Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Rahasia Yang Terkuak


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan? Wanitaku ini benar-benar penuh kejutan setiap hatinya."


Malu sebenarnya saat Juna mengatakan hal itu ketika pagi hari kami terbangun dari tidur, setelah melewati malam yang cukup panjang. Mungkin ini sudah bukan lagi lagi. Entahlah.


"Juna ... Jika kamu merasa benar-benar lelah, jangan pernah lupa ada aku untuk menjadi sandaranmu. Seberapa berat masalah yang kamu pikul, mari kita tanggung bersama. Bahkan sampai kita benar-benar tidak bisa bangkit lagi."


"Ada apa?" Juna menatap dengan heran. Tetapi aku melihatnya dengan penuh kesedihan. "Masa lalu saya memang pahit, tapi saya tidak akan membuat kamu ikut masuk ke dalamnya. Jangan dah tidak akan pernah."


"Lalu untuk apa aku berada di sisimu? Apa hanya untuk memuaskan hasratmu saja?"


"Jaga ucapan kamu!"


"Lalu apa?"


"Jika saya hanya membutuhkan wanita untuk kepuasan ranjanga, apa tidak pernah kamu pikirkan betapa banyak wanita yang bersedia melakukan itu."


"Aku salah satunya. Buktinya ...."


"Kamu yang saya inginkan sejak lama, saat ini dan sampai nanti. Bukan hanya tubuh tapi juga hidupmu. Saya ingin hidupmu menjadi hidup saya. Bersama menua sampai maut menjemput kita."


"Aku ingin lebih dari itu. Jangan hanya meminta aku untuk melupakan masalah yang sedang atau akan kamu hadapi. Jadikan aku tempat untukmu berbagi suka dan duka."


"Saya bukan laki-laki yang akan membiarkan orang yang saya cintai berada dalam duka dan kesedihan. Sungguh tidak bertanggung jawab. Untuk apa memintamu menjalani hidup jika hanya memberikan luka dan air mata."


"Juna ...."


"Saya tahu dan mengerti perasaan kamu, Naya. Itupun yang saya rasakan. Saya selalu ingin menjadi orang yang melindungi dan mengambil seluruh luka dan dukamu. Hanya saja, kita berbeda. Saya ini laki-laki dan tugas saya memang itu. Sementara kamu ... Kamu seorang wanita yang bertugas menjaga anak kita dengan baik nantinya. Cukuplah selalu tersenyum dan bersikap manis saat saya datang ke rumah."


"Juna, ada sesuatu yang ingin aku beritahu."


"Nay. Apa kamu tidak merindukan keluarga kamu? Sudah hampir dua bulan lamanya. Mereka merindukan kamu. Mereka tidak mencari karena kamu aman dengan saya di sini."


"Iya, kita bahas masalah itu nanti."


"Ini sudah siang. Sebaiknya kita membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat."


"Kemana? Menemui ibu?"


"Bukan. Bersiap saja. Nanti kamu tahu sendiri jika sudah sampai."


Juna beranjak dan menuju kamar mandi. Kuelus lembut perutku. "Sabar, sayang. Nanti ayahmu akan tahu jika ada kamu di dalam sana. Sabar sebentar lagi, ya."


Untuk mengedipkan mata saja rasanya susah sekali saat melihat wanita dengan usia yang sudah jauh sekali dari kata muda itu menatap dengan rasa tidak sukanya. Belum lagi dengan tatapan dingin dari wanita lain yang Juna kenalkan padaku sebagai tantenya.


"Apa kamu tidak salah pilih, Juna? Kita semua tahu pasti siapa dia."


"Nenek. Kali ini saja, biarkan aku mengambil keputusan sendiri. Jangan menilai seseorang dari siapa dia berasal."

__ADS_1


"Mungkin akan aku pertimbangkan jika dia hanya keluarga orang miskin. Tapi dia tidak jelas asal usulnya. Mustahil aku memberikan restu."


"Asal usul? Orang tua saya jelas, mereka keluarga baik-baik. Nek."


"Maksud kamu, Ranti yang kamu panggil mami selama ini?" Nenek tersenyum sinis.


"Sepertinya kamu memang tidak tahu apa-apa. Baiklah, saya akan katakan semuanya agar kamu tahu diri."


"Cukup! Sudah sejak lama aku menuruti apa yang Nenek minta, untuk kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku yang akan mengambil keputusan itu sendiri. Apapun resikonya."


"Nek, tolong jelaskan apa yang Nenek maskud tentang asal-usul saya. Saya tidak mengerti. Saya punya keluarga yang jelas dan terhormat. Apa yang menjadi penyebab Nenek tidak memberikan restu untuk kami."


"Karena kamu bukan anak mereka. Kamu hanya seorang bayi yang mereka temukan di depan pintu pagar rumahnya."


"Sudah cukup!"


"Ma-maksudnya ... Apa itu artinya ...."


"Sayang, jangan dengarkan ucapan nenek, dia hanya berusaha memisahkan kita saja."


"Ya! Kamu anak pungut Ranti. Arga dan Helmi bukan kakak kandung kamu, Naya." Dengan tegas Nenek mengatakan hal itu.


"Sayang ...."


"Cukup, Juna. Sudah, hentikan semuanya."


"Juna ... Apa kamu tahu hal ini?"


"Naya ... Saya ...." Juna gagap.


"Masalah sebesar ini kamu sembunyikan dariku? Lalu untuk apa kita menjalani hubungan jika tidak ada kejujuran di dalamnya."


"Naya ...."


"Aku ingin pergi dari sini. Jangan pernah ikuti aku. Stop! Biarkan aku sendiri."


Kakiku jelas menginjak tanah tapi aku merasa tidak sedang berjalan. Aku masih jelas berada di bumi, tapi aku merasa ada di alam lain. Semua orang bisa melihatku, tapi aku merasa sendiri di tempat asing. Di antah berantah yang tidak aku kenali sebelumnya.


Duniaku hancur. Runtuh menjadi serpihan yang tidak bisa disatukan kembali. Bahkan butiran debunya tidak dapat terlihat dan dirasakan keberadaannya.


Sesuatu yang terasa sakit menyadarkan jiwaku yang hampir terpisah dari raga. Bayiku. Dia menyadarkan bahwa aku tidak sendiri saat ini. Ada dia yang memiliki hak untuk hidup.


"Sayang ...." Juna masih berada di belakangku. Mengikuti kaki ini melangkah entah seberapa jauh.


"Maaf. Aku tidak bisa lagi menjadi tempat untukmu kembali setelah lelah menyiksa hidupmu. Aku bahkan tidak layak untuk menjadi tisu penghapus tangis laramu. Menjauhlah dari sampah hina sepertiku. Sampah yang dibuang begitu saja. Sampah yang tidak diinginkan keberadaannya. Pergilah ... Juna."


"Saya sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungimu. Meski harus merelakan semua yang saya miliki."

__ADS_1


"Kamu bahkan tidak bisa melindungi ibumu sendiri. Bagaimana kamu bisa melindungiku?"


"Saya akan melindungi kalian berdua dengan apapun yang saya bisa. Percayalah Naya!"


"Tidak, Juna. Pergilah. Jangan mendekat lagi padaku."


Juna mendekat. Dia memelukku erat meski aku berontak sekuat tenaga. Dia tidak melepaskannya. Aku menangis sejadinya tanpa perduli di mana aku berada saat ini.


"Mereka bukan keluargaku, Juna. Abang dan Kakak bukan kakak kandungku. Mereka bukan kakak kandungku."


Juna mengajakku menaiki mobil yang menghampiri kami berdua. Aku masih menangis kencang saat kami sudah berada di dalam.


Seperti mendapat sambaran petir di siang hari. Jantungku dicabut paksa dari tempatnya. Tanpa sayatan untuk menggapainya.


Keluarga sudah berkumpul saat Juna mengantarkan aku masuk ke dalam rumah. Rumah yang memberikan perlindungan dari dinginnya udara luar saat aku masih bayi.


Mereka terlihat bersikap tenang meski aku tahu itu hanya sebuah akting semata. Abang bahkan bisa bertahan lama memerankan dramanya. Dia berlari dan langsung memeluk tubuhku.


"Jangan dengarkan apa yang orang katakan. Kamu hanya harus merasakan bagaimana kami mencintai dan menyayangimu, Naya. Persetan dengan ikatan darah! Semua itu tidak ada gunanya."


"Abang ... Maaf kalau selama ini aku menjadi beban untukmu. Padahal, aku bukanlah siapa-siapa di rumah ini. Apakah aku anak yang tidak tahu diri?"


"Tidak, tidak. Abang yang salah. Mulut abang memang kurang ajar. Pukul saja abang karena telah mengatakan hal buruk. Hukum abang atas apa yang telah abang lakukan."


Tubuh Abang bergetar hebat meski dia berusaha menguatkan diri yang seperti sedang sekarat ini.


"Mami memang tidak pernah melahirkan kamu, Nak. Tapi air susu mami mengalir dalam tubuhmu. Darah dan daging yang tumbuh di ragamu adalah air susuku. Tidakkah itu cukup untuk membuat mami sebagai ibumu?"


"Terima kasih karena kalian mau menerima sampah yang dibuang begitu saja. Terima kasih untuk kasih sayang yang kalian berikan. Hanya saja ... Mungkin rasa sakit ini tidak akan terlalu dalam jika aku mengetahui semuanya dari kalian langsung. Bukan dari orang yang sedang aku pinta restunya."


Tubuhku benar-benar ambruk. Beban itu langsung aku terima dalam waktu yang sama. Aku yang lemah ini merasa tidak sanggup menopang semuanya.


"Aku tidak bisa menikah dengan Juna, Bang. Keluarganya tidak menerima statusku yang tidak jelas asal usulnya."


Mami memeluk tubuhku yang sudah mulai kehabisan tenaga. "Tidak apa, sayang. Tidak apa. Menangislah sekeras yang kamu inginkan. Mami akan selalu ada di sini untukmu. Kami tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi."


"Mami ... Bagaimana nasibku nanti? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


'Ya! Bagaimana dengan janin yang sedang aku kandung saat ini? Apa dia harus lahir tanpa seorang ayah?'


"Saya akan berusaha keras untuk membujuk nenek. Saya akan melepaskan status pewaris tunggal jika itu perlu."


"Untuk saat ini, lebih baik kamu pulang saja dulu," pinta Papi.


Tidak ada yang bisa Juna lakukan selain menurut. Luka ini semakin menganga begitu mendengar suara mobilnya semakin menjauh dan menghilang dari jangkauan pendengaran.


'apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku berada di tengah-tengah orang yang bukan keluargaku sendiri.'

__ADS_1


__ADS_2