
Hai ini Nayanika terlihat cantik dengan kebaya putih dan sanggul kecil di belakang kepalanya. Crown cantik menambah anggunnya Nayanika. Hiasan wajah yang minimalis, juga sedikit melati asli yang ikut menghiasi dirinya, membuat dia semakin cantik.
Berbeda dengan wajah pengantin kebanyakan. Rasa suka cita, aura kebahagiaan tidak terpancar dari wajah Nayanika.
Tatapannya penuh kehampaan. Pasrah pada takdir yang sedang menguji dirinya.
Para tamu undangan yang tidak cukup banyak. Hanya sodara dan teman-teman dari Arga, datang untuk menyaksikan permainan takdir yang dijalani keduanya. Meski mereka merasa terkejut dan tidak menyangka, mereka memilih diam dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
Bagaimana Arga yang begitu menyayangi adiknya, bisa menikahinya.
Tidak ada acara yang istimewa. Hanya akad dengan mas kawin satu set perhiasan yang bertahtakan berlian. Setelahnya langsung makan-makan. Tanpa ada foto-foto atau adat istiadat lainnya.
Nayanika pergi begitu saja setelah akad selesai. Sementara Arga memilih untuk berbincang bersama teman-temannya.
"Apa karena saking sayangnya, elu sampai gak mau nyerahin adik lu pada laki-laki lain?"
"Gila aja! gak gitu kali, Bro!"
"Ga, ada apa? Naya sepertinya tidak bahagia."
"Tidak ada yang bahagia di sini. Takdirlah yang sedang mempermainkan kami semua."
"Maaf, Mas. Saya pamit dulu. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."
__ADS_1
"Oh, iya. Mari saya antar. Friend, gue anter pak penghulu dulu, ya."
Arga meninggal teman-temannya dan mengantarkan petugas kantor urusan agama ke depan.
"Terima kasih atas segalanya. Saya mohon, ini tetap menjadi rahasia kita," ucap Arga.
"Tentu saja. Kami bahkan tidak bisa membuka mulut kami. Penutupnya terlalu besar. Ha ha ha."
Arga hanya manggut-manggut. Dia bernafas lega saat melihat kedua petugas itu pergi.
Semoga ini bukanlah sebuah dosa. Demi kebaikan bersama, berbohong itu dianjurkan bukan?
Belum beberapa langkah Arga menuju rumah, sebuah tangan dengan kasarnya menarik tangan Arga.
"Tenang dulu. Saya bisa jelaskan semuanya."
Dzig!
Dengan posisi setengah terlentang, Arga memegang sudut bibirnya yang terasa perih dan asin.
"Meski kalian bukan sodara kandung, pernikahan ini tetap saja terasa menjijikan!"
"Terserah! yang jelas, ini semua demi Nayanika."
__ADS_1
"Apa begitu? apa kamu pikir dia bahagia? apa kalian tidak pernah memikirkan perasaan kami berdua?" Suara Juna meninggi. Beberapa orang keluar karena mendengar suara keributan.
Juna yang masih kesal, menarik kerah Arga yang baru saja berdiri.
"Ceraikan dia sekarang juga! saya tidak perduli tentang wanita tua itu, demi bisa bersama Nayanika, lebih baik nenek sihir itu saya singkirkan." Mata Juna memerah. Rahangnya mengeras. Nafasnya memburu.
"Terlambat. Dia sudah menjadi istriku. Jika kamu memang begitu menginginkan Nayanika, kenapa tidak datang lebih awal?"
"Kurang ajar!" geram Juna.
Bugh!
Bukan hanya sekali. Juna memukul Arga berkali-kali. Pelipis, wajah, hidung dan sudut bibir Arga yang lain, terluka.
Bukan Arga tidak mampu melawan. Dia hanya ingin Juna melepaskan emosinya. Sebagai laki-laki, Arga tahu apa yang Juna rasakan saat ini. Kehilangan orang yang dicintai, rasanya memang begitu sakit. Rasa sakit yang Arga rasakan saat ini, jauh lebih ringan ketimbang hati Juna yang sedang sekarat.
Teman-teman Arga dan beberapa tamu undangan mencoba melerai. Juna berhasil dihentikannya setelah lima orang laki-laki menariknya, menjauhi tubuh Arga yang sudah lemas.
Tidak ada yang Nayanika lakukan selain mematung melihat semua itu dari jendela kamarnya.
Hatinya telah mati. Tidak ada rasa yang bisa dia rasakan. Bahagia, sedih dan rasa sakit itu telah lenyap.
"Siapa yang ingin kamu panggil ayah, Nak?" tanyanya sambil mengusap perutnya.
__ADS_1