
"Pelan-pelan saja makannya." Juna mengusap sudut bibirku yang sepertinya terkena noda makanan. Sesekali dia menyuapiku.
Hubungan kami semakin hari semakin dekat. Meski masih sedikit canggung, tapi yaaaa kami mulai berkomunikasi secara intens. Selalu memberi kabar meski hanya satu kali dalam sehari. Kami hanya membuat nyaman satu sama lain. Jangan sampai kami merasa khawatir seperti yang sudah-sudah.
Kadang, aku memberanikan diri dan berusaha menepikan harga diri hanya untuk menggelayut manja atau menyandarkan kepala saat tengah duduk berdua. Itupun sangat jarak dilakukan karena kami jarang bertemu. Dia sibuk dengan pekerjaannya begitupun denganku.
Toko kue ini semakin ramai saat ide brilian dari Nita, aku lakukan. Menambah menu kue tradisional di antara kue-kue yang lain.
"Selamat malam." hanya itu yang selalu dia katakan saat mengantarku pulang. Malam ini dia mengajakku makan malam karena esok harinya dia harus pergi keluar kota.
Meski hubungan kami sudah semakin dekat. Juna tetaplah Juna. Laki-laki ambisius dengan raut wajah datarnya. Laki-laki berkharisma yang pelit senyuman. Bahkan aku hanya mendapatkan satu senyuman darinya.
"Apa aku harus marah dan menangis sesenggukan agar dia mau tersenyum? Naya ... ada apa denganmu, kenapa kamu menaruh hati pada laki-laki seperti itu?"
"Hey!"
"Abaaang. Bikin kaget saja."
"Lagian kamu ngapain ngomong sendiri di luar? mana malam hari pula. Juna mana?"
"Pulang barusan. Abang baru datang? masih pake jas. Sibuk banget, ya, belakangan ini? Abang sadar gak, udah lama tidak menemani aku tidur."
"Kamu punya Juna sekarang."
"Iya. Tapi aku juga enggak bisa gitu aja Abang abaikan."
"Dek ... apa sebaiknya Abang menikah dengan ibunya maura?"
"Abang becanda? Mami pasti akan menentang kerasa. Itu hanya akan membuat kalian bertengkar hebat. Aku tidak setuju. Jangan lakukan itu."
"Apa menurutmu begitu?"
"Bertanggungjawab pada maura tidak harus dengan menikahi ibunya. Berikan mereka biaya yang cukup dan hidup yang layak. Itu saja."
"Bagaimana aku dan kakak harus menjaga dan memastikan kamu, agar tidak merasa kesepian saat orang tua kita tidak ada adalah hal yang paling sulit. Kamu beruntung karena ada kami yang mencurahkan waktu dan tenaga untukmu seorang. Kami bahkan lupa bagaimana cara mencintai wanita lain. Tapi maura ...."
"Apa maksud Abang berkata seperti ini?" aku mulai kesal.
"Jika abang bisa memastikan agar dirimu tidak kekurangan kasih sayang, kenapa abang tidak boleh melakukan itu untuk anak abang sendiri?"
"Abang!" aku sedikit meninggikan suara.
"Tugas kami cukup sampai di sini, Naya! kamu sudah memiliki Juna yang bisa memberikan segalanya melebihi apa yang bisa kami berikan. Apa kamu tidak merasa egois jika harus menginginkan abang juga? Abang juga ingin memberikan kasih sayang untuk anak abang sendiri."
"Tidak saat ini. Jangan pergi!"
"Jangan serakah. Abang juga ingin memiliki kehidupan sendiri tanpa memikirkan beban untuk menjagamu setiap saat."
"Beban? jadi ... selama ini ... aku beban untuk Abang dan Kakak?"
"Dek ...." Abang terlihat menyesal dengan kata-katanya.
"Maaf jika memang selama ini aku hanya jadi beban untuk kalian berdua."
"Dek. Bukan begitu maksud abang. Dek ... tunggu dulu."
__ADS_1
Abang masih mengikuti dari belakang saat aku berjalan menuju kamar. Berkaki tangannya meraihku, tapi aku tepis.
Dengan kasar aku menutup pintu kamar. Lalu menguncinya.
Abang berusaha membuka masuk dan menggedor-gedor pintu.
Karena putus asa pintu tidak aku buka, dia pun pergi ke kamarnya. Sungguh, rasanya lebih sakit dari sekeras putus cinta. Mendapat pernyataan bahwa kita menjadi beban untuk seseorang adalah hal terburuk yang pernah aku alami. Dia yang dulu begitu mencintai dan mengasihiku, ternyata merasa terbebani dengan semua yang dia lakukan selama ini.
"Dek!"
Sayup kudengar Abang memanggil namaku. Aku bisa melihatnya mengejar mobil yang aku kendarai saat ini.
Saat ini yang aku butuhkan hanya sebuah ketenangan agar bisa berpikir dengan jernih. Mencerna semuanya agar tidak menjadi racun dalam tubuh dan hidupku.
Kekecewaan karena ucapan dari orang yang kita sayang adalah hal terburuk yang aku rasakan selama ini.
"Bagaimana bisa abang berbicara seperti itu? apakah benar, kalau aku ini adalah beban untuk mereka? apakah itu artinya ... artinya mereka merasa tersiksa dengan hadirnya diriku? apakah sikap mereka selama ini hanyalah topeng untuk menutupi perasaan mereka sendiri. Bahwa mereka sangat lelah dengan adanya aku."
Banyak pertanyaan yang memenuhi seluruh kepala. Rasa sedih dan bersalah bercampur menjadi satu dalam dada.
Kepalaku terasa berdenyut hebat. Dengan sisa kesadaran yang aku miliki, aku menepikan mobil. Nahasanya, mobilku malah tertabrak mobil lain. Aku lupa tidak melihat ke belakang saat hendak menepi.
Tabrakan itu sangat keras dan membuat mobilku memutar beberapa kali. Kepalaku yang dari awal terasa sakit, semakin tidak karuan. Yang jelas, aku melihat seseorang turun dari mobil yang menabrakku tadi. Mobilku berbalik arah ternyata.
Bagian depan mobil orang itu tampak rusak dan mengeluarkan sedikit asap. Laki-laki itu berjalan sempoyongan. Dia memegang pelipisnya yang berdarah. Saat dia melihatku, dia segera berlari. Menggedor kaca mobil dan memintaku untuk membukanya.
Dengan bergetar hebat, tanganku berhasil menyentuh tombol agar kunci mobil terbuka.
"Hey, kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Dia membantuku membuka sabuk pengaman. Lalu memapahku keluar. Kami duduk di tepi jalan hingga beberapa orang menghampiri. Salah satu diantara mereka ada yang menelponnya ambulan.
yang pertama berfungsi dengan baik saat aku sadar adalah Indra penciuman. Hidungku mengenal tempat ini meski mataku tidak melihat sekalipun. Bau khas yang aku rasakan saat berada di ruangan kerja Abang.
Kepalaku masih terasa berat saat perlahan mata ini menangkap cahaya dari lampu yang berada di langit-langit. Cahayanya yang menyilaukan membuat mataku kembali terpejam. Kali ini, dengan sangat hati-hati aku kembali membuka mata. Ku arahkan pada sisi lain, sisi yang tidak terdapat lampu di sana.
Pada dia yang tengah duduk di kursi tepat di sampingku. Dia yang di kepalanya terdapat sebuah perban. Laki-laki yang meski samar, tapi dia pasti orang yang menabrak mobilku. Saking khusyuknya pada layar ponsel, dia tidak menyadarinya bahwa aku sudah siuman.
"Sudah berapa lama aku di sini?"
Suaraku uang lemah, membuat dia menghentikan kegiatannya dengan layar datar itu. Dia bergeser lebih mendekat.
"Bagaimana perasaan kamu?"
"Kepalaku masih sakit. Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Lima. Lima hari kamu pingsan. Dokter bilang, kondisimu tidak apa-apa. Mungkin dirimu sendiri yang memang tidak ingin kembali ke dunia ini."
"Mungkin memang begitu seharusnya."
"Mana bisa! kamu itu wanita muda yang sangat cantik, kenapa harus mati begitu cepat? kasian para jomlo di luar sana. Eh, yang di sini juga. Hi hi hi."
"Mobilku?"
"Sudah aku amankan. Aku bukan orang bodoh yang ingin kejadian ini menyebar keseluruh Antero. Tenang, semua akan baik-baik saja selama kamu tidak melaporkan kejadian ini pada polisi."
"Polisi?"
__ADS_1
"Ya. Polisi. Nona, tolong jangan laporkan masalah ini ke polisi. Nama keluarga ku bisa hancur karenanya. Mobilmu akan aku perbaiki, jika perlu akan aku ganti dengan yang baru. Dan ... lukamu akan aku sembuhkan. Akan aku cari dokter terbaik di dunia ini."
"Ponselku."
"Jangankan ponsel, bahkan kamu tidak memiliki uang meski sepeser. Kamu kabur dari rumah?"
"Berikan aku uang, makan kasus ini kita anggap tidak pernah terjadi."
"Gadis pintar."
Ucapannya mengingatkan aku pada Juna. Laki-laki yang sudah lima hari ini hilang kontak denganku. Aku bertanya-tanya, apakah dia mencariku? apa dia mencemaskan aku?
"Hey! kenapa melamun? ayo, sebutkan berapa jumlah uang yang kamu inginkan."
"Sepuluh juta saja. Aku hanya butuh untuk makan selama beberapa hari ini."
"Kamu yakin? hidup ini tidak hanya butuh makan, tapi juga tempat tinggal. Apa kamu punya tempat tinggal?"
"Tidak."
"Baiklah. Karena aku ini orang yang sangat baik selain tampan tentunya, makan akan aku berikan lima kali lipat dari yang kamu minta. Jangan sampai gadis cantik seperti kamu tinggal di kolong jembatan."
"Terima kasih."
"Ah, tunggu sebentar. Aku harus mengangkat telpon dari kakakku. Dia akan membunuhku jika mengabaikannya. Halo, Kak."
Laki-laki itu keluar dari ruangan ini. Aku juga memiliki Kakak yang sangat baik. Dua kakak'yang selama ini menjaga dan merawatku. Siapa sangka, mereka ternyata begitu terbebani karenanya. Sangat menyakitkan.
"Iya, Iya. Aku akan bertanggungjawab pada wanita itu. Kakak jangan marah. Oke! iya, tunggu sebentar, aku tanyakan dulu padanya."
Laki-laki itu mendekat. "Nona, apa kamu bersedia menerima telpon dari kakakku ini. Dia ingin meminta maaf langsung padamu."
"Tidak perlu. Aku sudah memaafkan semuanya."
"Dia memaksa. Nona, tolong sebenarnya saja bicara. Oke!"
"Baiklah. Aku akan bicara padanya."
"Ini. Bicaralah."
Mataku hampir lepas dari tempatnya saat melihat Juna ada di layar ponsel milik orang ini.
"Raka. Jangan biarkan dia lari. Dia mencuri cincinku dan kabur."
"Apa? benarkah wanita ini pencuri? rasanya tidak mungkin. Masa iya gadis secantik dia seorang pencuri?"
"Berhenti bicara atau akan aku gampar mulutmu itu."
"Aku salah apa? apa kakak' tida merasa aneh? dia itu gadis yang sangat cantik. Jika dia bukan pencuri, sudah kujadikan dia istri."
"Bicara sekali lagi, maka aku pastikan kamu tidak memiliki lidah lagi."
Pembicaraan mereka pun berakhir.
"Kamu dengar? betapa galaknya dia. Jadi, jangan bergerak. Tetap di sini hingga singa itu datang kemari."
__ADS_1