduli pintu digedor-gedor dari luar. Dengan teriakan yang penuh caci maki. Kami di dalam hanya tertawa terbahak-bahak mendengar kekesalan Kakak.


Aku pun merasa aneh, tidak ada kecemasan yang aku rasakan saat mendengar kabar bahwa Kakak akan menikah, tidak seperti Abang yang tiba-tiba telah memiliki seorang anak. Membayangkan dia menikah dan pergi dari rumah ini membuatku tidak berdaya.


"Tapi kamu baik-baik aja, Dek. Enggak cemas atau gimana ... gitu."


"Entahlah, mungkin karena memang sudah saatnya dia berumahtangga. Masa iya mau jomlo seumur hidup? kasian."


"Terus, kenapa kamu sampai pingsan pas kemarin? kamu takut Abang nikah sama wanita itu bukan?"


"Mungkin karena ... itu karena aku merasa dia tidak bisa mengurus Abang dengan benar. Aku tidak ingin kalian mendapatkan wanita yang tidak tepat. Mereka harus lebih bisa memperhatikan dan menyayangi kalian melebihi rasaku."


"Dek ... semoga calon suami kamu kelak adalah dia yang memiliki kasih sayang yang lebih besar dari apa yang Abang rasakan saat ini."

__ADS_1


Kami kembali tertawa saat mendengar Kakak masih mengomel dari luar kamarku.


__ADS_2