
"Permisi. Saya mau bertemu dengan pemilik toko ini." Seorang laki-laki bertanya pada kasir.
"Itu, Pak."
Laki-laki yang umurnya mungkin kisaran 45-50 tahun itu berbalik arah. Dia sedikit kebingungan melihat ada aku dan satu orangpun pegawai di sampingku saat itu.
"Apa anda pemilik toko ini?" Dia bertanya saat sadar bahwa pakaian kami berbeda.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya mau mengantar kiriman."
"Saya tidak memesan apa-apa belakangan ini."
"Ini dari majikan saya. Mohon diterima. Dan ... Saya juga minta tolong satu hal."
"Apa itu?"
"Nanti saya harus video call, memastikan kalau saya benar-benar mengirim ini pada Anda. Kalau tidak ... bulan depan istri dan anak saya tidak bisa makan."
"Loh, kenapa? Kok bisa gitu?"
"Hari ini juga, saya akan dipecat."
'ya ampun! Ada, ya, orang setega itu? Tidak punya hati.'
"Baiklah. Sini kirimannya. Apa itu?"
Bapak itu memberikan sebuah kotak berwarna gold. Hanya sebesar dua telapak tangan yang menjadi satu.
"Sok, telepon sekarang majikannya. Sekalian saya buka kotaknya, kalau perlu ...." aku memasang wajah serius agar dia tidak merasa ketakutan lagi perihal pemecatannya. "Saya pakai sekalian jika barang ini bisa dipakai," ucapku kesal.
Bapak itu tampak sumringah. Segera dia merogoh saku bajunya untuk mengambil sebuah ponsel.
Layar ponselnya tak kunjung berubah. Hanya ada foto kecil yang bertuliskan Tuan Juna. Rupanya itu nama majikan bebal Bapak ini. Anil menunggu majikannya mengangkat telpon, kotak gold itu kubuka perlahan. Dan ... terkejut dan heran dengan apa yang ada di dalam kotak itu.
"Pagi, Pak Udin. Sudah sampai kirimannya?" Telinga ini masih tajam mendengar suara seseorang dari ujung telpon sana. Sementara mataku masih enggan berpaling dari isi kotak ini.
"Sudah, Tuan. Nona ini bilang, akan memakainya saat ini juga."
"Benarkah? Berita bagus. Kalau begitu, saya tidak akan memecat Pak Udin. Jika dia mau memakainya saat ini juga, maka saya naikan gaji Pak Udin dua kali lipat."
"Be-benarkah itu, Tuan? Alhamdulillahnya ya Allah ...."
Kepalaku tiba-tiba sakit. Jika aku pakai ... Tapi jika tidak dipakai ....
"Non, tolong saya. Coba pakai cincinnya. Sebentar saja. Saya mohon."
Wajahnya terlihat memelas. Rasanya sangat keterlaluan jika aku menjadi penghambat rezeki yang akan dia terima. Toh, hanya memakai cincin ini sebentar saja. Pikirku.
Dengan sedikit keraguan, akhirnya cincin itu tersemat di jari manisku.
__ADS_1
Senyuman yang aku ukir terasa sangat berat. Menunjukkan jari tangan ke arah layar ponsel.
Laki-laki itu? Ya ampun!
Dia tersenyum dengan pelitnya, hanya menimbulkan satu garis bibir yang sedikit melebar. Duduk di kursi di balik meja kerjanya. Tangan kokohnya menopang dagunya yang lancip. Lama aku terpana dan tidak bisa berkata-kata. Membeku seperti terhipnotis.
"Itu hadiah pengganti untuk Maccarone kemarin. Maaf. Seharusnya saya tidak melakukan hal aneh itu."
Tidak. Aku bahkan tidak bisa mengedipkan mata sekalipun. Hati ini menjerit meminta seseorang agar menyadarkan tubuhku. Seperti berada di alam mimpi. Sekeras apapun kita berteriak dan minta tolong, tidak ada yang mendengar atau menolong. Abang ... Kakak .... Hanya mereka yang selalu aku sebut dalam hati.
"Dek." Kakak datang. Aku bisa mendengar tapi tidak bisa bergerak. Hingga aku segera tersadar saat Kakak mengguncang tubuhku cukup keras.
Rasanya seperti terselamatkan dari tenggelam ke dasar samudera. Rasa sesak itu mulai memudar. Lega.
Saat melirik, ponselnya masih menyala dan dia masih ada di sana memperhatikan dengan seksama.
"Itu cincin turun temurun dari keluarga saya. Semoga kamu memang pemiliknya." Lalu layar itu menghitam.
"Terima kasih, Nona. Saya akan sangat senang mempunyai Nyonya seperti Anda, kelak."
Kakak mengernyitkan dahi. Jangankan Kakak, aku saja masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Ada apa denganku?
Kami masih saling diam saat kini tengah duduk berdua dengan Kakak di ruang pribadiku. Sebuah kantor yang seperti kamar. Terletak di atas toko kue ini.
"Dia siapa?"
"Gak tau."
"Dari pada gini."
"Ishhh. Kamu ini. Tapi, itu cincinnya bagus. Berlian semua."
"Mau? Nih ambil. Kasih aja buat Lidya."
"Mana bisa. Itu pemberian orang, tidak boleh diberikan lagi pada orang lain."
"Kenapa?"
"Kurang ajar namanya."
Lubang hidungku mengembang dengan bibir yang maju beberapa senti.
"Jelek!"
"Biarin. Buktinya ada yang suka, kan?"
"Tuan ... Siapa tadi?"
"Juna! Tuang JUNA."
"Siapa? Juna?"
__ADS_1
"Bukan. Tapi pake T, Tuna."
"Dek. Yang bener, ah! Juna siapa?"
"Apaan sih, Kak? Kepo banget. Aku nggak tau. Tadi cuma baca namanya di ponsel Bapak-bapak tadi."
"Semoga saja bukan dia." wajah kakak tampak cemas.
"Ada apa? Kakak punya teman namanya Juna?"
"Tidak. Hanya saja, namanya terdengar familiar. Namanya hampir sama dengan seorang pengusaha sukses yang terkenal kejam."
"Ihhh. Serem bener. Jangan sampai orang ini adalah orang yang Kakak maksud."
"Iya, semog saja bukan." Kakak berdiri, pindah ke sofa yang lebih luas. Menyandarkan tubuhnya dengan kaki berselonjor. Dia terlihat bimbang. Mungkin tujuannya datang ke sini untuk berkeluh kesah padaku.
"Kak. Ada apa?" Tanyaku yang juga ikut duduk di sampingnya. Matanya terbuka lalu tidur dengan pahaku sebagai bantalannya.
"Kakak enggak apa-apa nikah sama Lidya? Bahkan kalian belum pernah bertemu sebelumnya."
"Pernah. Kami saling mengenal meski tidak dekat."
Sungguh jawaban diluar dugaanku. Aku bersyukur untuk itu.
"Orang tua kita tidak akan sembarangan menjodohkan kita dengan seseorang. Meski pernikahan ini karena bisnis, tapi mereka tidak menyampingkan fakta bahwa kita ini anak-anaknya."
"Iya, Kak."
"Aku justru takut tentangmu. Entah laki-laki mana yang akan mereka jodohkan."
"Masih ada kalian berdua yang jomlo. Adik bontot mengalah dengan senang hati."
"Juna ... Juna ... Juna ... Semoga bukan dia yang mengirim cincin ini." Kakak meraih jariku. Memutar kiri kanan dan memperhatikan dengan seksama cincin itu.
'Ya ampun. Kenapa aku masih memakainya? Dia sudah tidak melihatku saat ini.' batinku.
"Dek. Jika Kakak menikah nanti. Kamu jaga diri baik-baik. Kamu harus bisa mengendalikan perasaan cemas yang berlebihan itu. Kakak tidak bisa sepenuhnya ada untuk kamu nantinya. Tidak akan sama seperti saat ini."
"Apaan, sih?" Aku menjambak rambutnya. Tentu saja dengan tenaga alakadarnya. Mata ini terasa pedih.
"Jaga Arga. Jangan biarkan dia bermain game lagi. Hancurkan saja peralatannya. Dia tidak akan berani marah sama kamu."
"Iya. Nanti sore akan aku ambil semuanya."
"Mungkin kakak tidak bisa sering-sering menghubungi kamu. Tidak bisa juga antar-jemput kamu bekerja. Jaga diri baik-baik. Gunakan keahlian karate kamu jika perlu. Kamu harus mulai mandiri sedikit-sedikit. Kakak–"
Tidak ada lagi sepatah katapun yang keluar dari mulutnya saat tetesan air mataku menjatuhi pipinya. Dia bangkit lalu menatap lekat mataku.
"Jangan menangis adik bayiku. Nanti lucunya hilang."
Lelucon yang tidak sedikitpun membuat aku ingin tertawa. Hingga aku benar-benar tidak bisa membendung kesedihan lagi. Tangisan pecah dalam dekapannya.
__ADS_1
Kini, rasa takut itu mulai merayap perlahan. Menyusup pada relung hati. Dia yang kini dalam dekapan, akan menjadi sandaran wanita lain.