
Laki-laki yang Juna panggil Raka itu masih menatap dengan tidak percaya. Berkacak pinggang di hadapanku, lalu mondar-mandir tidak jelas. Sesekali dia menyesap tanpa batang rokok. Menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.
"Apa kamu ingin bertanya sesuatu? katakanlah."
Dia menghentikan langkahnya yang membuat kepalaku semakin sakit.
"Apa kamu benar-benar pencuri? rasanya itu mustahil. Tapi melihat cincin keluarga kami ada di tanganmu, membuat aku semakin tidak yakin."
"Apa yang membuat kamu tidak yakin?"
"Pertama. Aku tidak yakin kamu itu pencuri. Kedua. Aku juga tidak yakin jika kamu itu calon istri salah satu keluargaku. Apa lagi membayangkan jika kamu adalah wanita Juna."
"Kenapa?"
"Tidak cocok. Kamu itu terlalu muda untuknya. Lebih cocok jika bersanding denganku."
"Apa kalian ini kakak beradik? kenapa kalian berbeda jauh?"
"Jelas. Aku ini lebih tampan kemana-mana. Dia itu hanya laki-laki yang menua karena pekerjaan. Nenek memang keterlaluan!"
"Nenek?"
"Ya! Nenek terlalu memaksa Juna untuk mengurus semua perusahaan kami. Tidak memikirkan kondisi dan diri Juna sendiri. Andai bukan karena kerja keras Juna, mungkin kami sudah sangat miskin saat ini."
Bisa aku mengerti kenapa Juna sering sekali pergi keluar kota bahkan keluar negeri. Aku sendiri kadang bertanya. Apakah dia tidak merasa lelah? tapi jawaban itu aku dapatkan sekarang.
"Bahkan dia sering tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan pekerjaan. Bebannya membuat dia menjadi orang yang kaku dan sangat serius. Hanya ada satu wanita yang bisa membuat dia tersenyum."
"Wanita?"
"Ya! dulu Juna sempat dekat dengan wanita ini. Namanya Karen. Aku tidak tahu dia itu pacaran atau tidak, tapi setiap bersama Karen, Juna selalu tersenyum."
"Di mana Karen sekarang?"
"Sudah lama pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya. Sejak itulah Juna kembali tidak pernah tersenyum lagi."
Ada rasa yang membara di dalam dada. Membuatku ingin memejamkan mata dan berharap tidak pernah mendengar apapun. Raka, laki-laki yang memiliki kerok wanita. Bawel.
"Kenapa juga aku harus menceritakan semua tentang Juna padamu?"
"Cerita apa?"
Mataku sontak terbuka lagi dan melirik ke arah sumber suara.
"Apa yang kau ceritakan padanya? apa sampai saat ini kau masih belum belajar dari sebuah kesalahan?"
"Tidak. Aku hanya sedikit curhat saja. Tidak banyak." Raka terlihat ketakutan.
"Awas kalau kau berani berbuat yang tidak-tidak."
__ADS_1
"Eng-enggak, kok, Kak. Aku sudah menjadi anak baik sekarang."
Juna mendelik. Dia segera mendekat saat mata kami saling bertatapan. Wajah kesalahan pada Raka berubah menjadi terlihat cemas.
"Kakak, benarkah dia seorang pencuri? bagaimana dia bisa mencuri cincin keluarga kita? apa Kakak tidak merasa aneh? coba saja lihat baik-baik wajahnya. Cantik bukan?"
"Tutup mulutmu!"
"Kenapa? aku hanya berkata jujur. Kak, bagaimana kalau Kakak lupakan saja pencurian itu, toh cincinnya sudah ketemu dan bisa Kakak berikan pada wanita yang akan menjadi istri Kakak. Biar dia untuknya saja."
"Apa kau ingin aku menghancurkan toko ayam jelekmu itu? pergilah! biar ini menjadi urusanku mulai sekarang."
"Kenapa? apa Kakak berubah pikiran setelah menyadari betapa wanita ini cantik?"
"Raka Aditama!" Juna tampak sangat marah. Raka segera keluar dari ruangan.
"Berani sekali dia memuji wanitaku."
"Jangan marah. Sepertinya dia memang begitu anaknya. Kamu harus lebih mengerti."
"Ada apa ini? pergi dan tidak datang pada saya?"
Juna kembali terlihat kesal. Sama seperti saat dia datang dan berbicara pada Raka.
"Harus begitu? kita hanya dekat. Tanpa ikatan apa-apa. Lalu dengan hak apa aku harus datang padamu?"
"Kita ini bukan anak ingusan yang harus merasa saling memiliki setelah ada pernyataan cinta dan penerimaan."
"Ada apa? apa anak tadi mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Tapi paling tidak dia tahu bagaimana bersikap pada wanita."
"Apa selama ini saya memperlakukan kamu tidak layak?"
"Baiklah. Kita sudahi saja pembicara ini. Aku ingin istirahat. Jika ingin bicara, belajar pada Raka. Paling tidak, dia berbicara yang bisa membuatku sedikit terhibur."
"Apa kamu ingin mendengar saya mengatakan cinta?"
"Lupakan. Beri aku waktu untuk istirahat."
Setelah memalingkan wajah dan memjamkan mata, Juna tidak lagi mengeluarkan seucap katapun dari mulutnya. Aku memang ingin tidur. Selain karena kepalaku yang memang masih berdenyut, aku juga ingin meredakan rasa yang bergemuruh di dalam dada.
Entah berapa lama aku tertidur. Saat membuka mata, kepalaku terasa sedikit ringan. Pun dengan gemuruh di dalam dada. Aku melihat Juna sudah berganti pakaian dengan stelan yang lebih santai.
"Jam berapa sekarang?"
Mendengar aku sudah terbangun. Juna segera menyimpan ponselnya lalu mendekat.
"Ini sudah malam. Apa kamu ingin minum? apa ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
"Ya, aku haus."
Dia mengambil air yang ada di meja. Membantuku minum dengan memakai sedotan.
"Dokter tadi datang. Dia bilang jika kondisimu membaik, kita bisa segera keluar dari sini."
"Kemana?"
"Ya?"
"Kemana aku harus pergi? aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka lagi."
"Naya ... jika kondisimu saat ini karena marah pada arga, maka–"
"Aku tidak marah padanya. Aku marah pada diri sendiri karena tidak menyadari bahwa aku ini hanyalah benalu untuk seseorang."
"Tidak seperti itu, Nay. Jika saya berada di posisi Arga, mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama. Dia hanya membela anaknya."
"Itulah kenapa aku pergi. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk dia pergi mengurus anak dan wanita itu."
"Nay, jika saya harus memilih antara kamu serta anak kita dengan sodara saya, maka saya akan memilih kamu dan anak kita. Ikatan sodara memang diikat oleh darah dan tidak bisa terpisahkan. Tapi tanggung jawab saya sama kamu jauh lebih besar."
"Apa aku tidak berarti lagi untuknya?"
"Kamu segalanya untuk arga. Tapi anaknya lebih membutuhkan arga dibandingkan kamu. Anak itu hanya butuh ayahnya, dan kamu ... kamu hanya butuh pengganti arga. Dan saya bisa melakukan itu."
Kami terdiam untuk beberapa saat.
"Nay, apa saya belum cukup untuk bisa menggantikan arga. Memberikan kamu kasih sayang dan segalanya."
Ada rasa bersalah yang menyelinap dalam hati. Jelas tujuanku bukan itu. Tidak ada maksud untuk merendahkan posisi Juna dalam hatiku.
'Apa ini yang dirasakan Abang?'
"Mungkin saya tidak bisa siaga seperti Helmi dan Arga. Tapi saya akan berusaha melaksanakan yang terbaik untukmu."
"Kenapa? mereka melakukan itu karena mereka mencintai dan menyayangiku."
"Naya ...."
"Mungkin aku hanya salah satu obsesimu. Bukankah kamu merasa hebat jika mendapatkan apa yang belum pernah orang lain miliki sebelumnya. Aku, misalnya yang belum pernah berpacaran sebelumnya."
"Jangan begitu. Berpikirlah positif agar hidupmu menjadi lebih mudah."
"Aku hanya bicara berdasarkan kenyataan, dimana letak salahnya?"
"Tidak semua kenyataan bisa dilihat mata. Jangan menilai segala sesuatu hanya berpegang pada fakta yang berasal dari rasa."
"Bukti apa lagi yang harus aku kumpulkan untuk meyakinkan bahwa aku ini bukan objek obsesi kamu, Juna."
__ADS_1
Tanpa memberikan aba-aba apa lagi izin, Juna dengan cepatnya mendekatkan wajahnya. Sesuatu yang terasa dingin menyentuh bibirku. Rasa yang hampir membuat nafasku berhenti. Aku merasa tersengat aliran listrik tapi tubuh ini membeku tidak bisa bergerak. Hanya sekilas namun mampu meninggalkan jejak yang dalam untukku. Untuk pertama kalinya.
"I Love U. Nayanika."