
Hahaha. Beginilah aku yang selalu merubah POV. Maafkeun ya readers.
Jika sudah membaca karya yang aku buat, sok atuh tinggalkan jempolnya. Gratisssss! 😉😉
Bagi yang berkenan dan baik hati ... bantu vote juga yaaaa ....😘😘
Happy Reading kesayangannya akuuu🤗
🌺🌺🌺🌺🌺
Seperti raga yang hidup tanpa nyawa. Berjalan dan melakukan segala aktifitas kehidupan manusia yang entah jiwa siapa.
Bukan menghindar karena hilangnya kasih sayang, tapi lebih kepada menjaganya jarak antar orang dan orang lain. Tidak seperti sodara pada umumkan. Tidak ada kedekatan seperti sebelumnya.
Setiap bersentuhan, ingatan bahwa dia adalah orang lain membuat tubuhnya Berger mundur memberi jarak. Mungkin dia merasa itu lebih baik, tapi tidak bagi mereka yang merasa dihindari.
Arga, dialah orang yang paling merasakan sakit atas perubahan adiknya. Dia yang setiap hari melihat perubahan besar yang terjadi pada Naya.
Naya tetap Naya yang dulu. Menyiapkan sarapan untuknya. Mengurus rumah dan segalan keperluan di dalamnya. Hanya saja, dia kehilangan sifat ceria dan manjanya.
Mendapat penolakan saat Arga ingin menemaninya tidur, sudah cukup membuka bahwa Naya sudah setengah hati menganggapnya sebagai Kakak. Bergitulah yang selalu dia ucapkan pada dirinya sendiri.
Gadis cantik itu semakin hari semakin kehilangan berat badannya. Bajunya sudah tidak sesuai dengan bentuk tubuhku lagi. Dress yang semula pas dengan pinggangnya, kini ada sebuah ruang yang memberikannya jarak.
Beban pikiran yang menumpuk di kepala bukan satu-satunya alasan dia kehilangan nafsu makan. Kondisi hormon yang tidak seimbang membuatnya merasa mual saat mencium aroma tertentu. Makanan yang berusaha dia masukkan ke dalam mulutku, harus kembali keluar tanpa sisa.
Perubahan itu membuatnya serba salah karena dia tidak kuat mencium aroma amis. Termasuk bau telur. Hal itu yang membuat dirinya tidak bisa bekerja di toko kuenya.
Arga yang seorang dokter melihat dan menyadari perubahan yang terjadi pada adiknya. Dia hanya tidak ingin berburuk sangka dan selalu berkata bahwa Naya hanya mengalami gangguan karena masalahnya dengan Juna.
Hingga kenyataan itu harus Arga terima dari dokter yang memeriksa kandungan Naya, dulu.
"Arga!" Sri Mira–dokter kandungan–yang memeriksa Naya, memanggil Arga saat mereka kebetulan bertemu di rumah sakit.
"Hai, Mir. Ada apa? Kebetulan sekali kita satu shift. Gimana kabar kamu?"
"Aku baik. O, iya. Adik kamu apa kabar?"
"Dia kurang sehat, Mir. Sudah bener hari ini dia seperti kehilangan nafsu makannya. Ck! Aku sedikit cemas. Kenapa? Tumben bertanya tentang Naya."
"Kamu itu seperti bukan dokter saja. Wajar, kali, namanya hamil muda pasti akan mengalami perubahan hormon yang hebat."
"Kamu hamil?"
"Ha ha ha. Aku udah punya tiga anak. Sudah cukup bagiku dan tidak ingin memiliki anak lagi. Aku bicara tentang adik kamu."
__ADS_1
"Naya?" Arga menghentikan langkah kakinya yang diikuti Sri Mira.
"Iya. Adik kamu sedang hamil. Kira-kira sepekan yang lalu dia memeriksan diri ke sini."
Dugaan Arga tepat. Hanya saja kali ini dia semakin yakin dengan adanya dukungan dari pemeriksaan medis. Dia kaget meski hanya sejenak.
"Mir, aku permisi dulu. Aku harus segera pulang karena dia sendirian di rumah."
"Ya. Baiklah. Arga, beri dia minuman hangat dan manis jika mengalami morning sicknes. Biarkan dia istirahat dan ngemil sebelum turun dari ranjang setiap pagi."
"Ok. Makasih, Mir. Mungkin aku akan sering merepotkan mulai hari ini."
"Tidak masalah. Pastikan dia makan sesuatu meski nantinya keluar lagi."
"Ya. Aku pulang dulu."
Mira mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan sikap Arga yang seperti terkejut mendengar berita kehamilan Naya.
"Jangan-jangan Arga memang tidak tahu kalau adiknya hamil." Mira bergumam sendiri. Ada sedikit rasa bersalah yang terlihat dari wajahnya.
Dengan kecepatan tinggi, Arga melajukkan kendaraannya. Dia tidak segan menekan kalkson berkali-kali saat ada halangan di depannya. Tanpa perduli berkali-kali juga dia mendapatkan varian dari orang-orang.
Sesampainya di halaman rumah mereka, Arga langsung masuk tanpa menutup pintu mobil. Tas kerjanya pun dia tinggalkan begitu saja. Dia berlarian masuk menuju kamar Naya. Dia sedikit kening saat Naya tidak ada di sana.
"Bibi ... Mba ... Naya di mana?" Dia berteriak dari atas. Berlari menuruni tangga dengan mata menyapu seluruh ruangan. Mencari sosok wanita cantik yang tengah duduk di taman belakang.
Tanpa basa-basi lagi Arga langsung berlari ke belakang. Dia melihat adiknya sedang duduk di gazebo dengan bubuk cabai juga irisan mangga muda di tangannya.
Naya menatap sekilas saat melihat Arga berdiri dengan nafas yang memburu.
"Ada apa? Kenapa kamu hanya diam dan tidak mengatakan apapun."
"Ada apa?" Tanya Naya datar tanpa ekspresi.
"Kehamilan kamu. Kenapa tidak kamu ceritakan dari awal sama Abang?"
Naya menelan ludah karena kaget Arga mengetahui kehamilan yang dia berusaha tutupi.
"Udah tau kan sekarang?" Naya berusaha bersikap biasa saja.
"Naya ... Apa itu anak Juna?"
"Abang pikir anak siapa? Aku bukan pelacur yang gonta-ganti pasangan."
"Bukan itu maksud Abang. Apa Juna tahu?"
__ADS_1
"Tidak perlu tahu. Semuanya percuma. Keluarganya tidak merestui hubungan kami. Untuk apa dia tahu? Itu hanya akan membuatnya berada dalam kesulitan."
"Kesulitan? Dia? Yang benar saja. Naya ... Jika kamu hamil di luar nikah, maka yang akan mendapatkan kesulitan itu, ya kamu! Bukan dia. Nama baik keluarga dan harga diri kamu akan tercoreng seketika. Bagai kamu bisa melahirkan anak tanpa seorang suami."
"Kalau Abang takut nama baik keluarga ini tercoreng, aku akan dengan senang hati keluar dari rumah ini. Toh, aku memang bukan anak keluarga ini bukan?"
"Naya! Kamu tahu dengan pasti bukan itu maksud Abang."
"Mungkin ini karma untukku karena marah saat Abang ingin bertanggung jawab pada wanita itu. Semua salahku yang memang tidak bisa menjaga harga diri sebagai perempuan." Nayanika mulai bercucu air mata. "Kondisinya tidak semudah yang kalian lihat. Ada banyak hal yang tidak kalian tahu selama ini."
"Ceritakan semuanya, Nay. Agar kami bisa membantumu mencari solusinya."
"Biarkan saja semuanya berjalan seperti air, Bang. Hanya satu hal yang pasti, bukan sekarang waktu yang tepat untuk memberitahu Juna segalanya. Jika aku memaksakan Juna bertanggung jawab, mungkin akan ada seseorang yang harus menerima akibatnya."
Arga mendekat. Dengan perlahan dia mengusap air mata yang terus saja jatuh.
"Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin juga aku mengugurkan kandunganku. Aku menginginkan bayi ini. Hanya saja ... Nama keluarga ini akan hancur dalam sekejap."
Arga memeluk tubuh Naya. Membiarkan wanita itu menumpahkan segala dukanya yang selama ini dia pendam sendiri.
Naya kembali pada dirinya yang dulu. Dia menerima tawaran Arga untuk menemaninya tidur. Rasa kecewa, amarahnya dan putus asa tidak begitu saja menghilangkan ikatan yang terjalin sejak mereka kecil.
"Beberapa hari ini, bagaimana cara kamu tidur tanpa Abang atau Kakak?"
"Karena aku tidak sendiri sekarang. Ada dia di dalam sini. Dia hidup dan dia juga yang selalu membuatku tegar dan bertahan. Kadang aku ingin pergi dari rumah ini, aku merasa malu hidup seperti benalu. Tapi dia, selalu meyakinkan bahwa tinggal di sini adalah tempat yang aman untuk kami berdua."
"Dia anak pintar. Lebih pintar dari ibunya. Dia tahu ada om yang akan melindungi dia dan juga ibunya."
"Abang ... Ceritakan bagaimana aku bisa ada di sini."
"Biar mami yang menceritakan semuanya, ya. Abang dan kakak dilarangnya mengatakan apa-apa soal ini."
"Kenapa?" Naya mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah Arga yang tengah mendekapnya di atas tempat tidur.
"Tidak penting bagaimana kamu ada di sini. Yang harus kamu tahu hanya satu. Kami semua tulus mencintai dan menyayangi kamu. Kamu itu malaikat penolong untuk mami. Kamu hadir saat mami hampir kehilangan hidupnya."
"Abang ... apa yang akan mami lakukan jika tahu aku hamil? apa dia akan mengusirku dari rumah ini?"
Arga menghela nafas panjang. Dia merasa bingung harus berkata jujur atau tidak pada Naya. Meski Arga tidak tahu apa yang akan terjadi jika orang tua mereka tahu kehamilan Naya, dia hanya faham satu hal bahwa mereka akan sangat kecewa.
Naya uang selalu mereka pikirkan, dengan siapa Naya akan menikah? akankah dia bahagia? keluarga mana yang akan memperlakukan Naya dengan layak seperti orang tuanya memperlakukan Naya. Dan kini ... Naya berada dalam jurang kenistaan karena hamil tanpa adanya pernikahan.
Seperti mencuci muka orang tua dengan kotoran sendiri. Itulah yang terjadi saat ini. Kasih sayang yang Naya terima, dia balas dengan noda yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Hanya karena sesuatu yang dia sebut cinta, Naya kehilanganmu harga diri, satu-satunya barang berharga yang di miliki semua anak gadis. Rusak sudah hidupnya setelah ini. Semua orang akan menganggap dia sampah.
__ADS_1
"Mami pasti kecewa. Sudahlah. Kita lihat saja nanti. Sekarang ... tidur agar tumbuh kembali janinmu baik."