Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Pertemuan


__ADS_3

"Aku permisi sebentar." Aku berbisik pada Juna yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya.


"Mau kemana?" Tanyanya dan menoleh padaku.


"Mau ambil minuman. Lanjutkan saja obrolannya. Nanti aku kembali," ujarku seraya menarik tangan dari lengannya. Namun, dia menahan tanganku.


"Saya permisi dulu, Pak. Lain kali kita bertemu lagi. Selamat tinggal."


Dia tidak melepaskan aku dan malah berpamitan pada rekan kerjanya itu.


"Ayo." Dia berjalan dan nyaris menyeretku karena aku yang telat melangkahkan kaki.


"Mau minum apa?"


"Bisa lepaskan sebentar enggak? Tanganku. Lagi pula tidak mungkin aku kabur dan berlari di sini bukan?"


"Baiklah."


Dia melepaskan tanganku pada akhirnya. Mungkin karena dia merasa kesal, Juna meminum satu gelas koktail dalam satu tenggakkan.


Wajahnya ditekuk dengan garis mata yang terlihat seperti angry bird. Sungguh lucu. Aku bahkan harus menahan agar tidak tertawa.


"Sebentar." Dia memberi isyarat tangan seperti orang yang mengehentikan kendaraan padaku, saat sebuah panggilan masuk melalui ponselnya. Dia menjauh dariku.


Sambil menunggunya kembali, aku memilih duduk disebuah kursi yang khusus diperuntukkan untuk keluarga inti saja. Ada Abang juga yang duduk di sana.


"Hai, Dek. Sendirian? Gimana keadaan kamu?" Tanyanya sambil memegang kening juga kedua pipiku.


"Aku udah membaik, Bang. Juna sedang ada perlu dulu. Dia pergi barusan."


"Syukurlah."


Kami mendengar nada dering dari ponsel Abang. Dia hanya diam mendengarkan dan sesekali bilang iya.


"Dek. Abang harus pergi. Sampaikan permintaan maaf Abang sama kakak. Ada pasien yang harus dioperasi."


"Iya. Pergilah."


Dia mengelus kepala sambil mencium keningku sebelum pergi. Kini, akan tengah duduk sendirian.


Mataku menjelajahi seluruh ruangan. Melihat para tamunya undangan yang memakai gaun paling cantik yang mereka miliki. Acara pesta seperti ini selain karena menghargai pemilik pesta, juga merupakan ajang untuk pamer.


Mereka memamerkan dan membanggakan apa yang dimiliki. Entah itu harta, jabatan, anak atau apa saja yang mereka anggap layak untuk dipamerkan.


Hingga mata ini berhenti pada satu sosok. Dia yang selalu tampak sumringah pada siapa saja yang datang. Sesekali menengok ke samping dengan senyuman hangatnya. Senyuman yang dulu selalu dia berikan saat aku baru saja membuka mata.


Membelai lembut saat hati ini merasa sepi. Menjadi tempat bersandar saat raga ini merasa rapuh dan lemah. Dia yang menjadi sber kekuatan saat hati ini lelah.


Kini, semua berubah. Akan ada kehidupannya yang lain dalam hidupnya. Mencintai dia yang mencintainya. Kasih sayangnya bukan lagi untukku seorang. Perhatiannya tidak akan lagi tertuju hanya padaku. Akan ada seseorang yang menggesek posisiku.


Mungkin dia akan menggendong gadis kecil itu tapi bukan aku, melainkan anaknya. Kelak.


Rasa yang sejak awal aku takutkan, kini muncul. Menganggap semuanya akan baik-baik saja, nyatanya hati ini tak kuasa. Mencoba tegar meski saat ini runtuh. Ternyata ... Aku memang tidak bisa begitu dan saja merasa semuanya baik-baik saja.


'Dia akan pergi. Kakak akan pergi dari hidupku.'


Tidak terasa air mataku sudah membasahi wajah dan turun ke dada. Membasahi kalung pemberian Juna.


Aku mulai kesulitan bernafas. Tanganku meremas dada yang mulai terasa sakit. Kepalaku terasa berat.


'jangan ... Jangan sekarang Nayanika. Tenanglah!'


Saat aku berusaha untuk menenangkan diri sendiri, mengatur nafas agar tidak merusak acara Kakak malam ini, seseorang memeluk tubuhku.


"Tenanglah. Kendalikan dirimu. Konsentrasi dan berpikirlah bahwa semuanya akan baik-baik saja."


"Juna ...," ucapku terbata-bata.


"Saya di sini. Jika ingin menangis, lakukan saja. Jangan ditahan." Dia menepuk-nepuk punggungku. Memberikan kekuatan pada diri yang hampir saja tumbang.


"Aku takut kehilangan dia, Juna ...." Tangisku pun pecah.


Rupanya apa yang kami lakukan menarik perhatian para tamu undangan. Beberapa diantaranya mendekat dan bertanya. Hal itu membuat Kakak menyadari bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Dia berlari dengan cepat padaku. Menyingkirkan Juna begitu saja hingga pelukannya terlepas.


"Dek?" Matanya bergantian menatapku. Menelisik seluruh wajahku dengan cemas.


"Ada apa? Kamu tidak apa-apa?" Dia mengusap kedua pipiku.


"Aku tidak baik-baik saja, Kakak. Aku tidak baik-baik saja melihat Kakak bersama wanita lain. Wanita yang akan mengambil dirimu dariku." Tangisanku semakin menjadi.


"Siapa yang akan menggendongku menuruni tangga? Siapa yang akan menyuapiku saat sakit. Abang tidak bisa membacakan cerita sebelum aku tidur. Tidak ada yang akan menjagaku 24 jam saat aku sakit. Tidak ada yang bisa menggantikan Kakak di hidupku. Kakak ...."


"Hm. Kakak di sini."

__ADS_1


"Jangan pergi. Huu huu huu ...."


Dengan sangat erat kupeluk tubuhnya. Ini salah. Tidak seharusnya aku begini. Tidak akan ada yang berubah dalam kehidupan kami. Dia tetap Kakak dan aku adik kesayangannya. Kami terikat darah. Tidak ada yang bisa merubah itu. Tapi ... Aku sangat takut dia pergi.


"Nay ... Sudahkah. Dia tetap akan menjadi Kakak kamu, Nak. Mami janji tidak akan sering pergi. Mami akan menemani kamu di rumah, ya!"


"Enggak! Mami tidak seperti kakak. Kakak baik dan dia tidak akan pernah meninggalkan aku. Dia sudah berjanji."


"Hei ... Sayang. Dengarkan kakak. Tidak akan ada yang meninggalkan siapapun di sini. Kamu tetap adik kakak yang paling kakak cintai. Tidak ada yang bisa merubahnya. Oke!"


"Aku benci liat kakak tersenyum pada wanita itu."


Kakak tertawa mendengar ucapanku.


"Helmi. Kembalilah ke pelaminan. Kasian istri kamu."


Jika Juna sudah berbicara, maka tidak akan ada yang berani berkata 'tidak'. Dan aku penasaran. Kenapa? Termasuk Kakak. Dia hanya memberikan senyuman lalu kembali pergi menuju Pelaminan. Meninggalkan aku.


"Silakan nikmati pesta ini kembali." Dan orang-orang membubarkan diri. Sesuai instruksi Juna.


"Kakak!" Pekikku.


Tangan Juna dengan kerasnya menarikku. Menjauh dari pesta. Keluar dari ruangan ini. Tanpa perduli dengan kakiku yang terkilir karena memakai high heels. Susah payah aku menyesuaikan langkahnya.


"Juna. Tunggu dulu sebentar."


Dia abai. Terus menarik tanganku dan sama sekali tidak perduli pada rasa sakit yang aku rasakan.


"Juna ... Berhenti sebentar. Kakiku terkilir." Aku meringis. Memohon padanya agar bisa berhenti.


Juna seketika menengok. "Kenapa tidak bicara? Mana yang sakit?"


Dia menyibakkan gaunku yang memang panjangnya menutupi kaki. Melihat kakiku dengan hati-hati.


Tanpa basa-basi. Dia menggendongku menuju ke suatu tempat entah kemana. Menaiki lift menuju lantai atas.


"Rogoh saku saya." Matanya mengarah ke bagian dada. Dengan keraguan, tanganku mulai masuk ke dalam saku kemejanya. Punggung tanganku dapat merasakan kekarnya otot dada Juna.


"Buka," pintanya. Aku menempelkan kunci kamar yang tadi diambil dari saku kemejanya.


Sebuah kamar yang tentunya sangat besar. Ruangan pertama yang kami masuki adalah ruangan yang hanya ada meja dan empat kursi. Kemudian kami memasuki ruangan untuk menonton televisi. Ada sofa besar yang terlihat nyaman saat bersantai dan melihat acara televisi.


Juna mendudukan aku di kasur yang sangat besar di ruangan selanjut. Ruangan terakhir di kamar ini. Dia melepaskan sandal dan melemparkannya ke sembarang arah.


'ya ampun ... Tubuhnya benar-benar ....'


Membuka dasi dan dua kancing bagian atas.


"Tahan sebentar."


Aku menjerit sekuat tenaga menahan rasa sakit saat Juna memperbaiki posisi otot kakiku yang sakit.


"Sakit tau! Bilang dulu, napa!"


Dia yang masih jongkok di hadapanku, hanya menatap tanpa ekspresi.


"Jangan gitu liatnya. Aku takut!"


"Semua orang memang takut pada saya."


"Aku mau pulang."


"Silakan kalau bisa. Bahkan nyamuk saja tidak bisa keluar dari sini tanpa seizin saya."


"Ka-kamu ... Apa yang ingin kamu lakukan?" Aku mulai merasa takut.


"Tidak ada."


"Kalau begitu, aku ingin pulang. Tolong ...."


"Pulang saja."


"Kamu bilang, nyamuk saja tidak akan bisa keluar tanpa seizinmu. Lalu aku?"


"Kamu bukan nyamuk yang memiliki sayap tanpa tangan."


Baru kali ini aku begitu membenci otakku yang mendadak lemot. Juna tersenyum mengejek saat melihat ekspresi wajahku yang mungkin terlihat bodoh.


"Berjalan menuju pintu lalu buka pintu dengan tanganmu."


Juna berdiri menuju cermin besar yang ada di kamar itu. Dia membuka arloji, mengeluarkan dompet lalu membuka satu persatu kancing kemejanya. Tanpa permisi, aku langsung beranjak pergi. Jangan sampai dia melihat wajahku yang memenas karena melihat perubahan yang seperti roti sobek.


Hampir saja tanganku meraih pintu, sebuah tangan dengan kerasnya menarik tubuhku ke belakang. Aku merasa terhempas dan menabrak sesuatu. Hingga aku menyadari bahwa aku berada di pelukan Juna saat melihat tangannya melingkar di perut.

__ADS_1


"Tunggu sebentar saja."


"Lepaskan, Juna!"


"Sebentar saja seperti ini. Jangan bergerak."


Dia kembali berbisik di telinga. Ada sesuatu yang ikut mengalir dalam aliran darahku. Panas dan menyengat seperti aliran listrik.


Untuk bener saat, aku membiarkannya Juna memelukku. Hingga suara ponselnya membuat Juna melepas tangannya dari tubuhku.


Dia mendengkus kesal sebelum benar-benar pergi.


Perlahan-lahan aku bisa bernafas dengan normal kembali. Melemaskan seluruh otot tubuh yang semula tegang. Jari-jari ini terasa kram. Aku merasakan panas tapi tubuhku menggigil karena dingin. Semua seperti tidak karuan.


Aku masih di sini. Berdiri menunggu Juna kembali. Namun, entah berapa lama aku menuggu, dia tak kunjung kembali.


"Bodoh!" Aku memukul kepalaku sendiri. "Untuk apa juga dia kembali? Ayolah, Naya! Apa yang kamu harapkan dari dia? Mungkin saja dia memang selalu melakukan ini pada wanita yang akan jadi bantal gulingnya saja. Lagi pula ... Apa istimewanya aku? Ck ck? Nayanika ... Sadarlah!"


Aku keluar kamar tanpa sandal. Lantai yang dingin membuat kakiku jinjit sesekali. Mataku tidak pernah beranjak dari lantai, entah apa yang aku lihat. Ini untuk pertama kalinya aku berjalan tanpa alas kaki, rasanya sangat aneh.


Hingga saat berada di depan pintu lift, aku menengadahkan kepala dan melihat bayangan seseorang tepat berada di belakangku. Sungguh terkejut saat aku melihat bayangan Juna.


Aku membalikkan badan. Masih dengan wajah yang sama. Tanpa eksepsi dia menatapku.


"Saya antar kamu ke kamar."


Lagi dan lagi, jantungku tidak berdetak normal saat dia yang hanya memakai kaos Stretch, memperjelas penglihatanku pada tubuhnya. Aku memalingkan wajah agar dia tidak menyadari apa yang sedang aku lihat. Meski aku rasa, dia mengetahuinya. Dia menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Pakai ini." Dia memberikan sandal yang disediakan hotel.


"Terima kasih."


Pintu lift terbuka. Kami bergegas masuk setelah beberapa orang keluar dari sana.


Saat di dalam lift, tubuhku tidak berhenti bergerak. Mulai dari kaki yang menghentak pelan. Jari tangan yang seperti orang sedang berhitung. Juga kepala yang selalu tertunduk atau menengok ke samping hanya agar tidak melihat pantulan wajah dan tubuh Juna di dinding lift.


"Kenapa menjauh?"


Dia sadar jika aku menjauhinya perlahan-lahan. Tidak ingin terlihat seperti wanita gatal yang tergoda dengan tubuh atletisnya, aku memiliki menggeleng kepala. Beruntung dia tidak bertanya dan tidak memintaku unuk mendekat. Hingga Juna berada di dinding kanan dan aku ada di dinding sebelah kiri.


Lift berhenti dan berbunyi. Pintu terbuka lalu seorang laki-laki masuk. Dia berdiri diantara kami. Juna berdehem. Aku mengerti tapi memilih untuk mengabaikannya.


Entah mimpi apa aku semalam. Laki-laki yang baru saja masuk, tercium bau alkohol. Dia mencuri pandang padaku dan hanya tersenyum saat aku memergokinya.


Gaun yang aku pakai memang sangat terbuka di bagian dada. Meski tidak sampai memperlihatkan sesuatu yang memang selalu aku tutup selama ini. Rasanya sangat tidak nyaman. Matanya terlihat jalang. Dia bahkan tidak berkedip dan tidak memalingkan pandangannya dari dadaku. Ingin sekali aku menonjiku wajahnya dengan keras.


"Kurang ajar! Apa yang kamu lihat dari wanitaku?" Juna murka dan dia menginjak dada laki-laki itu setkudia terkapar karena pukulan yang Juna berikan.


"A-ampun! Saya tidak melihat apa-apa."


"Bajingan! Akan kubuat matamu tidak bisa melihat lagi." Juna berteriak sambil melayangkan bogem mentah pada wajah laki-laki itu. Aku ingin melerai tapi aku takut melihat amarah Juna.


Pintu lift terbuka. Selain beberapa tamu hotel, ternyauada dua security di sana. Mereka langsung masuk saat tamu hotel berteriak ketakutan.


Dengan susah payah, kedua security itu menarik Juna. Dia berontak dan masih berusaha memukul laki-laki yang sudah tidak berdaya itu. Hidungnya mengeluarkan darah. Pelipis dan bibirnya pecah.


"Lepaskan!" Juna menepis kedua security itu hingga tangan mereka terlepas. "Oke! Oke! Saya tidak akan memukul dia lagi." Juna mengangukedua tangannya.


"Juna ...." Aku menghampirinya. Dia memelukku. Tangannya bergetar hebat saat merengkuh bahuku. Rasanya berdetak begitu kencang. Nafasnya turun naik dengan cepat.


"Anda harus mempertanggungjawabkan semuanya, Pak."


Juna hanya mengangguk mengiyakan. Selang beberapa lama, datang beberapa security. Mereka membawa laki-laki itu untuk dibawa ke rumah sakit.


"Bapak mari ikut kami ke kantor untuk menjelaskan semuanya. Setelah itu kami akan membawa anda ke kantor polisi untuk proses lebih lanjut."


"Sebelum melakukan itu, hubungi saja dulu direktur kalian. Katakan padanya jika pemilik grup Sigma Nusa membuat keributan di hotel ini."


Seorang security mencoba menghubungi entah siapa. Wajahnya memucat begitu dia berbicara dengan seseorang di sana. Tanpa menunggu apapun, Juna mengajakku pergi meninggalkan tempat itu. Tidak banyak yang bisa aku katakan saat berjasa dengannya di depan kamar. Tatapannya kali ini berbeda dengan yang biasanya. Tidak ada tatapan mengintimidasi di sana.


"Saya minta maaf karena memberikan gaun yang salah."


Aku tersenyum. Kualihkan mata ini pada tangannya yang memerah karena memukul orang tadi. Kuraih lalu usap perlahan.


"Maaf." Hanya itu yang bisa aku katakan padanya.


Dia menarik tangannya. Mungkin tidak ingin membuatku cemas. Kembali kuarahkan pandangan pada matanya.


"Tidurlah. Mungkin besok saya tidak bisa menemuimu. Saya harus membereskan bajingan tadi."


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir."


Dia pergi. Berjalan dengan gontai. Sesekali menggaruk kepalanya dengan kasar. Memasukkan kedua tangannya pada saku celana kemudian hilang dibalik tembok saat berbelok.

__ADS_1


__ADS_2