
Sibuk dengan pikiran sendiri, sampai tidak sadar Abang ada di depanku.
"Dek. Kamu kenapa? Mikirin apa sampai abang diabaikan seperti ini?"
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memberikan Abang ekspresi sedih.
Abang masih menatap dengan tangan yang menopang dagunya. Tidak bertanya sama sekali.
"Sarapan dulu. Abang bawakan omlet kesukaan kamu. Makan gih!"
Sejenak kulirik omlet yang dibawa Abang. Sangat menarik. Hanya sebentar, lalu aku kembali pada perasaan sebelumnya.
Tidak ingin membuat Abang kecewa, dengan sangat berat aku membuang nafas lalu mulai menyantap omletnya. Enak. Rasanya membuat aku sedikit lupa perasaan yang entah apa namanya.
"Abang!" dengusku. Kebiasaan yang paling tidak aku sukai darinya. Mengacak rambutku.
"Kamu kenapa, Dek? Dari tadi cemberuuut aja. Jelek tau."
"Aku kesel sama cowok yang tadi keluar."
"Cowok?" Abang melihat keluar jendela. Matanya menyisir ke segala arah, mencari dia yang aku maksud.
"Huum. Dia selalu membuat mataku penasaran dan enggan berpaling darinya. Tapi ...."
"Kenapa?"
"Dia salah faham. Aku bukan bermaksud tidak menerima pemberian darinya. Bang, aku benar-benar lupa membawanya semalam."
"Dia ngasih apa emang?"
"Ini." Aku memberikan paper bag.
"Ini kan paper bag toko ini. Dia ngasih apaan sih? Penasaran gue!"
Abang meraih lalu membukanya. Sejenak dia sempat diam lalu seperderik berikutnya dia tertawa sangat kencang. Aku sampai kaget dibuatnya.
"Jangan ketawa, Abang!"
"Dia ... Ngapain ngasih kue buatan kamu sendiri. Gak ada gitu, barang lain?" Lalu Abang kembali tertawa keras sampai terbatuk-batuk. Menyebalkan memang.
"Dia juga mikirnya gitu."
"Nah! Bagus dong."
"Tapi dia marah. Terus pergi gitu aja. Kesel jadinya. Belum juga sempet jelasin, udah marah aja. Dasar cowok!"
"Dia pacar kamu?"
"Bukan! Jangankan pacar, kenal aja enggak. Tau namanya aja enggak malah."
"Terus kamu kenapa sesedih ini? Aneh!"
"Itu dia. Aku juga enggak tahu kenapa. Pas dia pergi sambil kesel gitu, dada aku sesek. Rasanya sakit tapi juga kesel."
__ADS_1
"Ternyata adik abang udah gede. Udah mulai jatuh cinta."
Aku memcebik.
"Ya sudah, Abang bawa saja Maccarone ini buat dibagikan di rumah sakit." Abang berdiri.
"Abang mau kerja?"
"Iya. Nanti sore dia mau periksa. Sekalian ada yang mau abang bicarakan sama dia."
"Bang." Aku meraih tangannya. Langkahnya terhenti.
"Apapun keputusan yang akan Abang ambil, aku akan mendukung. Abang harus bahagia. Meski aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Abang tersenyum dan pergi setelah mengecup keningku.
Ada yang berbeda darinya. Entah kenapa tapi aku merasa khawatir.
*****
"Kak, kita ke rumah sakit, yuk."
"Kenapa? Kamu sakit?" Kakak memeriksa dahiku.
"Enggak. Aku ingin ketemu abang."
"Di rumah kan bisa."
"Maunya ke rumah sakit. Dia belum pulang kayaknya. Yuk, ke sana dulu."
"Enggak! Aku mau kesana. Aku penasaran sama pasien yang bikin abang galau. Dia sampai main game semalam suntuk."
"Lagi?"
"Ups! Keceplosan."
"Harusnya aku hancurkan saja peralatan game dia. Gak kapok apa, bikin kita semua panik waktu itu?"
Kakak begitu emosi saat dengan tidak sengaja aku memberitahu dia, bahwa Abang mulai main game lagi semalaman. Ya, dulu kami semua pernah begitu cemas. Abang pingsan karena kelelahan setelah semalam dia tidak tidur dan malah bermain game. Itu terjadi karena di frustasi ditinggal Linda.
Linda meninggal tepat sebelum bertunangan dengan Abang. Sampai saat ini Abang belum bisa move on. Hingga dia bercerita tentang pasiennya di rumah sakit. Orang yang membuat Abang kembali bermain game.
Akhirnya Kakak mau menemaniku ke rumah sakit. Sebenarnya dia datang karena ingin memarahi Abang. Tak apalah. Apapun alasannya, aku ingin tahu siapa pasien Abang yang satu ini.
Sengaja aku menelepon Kakak untuk menjemput sore hari. Agar bisa melihat pasiennya Abang.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju ruangan prakteknya. Pintu tertutup. Sementara di luar ada beberapa pasien sedang duduk menunggu giliran.
"Kita masuk setelah pasien terakhir keluar, nanti."
Anggukan kepala aku berikan sebagai jawaban dari bisikan Kakak barusan. Pintu terbuka, pasangan suami-istri dan anaknya keluar dari sana. Asisten Abang memanggil pasien berikutnya. Seorang Bapak dengan anak perempuannya masuk. Kini, tinggal empat orang lagi yang mengantri.
Dari semua pasien, tidak ada pasien dengan kriteria yang Abang sebutkan waktu itu. Tidak ada wanita dengan anak kecil. Semuanya bersama pasangannya.
__ADS_1
Menunggu adalah hal yang paling tidak aku sukai. Mungkin semua orang tidak menyukai hal ini. Sementara Kakak sibuk dengan gawainya. Dia masih saja kerja.
Saat aku menoleh. Ada seorang wanita yang berpenampilan sangat sederhana. Jika boleh aku bicara kasar, dia lebih terlihat seperti ... Sudahlah. Menggendong seorang anak atau lebih tepatnya bayi.
Wajah wanita itu sangat pucat tidak terawat. Rumah sakit tempat Abang bekerja merupakan rumah sakit swasta. Mereka yang datang ke sini, adalah orang-orang yang memiliki uang lebih. Sementara dia? Jelas terlihat dari penampilannya saja, bahwa dia bukan termasuk orang yang memiliki uang.
Astaga. Apa wanita itu? Dadaku sesak entah kenapa. Susah payah aku berusaha mengatur nafas. Sampai-sampai Kakak cemas melihatku seperti ini.
"Dek. Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja? Ada apa?"
Tidak menjawab. Aku masih berkomunikasi mengatur nafas agar normal kembali. Terdengar seseorang memanggil dokter, dan Abang keluar. Sempat melirik padanya, wajahnya terlihat cemas. Sama seperti Kakak.
Dia menghampiri lalu membimbing agar aku bisa kembali bernafas normal. Setelah entah berapa lamanya, akhirnya nafasku kembali seperti semula meski dada ini masih terasa sedikit sakit.
"Mba gak apa-apa?" Salah satu perawat bertanya. Aku menggeleng pelan.
"Dia adik saya. Tidak apa-apa. Maaf sudah membuat kalian cemas."
Kakak mengusap punggungku, memberi kenyamanan. Sementara Abang membelai rambutku penuh kasih. Sekilas aku pun bisa melihat kekhawatiran dari wajah wanita itu. Rupanya Abang melihatku dan diapun ikut menoleh padanya.
"Kita ke ruangan ku, Kak."
"Tidak. Aku enggak apa-apa. Selesaikan saja dulu tugas Abang. Aku di sini aja sama Kakak."
Bahu kakak memang sangat nyaman untuk bersandar. Dada ini masih terasa tidak nyaman. Aku meremasnya berharap sedikit membaik.
"Kamu kenapa? Ini tidak akan terjadi jika kamu tidak merasa takut atau terkejut. Ada apa, sayang? Hum?"
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menggeleng lemah. Tidak ada yang bisa aku katakan sebelum ada penjelasan dari Abang.
'Tidak mungkin Abang mencintai wanita itu bukan? Akan menjadi masalah besar jika itu benar.'
Satu persatu pasien Abang diperiksa. Mereka mendoakan agar aku baik-baik saja sebelum mereka pulang.
Tiba wanita itu mendapat giliran masuk. Saat dia tepat di hadapanku, dia melirik seraya tersenyum ramah padaku. Senyum pun kuberikan padanya. Sungguh di luar kendali, aku tiba-tiba berdiri dan ikut dia masuk. Tidak perduli Kakak berusaha menghentikan.
Tidak ada reaksi berlebihan saat Abang melihatku ada di belakang wanita itu. Dia kembali fokus pada rekam medis yang sedang dia pegang. Wanita itu menoleh. Dia tampak sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa. Biarkan mereka ikut masuk serta."
Seulas senyuman canggung terukir diwajahnya. Mataku tidak bisa pergi barang sedetik saja darinya. Aku menelisik setiap inci wajahnya. Cantik. Hanya saja terlihat kusam tidak terawat. Wajar. Melihat bagaimana kondisinya saat ini.
"Saya akan membiayai semua kebutuhan Maura.
"Tapi dokter, saya–"
"Jangan canggung. Bicaralah seperti biasanya. Mereka sodaraku yang lambat-laun harus tau semuanya."
Manik mata Kakak berpapasan denganku. Kami sama-sama heran dan juga penasaran dibuatnya.
"Jika apa yang kamu katakan kemarin sebuah kebenaran. Maka aku akan menurutinya."
"Tentu saja. Aku akan membiayai semua kebutuhan Maura. Sebagai seorang ayah, itu sudah menjadi tanggung jawabku."
__ADS_1
Kali ini aku tidak bisa menahan rasa sakit dan sesak nafasku. Semuanya gelap.