Mempelai Pilihan

Mempelai Pilihan
Salah Faham


__ADS_3

Pukul 17.30 wib. Itulah jam tutupnya toko ini. Semua pegawai telah pulang kecuali aku. Biasanya aku akan memeriksa kembali keadaan toko sebelum pulang. Sekalian menunggu jemputan. Mami tidak mengizinkan aku pulang sendiri, entah itu naik taksi atau membawa mobil sendiri.


Tidak cukup lama untuk menunggu. Mobil sport berwarna hitam itu muncul. Seseorang yang sangat gagah dan tampan turun dari sana.


Laki-laki bertubuh atletis itu berjalan menghampiri. Menyunggingkan senyuman yang membuat lesung pipinya tampak jelas terlihat. Manis.


"Lama nunggu, ya?"


Aku menggeleng cepat. Memeluk tubuhnya erat. Aku sangat suka mencium aroma parfum yang tercampur samar dengan aroma khas rumah sakit.


"Abang belum mandi, Dek."


"Tapi suka."


"Ck! Kamu ini. Ayo kita pulang. Udah malam."


"Hu-um."


"Mau makan dulu enggak?"


"Enggak. Udah makan tadi sore sama karyawan. Tapi ... Kalau sekedar minum kopi, sih, boleh. Yuk!"


"Siaaap, tuan putri."


Arga Wiguna. Dokter Arga Wiguna SpA. Laki-laki ganteng yang masih jomlo sampai detik ini. Ini semua gara-gara Linda. Wanita yang sudah membuat Abang tersayang menjadi trauma.


Sebelum pulang, kami mampir untuk meminum kopi. Sering kami melakukan ini. Melepas penat sambil mengobrol menceritakan hari yang telah kami lewati.


"Bang ... Jangan espresso terus, dong. Nanti gak bisa tidur lagi. Jelek banget punya kebiasaannya."


"Kan udah lama enggak. Malam ini, abang tidak ingin tidur dulu."


"Kenapa? Ada, ya, pilihan kaya gitu? Setelah penat bekerja, orang lain ingin istirahat dan tidur nyenyak, ini malah gak mau tidur."


"Ada yang abang pikirkan, Dek."


"Apa?" tanyaku penasaran. Aku melihat ada keseriusan diwajahnya yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu di pipi dan dagunya itu.


"Di rumah sakit ada pasien abang."


"Terus? Kenapa begitu khawatir untuk pasien yang satu ini?"


"Biayanya. Ibunya tidak memiliki biaya."


"Tinggal kasih. Apa yang begitu sulit?"


"Dia single parent." Bang Arga hanya mengaduk-aduk kopinya sedari awal kami bicara. Meski aku kurang faham dengan apa yang dia maksud, tapi jika aku boleh menebak, dia jatuh cintakah?


"Abang ...."


Bang Arga mendongak. Matanya terlihat sendu. Aku semakin tidak mengerti dengan arti mata itu.


"Suka sama ibunya?"


Bang Arga tersenyum meski terlihat jelas sangat terpaksa. Lalu dia menghela nafas dalam-dalam. Tidak ada jawaban serta tidak ada perbincangan lagi sampai kopi yang kami pesan habis.


Dalam perjalanan hingga kami sampai rumah, Bang Arga hanya diam. Tidak berani aku menggangu apa yang sedang dia pikirkan. Tidak pula bertanya terlalu jauh. Biarkan saja dia seperti itu dan jika sudah tepat, maka dia akan bicara sendiri padaku.

__ADS_1


"Night." Hanya itu yang dia ucapkan sebelum dia masuk ke kamar. Bahkan tanpa kecupan hangat seperti sebelumnya. Sedih sebenarnya.


"Dek." Bang Arga kembali keluar kamar dan memanggil sebelum aku menutup pintu kamarku. Dia menghampiri lalu mengecup keningku. "Sorry."


Rasa sedih itu sirna. Dia tidak mengabaikan, hanya lupa karena sedang banyak pikiran.


*****


Nayanika Malika Putri. Itu namaku. Lima bulan lagi usiaku 25 tahun. Anak bontot dari tiga bersaudara. Abang Arga denganku terpaut tujuh tahun. Bang Arga dengan Kak Hemli–Kakak pertama, terpaut sekitar lima tahun saja.


"Bi, nasi goreng kambingnya mana? Belum diambil kah? Sand wichnya tolong di simpan si sana saja. O, iya. Saya lupa, teh jahe madunya belum. Tolong, ambil piring sama gelasnya. Mba, tolong bantu saya ambilkan teh, saya sedang marut jahenya dulu."


Begitulah suasana pagi hari. Meski ada tiga pembantu di dapur ini, aku yang tetap menyiapkan semuanya. Sarapan untuk kedua kakakku. Orang tua kami sering pergi keluar kota untuk urusan bisnis.


Sarapan sudah tersaji sesuai selera masing-masing orang. Semua harus sudah siap sebelum mereka turun.


"Semua beres. Aku tinggal mandi dan bersiap. Tolong jaga, ya, Bi, Mba. Jangan sampai ada lalat."


"Iya, Non." Mereka menjawab serempak.


Dengan langkah sedikit cepat, aku menuju kamar untuk segera mandi dan bersiap. Bang Arga dan Kak Helmi tidak akan menyentuh sarapan mereka sebelum aku datang. Jangan sampai aku terlambat dan menyiksa perut mereka.


Dress putih berenda adalah pakaian yang akan aku kenakan hari ini. Tutupi lengan dengan cardigan. Rambut biarkan terurai.


"Kamu itu cantik jika rambutnya terurai begitu saja." Menurut Kak Helmi. Jadi, aku tidak pernah mengikat rambut kecuali saat sedang membuat kue.


Untunglah, aku tidak terlambat. Aku dan Kak Helmi berpapasan di depan kamar.


"Pagi, sayang." Dia mengecup pipiku. "Gimana tidurnya? Nyenyak?"


"Iya. Nyenyak banget malah. Belakangan ini tidurku sangat nyenyak, Kak."


"Iya."


"Mau kakak gendong, gak?" Dia bertanya sambil berjongkok. Mempersilakan punggungnya untuk aku naiki.


"Aku udah gede, malu."


"Kamu itu masih kecil. Ayo, naik."


Umurku sudah tidak muda, tapi mereka selalu memperlakukan aku seperti anak kecil. Meski sebenarnya aku sangat senang.


Dengan erat aku memeluk dia saat menuruni tangga. Wanginya yang lembut selalu membuat aku merasa tenang dan nyaman. Tubuhnya sedikit lebih gemuk dari Abang. Bukan gemuk, lebih tepatnya berisi.


"Sarapan buatan kamu selalu enak." Kakak memuji makanan yang aku siapkan setiap pagi. Dia makan dengan lahapnya. "Arga mana? Belum turun?"


"Belum. Biarkan saja dulu. Mungkin hari ini dia tidak kerja."


Kakak menghentikan kunyahannya. "Kenapa? Dia sakit atau ...."


"Sedang tidak ingin diganggu. Ya sudah, habiskan sarapannya dulu. Biar aku yang liat dia ke kamarnya. Sekalian bawa sarapannya."


"Dek, berangkat kerjanya sama siapa? Kakak ada meeting pagi ini, kalau kamu ke kamar arga dulu, tidak akan sempat."


"Ini pagi, Kak. Aku naik taksi aja. Pulangnya baru Kakak jemput, ya."


"Ya sudah kalau gitu. Kakak berangkat duluan, ya."

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan."


Setelah mengantar Kakak sampai depan pintu, aku bergegas menuju kamar Abang dengan nampan yang di atasnya terdapat nasi goreng kambing dan juga orange juice.


"Bang. Aku masuk, ya." Tidak ada sahutan. Tidak perlu juga sebenarnya. Sejak kapan aku harus meminta izin untuk bisa masuk ke kamarnya.


Abang tidak di tempat tidur. Masih rapi malah kasurnya juga. Aku berjalan menuju ruangan yang ada di sebelah ranjangnya. Ruang bermain game.


Benar saja. Dia masih duduk dan fokus bermain. Tanganku memgang nampan, tidak bisa menyentuh Abang. Ku kecup saja pipinya agar dia sadar ada aku di sini. Dia masih fokus, hanya sedikit tersenyum.


Aku bicara pun tidak akan dia dengar karena terhalang ear phone yang dia pakai. Akhirnya aku menyuapinya saja sampai nasi goreng itu habis tak tersisa.


Hanya saat pikiran dan hatinya sedih dia akan begini. Aku bingung dan penasaran dengan pasien Abang yang satu ini. Kenapa sampai membuatnya galau seperti sekarang. Tidak ada niatan untuk mengganggunya dan memilih keluar. Yang penting perutnya sudah terisi.


"Bi, tolong rapikan semuanya, ya."


"Non, perut Nona belum terisi apapun. Minumlah barang sedikit saja."


Bahkan aku sampai lupa perut sendiri. Kebiasaan buruk saat salah satu dari kakakku sedang ada masalah. Aku yang malah tidak berselera makan.


"Nanti saja di toko."


"Minum teh hangat dulu biar tidak masuk angin." Bi Juminah menyodorkan secangkir teh yang masih hangat. Dia adalah asisten rumah tangga yang sudah lama ikut keluarga ku. Umurnya sudah tidak muda lagi, juga tidak bisa bekerja lagi. Dia hanya memantau asisten rumah tangga yang lainnya.


"Terima kasih, Bi." Aku meminum sedikit hanya untuk menghargai dirinya saja. "Saya pamit dulu, tolong jaga abang, jika jam delapan belum juga keluar, segera telpon saya atau kakak."


"Iya, Non."


Pagi ini aku berangkat dengan naik taksi. Aku masih belum diizinkan memiliki SIM oleh kedua orang tuaku. Mereka terlalu khawatir anak gadisnya kenapa-kenapa.


Tidak ada yang berbeda. Rutinitasnya masih sama. Ke pantry untuk membuat kue bersama chef yang lain. Jika sudah selesai, aku akan ke depan dan sisanya akan dilanjutkan oleh chef.


Sejak sampai di toko, tidak ada yang menelpon. Itu artinya Abang sudah keluar dari kamarnya. Lega.


Toko ramai seperti biasa. Beberapa orang memesan dengan partai besar. Entah itu untuk acara arisan atau sekedar menjamu teman dan rekan mereka.


Mataku tertuju pada paper bag yang ada di pojok bagian kasir. Astaga! Itu paper bag yang kemarin. Aku lupa membawanya pulang.


Saat kaki baru saja melangkah, seseorang tiba-tiba menyapa.


"Tidak diterima rupanya. Baiklah."


Aku menoleh karena merasa suaranya tidak asing. Benar saja. Dia laki-laki yang memberikan paper bag itu padaku.


"Bukan begitu, saya bisa menjelaskannya. Tadi malam saya lupa membawanya pulang karena–"


"Tidak apa. Saya yang salah karena memberi sesuatu yang tidak tepat. Permisi."


Nyeri. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam sini saat dia berlalu begitu saja dengan wajah yang terlihat kecewa.


Nayanika



Agra


__ADS_1


Helmi



__ADS_2