
"Non, persiapan untuk acara pernikahan nanti, sudah hampir 80%. Hanya ada beberapa hal yang harus kita rapikan."
"Iya, terima kasih atas kerja keras kalian. Besok harus sudah rapi semuanya. Pastikan tidak ada yang terlewat. Acara resepsi nanti salah satu ajang promosi kota juga karena akan banyak tamu penting yang hadir."
"Siap."
"Ini sudah hampir jam sepuluh. Kalian bisa pulang. Jaga kondisi untuk besok. Pastikan kalian fit. Pertemuan kali ini cukup sekian dulu. Semoga besok berjalan lancar."
"Aamiin."
Setelah briefing sebentar dengan karyawan toko, aku bergegas ke atas untuk menemui seseorang yang sedari tadi menunggu.
"Maaf, Pak. Saya baru selesai meeting. Kalau boleh tau, Bapak ini siapa, ya?"
"Saya utusan dari tuan Juna. Kedatangan saya hanya ingin mengantarkan ini."
"Barang lagi? kenapa dia tidak mengantarnya sendiri? kenapa selalu mengirim orang lain?"
"Tuan sangat sibuk, Non. Mungkin besok pagi baru tiba."
"Memangnya kemana dia?"
"Sedang tidak ada di Indonesia yang pasti. Jelasnya ada di mana saya kurang tahu. Mohon terima, Non."
"Kali ini apa yang dia berikan padaku? ada apa dengan orang ini?"
Dengan perasan kesal, kuraih kotak itu. Kotak yang lebih besar dari sebelumnya.
"Halo, Tuan. Saya sudah–"
"Pulanglah, Pak. Saya akan bertanggung jawab untuk semua ini."
Bapak itu hanya menatap dengan penuh ketakutan saat ponsel yang dia gunakan aku ambil begitu saja dari tangannya. Aku yakin, ponsel ini adalah ponsel yang sama dengan yang dipakai pengirim kotak waktu itu. Lagi pula, ponsel ini sangat mahal untuk mereka miliki.
"Itu ponsel tuan, Non."
"Saya tahu, makanya saya ambil. Bapak pulang saja karena ini sudah malam. Saya juga harus segera pergi karena besok adalah pernikahan kakak saya."
"Baiklah. Saya permisi."
Saat orang itu keluar dari pintu, Abang masuk. Mereka berpapasan di depan pintu.
"Siapa?"
"Kurir pribadi Tuan Juna."
"Ngasih apa lagi kali ini?"
"Aku belum membuka kotaknya. Ayo, kita harus segera pergi. Aku lelah ingin istirahat."
"Kotaknya?"
"Bawain sekalian. Nanti kita lihat sama-sama di hotel."
"Baiklah. Ayo kita pergi."
Mami masih sibuk mempersiapkan segalanya. Memantau WO yang sedang bekerja. Sementara Papi memantau masjid hotel yang akan menjadi tempat akad nikah kakak besok.
__ADS_1
Abang menemui Kakak di kamarnya, dan aku memilih untuk membersihkan badan serta berganti pakaian. Tubuh yang merasakan lelah luar biasa, meminta untuk diistirahatkan.
Dengan badan yang tertutup selimut, aku melihat ponsel Juna yang sedari tadi tidak ada perubahan pada layarnya. Menyala hanya memperlihatkan layar dengan beberapa menu, lalu kembali mati.
"Apa dia tidak akan menelpon lagi?" tanyaku pada diri sendiri.
"Dek. Udah tidur? Ada Kakak, nih. Bangun, Dek."
"Iyaaa. Aku belum tidur, kok." Aku membuka selimut lalu duduk berhadapan dengan Abang. Sementara Kakak terlentang di sampingku.
"Wuidih. Ponsel baru. Kapan beli? tumben gak minta kartu abang. Dia minta karu Kakak?"
"Enggak. Dari pacarnya mungkin."
"Eh, iya. Pacarnya lebih tajir dari kita kan, ya."
"Begitulah. Kita hanya remahan rengginang di bandingkan sama dia."
"Kalian tuh apaan, sih? ini ponsel Juna. Bukan punya aku."
"Kok bisa ada di sini?"
"Panjang ceritanya. Gak akan kelar sampe besok. Udah, ah! males juga ngomongin dia. Gak penting."
Saat kami sedang ngobrol. Ponsel Juna berbunyi. Panggilan video call masuk.
"Juna nelpon, gimana ini?"
"Angkat lah. Masa dibanting."
"Cieee ...." goda Abang.
"Udah, angkat dulu. Nanti dia marah." Kakak menimpali.
Begitu tanda biru dengan bentuk kamera ku geser ke atas, wajahnya muncul. Dia terlihat sedang duduk dengan banyak lampu di atas langit-langit yang sangat tinggi. Memakai kupluk dan Hoodie berwarna abu-abu.
Tidak ada yang berbicara satupun. Entah aku atau Juna. Kami hanya saling menatap satu sama lain.
Abang dan Kakak saling menatap satu sama lain, melihatku yang hanya diam terpaku. Kakak mendekat dan ikut melihat layar ponsel.
"Sedang di bandara?" Kakak mengawali pembicaraan.
"Yups. Seseorang terlihat kesal karena saya tidak datang menemuinya langsung."
"Semoga selamat sampai tujuan."
"Terima kasih. Calon pengantin harusnya sudah istirahat, supaya punya tenaga yang cukup untuk besok."
"Saya harus menjaga adik bontot saya dulu. Memastikan dia tidur dengan pulas."
"Apa selalu seperti itu?"
"Tentu saja. Kami harus berganti menjaganya setiap malam."
"Lalu bagaimana jika saya sedang tidak ada di rumah suatu hari nanti? siapa yang akan menemaninya tidur?"
Pertanyaan yang membuat kami bertindak membeku. Hanya menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Mungkin dia akan selalu ikut kemana saja saya pergi. Sampai bertemu besok, saya harus check out. Selamat malam."
Pembicara singkat itu pun selesai. Suasana menjadi hening. Entah apa yang Abang dan Kakak pikirkan. Sementara aku, aku sibuk memikirkan esok hari. Mungkin kami akan bertemu secara formal untuk pertama kalinya.
Bahkan pertemuan itu belum terjadi. Tapi hatiku sudah sangat gelisah karenanya. Jantung yang tidak berdetak sesuai iramanya, membuatku sedikit merasa sesak.
Dia yang orang takutkan, membuatku merasa ingin mengenal jauh lebih dalam. Menelisik setiap lekuk kehidupan yang dia jalani. Mencari kebenaran tentang kebohongan yang beredar selama ini.
Entahlah. Aku hanya ingin percaya padanya. Percaya pada apa yang dia ucapkan. Percaya pada perasaan yang belum dia jelaskan.
Jika kaki ini salah melangkah, maka akan menjadi penyesalan yang tidak akan membuatku menderita. Setidaknya aku bisa membuat keluargaku aman. Kasih sayang mereka selama ini, tidak akan aku ubah menjadi kecemasan pada diriku atau pada kehidupan mereka sendiri.
Jalan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Kita yang memiliki rencana dan impian, harus ikhlas saat terhempas pada takdir yang tidak bisa dihindari.
Saat keluarga mencemaskan siapa yang akan menjadi calon suamiku, kini mereka cemas pada dia yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.
"Aku baik-baik saja. Kalian tenanglah."
"Sebaiknya kita segera beristirahat, agar besok bisa bangun lebih cepat," ujar Kakak.
"Siapa yang akan menemani, Nay?"
"Kita semua tidur bersama malam ini." Kakak memberi usul.
"Baiklah. Kalian tidur saja duluan. Aku harus melakukan perawatan wajah dulu."
Selepas mencuci wajah, aku teringat pada kotak yang belum aku buka. Pemberian dari Juna. Sebelum melakukan perawatan kulit wajah, aku memutuskan untuk membuka kotak itu terkena dahulu.
Sebuah gaun. Lengkap dengan perhiasan dan juga pouch mahal.
"Untuk apa dia memberikan ini semua?"
Ponsel Juna kembali berbunyi.
"Sebentar lagi saya take off. Buka password ponsel itu dengan tanggal kelahiranmu."
"Hanya itu?"
"Apa lagi memangnya? apa kamu menginginkannya sesuatu yang lain?" tanyanya datar dengan sorot mata mengintimidasi. Dia kembali membuat aku tidak berdaya.
"Selamat malam. Mimpi indah." Kali ini nada suaranya begitu lembut dengan mata yang meneduhkan hati.
"Take care."
"Thank you."
Sebuah pesan masuk setelah beberapa detik kami selesai berbicara.
[Pakailah di acar resepsi Helmi.]
[Apakah harus?]
[Mungkin aku akan sangat kecewa jika kamu tidak memakainya.]
[Kita lihat saja besok.]
Lama pesanku tak berbalas. Mungkin itu karena dia sudah terbang saat ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mendoakan agar dia selamat sampai kami bertemu besok.
__ADS_1