Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Kerinduan Pada Sang Kekasih


__ADS_3

"Aku yakin, mereka berbuat seperti itu karena saling mencintai. Ada alasan kuat kenapa Juna tidak memperjuangkan Naya."


"Hemm."


"Mas, kenapa? sudahlah, jangan terlalu memikirkannya. Toh, Naya dan Arga akan menikah. Itu lebih baik karena kita semua tahu, Naya dan bayinya akan baik-baik saja."


"Kamu tahu, Lidya. Arga begitu menyayangi Naya. Dia bahkan rela melakukan apa saja demi adiknya. Malam dimana kami menemui Naya, yang pertama kali mendengar bayi itu menangis adalah Arga.


Dia bersikukuh bahwa dia menderita suara bayi. Padahal kami tidak mendengar apa-apa. Dia bahkan mendapatkan kemarahan mami yang mengira bahwa Arga berhalusinasi karena belum ikhlas atas kepergian putri, adik bayi kami yang sesungguhnya."


"Nah, kalau begitu. Kita bisa tahu bahwa Arga akan menjaga Naya dan bayinya dengan baik."


"Tidak semudah itu, Lidya. Apa kamu bisa membayangkan jika ternyata Egi, kakak kamu bukan sodara kandung. Kalian hidup bersama sedari kecil sebagai kakak beradik, lalu tiba-tiba kalian menikah. Kamu bisa merasakan bagaimana perasaan Naya dan Arga?"


"Itu pasti akan sangat sulit. Lalu kita bisa apa untuk mencegah keinginan mami?"


"Tidak ada. Arga lebih memilih menikahi Naya ketimbang melihat adiknya hidup terlunta-lunta di jalanan. Apa lagi dia sedang hamil saat ini. Lidya, sebagai anak sulung, aku merasa tidak berguna saat ini. Adik-adikku sedang dalam masalah tapi aku hanya bisa diam. Tida melakukan apa-apa untuk melindungi mereka."


Lidya hanya bisa menatap suaminya dengan penuh kesedihan. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan saat ini. Kenyataannya, Arga dan Naya harus menikah.


Naya hanya bisa meringkuk seperti anak kucing yang kehilangan induknya saat hujan datang. Menangis segala yang terjadi pada dirinya. Penyesalan yang teramat sangat menghunus tepat di jantungnya. Mengacaukan segala kehidupannya dan juga kehidupan orang yang dia sayangi.


"Dek! Abang masuk, ya."


Naya tidak memperdulikan Arga yang mengetuk pintu kamarnya. Dia bahkan menjadi enggan bertemu dengan Arga. Belum terjadi pernikahan, tapi dia sudah sangat tidak nyaman hanya dengan membayangkan saja.


Kerinduannya pada Juna menambah rasa pilu dalam diri Naya. Dia merindukan sosok Juna yang selalu menjadi kekuatannya selama ini. Menjaga dan melindungi dirinya dari semua rasa yang menyakiti Naya. Sosok yang seharusnya ada untuk menyelamatkannya kali ini. Akan tetapi ... Juna tidak pernah menghubunginya semenjak terkahir mereka bertemu.


Nayanika selalu berpikir, bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Juna. Dia bahkan tidak menyalahkan Juna karena menghilang begitu saja. Namun, untuk kali ini, dia benar-benar merasa putus asa dan berharap Juna datang menjemputnya.


"Dek. Abang masuk, boleh?"

__ADS_1


Sadar dia tidak menjawab Arga sedari tadi, Naya bangkit dan membukakan kunci kamarnya.


"Bang, bisa antar aku ke suatu tempat?"


"Ini sudah larut, Naya. Besok saja."


"Tidak. Aku ingin pergi sekarang juga. Tolong. Ada hal penting yang harus aku lakukan."


"Baiklah. Pakai baju hangat dulu. Angin malam tidak baik untuk ibu hamil."


Naya segera berlari ke kamarnya untuk mengambil sweater.


Arga masih kebingungan dengan arah tujuan yang mereka tuju malam ini. Dia selalu menoleh dan melihat raut wajah Naya yang sedang cemas. Tangan wanita yang sedang mengandung itu meremas-remas jari jemarinya sendiri. Kepalanya melongok ke depan seakan dia bertanya 'kenapa tidak kunjung sampai.'


Wajah Arga sama terkejutnya dengan Naya saat pertama kali melihat tempat itu. Sebuah rumah sakit dengan kebutuhan khusus. Mengobati para jiwa yang terluka.


Tanpa banyak bicara, Arga mengikutinya langkah Naya yang begitu cepat, nyaris berlari. Kemudian dia ingat ada nyawa yang hidup di dalam rahimnya. Dia kembali memperlambat langkahnya. Tidak ingin sesuatu terjadi pada sang calon bayi.


Wanita itu sedang duduk di atas kasur sambil menyisir rambut dengan jemarinya. Memakai pakaian tidur berbahan kaos dengan motif bunga-bunga berwarna hijau.


Gerakan tangan itu terhenti begitu menyadari ada yang datang. Dia melirik Naya dan Arga yang ada di ambang pintu. Matanya bergantian menatap Naya dan kakaknya.


"Tidak apa-apa, Bu. Dia kakakku. Dia seorang dokter. Ibu bisa percaya padanya."


Harapan Naya agar Ibu Juna bersikap seperti waktu itu, sirna. Ibu Juna bersikap seperti orang yang mengalami gangguan jiwa sungguhan. Beruntung Naya faham.


"Bu ... Apa Juna pernah datang ke sini belakangan ini?" tanya Naya saat dia duduk di samping wanita itu.


"Aku mau menikah dengan laki-laki lain, Bu."


Ibu Juna terdiam.

__ADS_1


"Nenek tidak menyetujui pernikahan kami karena aku bukan anak kandung orang tuaku saat ini. Aku hanyalah seorang bayi yang beruntung karena telah diselamatkan. Nenek menjadikan itu alasan untuk membuat kami berpisah."


"Abang keluar dulu, Dek." Arga mungkin memahami pembicaraan mereka dan memutuskan untuk pergi.


"Nak, ruangan ini diawasi. Dengarkan saja tanpa berekspresi berlebihan. Teruslah bicara seakan hanya kamu yang sedang berinteraksi sendirian."


Naya terkejut, matanya sedikit terbuka lalu segera dia berakting seperti yang diminta Ibu Juna.


"Juna tidak pernah datang kemari setelah kalian ke sini waktu itu. Hidupnya terkekang. Bahkan kapan dia harus bernafas dan kapan dia tidak bernafaspun sudah diatur sedemikian rupa. Maafkan jika dia menyakitimu. Percayalah! hanya kamu yang ada di hatinya sampai kapanpun. Itulah Juna."


"Aku tahu, Ibu. Jika dia datang ke sini entah kapanpun itu, tolong bilang padanya tentang anak ini. Aku hanya ingin dia tahu bahwa ada benih dari cinta yang kami jalin. Aku akan menjaga dan merawat anak kami dengan baik. Tolong ... katakan juga pada Juna bahwa aku mencintainya sampa kapanpun juga."


"Pergilah. Tidak baik terlalu lama ada di sini. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa anak itu adalah anak Juna. Biarkan itu menjadi rahasia. Demi keselamatan anakmu juga. Pergilah."


Nayanika menangis dengan merengkuh erat tubuh Ibu Juna. "Andai kita bisa berkumpul sebagai keluarga. Aku akan sangat bahagia merawatmu, Bu. Selamat tinggal."


Air mata Nayanika masih belum kering meski kini dia sudah berada kembali ke rumahnya. Pikirannya yang kalut membuat dia tidak menyadari keberadaan Juna yang tengah menunggu. Menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam yang dia bawa.


"Dek ...."


"Hmm."


"Lihatlah ... ada seseorang yang sedang menunggu."


"Siapa?" tanya Naya tanpa mengalihkan pandangan pada arah yang Arga maksud.


"Ayah dari janin yang kamu kandung."


Nayanika langsung menoleh begitu mendengar penuturan Arga. Dengan gerakan yang cepat, Naya keluar dari mobil. Dia berlari menghampiri Juna dan langsung berhambur pada pelukan laki-laki yang sangat dia rindukan selama ini.


Juna mendekap erat, bahkan sangat erat seperti tidak ingin dia lepaskan lagi. Sementara Naya hanya bisa menangis sesenggukan dalam pelukan sang kekasih hati.

__ADS_1


__ADS_2