Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Awal Sebuah Malapetaka


__ADS_3

Setelah dua hari lamanya Juna menemaniku di rumah sakit, hari ini aku bisa pulang. Pulang entah kemana. Tempat yang selalu aku sebut sebagai rumah, kini menjadi tempat yang ingin aku hindari.


Tidak ada pilihan. Aku menyerahkan semuanya pada Juna. Entah kemana dia akan membawaku. Rumahnya? tidak mungkin dan aku pun tidak ingin meski Juna menawarkan. Wanita yang Raka sebut sebagai Nenek, entah kenapa aku memiliki perasaan tidak baik padanya.


"Untuk sementara waktu, kamu tinggal di apartemen saja. Saya akan menyewanya untukmu."


"Sewa? apa kamu tidak memiliki apartemen sendiri?"


"Tidak minat. Untuk apa? saya ada rumah satu lagi, tapi rasanya tidak se-privat apartemen."


"Apa kamu ingin merahasiakan aku dari orang-orang?"


"Tidak ada gunanya. Toh, beberapa kolega sudah mengetahui siapa kamu dalam hidupku. Kamu sendiri yang menolak untuk tinggal di rumah utama."


"Iya. Baiklah. Terserah kamu saja. Yang penting tidak pulang ke rumah."


"Belajarlah untuk memaafkan. Dengan begitu hidupmu akan penuh kebahagian."


"Fokus saja menyetir. Aku tidak mau mengalami kecelakaan lagi."


Tidak ada yang Juna katakan lagi. Dia hanya mempererat genggaman tangannya yang sejak awal tidak pernah dia lepaskan. Perjalanan kami cukup lama untuk sampai ke tempat tujuan. Hampir enam puluh menit kami baru sampai.


Apartemen yang kami sewa berada di lantai lima belas. Apartemen itu cukup besar dan luas. Ada dua kamar yang memiliki kamar mandi masing-masing di dalamnya. Satu ruang tamu, ruang keluarga dan dapur.


"Bagaimana? apa kamu suka?"


"Hem. Lumayan. Hanya saja ...."


"Ada apa? jika tidak suka, kita bisa cari yang lain."


"Semewah apapun tempat yang akan aku tempati, aku tidak akan bisa tidur kalau sendiri."


"Itu bisa kita bicarakan nanti. Yang penting kita dapat tempat saja dulu. O, iya. Apa mau berbelas dulu?"


"Belanja apa?"


"Bahan makanan dan pakaian."


"Benar. Aku tidak memiliki pakaian ganti. Ayo kita belanja, tapi setelah istirahat sebentar. Aku merasa sedikit lelah."


"Tentu saja. Istirahatlah di kamar. Saya tunggu di sini saja."


"Iya, aku istirahat dulu."


Tubuhku terasa lelah dan juga lemah. Aku selalu ingin berbaring dan memejamkan mata.


Di dalam kamar ini, mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Pikiranku melayang entah kemana. Segala persolan mulai mengganggu keinginan untuk istirahat.


"Abang ... aku kangen."


Aku memang tidak marah padanya. Hanya saja aku merasa kecewa pada ucapannya. Sebesar apapun rasa kecewa itu, tidak bisa menutupi rasa yang lain. Rasa sayang dan juga rindu yang menghujani kalbu.


"Mungkin aku memang egois karena tidak bisa mengerti bahwa dia juga butuh kehidupan yang lain. Butuh istri yang bisa memberikan apa yang tidak mampu aku kasih. Memiliki anak yang bisa membuatnya tersenyum dan melepaskan rasa lelah."


"Hey ... katanya mau istirahat. Ada apa?"


Juna masuk ke kamar setelah mendengar aku sesenggukan. Mungkin. Dia duduk di kasur tepat di belakangku.


"Jangan nangis terus. Nanti kamu malah semakin lelah," bisiknya di telingaku. Dia mencium pelipis lalu memelukku.

__ADS_1


"Tidurlah. Saya akan menemani di sini."


Aku membalikkan badan dan membalas pelukannya. Menumpahkan air mata hingga rasa lelah membuatku tertidur lelap.


Saat membuka mata, aku terperanjat karena melihat wajah seseorang tepat di hadapanku. Aku yang belum terbiasa tidur dengan orang lain selain Aban atau Kakak merasa sedikit aneh.


Juna. Dia terlihat begitu damai dan polos saat tertidur. Tidak ada kesan galak apa lagi kejam dari wajahnya.


Wajahku semakin dekat dengan wajahnya. Aku menelisik setiap sudut wajah tampan itu. Melihat bulu matanya yang tebal. Hidungnya yang mancung. Bulu matanya yang lentik dan pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu. Bibirnya tipis dan kemerahan. Bibir yang membuat aku merasakan bagai rasanya tersengat listrik. Tiba-tiba wajahku terasa memanas jika mengingat kejadian itu.


"Kamu terlihat lebih tampan jika sedang tidur. Rasanya tidak mungkin jika kamu adalah orang yang kejam. Apa aku benar-benar wanita berinisial karena mendapatkan tempat di hatimu?"


Rasanya sungguh menyenangkan bisa melihatnya dia dari jarak yang sangat dekat ini. Tanpa tatapannya yang mengintimidasi.


"Ya ampuuun ... bibir ini membuatku berpikir yang tidak-tidak. Sadarlah Naya!"


"Apa kamu ingin merasakannya lagi?" ucap Juna yang tiba-tiba membuka matanya. Aku yang sadar langsung menarik tubuh menjauh darinya, tapi dia tidak membiarkannya begitu saja. Kami kembali saling berhadapan bahkan lebih dekat dari sebelumnya.


Tidak ada yang terucap darinya. Dia hanya menatap intens padaku. Tangan yang menarik tubuhku perlahan-lahan naik dan berhenti tepat di tengkuk. Kini wajah kami benar-benar sangat dekat hingga bisa merasakan nafas satu sama lain.


"Hentikan." Aku menarik wajahku menjauh. Kecupan yang dia berikan tidak seperti yang aku rasakan di rumah sakit. Kali ini tubuhku tidak hanya merasakan sengat listrik tapi sekujur tubuh ini seperti terbakar api.


"Sudah sampai di sini saja. Lebih baik kita pergi berbelanja." Aku turun dari tempat tidur, berjalan menuju cermin untuk merapikan diri. Ada sedikit rasa perih di bibir bagian dalam.


Juna menghampiri lalu memelukku dari belakang. "Apa sakit?" tanyanya sambil mencium kepalaku. "Maaf untuk rasa sakit itu, tapi tidak untuk yang lain. Ayo, hari akan semakin gelap."


Sepanjang perjalan hingga saat kami berbelanja, pikiranku tidak fokus. Aku perlu menetralisir tubuh yang masih terasa panas. Sungguh tidak nyaman. Berkali-kali berusaha melepaskan genggaman tangan, berkali-kali pula dia berusaha menahan.


"Baju tidur seperti apa yang ingin kamu beli?"


Berkali-kali aku memutar mencari baju tidur yang nyaman. Baju yang selalu aku pakai saat di rumah. Entah apa yang Juna pikirkan. Dia mengajakku ke tempat seperti ini.


Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan pakaian yang aku sukai. stelan kaos dengan ukuran besar dengan celananya. Juna membeli beberapa stel, juga beberapa dress untukku pakai di siang hari.


"Jangan ikut masuk!"


"Kenapa? biar saya tahu selera kamu seperti apa?"


"Untuk apa? memangnya kamu mau jika saya meminta membelikan ini suatu saat nanti? enggak malu gitu?"


"Enggak. Kenapa harus malu? saya kan hanya membelikan istri saya underwear. So?"


"Jangan sekarang. Nanti saja kalau sudah benar-benar jadi suami."


"Latihan dulu aja." Juna mulai menggoda. Dia baru bisa diam setelah aku membulatkan mata.


Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di mall ini, kami memutuskan untuk segera pulang sebelum malam semakin larut.


"Ini sudah malam. Seharusnya kita makan saja dulu."


"Kita udah belanja sayuran dan bahan makanan lainnya. Masak saja sendiri. Cuma butuh waktu sebentar, kok."


"Kamu itu baru sembuh, Nay. Harusnya istirahat saja."


"Aku lelah dari kemarin berbaring terus."


"Baiklah. Saya juga penasaran dengan rasa masakan yang kamu buat."


Setibanya di apartemen. Aku langsung membereskan semua belanjaan malam ini. Menyimpan makanan sesuai dengan kebutuhan tempatnya. Membereskan pakaian yang baru saja di beli. Terpaksa baju-baju ini tidak aku cuci sebelum memakainya karena aku harus berganti pakaian saat ini juga.

__ADS_1


Juna belum juga keluar dari kamar mandi. Entah apa yang sedang dia lakukan. Bahkan aku saja yang merasa wanita sejak lahir, tidak selama ini jika sedang mandi.


Makan malam tanpa karbo. Itulah kebiasaanku sejak lama. Hanya membuat salad sayur juga steak ayam. Jus jambu dan juga jus jeruk kesukaan Juna. Tidak lupa telor ceplok yang aku simpan di atas salad sayur.


"Lama banget mandinya, anak gadis," ledekku pada Juna saat dia selesai mandi dan berpakaian. Dia hanya tersenyum simpul dan aku masih menata makanan di atas meja.


"Apa ini enak?"


"Coba saja dulu sebelum berkomentar. Awas saja kalau minta nambah."


"Jangan sampai perut saya sakit, oke!"


Kami duduk bersebelahan saat makan karena posisi kursinya dan juga kondisi ruangan yang tidak mendukung.


"Gimana? perut kamu sakit enggak?"


"Ini enak." dia kembali makan dengan lahap. "Saya tidak percaya kamu bisa masak. Mengingat betapa manjanya gadis pintarku ini."


"Abang dan Kakak tidak pernah makan makanan yang pembantu buat. Aku yang selalu menyiapkan semuanya saat pagi hari. Bahkan, aku selalu menyuapi abang saat dia sedang tidak berselera."


"Apa kamu merindukan mereka?"


Aku menoleh. Untuk sejenak kami saling bertatapan.


"Habiskan saja makanannya. Kita harus segera tidur. Ini sudah larut malam." Aku mengalihkan topik pembicaraan.


Malam ini, Juna hanya menemani via video call. Kami tidur secara terpisah. Hingga aku benar-benar tertidur.


Entah pukul berapa sekarang. Rasa haus membuatku kembali terbangun. Meski dengan ogah-ogahan, aku pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air. Aku melihat Juna masih duduk di sofa dengan televisi yang menyala.


Teringat kembali pada ucapan Raka tentang Juna yang selalu mengalami kesulitan untuk tidur karena beban pikirannya.


"Kenapa belum tidur?"


"Hai."


"Jangan dibiasakan seperti ini. Kamu bisa sakit. Tubuh kamu butuh istirahat yang cukup setelah seharian bekerja."


"Saya juga inginnya seperti itu." Juna masih fokus pada layer televisi di depan kami.


Semakin lama mata ini menatapnya, semakin banyak yang aku temukan. Kesedihan, rasa lelah dan juga beban berat yang dia pikul terlihat begitu jelas. Entah dorongan dari mana tubuhku condong padanya. Berniat ingin mengecup pipinya. Apalah daya di saat yang bersamaan, dia menoleh padaku. Dan bibir kami bertemu.


Mata ini mengerjap beberapa kali dengan ritme yang sangat cepat.


'Sungguh memalukan.'


Aku dan Juna sama-sama kaget. Meski dengan rasa dan dugaan yang berbeda. Entah apa yang sekarang dia pikirkan.


"Aku ke kamar dulu."


Rasa gugup itu membuatku benar-benar tidak fokus. Kakiku tersandung. Juna yang ikut kaget, sontak menarik tanganku karena dia pikir aku akan jatuh. Ya, aku memang jatuh tapi dipelukan dia.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan. Meski sebenarnya ibu jari kaki terasa panas dan perih.


Begitu sampai di kamar, aku langsung menarik nafas dan mengembuskannya kuat. Mengipaskan jari pada wajah yang terasa panas. Bodoh memang karena pending ruangan menyala.


Masih dalam kondisi yang tidak stabil, pintu kamar terdengar diketuk. Saat aku membukanya, Juna berdiri di sana. Tanpa permisi dan bicara sepatah katapun dia masuk begitu saja.


Pikiranku mengatakan bahwa semua ini memang salah. Kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Namun, tubuh dan hati tidak berjalan sejajar dengan akal. Dengan pasrah aku menerima apa yang Juna lakukan padaku. Menghabiskan malam yang entah kapan akan berakhir.

__ADS_1


__ADS_2