
Akad nikah hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat dan juga sana sodara. Tidak terlalu ramai agar acara terasa khidmat.
Cukup singkat. Setelah acara akad nikah, rangkaian adat pernikahan, foto bersama dan juga makan bersama, kami semua membubarkan diri. Beristirahat sebelum acara resepsi yang digelar pada hari itu juga.
Sampai saat ini, tidak ada perasaan yang membuatku tidak nyaman atau bersedih. Aku cukup berlapang dada menerima kehadiran wanita lain dalam hidup Kakak.
Ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Aku tidak merasa setakut yang ada dalam pikiran. Mungkin karena Kakak terlihat sangat bahagia. Jadi aku tidak perlu khawatir.
"Nay, makan dulu," ajak Mami saat bulu mataku masih indah bertautan. Lama aku tidak menyahut, Mami menggoyang tubuhku perlahan. "Sayang ... bangun, yuk. Makan dulu sebentar saja."
Bukan hanya karena tertidur, saat berusaha membuka mata, kepalaku tidak mendukung. Rasanya berat sekali di bagian pangkal hidung. Meski kamar sudah memiliki pendingin ruangan, ubuhku seperti mengeluarkan uap panas.
"Mami ...." Suaraku sedikit bergetar.
"Nay? Naya! kamu kenapa?" Mami memegang dahiku. "Ya ampun Naya ... badan kamu panas. Kamu sakit sayang? Pi ... Papi." Mami berteriak memanggil Papi. Terdengar suara langkah uang terburu-buru, tampaknya bukan hanya dua kaki saja.
"Kenapa, Mi?" tanya Abang.
"Naya demam. Arga, coba kamu periksa dulu. Adik kamu kenapa?" Mami mulai panik dan menangis.
"Ka-kak ...." Reflek aku memanggilnya. Aku ingin dia yang ada di sini. Dia yang selalu menjagaku saat tubuh ini berada pada kondisi paling buruk.
"Jangan! Kamu jangan panggil Helmi ke sini, Arga. Dia akan cemas."
"Tapi Mi."
"Sudah. Kamu periksa lalu obati saja dia. Rahasiakan ini dari Helmi untuk sementara waktu."
Kami memang memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Meski Mami melarang Abang untuk memanggil Kakak, dia datang dengan sendirinya.
"Dek! Makan bareng yuk ...." suaranya mengecil. "Naya. Dia kenapa? kenapa tidak ada yang memberitahu?" Kakak berlari setelah melihatku berbaring.
"Ayo kita ke rumah sakit," ucapnya setelah mengetahui aku demam tinggi. Meski Mami dan Papi melarangnya, dia tetap memaksa. Menggendongku keluar menuju ke rumah sakit. Dia berlari meninggalkan semuanya.
"Biar saya yang membawanya," ucap seseorang saat Kakak berdiri di depan lift.
"Jangan tinggalkan istrimu di tengah pesta pernikahannya. Itu akan melukai hati sekaligus harga dirinya."
"Benar, Kak. Biar aku dan Juna yang membawa Naya ke rumah sakit. Ayolah, Kak."
"Baiklah. Saya titip Naya. Jaga dia baik-baik."
"Tentu."
Tubuhku berpindah pada Juna. Dia menggendongku dengan sangat hati-hati namun sangat kokoh. Aroma tubuhnya membuatku merasa rileks.
Tidak seperti Kakak. Juna membawaku dengan langkah biasa tanpa berlari.
"Dokter Arga. Biarkan Naya dengan saya. Pergilah temani kakakmu. Cukup satu adiknya yang tidak ada di sini."
__ADS_1
"Tidak. Saya akan ikut mengantarnya."
"Temani kakak saja, Bang." Suaraku lemah.
"Saya akan menjaganya dengan baik."
Setelah sampai di rumah sakit, dokter memasang infusan di tanganku agar demamku cepat reda jika ada obat yang dimasukkan melalui infusan. Butuh waktu hampir tiga jam untuk membuat demamku reda. Tentu saja dengan Juna yang setia menunggu. Dia tidak beranjak sedetikpun dari kursinya.
Aku merasa sedang diintimidasi oleh matanya yang terus saja menatap. Membuat rasa enggan dalam hati untuk membuka Maya yang sedari tadi merasakan lelah karena berpura-pura terpejam.
"Maaf, Pak. Jika istrinya sudah merasa baikan, maka boleh meninggalkan rumah sakit ini."
"Ya. Tunggu dia bangun dulu dari tidurnya."
"Aku sudah bangun. Suster, tolong lepaskan selang infus ini. Saya harus segera menghadiri acara resepsi pernikahan kakak pertama saya."
"Tunggu sebentar, saya ambillah dulu alatnya."
Aku menoleh ke arah Juna saat perawat itu sudah keluar.
"Apa kamu yakin? pastikan tubuhmu sehat dulu."
"Aku baik-baik saja. Tidak mungkin juga aku tidak datang."
Dia terlihat menghela nafas kesal dengan ucapanku. Matanya membuat siapa saja tidak nyaman. Tatapan tajam yang selalu membuatku merasa terpojok dan ciut di hadapannya.
"Hati-hati, Suster." Juna memberi peringatan pada perawat yang sedang membuka selang infus setelah aku meringis karena merasa perih.
"Tidak apa-apa, Suster. Saya hanya perihal sedikit, kok."
"Iya, Bu. Nanti tekan saja dibagian yang saya beri kapas dan plester, biar darahnya berhenti."
"Iya. Terima kasih."
Juna kembali menggendongku dengan paksa saat kami keluar menunjuk parkiran. Karena rasa malu, aku malah memeluk lehernya dengan erat dan membenamkan wajah di dadanya. Dengan sangat jelas aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat. Entah karena dia merasa capek menggendong tubuhku atau ....
"Apa kamu akan memeluk saya terus seperti ini? turunlah, kita sudah sampai."
Terlalu merasa nyaman berada dalam dekapannya, membuat aku lupa situasi dan kondisi saat ini.
Rasa malu yang teramat sangat, membuatku enggan untuk berbicara sepatah katapun saat berada dalam mobil. Dengan susah payah aku mengkondisikan kepala agar tidak menengok padanya. Meski aku tahu, dia melihatku sesekali disela kesibukannya memainkan ponsel.
"Aku harus ke kamar dulu untuk mengganti pakaian dan bersiap."
"Saya antar."
"Tidak perlu, saya bisa sendiri."
"Ayo!" dia kembali bersiap untuk menggendongku. Sontak kaki ini mundur beberapa langkah untuk menghindar.
__ADS_1
"Saya bisa jalan sendiri. Cukup antar saja sampai depan kamar."
Dia mengangkat kedua tangan dan bahunya.
Berganti pakaian dengan laki-laki lain yang sedang menunggu di luar, rasanya sangat tidak nyaman. Aku merasa dia bisa melihatku dari sana. Menakutkan.
"Aku sudah selesai. Ayo kita pergi."
Dia yang sedang asik dengan ponselnya, berbalik badan dan melihat ke arahku. Sejenak dia terdiam tanpa mengedipkan mata.
"Ya, ayo." dia kembali membalikan badan dan berjalan mendahului. Langkahnya terhenti lalu kembali menghampiriku yang beberapa langkah ada di belakangnya.
"Mana kalungnya?"
Aku diam.
"Kalung yang aku berikan kemarin."
"Oh, itu. Tunggu sebentar, akan aku ambilkan. Aku lupa memakainya."
Dengan langkah sedikit cepat, kembali aku ke dalam kamar untuk mengambil kalung pemberiannya. Jangan sampai dia merasa kecewa dan marah.
Aku terlonjak kaget saat berdiri di depan cermin. Dia tiba-tiba muncul di belakangku, mengambil kalung lalu memakainya. Kalung itu terpasang. Mata kami bertemu di pantulan cermin.
Tangannya turun dan berpindah pada pinggang, lalu melingkar di perutku. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk menyimpan dagunya di bahu kiriku.
"Sangat cantik."
Tidak ada yang bisa aku katakan dan aku lakukan selain diam dan berusaha mengatur pernafasan yang hampir hilang kendali. Jangan sampai aku pingsan.
"Sebentar lagi ... kamu akan menjadi nyonya di rumahku. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba."
"Kita harus bergegas ...." Tangannya yang kokoh tidak bisa aku lepaskan dari perutku. Penolakan membuatnya memeluk semakin erat.
"Apa kamu takut?" tanyanya tepat di telingaku. Membuatku bergidik karena nafasnya.
"Memang sudah seharusnya begitu karena aku tidak akan melepaskan apa yang sangat aku inginkan."
Bahkan untuk menelan ludah sendiri, rasanya sangat sulit. Seperti hendak menelan duri. Wajahku memucat, dahiku berkeinginan. Beruntung karena aku tidak merasakan sakit di dada dan sesak nafas.
"Ayo, bergandengan denganku. Agar semua orang tahu bahwa kamu adalah yang aku inginkan. Dengan begitu, tidak ada orang lain yang akan berbagi mendekatimu." Lalu dia mengecup pipiku dengan lembut.
Kami bergandengan tangan saat memasuki ruangan pesta pernikahan Kakak. Perhatian mereka tidak lagi pada pasangan mempelai yang sedang berbahagia, tapi pada kami–aku dan Juna. Lebih tepatnya pada Juna.
Beberapa orang menghampiri untuk menyapanya. Para kolega bisnis. Juna yang hampir membuatku mati berdiri, begitu ramah pada mereka. Dia yang sekalipun tidak pernah terlihat tersenyum, kini bisa dengan manisnya memberikan senyuman pada mereka.
'Juna ... kenapa aku begitu penasaran dan ingin masuk pada kehidupanmu? meski aku tahu, akan ada hal berat yang harus aku lalui. Aku juga ingin tahu perasaan yang kamu berikan untukku. Apakah itu sebuah obsesi atau ketulusan cinta?'
Juna
__ADS_1