
"Kenapa tubuhmu terasa kurus. Apa kamu tidak menjaga makan dengan baik?" tanya Juna saat mendekap tubuh Nayanika.
"Aku makan banyak. Memang tubuhku saja yang tidak pernah mau gemuk. Kalau gemuk, nanti kamu naksir wanita lain."
"Tidak akan pernah! apapun yang terjadi pada hubungan kita, saya tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita lain."
"Benarkah? apa kamu begitu mencintaiku?"
"Ya. Tentu saja."
"Kalau begitu, ayo kita menikah. Tentang saja nenekmu itu."
"Belum saatnya. Tunggu saja sebentar lagi. Saya akan segera datang untuk melamar."
"Masalahnya bukan hanya nenekmu, tapi orang tuaku juga tidak merestui hubungan kita sekarang. Aku harus bagaimana?" Nayanika semakin mempererat pelukannya. Air matanya mulai menetes.
"Tenang saja, sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Saya janji sama kamu." Juna mengecup kepala Nayanika berkali-kali. Mencurahkan rasa rindu yang selama ini terpendam.
"Dek. Ayo, kita harus segera masuk."
Nayanika dan Juna mengurai pelukan mereka. Tatapan kerinduan begitu terlihat jelas dari mata Juna. Sedangkan Nayanika menatap penuh kesedihan. Bagaimanapun juga, sebentar lagi Nayanika akan menikahi dengan Arga.
"Aku masuk dulu, ya. Hati-hati pulangnya."
Juna mengedipkan matanya. Tangannya masih erat menggenggam Nayanika.
"Ayo, Dek!" Arga mengingatkan kembali. Dia tidak ingin orang tuanya melihat ini semua.
"Arga. Tolong jaga Nayanika untukku."
"Aku menjaganya untuk dirinya sendiri. Bukan untukmu."
"Abang ...."
"Maaf, Ga."
"Seharusnya, jika kamu mencintai Naya, jaga dia. Bukan malah merusaknya. Ayo!" Arga menyeret lengan adiknya. Menjauh dari Juna.
*****
Sejak kejadian itu, Nayanika merajuk pada Arga. Dia marah karena tidak membiarkannya sedikit lebih lama bersama Juna. Padahal dia tau bagaimana perasaannya selama ini berada jauh dari Juna.
__ADS_1
"Adik kamu kenapa lagi? sepertinya kalian sedang bertengkar. Kalian itu harus selalu akur, apa lagi setelah jadi suami istri nanti."
"Mungkin bawaan bayi, Mam."
"Ya sudah. Kamunya harus peka. Ibu hamil itu sensitif. Gampang ngambek. Mood-nya gak karuan."
"Hemm."
"O, iya. Pernikahan kalian dilaksanakan Minggu depan. Jangan nunggu sampai perut Naya terlihat buncit."
"What? kenapa secepat itu?"
"Kan udah dijelasin barusan. Kita jangan menunggu sampai perut Naya membesar. Mau, dong!"
"Tapi–"
"Keputusan sudah bulat. Atau ...."
Arga memasang wajah penasaran.
"Gugurkan kandungan Naya."
"Ya udah! kamu nikahi Naya, Minggu depan. No debat!"
Naya hanya bisa diam membisu di atas tangga. Niatnya untuk ke dapur, dia urungkan. Arga melihatnya saat Nayanika membalikan badan dan kembali ke kamarnya. Sesegera mungkin dia menyusul.
Entah berapa kali Arga mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
"Abang masuk, ya."
Arga membuka pintu yang memang tidak pernah terkunci. Kecuali jika Nayanika ngambek.
Arga melihat adiknya sedang berdiri di depan jendela yang terbuka. Pandangannya kosong ke depan. Menatap dengan mata sayu. Tangannya memegang perutnya, seakan dia tidak ingin sesuatu terjadi pada janin yang ada di dalam rahimnya.
"Kita menikah saja, Bang. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Aku ingin dia lahir dengan selamat. Kita besarkan dia dengan penuh kasih sayang."
"Tentu! Abang akan merawat anakmu dengan baik. Abang akan memberikan segalanya untuk dia. Membahagiakan kamu dan anak kamu. Abang janji."
"Aku minta maaf, Bang. Gara-gara kecerobohanku tidak bisa menjaga kehormatan, Abang jadi ikut terseret. Seharusnya Abang menikah dengan wanita yang Abang cintai. Tapi aku ....." Nayanika memalingkan wajahnya. Air matanya luruh.
"Kamu jangan berpikir macam-macam, Dek."
__ADS_1
"Setelah kita menikah nanti. Aku tidak apa-apa Abang menikah lagi dengan wanita lain. Nikahi siapa saja yang Abang cintai."
"Belum menikah tapi udah ngomongin poligami. Udah, ah! yang terpenting sekarang kamu jaga kondisi, makan yang banyak. Ingat! yang di dalam perut kamu butuh makan juga."
"Iya, Bang. Makasih, ya."
"Abang pergi dulu. Abang harus ke rumah sakit."
"Iya."
"Mau dibawakan apa? nanti Abang beliin."
"Nanti aku telpon kalau ingin sesuatu. Pergilah, nanti telat."
Setelah memeluk adiknya, Arga segera bergegas ke kamarnya untuk ganti baju lalu pergi ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, dia terus memikirkan pernikahannya dengan Nayanika. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan seumur hidupnya. Menikah dengan adiknya sendiri. Meski Nayanika bukan adik kandungnya, tetapi itu sangatlah aneh. Bagi Arga, sedarah atau tidak, Nayanika tetaplah adik yang dia sayangi.
Sesampainya di rumah sakit. Arga melihat seseorang yang tidak asing baginya. Laki-laki yang sedang duduk di bangku tunggu, di depan ruangan kerjanya, bangkit. Dia beranjak setelah melihat kedatangan Arga.
"Ada apa lagi?" tanya Arga ketus.
"Kita harus bicara."
"Masuklah, tapi saya tidak punya banyak waktu."
"Saya mengerti. Tidak akan lama, kok."
Juna pun mengikuti Arga memasuki ruangannya.
"Silakan. Apa yang mau Anda katakan. Singkat saja."
"Jaga dia. Tidak lama lagi saya akan datang untuk menikahinya."
"Semoga tidak terlambat."
"Bukan masalah waktu. Cepat atau lambat, takdir Tuhan itu pasti. Sebagai manusia, saya hanya berusaha yang terbaik. Permisi."
Arga hanya bisa diam melihat Juna keluar dari ruangannya.
"Tidak bisa aku bayangkan, apa yang akan dia lakukan setelah aku menjadi suami Naya."
__ADS_1