
"Dek, sayang, bangun."
Seseorang berbisik saat untuk pertama kalinya aku bisa tidur tanpa ditemani siapapun. Oh, tidak. Bukan begitu sebenarnya.
"Dek, bangun dulu sebentar."
Dengan berat hati aku membuka mata perlahan.
"Kakak ... Ada apa? Aku masih ngantuk." Aku merengek manja.
"Kakak mau pergi. Kakak pamit sama kamu."
Mendengarkan hal itu, sontak aku terbangun dan langsung duduk berhadapan dengannya.
"Mau ke mana? Kakak ... Plisss jangan pergi."
"Hanya sebentar, Dek. Kakak mau honeymoon ke Eropa untuk dua pekan ini. Kakak pamit, ya. Mau oleh-oleh apa?"
Terlihat jelas di matanya, ada kesedihan yang mencoba dia sembunyikan. Entah karena apa. Apa dia sedih karena akan meninggalkan aku?
"Bayi. Aku mau kakak memberiku keponakan yang lucu."
Kakak tampak heran dengan permintaanku. Jelas saja dia begitu. Kakak akan merasa aneh denganku setelah apa yang semalam terjadi di pesta resepsi pernikahannya.
"Dek, Abang belum pulang. Kamu tidur sama siapa?"
"Juna."
"Apa?" Kakak berteriak.
"Eh, enggak. Maksudnya bukan dengan tubuhnya."
"Dek. Dengerin kakak! Kamu jangan pernah membiarkan laki-laki manapun tidur sama kamu sebelum kalian resmi menikah. Ingat itu. Termasuk sama Juna. Jangan biarkan tubuhmu direndahkan oleh laki-laki. Kamu itu berharga, Dek. Jangan sampai–"
"Kak, semalam kami melakukannya video call sampai aku tertidur. Dia tahu Abang tidak ada di sini dan ... Juna tahu Kakak tidak mungkin menemaniku tidur."
Raut wajah Kakak kembali bersedih. Dia mengelus wajahku. "Kakak minta maaf, ya."
"Bukan salah Kakak, kok. Jadi jangan merasa bersalah dan cemas. Udah, gih. Lidya pasti sudah nungguin. Jangan sampai kalian ketinggalan pesawat."
"Tidak apa-apa. Jika pun telat, ada Juna yang menawarkan jet pribadinya untuk mengantar kami."
"Benarkah? Lalu kenapa kalian pagi-pagi sekali berangkatnya?"
"Kakak tidak ingin merepotkan dia. Jadi adik ipar saja belum, kan? Hahaha."
"Iiihhh Kakak!"
"Ya sudah. Kakak berangkat dulu, ya. Jangan nakal."
"Iyaaa."
Meski bersedih, aku mulai sedikit bisa menerima kenyataan bahwa dia kini telah berkeluarga.
Fitah manusia memang begitu bukan? Seseorang harus menikah lalu memiliki keturunan. Tida perduli sebesar apa rasa sayang kita untuk sodara kita, ketentuan Sang pencipta tidak akan ada yang bisa merubahnya. Itu pasti. Mungkin, entah kapan, cepat atau lambat, aku akan seperti Kakak juga. Menikah dan memiliki keluarga sendiri.
Tiba-tiba aku teringat pada Juna. Segera aku mencari ponsel dan melihat, apakah dia mengirimkan pesan atau apapun itu pagi ini.
Nihil.
__ADS_1
Tidak ada pesan atau panggilan telpon darinya. Kecewa. Itu yang aku rasakan saat ini.
Dia bilang bahwa besok pagi tidak akan bisa menemuiku. Nyatanya, besok dan besok, lalu besoknya sampai pagi ke tujuh, dia tidak memberi kabar sama sekali.
Aku memilih untuk menyibukkan diri di toko. Hidupku mulai terasa sepi sejak Kakak menikah. Abang yang kebetulan sibuk belakang ini, dan juga Juna yang pergi tanpa memberi kabar. Lengkap sudah.
"Non, sepertinya kita harus melakukan terobosan baru, deh."
"Kenapa, Nit?" Tanyaku pada Nita–kasir sekaligus orang kepercayaan di toko ini.
"Kemarin ada yang nanyain kue tradisional juga. Beberapa orang malah. Kenapa kita gak nyediain kue tradisional juga, Non. Jadi, orang bisa mendapatkan berbagai macam kue dari satu tempat. Di toko kita ini."
"Ide kamu bagus juga, Nit. Coba nanti besok kita bahas di meeting, ya."
"Iya, Non."
Nita kembali menuju tempat kerjanya, dan aku kembali membereskan Maccarone yang baru saja matang.
Pikiranku kembali pada masa itu, masa di mana aku begitu penasaran dengan sosoknya. Mata yang tidak bisa hengkang darinya dan tubuh yang seolah tertarik magnet dan tidak pernah bisa berpaling darinya.
Ada rasa di dalam dada yang menyeruak begitu hebat. Dadaku sesak bukan karena penyakit yang selama ini kerap kambuh jika aku merasa cemas. Kali ini sungguh berbeda. Rasa itu seperti dada yang terhimpit ribuan ton beban. Aku bahkan tidak tahu cara untuk mengeluarkan beban ini. Ingin berteriak dan menangis sejadinya, tapi aku tidak bisa.
Aku duduk dilantai dengan memeluk lutut. Mencari kenyamanan pada diri sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini, orang yang bisa aku jadikan tempat untuk bersandar. Aku benar-benar sendirian sekarang.
"Nona, kenapa?" Tanya Nita.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Nita? Dadaku sesak."
"Nona, apa sesak nafasmu kambuh. Ayo kita ke dokter. Saya panggil dulu–"
"Tidak, Nita. Rasanya aku hampir mati terhunus rindu." Aku menengadahkan kepala untuk melihat wajah Nita. "Aku merindukan mereka ... Mereka yang selalu ada setiap kali aku membutuhkan, kini mereka pergi dalam waktu bersamaan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak ada yang bisa menjadi tempat untukku mencurahkan air mata."
"Non ...."
"Bukan begitu, Non. Tidak apa-apa begini, seseorang kadang memang harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan agar mereka tahu artinya memiliki."
"Nita ...."
"Non. Ada seseorang yang sedang menunggu di atas. Tadi dia ke sini tapi memilih diam saat melihat Nona seperti ini. Saya pun dilarang menghampiri Nona."
"Siapa dia Nita? Apakah Kakak? Ah, tidak mungkin. Abang? Ataukah Juna?"
"Naik dan lihatlah sendiri. Ayo, jangan seperti ini. Apa kata pelanggan jika mereka melihat Nona begini?"
Ada seorang laki-laki yang mungkin usianya sama dengan Papi. Dia sedang duduk sambil menikmati secangkir teh yang disediakan karyawan. Setiap ada tamu, mereka memang wajib melayaninya dengan baik.
"Permisi."
Laki-laki itu menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, dia langsung berdiri, tersenyum dan sedikit membungkuk memberi hormat. Aku yang merasa dia jauh lebih tua dariku, sangat tidak enak hati. Dan ikut membungkuk padanya.
"Saya minta maaf karena sudah lancang datang ke sini."
"Tidak apa-apa. Silakan duduk."
Kami duduk berhadapan. Terhalang meja persegi panjang.
"Maaf sebelumnya, tapi saya tidak mengenal Anda."
"Oh, iya. Saya Rudi. Sekertaris pribadi Tuan Juna."
__ADS_1
"Juna?" Aku begitu bersemangat. "Di mana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya? Kenapa dia tidak menghubungi saya sepekan ini? Apa orang itu menuntut melalui jalur hukum?"
"Ha ha ha. Tenanglah Nona. Satu dulu bertanya nya. Saya sudah tua, jadi tidak bisa menangkap semua pertanyaannya. Tanyakan satu hal dulu pada saya."
"Maaf. Saya terlalu bersemangat karena begitu merindukan ..." Aku diam karena merasa sudah salah berbicara. Sementara Pak Rudi memberi ekspresi seperti ingin mendengar lanjutan dari ucapanku.
"Lupakan saja, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana keadaannya. Ingin memastikannya bahwa dia baik-baik saja."
Dao tersenyum dengan kepala mengangguk-angguk perlahan dan berulang-ulang.
"Cukup. Saya hanya ingin tahu itu saja dari Anda."
"Apa maksudnya?"
"Aaah. Bukan apa-apa. Kalau begitu, saya permisi sebentar karena tidak ingin mengganggu kalian berdua. Permisi, Nona."
"Kalian? Berdua? Apa maksudnya?"
Tanpa menunggu jawaban dari Pak Rudi, kini aku tahu maksudnya setelah melihatku Juna berdiri dibelakang pintu. Dia dan Pak Rudi tertawa. Dan aku? Aku seperti orang bego yang sedang ditertawakan. Karena kesal, aku menghentakan kaki dengan keras dan berjalan keluar menyusul Pak Rudi. Sesampainya di pintu. Juna menarik tanganku kembali masuk. Dia menutup pintu lalu menguncinya.
"Kenapa marah?"
"Apa kamu senang karena berhasil membuatku terlihat seperti orang bodoh? Menyebalkan! Jika ini sebuah lelucon, basi tau!"
Dia mendekat dengan langkah kaki yang sangat cepat. Menarik pinggangku hingga tubuh kamu begitu berdekatan, bahkan tanpa sekat. Aku yang masih kesal berusah mendorong tubuhnya. Namun, itu semua hanyalah sebuah kekonyolan semata. Tenaganya tidak bisa aku tandingi. Tatapan matanya yang tanpa jeda membuat aku semakin tidak bisa bergerak.
"Apa kamu merindukan saya?"
"Siapa bilang?"
"Kamu."
"Tidak. Aku bahkan tidak pernah memikirkan kamu sedikitpun."
"Benarkah? Lalu kenapa duduk seperti orang putus asa di bawah tadi."
"Itu ... Itu karena aku merasa lelah."
"Karena apa? Karena saya tidak menghubungi kamu sepekan ini? Begitukah?"
"Jangan terlalu berbesar kepala. Kenapa juga aku harus memikirkan kamu? Siapa saya dan apa hubungan kita? Buang-buang waktu saja."
"Kita? Kamu adalah calon ibu dari anak-anak saya kelak."
"Percaya diri sekali." Aku memulainya wajah. Bukan karena kesal tapi karena ingin menyembunyikan wajah yang mungkin sudah memerah.
"Tapi saya merindukan kamu. Sangat rindu." Dia mendekatkan wajahnya dan berisikan di telingaku. Tubuhku merespon dan secara tidak sadar wajah kami saling berhadapan. Sangat dekat.
Tangannya tidak lagi di pinggangku, dia memegang kedua pipiku dengan penuh kelembutan. Untuk pertama kalinya dia tersenyum padaku. Keindahan yang terasa seperti racun untuk hati dan jantung yang hampir tidak berfungsi.
"Maaf." Kini, dia memgang tangnku dengan tangannya yang kiri, memintaku untuk melingkarkan pada tubuhnya. Tangannya yang kanan memmgelus kepalaku.
"Menyebalkan!" Aku memukul punggungnya dengan kedua tanganku. "Apa begitu sulit membalas pesan yang entah berapa kali aku kirimkan?"
"Maaf, maaf."
"Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Aku benar-benar putus asa memikirkan keadaan kamu. Dan apa yang kamu lakukan? Bahkan untuk sekedar say hai saja tidak punya waktu. Huuuwaaa." Aku menangis setelah puas memukulnya. Tentu saja dengan tenaga yang tak seberapa.
"Jangan lakukan ini lagi," ucapku di sela Isak tangis. Untuk pertama kalinya juga, aku memeluk dia dengan erat. Sangat erat. Aku tidak ingin dia pergi lagi. "Jangan pernah pergi lagi. Aku mohon."
__ADS_1
"Tidak akan. Saya berjanji tidak akan meninggalkan kamu sendirian. Maaf, saya benar-benar minta maaf karena telah membuat kamu bersedih."
Aku benar-benar tidak ingin pergi jauh darinya. Tanganku semakin kuat memeluk tubuhnya. Tubuh yang sempat membuatku salah tingkah.