
Ranti bukan tidak faham. Dia hanya berusaha untuk tidak berburuk sangka pada putrinya. Dengan Naya yang selalu mual muntah di pagi hari, dia yang menjadi sensitif pada bau-bauan, membuat Ranti ingat masa dia saat mengandung Arga.
Malam ini adalah malam ke empat Ranti berada di rumah setelah dia bekerja keluar kota. Dia ingin mengadakan makan malam bersama keluarganya. Helmi dan juga Lidya hadir membawa anak mereka serta.
Makan malam berjalan lancar tanpa kendala, tidak ada yang berbeda kecuali sikap Naya yang lebih manja pada Arga. Naya selalu bergelayut manja. Bukan tanpa alasan, hanya wangi tubuh Arga yang mampu menepis rasa mual Naya saat mencium aroma yang lainnya.
"Kamu sengaja, ya, Dek, bikin kakak kesel? kakak juga masih kakak kamu, kenapa manjanya cuma sama Arga?"
"Kakak bau. Aromanya bikin kepala Naya sakit."
"Loh, kakak pakai parfum kesukaan kamu ini."
"Iya, tapi Naya udah gak suka. Bikin mual."
"Kamu, Nay! kaya orang lagi hamil aja. Aku juga gitu waktu hamil Yareen. Gak suka wangi-wangian. Bawaanya enek."
Naya dan Arga saling menatap saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga selepas makan malam. Ranti yang sejak kepulangannya ke rumah ini merasa curiga, hanya diam menyimak.
"Naya belum menikah, masa hamil? kamu itu ada-ada aja, sayang."
"Iya, makanya aneh kan, Mas?"
Arga dan Naya semakin bungkam, mendengar percakapan Helmi dan Lidya.
"Nay ..."
Naya dan semua orang mendadak diam saat Ranti memanggil putri bungsunya itu. Raut wajah Ranti yang terlihat serius juga seperti sedang menahan emosi yang bergejolak, membuat anak-anaknya terdiam. Mereka tahu apa yang terjadi jika Mami mereka seperti itu.
"Iya, Mih." Naya takut-takut menjawab Ranti.
"Di mana kamu tinggal selama hampir dua bulan pergi dari rumah?"
"Apartemen ... Mih."
"Sendiri?"
Naya melirik kedua kakaknya sebelum menjawab pertanyaan maminya. Tangannya bergetar ketakutan. Arga yang tahu permasalahannya hanya bisa diam. Berbeda dengan Helmi yang ikut penasaran.
__ADS_1
"Dia tinggal di apartemen yang Juna sewa, Mih."
"Mami bertanya bukan sama kamu, Arga."
"Ada apa ini? kenapa semua menjadi tegang?" Helmi ikut berceloteh.
"Jawab mami, Nay!"
"Naya ... tinggal sama Juna, Mih. Kami tahu sendiri, kalau Naya tidak bisa tidur sendiri."
Ranti menelan ludah di tenggorokannya yang terasa kering seperti kemarau yang tidak pernah berujung. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang kamu pikirkan, Nay? kamu marah pada Arga dan berbuat hal konyol. Pasangan yang tinggal bareng satu atap tanpa ikatan pernikahan, apa itu namanya, Naya! Mami ... mami ...." Ranti tidak bisa menahan kekesal dan emosinya lagi. Dia menangis sesenggukan.
"Naya minta maaf, Mami." Naya berhambur pada Ranti. Memeluk lututnya dengan tangisan yang tidak kalah keras dan menyayat hati.
"Kalau sudah begini, apa yang harus mami lakukan, Nay? kami memperlakukan kamu seperti putri raja. Bahkan ... Helmi dan Arga menjaga kamu agar tidak terjebak dengan pergaulan yang buruk! dan sekarang? Mami kecewa sama kamu!"
"Tunggu, Mih. Ada apa ini? Naya kenapa?" Helmi kebingungan.
"Apa kamu bisa bayangkan apa yang dilakukan wanita dan laki-laki yang tinggal satu atap begitu lamanya, Helmi?" ucap Mami penuh penekanan dengan mata membulat sempurna. Sorot mata penuh kemarahan.
"Mas, mungkin Naya sedang mengandung saat ini." Penjelasan Lidya seperti anak panah yang menembus jantungnya. Helmi memucat.
"Apa yang akan orang katakan, Naya?" Ranti berdiri dan menepis Naya yang masih memelihara lututnya. "Jika kamu tidak bisa menerima kami seperti kami menerima kamu dengan penuh kasih sayang waktu itu, paling tidak jangan beri kami noda."
"Tidak Mami. Bukan itu maksud Naya. Naya hilap, Naya salah. Naya minta maaf, Mih."
"Maaf kamu tidak cukup mengubah semuanya, Nayanika!" Ranti berteriak. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
"Dengan begini, kamu membuktikan bahwa kamu bukan darah daging keluarga ini."
"Mami!" kini Arga yang berteriak, dia berdiri mengikuti Ranti. "Cukup, Mih. Naya memang salah, tapi bukan seperti ini memarahinya. Semua sudah jadi bubur. Tidak ada guna juga kita malah saling menyakiti."
"Ini semua gara-gara kamu karena terlalu memanjakan dia. Harusnya kamu mengajarkan dia berprilaku seperti keluarga kita. Meski dia kita pungut di pinggiran jalan, harusnya dia bisa bersikap seperti layaknya isi rumah ini, bukan seperti wanita jalanan!"
"Mami ... Tenanglah." Kali ini Irfan–suami ranting berdiri dan berusaha menenangkan istrinya yang sudah melampaui batas.
__ADS_1
"Lihatlah Pi ... lihat apa yang dilakukan putri kita? aku menggendongnya dari dinginnya lantai tanah. Mendekapnya agar dia merasa hangat setelah lama terkena angin malam yang dingin. Memberi dia kasih sayang dengan setulus jiwa raga. Memberikan dia kenyamanan. Memberi dia materi agar dia bisa dihargai orang-orang. Tapi ... dia menjual harga dirinya pada laki-laki yang kini tidak bisa bertanggungjawab!"
Ranti ambruk. Dia menangis terduduk di lantai. Naya merangkak menghampiri Ranti dengan tubuh bergetar dan air mata yang tak kalah derasnya dari Ranti.
"Mami ... Naya minta maaf ... lakukan apa saja pada Naya. Hukum Naya seberat mungkin. Naya khilaf."
"Kenapa, Nay? Kenapa kamu lakukan ini pada mami? mami tahu, mami salah karena telah menelantarkan kamu selama ini, tapi ini hukuman yang terlalu berat, Nay." Ranti meremas dadanya yang terasa sesak.
"Pergilah ... pergi dari sini, Naya!"
"Mami." Arga dan Helmi serentak.
"Mami ... Naya harus kemana?"
"Pergilah pada ayah dari janin kamu. Minta dia bertanggungjawab atas apa yang kalian lakukan!"
"Tapi, Mih. Hubungan kami tidak direstui oleh keluarganya karena ...."
"Karena kamu anak pungut?"
Naya terdiam. Dia menatap Ranti cukup lama.
"Iya."
Ranti menjambak rambutnya kasar. Beban di kepalanya membuat rasa sakit yang hebat. Seperti akan pecah.
"Kenapa ini terjadi pada keluargaku. Apa aku salah mendidik anakku selama ini?" Ranti bergumam.
"Aku akan mencari cara agar Juna mau bertanggung jawab!" Irfan bersumpah.
"Kita hanya bunuh diri jika memaksakan apa yang tidak disukai wanita tua itu." Mami menegaskan.
"Nay, ayo bangun. Jangan duduk di bawah." Arga mendekati adiknya. Merangkul Naya agar mau bangun dan duduk di kursi. Ranti yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa, memperhatikan mereka dengan tatapan berbeda.
"Naya bukan anak mami. Tidak ada salah-salah bukan, jika Arga dan Naya menikah."
Ucapan Ranti membuat semua orang yang ada di sana seperti berhenti bernafas. Ide konyol yang keluar dari mulut Ranti membuat mereka mematung.
__ADS_1
"Mami ... itu tidak mungkin. Meski mereka tidak terikat darah, tapi Arga dan Naya tetap adik kakak. Mereka tidak mungkin menjadi suami istri."
"Itu tidak melanggar apapun bukan? sudah diputuskan. Arga dan Naya harus menikah. Jika tidak, Naya akan mami usir dari rumah ini."