
Keinginan untuk mendampinginya semakin kuat. Dia yang menjadi tumpul hidup ribuan orang yang manja di karyawannya, membutuhkan seseorang untuk menyandarkan tubuh saat merasa lelah.
Aku ingin menjadi wadah untuk dia mencurahkan segala resah dan gelisahnya. menjadi sapu tangan yang mengeringkan air matanya. Menjadi tempat berlabuh saat dia kehabisan tenaga untuk berlayar mengarungi kerasnya ombak kehidupan.
Tidak akan aku biarkan dia menjalani semuanya sendiri lagi. Jangan sampai deritanya dia kubur sendiri di dalam hati.
Sejak malam pertama kami tidur bersama, malam ini adalah malam terlelap dalam hidupnya. Dalam dekapanku, dia tertidur seperti bayi dalam hangatnya pelukan sang Ibu. Dia bahkan terdengar mendengkur. Wajahnya tidak lagi terlihat berwibawa seperti malam sebelumnya. Terlelap dalam kepalsuan.
"Apa selama ini kamu hanya pura-pura tidur? Pantas saja, wajahmu selalu terlihat rapi. Tidak seperti malam ini. Mulutmu menganga dengan dengkuran yang sangat keras."
Aku mengecup pucuk kepalanya. Membelai rambut dan mendekapnya lebih erat lagi.
"Tidurlah, Juna. Istirahatkan jiwa ragamu sejenak. Mulai saat ini, kita akan hadapi bersama apapun yang masalah yang terjadi."
Saat kesadaranku hanya setengah, rasanya ada sesuatu yang basah mengganggu mulutku. Saat mataku sedikit terbuka, wajah Juna begitu dekat terlihat.
"Emmm." Aku menggeliat, menjauhkan tubunya dariku.
"Bangun, sayang. Ini sudah siang. Saya harus pergi bekerja."
"Pergilah."
Juna yang memang sangat gigih, tidak membiarkan diriku begitu saja. Dia kembali menarik dan membalikkan badanku yang semula membelakanginya.
"Saya belum mendapatkan sarapan pagi ini."
"Badanku tidak enak. Rasanya sangat lelah."
"Apa ini alasan agar kamu menjauh dariku?"
"Bukan, sayang. Aku benar-benar merasa lelah. Tubuhku tidak nyaman rasanya. Kepalaku sedikit terasa berdenyut."
"Apa kamu sakit?"
"Aku hanya ingin beristirahat lebih lama lagi. Jika kondisiku sudah fit, kamu bisa mendapatkan breakfast, lunch dan dinner dalam satu hari sekaligus."
"Benarkah? Sangat menjanjikan. Baiklah, saya mengalah untuk pagi ini. Jangan lupa sarapan, sudah saya siapkan dimeja."
"Terima kasih."
Dia mengecup seluruh wajahku, lalu pergi. Terdengar pintu terkunci, kemudian aku membuka mata perlahan. Dia sudah benar-benar pergi.
Mulutku terasa asam. Rasanya seperti tidak memiliki kepala karena begitu melayang. Ulu hati panas bergejolak meski aku tidak memiliki riwayat maag.
"Aku harus pergi ke dokter sendiri. Jangan sampai Juna tahu aku sedang tidak sehat. Beban dia sudah terlalu banyak."
Setelah sarapan dan kebersihkan tubuh, aku memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit. Dengan sengaja rumah sakit yang aku pilih adalah tempat di mana Abang bekerja. Jujur, aku sangat ingin bertemu dengannya. Jika kami bertemu secara tidak sengaja, itu tidak akan membuatku malu. Setidaknya.
"Ibu Nyananika."
__ADS_1
"Iya, suster."
Aku segera masuk setelah mendapatkan giliran.
"Setelah memeriksa kondisi dan gejala yang Anda rasakan, mungkinkah Anda sedang hamil?"
"Maksudnya?"
"Coba ingat kembali kapan Anda terakhir datang bulan? Dan kapan Anda berhubungan dengan suami Anda."
"Saya ...," Aku mencoba mengingat terkahir saat aku datang bulan. "Itu ... Sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya saya lupa."
"Untuk lebih jelasnya, Anda sebaiknya periksakan diri ke dokter kandungan. Saya tidak bisa memberikan sembarangan obat atau vitamin. Ditakutkan, Anda benar-benar sedang hamil dan obat-obatan tertentu bisa merusak tumbuh kembang janin dalam rahim Anda, Nyonya."
"Baiklah, Dok. Saya akan memeriksakan kondisi saya."
"Suster, tolong antar ibu ini ke tempat praktek dr Sri Mira."
"Iya, Dok."
"Terima kasih, dokter."
Dalam perjalanan menuju ruang praktek dokter kandungan, mataku diam-diam melirik ke sana kemari untuk mencari Abang. Siapa tau kami bertemu di sini.
"Silakan, Nyonya."
"Ya. Terima kasih."
"Silakan, Ibu."
"Terima kasih, Dok."
"Saya sudah membaca rekam medis dari dokter sebelumnya. Untuk memastikannya kita sebaiknya cek urin terletak dahulu. Nanti ada suster yang akan membantu. Silakan lewat sini untuk ke kamar kecilnya."
Seorang perawat yang berbeda membantu dan mengarahkan aku ke toilet. Dia memberitahu sebuah wadah kecil yang harus aku isi dengan air pipis.
Tidak butuh waktu yang lama untuk mengetahui hasilnya. Dokter itu tampak tersenyum lebar melihat benda pipih berwarna putih yang ada di tangannya.
"Suami Ibu kemana? Harusnya kalian datang bersama untuk menarik kabar baik ini."
"Dia sedang bekerja, Dok. Saya tidak memberitahu dia tentang kondisi saya. Takut menganggu pekerjaannya."
"Selamat, Bu. Anda sedang mengandung saat ini. Jika ingin melihat lebih jelas, kita lakukan pemeriksaan USG saja."
"Hamil? Apa saya benar-benar hamil, Dok?"
"Lebih baik kita lakukan pemeriksaan USG saja biar Anda puas dengan hasilnya."
Antara percaya dan tidak, tapi ini benar-benar nyata. Bahwa di dalam rahimku ada nyawa yang sedang tumbuh. Dia adalah benih Juna. Buah dari cinta kami berdua. Pengikat yang akan menjadikan orang tuanya semakin dekat dan saling mencintai lebih dalam lagi.
__ADS_1
Dengan hasil pemeriksaan yang ada di tanganku ini, entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan Ibu. Hatiku memaksa bahwa aku harus memberitahunya. Untuk itulah kini aku duduk di sebuah taksi yang akan membawaku ke sana.
Seperti sebelumnya. Ibu sedang duduk di bangku yang menghadap padang rumput yang kini mulai terlihat di dominasi warna cokelat. Rumputnya mengering karena panas.
Aku duduk di sampingnya. Dia menoleh dan menatapku lama. Tidak ada yang kami bicarakan. Hanya duduk berdua dengan pikiran masing-masing.
"Bu ...." Aku menyandarkan kepala di bahunya. "Meski ini sebuah kesalahan, tapi aku bahagia. Paling tidak dia hadir karena adanya cinta antara aku dan Juna. Lihatlah ...."
Aku duduk tegap dan memperlihatkan hasil pemeriksaan kehamilanku. Ibu masih diam.
"Ibu akan segera punya cucu. Apa ibu senang? Ibu harus berbahagia. Aku dan Juna akan segera menikah dan memiliki anak. Untuk itu ... Ibu harus pulih untuk bisa ikut merawat anak kami. Tidakkah ini ingin menimangnya nanti?"
"Ibu baik-baik saja, Naya."
Kali ini nafasku benar-benar terhenti sejenak. Bahkan aku membutuhkan tenaga yang besar untuk bisa menarik oksigen.
"Bersikaplah seperti biasa, Naya. Agar tidak ada orang yang curiga."
Mendengar hal itu membuat kesadaranku pulih seutuhnya. Aku kembali menyandarkan kepala pada bahunya.
"Terima kasih telah membersamai Juna selama ini. Ibu merasa tenang karena dia mendapatkan wanita yang tepat. Naya, jangan tanya alasan kenapa ibu seperti ini. Apapun yang dilakukan seorang ibu, mereka hanya memikirkan keseluruhan dan kebahagiaan anaknya."
Aku bersikap layaknya berbicara dengan orang gila begitu seseorang–entah siapapun itu–mendekat. Meski dia orang gila sekalipun.
Ibu akan kembali berbicara saat merasa semuanya aman.
"Jagalah Juna. Terlalu lama dia menahan derita sendirian. Jaga juga kondisimu agar cucu Ibu lahir dengan selamat dan sehat."
"Bu, doakan kami. Doakan juga aku agar bisa mendampingi Juna."
"Pergilah. Jangan ceritakan apapun pada Juna. Itu akan membuatnya aman."
"Baiklah. Aku pamit, Bu."
Aku berdiri dan membungkuk di hadapannya. Berbicara seperti sedang berbicara pada mereka yang memiliki gangguan jiwa. Terlihat matanya berkaca-kaca. Tangannya bergerak ingin menyentuh perutku. Namun, seorang perawat datang bersama pasien lain. Mereka saling mengejar.
"Aku pamit, Bu." Kudekap wanita hebat yang melahirkan ayah dari anak yang sedang aku kandung saat ini.
Sekeras apapun aku berpikir, hanyalah kesia-siaan. Tidak ada jawaban untuk ribuan pertanyaan yang menari-nari di kepala.
"Kemana saja?" Juna langsung melontarkan pertanyaan dengan tatapan kesal, begitu aku masuk ke dalam apartemen.
"Bahkan kamu lupa membawa ponsel. Kamu tahu betapa cemas dan takutnya saya?" Dia membentak untuk pertama kalinya.
Aku tahu, dia begitu karena khawatir. Dengan penuh semangat aku melangkah dan ingin memberikan hasil pemeriksaan tadi. Hingga aku menyadari, itu tidak ada di tanganku. Otakku berusaha berpikir hinnga mengingat sesuatu.
'ya ampun, tertinggal di taksi.'
"Kenap diam? Kemana saja dari tadi? Kamu benar-benar–"
__ADS_1
Kututp mulutnya dengan bibirku. Meski dia sedikit kaget, pada akhirnya laki-laki tidak akan bisa menolak.
'Juna, nikmatilah apa yang sedang kita lakukan saat ini. Setidaknya, pikiranmu jangan sampai menemukan kenyataan bahwa ibumu dalam keadaan baik-baik saja.'